
Rian terus memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya terasa lemas. Di saat itulah Riana mengetahui, jika semua sepupu Arkan dan Rian tidak menyukainya. Mereka ingin mencelakainya. Namun, Rian yang peka, lebih dulu meminumnya dan berakibat seperti sekarang ini.
"Maaf," lirihnya.
Rian tidak bisa menjawab ucapan Riana. Karena rasa mual dan muntah yang menderanya, membuat dirinya tak berdaya. Riana segera mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di tengkuk Rian. Tubuh Rian mengeluarkan keringat dengan deras.
"Kamu bawa baju ganti?"
Rian hanya sanggup menganggukkan kepalanya lemah. Riana segera berlari ke dalam. Ia menemukan seorang pelayan yang sedang membawa piring kotor.
"Pak, kamar Rian yang mana ya?" tanyanya.
"Naik ke atas, sebelah kiri kamar kedua."
"Terimakasih pak."
Riana bergegas menuju ruangan yang di tunjuk oleh pelayan tadi. Ia membuka pintu dan membuka ransel yang Rian bawa. Ia mengeluarkan salah satu baju dan membawanya ke taman belakang.
Melihat perhatian Riana pada Rian, membuat Arkan tidak menyukainya. Ia pun memilih pergi dan tak mempedulikan mereka.
*****
Riana masuk ke kamar setelah membersihkan tubuhnya. Arkan sudah menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia tak menghiraukan Arkan dan naik ke atas kasur. Arkan berdeham membuat Riana menoleh.
"Sepertinya, kau sangat perhatian pada Rian."
"Sudahlah, Mas. Aku lelah. Sejak tadi sore kau bahkan tak mempedulikan ku. Jadi, kau tidak perlu mempedulikan aku."
Riana melanjutkan niatnya. Ia menutup tubuhnya dengan selimut. Arkan bangkit berdiri dan mendekati ranjang. Ia menopang tubuhnya, dengan kedua tangan yang bertumpu pada ranjang.
"Mas, mau apa?" tanya Riana saat melihat Arkan mendekat.
Mata Arkan tertuju pada belahan bibir Riana yang seakan menggodanya. Pikirannya kembali melayang pada ciuman mereka. Riana segera melipat bibirnya saat menyadari tatapan Arkan. Tangannya meremas selimut kuat.
Arkan semakin mendekat. Riana menarik selimut dan akan menutup seluruh tubuhnya. Arkan lebih dulu memegang pergelangan tangannya dan menguncinya di atas kepala.
Ia melanjutkan aksinya dan menekan belahan yang sejak tadi ia bayangkan. Tanpa ada balasan dari Riana, Arkan tetap menjalankan aksinya. Tubuhnya, sudah menimpa tubuh Riana. Membuat riana tak mampu bergerak.
Perlahan, bibir Arkan menuju leher jenjang Riana dan menyapukan lidahnya pada leher itu. Desiran hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh Arkan. Tanpa sadar, Riana melenguh. Hal itu sukses membuat Arkan semakin menggila.
Terdengar sangat seksi dan menawan. Ia bahkan tak mengingat Cecil atau pun peringatan yang Rian berikan. Ia terbuai dan tak mampu berhenti. Bibirnya kini turun menuju tulang belikat Riana. Riana menyadari, jika kali ini dirinya tak akan lolos.
__ADS_1
Tuhan, bisakah aku lolos kali ini? Sungguh aku tidak siap.
Air mata pun mengalir dari ujung mata Riana. Dadanya terasa sesak seakan tak mampu meraup oksigen yang ada di sekitarnya. Entah kekuatan darimana, hingga Riana mampu mendorong Arkan kuat, tepat saat pria itu hampir menyentuhkan bibirnya ke puncak aset berharga milik Riana.
Riana terduduk dan menelungkup kan wajahnya di antara kedua lututnya. Tubuhnya terlihat bergetar. Arkan menyugar rambutnya kasar, saat ia harus menekan kembali hasrat yang menguasainya.
Arkan memilih menyingkir ke balkon. Ia tidak mengerti cara menenangkan wanita. Saat Cecil menangis pun, ia tak pernah mempedulikannya.
Arkan menatap langit gelap tanpa bintang malam itu. Sama seperti hatinya yang gelap dan suram. Namun, bersama Riana ia merasakan kedamaian. Arkan masih menyangkal rasa yang perlahan mulai tumbuh subur dalam hatinya. Mungkin saja karena Riana terus menolaknya. Itulah sebabnya, bagi Arkan, Riana tidak benar-benar mencintainya. Selama ini, wanita itu hanya membual saja.
