Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Pria misterius


__ADS_3

Matahari bersinar cerah pagi itu. Secerah hati Riana. Sudah Waktunya Riana menjalani pendidikannya. Dengan semangat empat lima, ia mulai mempersiapkan dirinya.


Selama satu setengah bulan, ia mempelajari bahasa Prancis. Di awal pembelajarannya, Riana hampir menyerah. Namun, Aldi terus memberinya semangat dan meyakinkan Riana, jika dirinya bisa.


"Jangan mudah menyerah. Ingat, impianmu untuk membanggakan kedua orang tuamu. Kau ingin membuat mereka bahagiakan?"


Kata-kata itu terus Aldi ucapkan untuk memberikan semangat pada Riana. Seperti sebuah kata ajaib, semangat Riana kembali menggebu.


Kini, ia siap menghadapi dunia tempatnya berpijak. Meski belum terlalu fasih, ia harus memberanikan dirinya. Ia kembali mematut dirinya di depan cermin. Ketukan di pintu kamarnya, membuatnya segera melangkah membukakan pintu. Senyum manis Aldi lah yang pertama menyambut Riana.


"P**rêt belle?" (sudah siap cantik?)


"J**e suis prêt." (aku siap)


"Allez." (ayo)


Mereka pun menuju meja makan dan sarapan bersama. Di sana, mama Aldi sudah menyiapkan makanan khas Indonesia.


"Wah, rendang," ucap Riana takjub. Mama Aldi tersenyum menanggapi ucapan Riana.


"E**its, utilisez le français!" Riana melipat bibirnya.


"Sorry," jawab Riana.


"Kenapa jadi pakai bahasa Inggris?"


"Sudahlah, Di. Ini di rumah kan? Jangan terlalu keras mengajari Riana," bela mama Aldi.


Mendapat bantuan, membuat Riana memeletkan lidahnya pada Aldi. Aldi hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Usai sarapan yang dipenuhi berbagai wejangan dan candaan, Aldi dan Riana berangkat bersama.


"Nanti aku akan ke kelasku saat jam makan siang," ucap Aldi saat mobil yang Aldi kendarai memasuki halaman parkir.


"oke." Riana mengacungkan kedua jempol nya.


"Ingat pesan mama dan aku." Lagi-lagi, Aldi memperingatkan Riana.


"Siap bos."


Keduanya turun dari mobil bersamaan. Banyak mata memandang keduanya. Ada yang iri pada Riana, ada juga yang kagum. Namun, melihat wajah Riana yang asing, membuat mereka merasa di atas angin.


Aldi mengantar Riana hingga ke kelasnya. Setelah memastikan Riana masuk, Aldi pergi menuju kelasnya. Seorang pria duduk di samping Riana.

__ADS_1


Hingga pelajaran usai, Riana merasa jika pria di sampingnya ini sangat familiar. Ia merasa mengenal aroma parfum yang ia gunakan.


Wangi parfumnya mirip seseorang? Tapi, siapa?


Riana mengabaikan perasaan itu. Ia berjalan keluar dari kelasnya. Seorang wanita cantik dengan tubuh sintal dan memiliki body bak gitar spanyol menghadangnya.


"Désolé, excusez-moi," ucap Riana. (maaf, permisi)


"Gak usah berbahasa Prancis. Bahasa, Lo, masih belepotan," ucapnya dengan bahasa Indonesia.


Riana mengernyit bingung mendengar nada suara wanita itu. Ia merasa tak memiliki masalah dengan siapa pun di sana. Ia bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di kampus itu.


"Kalau begitu, saya permisi." Riana memilih menghindar dari wanita itu dengan berjalan dari sisi lainnya.


Sepertinya, wanita itu sengaja membuat masalah dengan Riana. Ia menarik lengan Riana dan mendorongnya. Pria yang duduk di samping Riana tadi, tepat berada di belakang Riana dan menangkapnya.


Riana menoleh. Melihat tajamnya mata itu menatap pada wanita tadi, membuat Riana mengingat Rian. Ia ingat, bagaimana Rian menatap Arkan dulu saat meminta Arkan menceraikan dirinya di restoran.


"Rian," gumamnya lirih.


Karena jarak mereka yang cukup dekat, pria itu mampu mendengar ucapan Riana. Ia menundukkan pandangannya menatap Riana. Riana terkejut.


Pria itu kembali menatap wanita itu. "écartez vous!" (minggir)


"Aku yakin, kamu Rian." Tangan Riana terulur ingin membuka masker yang menutupi wajah pria itu.


