
"Hentikan!"
Kata-kata itu membuat Arka melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Rian. Danu berdiri dan mendekati kedua putranya itu.
"Kalian sudah dewasa. Seharusnya kalian tidak perlu meributkan sesuatu seperti ini kan?"
Mendengar ucapan Danu, membuat Riana semakin merasa bersalah. Ia pun semakin menundukkan kepalanya dalam. Menyesali keputusannya untuk datang ke acara ibu mertuanya bersama Rian.
Riana tidak mengetahui permasalahan yang dialami keluarga Artajaya. Namun, melihat pertengkaran yang terjadi antara ruan dan Arkan, masalah yang terjadi tidaklah sepele.
"Rian, bisa kau menunggu ku diluar?"
Rian menoleh pada Riana. Riana menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan raut wajah memohon pada Rian. Mau tidak mau, Rian menyetujuinya.
"Aku minta maaf. Aku seharusnya tidak datang kesini. Aku tahu, kehadiranku tidak di harapkan. Kalau begitu, aku permisi. Selamat ulang tahun untuk Anda Nyonya Veni."
Riana segera melangkah meninggalkan ruangan itu. Danu segera menyusul langkah menantunya itu dan mengabaikan teriakan Veni.
"Riana."
Riana menoleh dan tersenyum pada ayah mertuanya itu. "Iya, Pi."
"Papi mau bicara." Riana mengangguk.
Mereka menuju salah satu meja terdekat. Riana memilin jemarinya di atas kedua pahanya. Pandangannya ia arahkan pada ujung jari kakinya.
"Boleh papi bertanya?" Riana mengangguk.
"Papi minta, kamu menjawabnya dengan jujur ya." kembali, Riana menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu sudah mencintai Arkan?"
Riana mengepalkan tangannya kuat saat mendengar kata-kata Danu —ayah mertuanya— tadi. Bolehkah ia menyangkal perasaannya sendiri? Danu masih menunggu jawaban Riana. Namun, melihat gelagat Riana, membuat Danu menemukan jawabannya tanpa harus mendengar jawaban dari mulut Riana.
"Dengarkan papi. Papi tahu, kamu sudah jatuh cinta pada Arkan. Jadi, papi akan minta sesuatu darimu." Riana mengangkat pandangannya dan menatap Danu.
"Bertahanlah. Cobalah merebut hati Arkan. Jika sampai kau menyerah Arkan tak juga membuka hatinya, papi tidak akan meminta hal lain lagi. Papi sendiri yang akan membantumu pergi dari Arkan. Papi juga yang akan menanggung kehidupanmu kedepannya."
Ada rasa sakit yang timbul di hati Riana. Haruskah ia menerima permintaan Danu, ataukah ia akan menjalaninya sesuai kata hatinya? Sayangnya, hati dan pikirannya tidak sejalan.
Hatinya ingin menolak. Namun, pikirannya membuat gerak tubuhnya mengiyakan permintaan Danu. Danu tersenyum dan menghela napas lega.
*****
Dalam perjalanan kembali, Riana merutuki dirinya. Ia baru menyadari kebodohannya. Rian yang ada di sampingnya tidak mengerti dengan tingkah Riana yang berkali-kali mendesah kesal.
__ADS_1
"Mau cerita sesuatu?"
Rian mencoba mencairkan situasi yang hening sejak Riana masuk kedalam mobilnya. Riana menoleh. Kembali ia berpikir, haruskah dirinya memberitahu Rian tentang permintaan ayahnya tadi? Namun, mengingat hubungan mereka yang buruk, membuat Riana mengurungkan niatnya. Ia tak ingin semakin memperburuk keadaan.
"Hei! Kenapa diam?" Rian memegang tangan Riana yang ada di pangkuannya.
Riana segera mendorong tangan Rian menjauh. Menyadari kesalahannya, Rian menggaruk tengkuknya dan salah tingkah.
"Maaf, aku tidak bermaksud buruk padamu."
"Aku tahu." Riana menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku hanya sedang merutuki diriku."
"Kenapa?"
"Aku merasa b***h karena datang ke acara ulang tahun mami." Riana menundukkan kepalanya.
"Aku juga minta maaf. Kau jadi tahu permasalahan keluarga kami."
Raut wajah Rian berubah sendu. Ia tidak tahu, jika Veni masih saja membencinya. Rian pernah berpikir, jika Veni sudah melupakan masa lalu mereka. Belum cukupkah dirinya diasingkan?
"Aku juga minta maaf. Kau pasti sangat sedih diperlakukan seperti tadi."