Pagi harinya, Riana memilih pulang lebih dulu. Ia tidak ingin kejadian semalam terulang lagi. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus menyerahkan dirinya pada suaminya itu. Salahkah ia yang mengharapkan cinta Arkan, sebelum mereka melakukannya?
Arkan tak mempedulikan tindakan Riana. Ia membiarkan wanita itu meninggalkan dirinya. Rian mengikuti langkah Riana. Dengan tertatih, Rian terus melangkah.
*****
Riana tiba di rumah. Ia meminta kunci kamar yang di tempatnya dulu pada mbak Asih. Namun, mbak Asih tak mau memberikannya. Karena hal itu adalah permintaan Arkan sendiri.
Riana semakin jengkel. Ia memutuskan pergi ke tempat Yani. Ia menghentikan taksi dan menyebutkan alamat Yani.
"Lo, ngapain?"
"Gua pengen nginep di sini." Yani membelalakkan matanya.
"Gua gak mau ya, laki Lo ngedamprat gua kaya dulu."
"Gak akan."
Riana menerobos masuk dan mengabaikan raut wajah Yani. Yani hanya bisa menghela nafas lelah.
"Mau cerita?" Riana menggeleng.
"Kenapa?"
Riana terus terdiam. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang sempit itu. Memejamkan matanya, mencoba menghalau bayangan kejadian semalam.
Yani membiarkan Riana tenang lebih dulu. Ia tahu pasti, Riana tengah mengalami masalah. Entah masalah apa yang kali ini menimpanya. Yani kembali memainkan ponselnya. Ia dikejutkan dengan ketukan di pintu kamarnya.
Tak terlintas dibenaknya jika seseorang mengikuti Riana. Yang ia pikirkan, mungkin salah seorang teman kosnya yang membutuhkan bantuan.
Ia terpaku melihat keberadaan Rian yang menghilang tanpa kabar. Wajahnya terlihat pucat dan lelah. Napasnya bahkan tersengal-sengal. Riana sendiri membelakangi pintu dan tak menoleh.
__ADS_1
Rian yang melihat Riana berada di sana membuang napas lega. Ia takut, salah mengikuti orang.
"Lo, ngapain ke sini? Tahu darimana kosan gua?"
"Gua ngikutin Riana."
Mendengar namanya disebut, Riana menoleh. "Kamu ngikutin aku?"
Rian mengangguk. Yani meminta Rian masuk ke dalam lebih dulu. Ia mengambilkan segelas air minum untuk Rian. Rian menenggaknya hingga tandas.
"Maaf ya, sudah membuatmu khawatir." wajah Riana terlihat merasa bersalah.
"Apa yang Arkan lakukan padamu?"
Yani menatap Riana. Riana sendiri merasa bingung dengan ucapan Rian. Namun, pertanyaannya terjawab saat netranya menangkap leher Riana yang memerah. Yani mendekat dan menyingkapkan rambut panjang Riana yang terurai.
"Ini kissmark. Jangan bilang kalian sudah melakukannya. Tapi, gak masalah juga sih. Kalian kan sudah menikah."
Rian menatap Yani kesal. Terlihat kemarahan yang menyala di dalam mata Rian. "Jika mereka melakukannya atas dasar cinta, itu tidak akan menyakiti Riana. Sayangnya, itu hanya napsu sesaat yang membuatnya menggila."
Yani terkejut mendengar pernyataan Rian. Sahabatnya, sudah menutupi hal ini dari dirinya.
"Kenapa Lo gak pernah cerita sama gua?"
"Lo gak akan bisa kasih gua jalan keluar."
"Apa dia sudah berhasil melakukannya?"
Riana menggeleng lemah. Namun, mengingat jejak yang berhasil Arkan tinggalkan di tubuhnya, suatu saat Arkan pasti akan berhasil.
"Bercerai lah darinya!"
Riana menatap Rian. "Tapi, aku masih ingin memperjuangkan cintaku." riana menundukkan pandangannya
"Riana benar. Dia harus mencoba untuk membuat Arkan jatuh cinta padanya dulu." Yani mendukung keputusan Riana.
"Sampai kapan? Pernikahan kalian sudah berjalan selama tiga bulan. Apa ada perubahan yang menunjukkan Arkan mencintaimu?"
"Dia sudah mulai menyentuhku."
"Kau tahu, laki-laki melakukan itu Tidak harus dengan cinta. Apalagi dia bisa melakukannya hanya atas dasar pernikahan. Belum tentu dia mencintaimu."
__ADS_1
Riana memikirkan kembali ucapan Rian. Apa yang Rian ucapkan memang benar. Jika sampai Arkan melakukannya tanpa dasar cinta, ada yang harus dilakukannya?