"Riana." Panggilan itu menginterupsi gerakan Riana.


"Ada apa?" tanya Aldi yang kini sudah berdiri di samping Riana.


Riana menoleh dan tersenyum canggung. "G-gak ada kok," ucap Riana tergagap.


Aldi menatap pria di depan Riana. Pria itu tak melepas pandangannya dari Riana. Aldi menarik Riana ke belakang punggungnya. Akhirnya pria itu mengangkat pandangannya dan menatap Aldi.


"*P*ourquoi tu le regardes comme ça?" tanya Aldi. (Kenapa kau menatapnya seperti itu?)


Tanpa menjawab, pria itu langsung melangkah pergi dari hadapan keduanya. Seakan ia takut menghadapi Aldi. Aldi mengerutkan dahinya bingung. Dari tatapan pria itu, ia menilai jika pria itu tak bermaksud buruk pada Riana. Ia hanya menolongnya.


"Apa tadi ada masalah?" tanya Aldi pada Riana. Mereka kini berjalan ke arah kantin.


"Masalah kecil," jawab Riana.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Tadi, ada cewek. Kayanya, orang Indonesia juga. Gak tahu masalah dia apa, tiba-tiba saja datang terus cara bicaranya seperti orang yang ingin menerkam aku." Riana menceritakan kejadian tadi.


"Siapa?"


"Mana aku tahu?" Aldi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Salahku juga. Sudah tahu dia baru di sini, malah bertanya seperti itu.


Mereka pun tiba di kantin. Aldi meminta Riana duduk mencari meja. Setelah melihat Riana duduk, ia menuju stan makanan dan memesan dua porsi makanan dan minuman.


Tak butuh waktu lama, ia kini sudah duduk di samping Riana. Lagi-lagi, pria misterius itu ada di sana. Kali ini, ia sedang berbicara dengan ketiga temannya. Di lihat dari gaya bicaranya, Aldi berpikir jika pria itu seorang yang berkelas dan berpengaruh.


Tidak hanya Aldi, Riana pun turut memperhatikannya. Dalam benak Riana, ia berpikir, mengapa pria itu tak melepas maskernya saat bicara? Topi serta Hoodie itu pun tetap melekat di kepalanya. Mendengan cara bicara pria yang ia sangka Rian itu, sangat fasih dalam berbahasa Prancis, membuat Riana meragukan dugaannya sendiri.


"Habiskan makanan mu!" Riana menoleh dan menghabiskan makanannya.


Pria itu melirik Riana dengan ekor matanya. Mengawasi setiap gerakan Riana. Ia pun berlalu lebih dulu setelah melihat Riana selesai makan.


Aldi benar-benar merasa penasaran dengan pria misterius itu. Siapa dia? Aku yakin, sejak tadi dia memperhatikan Riana. Tapi.... Aldi kehilangan kata-kata. Ia tidak mengerti bagaimana cara mendeskripsikan pria itu.


"Apa masih ada kelas, setelah ini?" tanya Aldi.


"Tidak ada. Kamu?" Riana balik bertanya.


Aldi melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah selesai. Ayo, pulang!" Riana mengangguk.


Keduanya menuju parkiran dan masuk ke mobil.


*****


Sudah hampir dua bulan ini Arkan benar-benar bersikap dingin pada Cecil. Tidak ada perhatian sedikit pun yang Arkan berikan padanya dan calon buah hati mereka. Rasa kesal terus membayangi pikiran dan hati Cecil.


Arkan akan berangkat pagi-pagi sekali dan akan kembali saat tengah malam. Kunci pintu Arkan, bahkan telah di ganti. Tak sampai disitu. Arkan pun tak pernah makan atau minum di rumah. Semula, Cecil ingin membuat Arkan menyentuhnya melalui makanan dan minuman. Namun, ia tak pernah berhasil.


Arkan bahkan tak memberinya uang sepeserpun. Jangankan yang, ATM nya pun tak ia berikan. Cecil merasa terpenjara. Ia ingin menikmati berbelanja dan hidup bebas. Sayangnya, ia tak memiliki uang. Jadilah ia mengurung diri dalam sangkar emas milik Arkan.


Awas saja, pasti akan ku buat kau memberikan segalanya untuk ku. Aku sudah sejauh ini. Mana mungkin aku menyerah begitu saja. Tidak akan.


*****


pagi genks.... selamat beraktifitas.....


jadwal up rutin: pagi : 7.30, siang/sore : 11.30/16.00 (tidak pasti)

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan 🤗🤗🤗💖💖💖😘😘😘


__ADS_2