
Rian dan asistennya melangkah menuju restoran yang telah di reservasi. Sudah dua bulan ini, Rian memegang kendali pabrik. Penjualan pun meningkat. Membuat nama Rian cukup di perhitungkan di dunia fashion.
Hari ini, dia akan melakukan pertemuan dengan pemilik W collection. Ia melangkah menuju meja, dimana seorang wanita telah menunggunya. Langkahnya melambat saat melihat wanita itu.
Ia bisa bernapas lega, saat mengetahui, jika wanita itu bukanlah Riana. Rian duduk dihadapan wanita itu. Setelah perkenalan singkat mereka, seorang pelayan menghampiri. Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu, mereka melakukan
Melihat bahasa tubuh Wina, Rian merasa ada yang aneh. "Apa, ada yang membuat Anda tidak nyaman?" Rian memutuskan untuk bertanya.
"Ah, tidak, maaf. Saya, hanya takut membuat kerjasama kita hancur. Karena saya masih sangat awam di dunia ini," ucap Wina.
Rian terkekeh mendengar alasan Wina. "Santai saja, aku bukan orang yang mementingkan kesempurnaan. Jika ada kesulitan kami akan bantu Anda," jawab Rian. Kenyataannya, ia bukanlah Arkan yang bertindak perfectionist.
Makanan pun terhidang. Mereka pun makan dalam diam. Rian sungguh takjub melihat kegigihan Wina dalam membesarkan putranya. Ia memang tidak menutupi jati dirinya.
Ia teringat pada ucapan Riana dulu. "Aku dan kakakmu memang sudah berakhir. Tetapi, aku tidak berniat mencari pria lain dalam hidupku,"
Disaat kalian tersakiti, kalian tidak berniat membuka hati pada orang lain lagi.
"Anda, tidak apa-apa?" tanyanya.
"Ah, maaf. Saya teringat akan seseorang. Anda memiliki karakter yang sama dengannya." Wina tersenyum kecil.
"Benarkah? Wah, pasti dia adalah orang yang sangat istimewa untuk Anda. Sampai, Anda, terus mengingatnya," ucap Wina.
"Anda benar. Dia sangat istimewa."
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka hingga penanda tanganan dokumen kerjasama. Kembali, mereka berjabat tangan. Rian pun pamit undur diri lebih dulu.
Dalam perjalanan, Rian kembali mengingat sosok Riana. Wanita yang kini tengah bersama pria lain. Rian tidak bodoh. Ia tahu, pria itu menyukai Riana juga. Namun, pria itu mati-matian menutupinya.
Bagaimana kabarmu? Baru beberapa bulan saja, aku sudah merindukanmu. Maaf, aku tak bisa mendekatimu lagi. Atau Arkan akan bertindak semakin gegabah.
*****
Beberapa hari kemudian, Arkan memberitahu pada Rian tentang peragaan busana yang akan diluncurkan akhir minggu depan. Rian pun menganggukkan kepalanya mengerti.
Kemudian, Rian teringat akan Wina yang kini menjalin kerjasama dengannya. Ia pun meminta asistennya menyiapkan mobil. Mereka menuju toko yang Wina miliki.
Rian disambut dengan ramah oleh Wina. Mereka berbincang dan membicarakan seputar pekerjaan. Hingga kedatangan seorang pria menghentikan pembicaraan mereka.
"Mas." terlihat Wina berpamitan pada Rian. Rian pun mengizinkannya.
"Aku tidurkan Darren dimana?" tanya pria itu.
Keduanya menuju pintu yang ada di ujung toko. Rian menunggu dengan santai di sana. Hingga keduanya terlihat keluar bersama dan menghampirinya.
Rian tersenyum dan menganggukkan kepala kecil. Pria di samping wina hanya balas mengangguk tanpa tersenyum. Wajahnya terlihat dingin.
"Sampai mana kita tadi, Mas?" Rian menoleh dan menatap Wina.
"Mas?!" tanya pria itu. Rian bisa melihat dengan jelas kecemburuan di mata ria itu. Sepertinya, pria itu adalah kekasih Wina.
__ADS_1
"Mas Samudra kenapa? Oh, maaf. Aku panggil Mas Rian. Bukan Mas Samudra," terang Wina.
Rian ingin tertawa melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan pria itu. Rian menahan tawanya. Ekspresinya lucu sekali.
Pria itupun terdiam. Ia mengambil minum yang disediakan untuknya. Sambil berbincang, Rian memperhatikan ekspresi yang pria itu tunjukkan.
"Jadi, nanti kamu bisa beralih ke dunia fashion dengan mencari tenaga desain sendiri. Saya bisa ajak kamu ke fashion week Sabtu depan?" tanya Rian.
"Oh, boleh, mas. Saya sangat tertarik dengan dunia fashion. Satu kehormatan untuk saya bisa menghadiri acara seperti itu." Rian mengangguk.
"Dia akan pergi dengan saya," sela pria itu.
Rian dan Wina menatap pria itu dan saling bertukar pandang satu dengan yang lain. "Mas, mau ngapain di sana?" tanya Wina.
Rian semakin ingin tertawa melihat rona cemburu di wajah pria itu yang terlihat semakin jelas. Ia menyembunyikan senyumnya dan menetralkan suaranya.
"Boleh, saja. Silahkan. Nanti, biar anak buah saya yang kirimkan surat undangannya," ucap Rian.
"Oke," jawab pria itu terdengar ketus.
"Maaf ya, Mas Rian. Saya, jadi gak enak," ucap Wina.