Rian terkekeh. Ia sudah terbiasa menerima kebencian dari keluarganya. Ia hanya merasa jika keluarganya benar-benar tidak menghargainya.
"Kau benar. Aku sangat terkejut saat mendengar ucapannya tadi. Aku tidak akan memaksamu bercerita jika kau tidak mau.
"Terimakasih. Suatu saat nanti, aku pasti akan menceritakannya pada mu."
"Aku akan menjadi pendengar yang baik untuk mu."
"Terimakasih kakak ipar." Riana mengangguk.
*****
Riana membolak-balikkan posisi tidurnya. Sejak dua jam yang lalu, ia mencoba tertidur. Namun, matanya tak jua terpejam. Ia kembali memikirkan permintaan Danu padanya.
Bagaimana caranya aku merebut hati Mas Arkan? Pulang saja tidak. Satu kamar pun tidak.
Riana mengambil ponselnya dan mencoba mencari cara yang mungkin saja si Mbah mengetahuinya. Ia mengetikkan kata kunci dari pertanyaannya itu.
Semua jawaban yang ditemuinya, mengarah pada adegan dewasa dan pasangan pengantin. Ia merasa frustasi mencarinya lagi. Mana mungkin ia dan Arkan melakukannya dalam kondisi sadar. Sudah pasti Arkan akan menolaknya.
Ah, mana mungkin aku menggodanya...
__ADS_1
Riana tak bisa melakukannya. Ia tidak ingin mengambil risiko untuk menjatuhkan harga dirinya. Saat ini saja, Arkan sudah memandang dirinya rendah. Apalagi jika ia melakukan hal itu?
Pada akhirnya, Riana memilih membuatkan makanan untuk Arkan. Ia akan mencoba beberapa resep masakan tradisional yang pernah ia coba.
Pagi hari, Riana bangun lebih cepat. Meski matanya hanya terpejam selama kurang lebih lima jam, ia tetap memaksa dirinya bangun. Ia akan mencoba untuk membuat Arkan melihatnya.
Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Toh, ia ingin mengambil simpati dari suaminya sendiri. Tidak ada hukum yang melarangnya.
Setelah berjibaku selama hampir tiga jam, Riana mengambil kotak makan dan memasukkan nasi serta lauk pauk yang ia buat tadi. Mbak Asih yang sejak tadi ingin membantunya, merasa takjub saat melihat kemampuan Riana memasak.
"Mbak, boleh cicip gak, Neng?"
"Boleh dong. Sarapan mbak!" seru Riana.
Tanpa rasa sungkan, mbak Asih segera mencicipi masakan majikannya. Setelah menelan satu suap kuah ikan yang dibuat pesmol oleh Riana, mata mbak Asih terlihat berbinar.
"Enak banget, Neng. Masakan mbak kalah jauh. Ini sih, kalau den Arkan nyobain, mbak jamin dia akan langsung suka sama masakan, Neng. Yang ada, mbak akan pensiun masak di sini."
Riana tertawa geli mendengar penuturan mbak Asih. Terlalu berlebihan rasanya jika hanya karna masakannya, Arkan sampai harus membuat mbak Asih berhenti memasak di rumah itu.
"Mbak bisa saja deh. Gak mungkin lah mbak. Belum tentu selera Mas Arkan sama dengan mbak."
"Percaya saja, Neng. Mbak sih yakin seratus persen."
"Gak mau ah. Nanti aku jadi menduakan Tuhan dong. Percaya itu cukup sana Tuhan saja.
Mbak Asih tersenyum malu mendengar jawaban Riana. Ia menyadari, jika ia sudah salah ucap.
"Santai, mbak. Aku tahu mbak Asih ngajak aku bercanda. Jadi, ucapan aku jangan masukkan ke hati ya. Sudah siang. Aku mau mandi dulu ya mbak."
"Iya, Neng."
rian melangkah menuju kamarnya. Mbak Asih hanya memperhatikan majikannya itu hingga menghilang dari pandangannya.
"Den Arkan b***h kalau sampai melepas, Neng Riana," gumamnya.
Tak berapa lama, Riana turun kembali. Ia akan berangkat lebih dulu. Ia menyadari, ada yang aneh pagi itu. Sepertinya, ia tak melihat Rian sejak pagi tadi.
Kemana dia? Apa masih tidur? Ah sudahlah. Biarkan saja. Aku harus pergi sekarang.
Riana melangkah meninggalkan rumah itu.
*****
Hai genks ... aku akan mulai rutin up setelah AMS (Aku, Madu Sahabatku) berakhir. Jadi, pantengin terus ya.
__ADS_1
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan😘😘😘🤗🤗🤗💖💖💖