"Tidak apa. Nanti, akan saya kenalkan dengan pemilik brand tersebut," jelas Rian.
"Ah, terimakasih, Mas," ucap Wina tulus. Pria itu terus saja menatap Rian dengan tajam.
Rian mencoba bersikap biasa saja. Ia kembali teringat akan keb*****n kakaknya dulu. Hingga harus merasakan perceraian. Jika saja, Riana kakak iparnya itu memilih dia, mungkin ia sudah bahagia saat ini. Sayangnya, cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Iya. Hati-hati, Mas."
Wina ingin menjabat tangan Rian. Namun, dengan cepat pria itu menggantikannya. Rian terkekeh melihat reaksi Samudra. Kekehan yang sejak tadi ia tahan.
Masuk kedalam mobil, ia tak bisa lagi menahan tawanya. Asisten Rian sampai mengerutkan dahinya melihat Rian tertawa geli seperti itu. Rasanya, ia tak pernah melihatnya tertawa sampai terpingkal-pingkal.
"San, kamu lihat pria tadi?"
"Yang bersama dengan Bu Wina tadi?"Rian mengangguk seraya menghentikan tawanya.
"Lihat, pak."
"Seandainya kakak ku bersikap begitu pada mantan istrinya dulu, mungkin dia tidak akan seperti sekarang," ucap Rian sendu. Tawanya sudah menghilang.
Sandy adalah salah satu anak buah Arkan yang bisa dipercaya. Selama ini, Sandy selalu bekerja di bagian sekertaris di kantor pusat. Kali ini, Arkan memindahkannya untuk membantu mengawasi Rian. Sudah menjadi rahasia umum, bagaimana perceraian Arkan dan mantan istrinya terjadi. Ada rasa kasihan melihat Arkan yang kini berubah semakin dingin.
*****
Hari itu pun tiba. Rian mengenakan setelan jas hitam. Ia sengaja duduk di belakang panggung. Hari ini, ia akan bertindak sebagai penanggung jawab acara. Sementara yang akan mengucapkan kata sambutan adalah Arkan selaku pemilik sekaligus CEO A&R.
Acara demi acara pun usai. Rian mencari keberadaan Wina. Ia hendak memperkenalkannya pada Arkan.
dia? Tadi di siniKemana.
__ADS_1
Rian terus berjalan hingga ke bagian belakang. Di belakang, terdapat taman yang memang sengaja di buat. Dari kejauhan, ia melihat keberadaan sepasang manusia di bangku itu. Rian menghampiri keduanya.
"Ternyata kamu di sini."
Keduanya menoleh. Wina tersenyum melihat Rian mendekat. Sementara pria di samping Wina merubah raut wajahnya datar.
"Mas Rian. Aku pikir, mas gak ada," ucap Wina ramah.
"Aku ada di backstage."
"Jadi, kalian sudah berbaikan?" tanya Rian.
Wajah Wina memerah mendengar pertanyaan Rian. Ia menundukkan wajahnya. Lain halnya dengan pria yang ia ketahui bernama Samudra. Pria itu justru mengangkat sebelah alisnya mendengar pernyataan Rian.
"Kau ... tahu sesuatu dari hubungan kami?" tanyanya.
"Tidak. Aku hanya menduga saat melihat kau seakan takut kehilangan Wina. Apa aku salah menyimpulkan?" Rian sengaja memancingnya.
Keduanya terdiam. Tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Rian menatap Wina dan pria itu bergantian.
"Kami baik-baik saja. Hanya sedikit kesalahpahaman."
"Wah, padahal aku berharap bisa semakin dekat dengan Wina. Dia gadis yang baik dan layak untuk dicintai. Aku bahkan sudah jatuh cinta padanya."
Rian seakan sengaja menyiram minyak ke atas bara api. Wajah pria itu terlihat memadam. Rian salut padanya. Ia mampu mengontrol emosi yang akan meledak itu.
"Dia memang layak dicintai. Dia juga memang wanita yang baik. Tapi sayangnya, kau tak bisa memilikinya. Karena dia adalah milikku."
"Sayang sekali. Sepertinya, aku harus menunggu kalian berpisah. Apa, aku masih memiliki kesempatan?" Rian mengedipkan sebelah matanya pada Wina. Ia sepertinya sengaja melakukan itu.
"Maaf sekali ya, Mas. Tapi, aku terlanjur menjatuhkan hatiku pada pria ini." Wina merangkul lengan pria itu mesra.
"Ah, rupanya aku harus kehilangan wanita baik sepertimu." Rian berpura-pura terlihat kecewa.
"Suatu saat, Mas Rian akan mendapatkan jodoh yang tepat. Berusahalah menjadi pria yang baik." Wina memberikan semangat pada Rian.
"Oke. Jangan lupa mengundang aku saat kalian menikah ya." Wina mengangguk.
Wina dan Samudra berpamitan dan memilih kembali pulang. Kali ini, Samudra merangkul Wina mesra. Mereka saling melemparkan senyum.
Rian ikut tersenyum melihat keduanya. Ia berharap, akan ada kesempatan baginya memiliki Riana. Paling tidak, Tuhan akan berbaik hati mengirimkan seorang wanita yang mencintainya sepenuh hati.
*****
Hola genks.... ada sedikit revisi di bab '(LAM) Resmi Berpisah' ya. Bisa kalian baca ulang. terimakasih all...
Promo siang iniπππ
jangan lupa mampir ya genks....
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnyaππππ€π€π€πππ