Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Mencoba Untuk Menahan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Eston Place, salah satu hitel milik Gavin..



Pict by : Pinterest


Sebuah mobil dengan jenis Toyota Land Cruiser Prado 2.8L GXL memasuki area hotel mewah yang terletak di tengah kota.


Para staff hotel yang melihat kedatangan mobil itu, seketika saja menjadi kalang kabut.


Mereka langsung bergerak berbaris di kanan dan kiri pintu masuk untuk menyambut kedatangan orang yang menaiki mobil itu.


Siapa lagi jika bukan Gavin, pria yang merupakan pemilik saham utama hotel yang amat sangat mewah itu.


Salah satu staff hotel yang lainnya segera menghubungi sang manager hotel, memberitahu kalau sang tuan datang ke hotel itu.


Tanpa ada bantahan atau pun alasan, sang manager hotel keluar dari ruangannya dengan sangat tergesa untuk menyambut kedatangan tuannya.


Di dalam benaknya, dia bertanya-tanya tentang apa yang menjadi tujuannya tuannya itu datang kemari di malam yang sudah hampir larut. Di mana ini adalah waktunya bagi sebagian besar orang untuk beristirahat.


Meskipun begitu, dia tetap bersikap profesional. Dia berdiri tepat di sebelah kanan pintu masuk. Dia membukakan pintu masuk hotel itu yang terbuat dari kaca tebal untuk tuannya masuk ke dalam.


"Tuan, apa tidak sebaiknya saya saja yang membawa gadis itu?"


Itu supir pribadi Gavin, dia menoleh pada Gavin yang tengah memangku Elle di kursi belakang mobilnya.


"Tidak, biar aku saja."


Tanpa bertanya dua kali, sang supir pribadi itu pun segera keluar dari dalam mobil. Dia membukakan pintu penumpang tempat di mana Gavin duduk.


Gavin lantas membawa Elle keluar dari dalam mobilnya dengan menggendong gadis itu ala bridal.


Seluruh staff pun menundukkan kepala untuk menyambut Gavin.


Eh, tapi, tunggu. Apa kah mereka tidak salah lihat? Apa Gavin benar-benar menggendong seorang gadis? Apa kah dunia sebentar lagi akan kiamat? Atau kah Gavin terkena suatu gangguan?


Berbagai pertanyaan muncul di dalam benak setiap orang yang ada di sana.


Tidak hanya satu atau dua staff hotel yang merasa penasaran akan sosok gadis yang tengah di gendong oleh tuannya itu, termasuk sang manager hotel. Tapi, tidak ada satu orang pun dari mereka yang berani mengangkat kepala.


Sebesar apa pun rasa penasaran mereka, mereka masih lebih menyayangi nyawa mereka. Mereka tidak ingin mencari masalah apa pun dengan pria yang kekejamannya sudah tidak bisa di ragukan lagi.


"Tuan, apa ada yang perlu saya bantu?"


Sang manager bertanya tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Kembalilah ke pekerjaan kalian masing-masing, aku hanya akan menginap untuk satu malam."


"Baik Tuan."


Gavin pun berlalu pergi menuju lantai paling atas hotel itu, di mana di satu lantai itu merupakan ruangan pribadinya.

__ADS_1


Sang manager hotel pun mengikuti langkah Gavin, dia menekan tombol elevator untuk Gavin.


"Tidak usah mengikutiku, kau bisa kembali ke pekerjaanmu."


"Baik Tuan."I'm


Gavin pun masuk ke dalam elevator itu.


Tring!!


Pintu elevator pun terbuka, yang di mana dia langsung di suguhkan oleh wangi sitrus yang menguar dari ruangan itu.


Gavin lantas membawa Elle menuju kamarnya, karena memang hanya ada satu kamar yang ada di ruangan itu.


Perlahan, dia membaringkan Elle di atas kasur.


Gavin kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Gavin sudah tidak kuasa menahan bau yang berasal dari muntahan Elle.


Meskipun hanya berbentuk cairan, tapi tetap saja, bau itu terlalu menyengat.


Gavin bertanya-tanya, berapa banyak minuman beralkohol yang di minum oleh gadis itu?


Setelah membersihkan diri, Gavin kembali menghampiri Elle yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.


Ya, saat dalam perjalanan, Elle sempat tersadar dari pingsannya.


Namun, Elle tiba-tiba saja terlelap saat Gavin mengelus punggung gadis itu.


Sebenarnya, Gavin tidak berniat untuk melakukan hal itu. Tapi, entahlah, itu hanya gerakan refleksnya saja yang seolah tidak ingin Elle terbangun.


Eh, tunggu..


Gavin segera menggelengkan kepalanya. Tidak tidak, tidak mungkin. Jangan sampai dia benar-benar terpesona pada gadis bar-bar itu.


Gavin menggaruk pelipisnya, dia baru sadar atas kebodohan yang dia lakukan.


Untuk apa dia membawa gadis itu kemari?


Kenapa juga Gavin melakukan sesuatu yang sudah tentu akan merepotkan dirinya sendiri?


Apa jangan-jangan Gavin benar-benar terpengaruh oleh pesona yang di miliki gadis itu?


Ah, sudahlah.. Semuanya sudah terlanjur..


Gavin lantas mendekati telepon yang ada di kamar itu. Dia berniat untuk memerintahkan salah satu staff hotel perempuan yang ada di sana untuk mengganti pakaian yang di kenakan Elle.


Namun, saat Gavin sudah mengangkat gagang telepon itu, dia kembali meletakkan gagang telepon itu ke tempat semula.


Entahlah, dirinya merasa sedikit tidak rela jika sampai ada orang lain yang menyentuh tubuh gadis itu.


Sekalipun orang itu juga perempuan, Gavin tetap merasa sedikit tidak rela.


Padahal, sejatinya, Gavin belum tahu pasti status seperti apa yang di miliki oleh gadis itu.


Tapi, Gavin mengabaikan hal itu. Biarkanlah dia kali ini melakukan sesuatu yang di luar nalarnya sendiri.


Ya, hanya untuk kali ini saja.

__ADS_1


Sejenak, Gavin menatap pakaian miliknya yang tergantung rapi di dalam lemari.


Apa dia benar-benar harus membiarkan gadis itu memakai pakiannya?


Ah, sudahlah.. Untuk kali ini saja.. Ingat, untuk kali ini saja..


Gavin lantas meraih salah satu kemeja berwarna putih polos miliknya untuk dia kenakan pada Elle.


"Kau gila Gavin!"


Dia bergumam seraya melepaskan dress yang di kenakan Elle.


"Oh sh**it!! God da**mn it!!"


Gavin mengumpat saat dress yang di kenakan Elle sudah terlepas.


Jujur saja, Gavin merasa sangat tergoda melihat tubuh indah Elle yang melekuk dengan sempurna yang saat ini tengah terpampang nyata di hadapannya.


Hanya dengan melihatnya saja, Gavin dapat mengetahui betapa kenyalnnya kulit seputih pualam yang di miliki oleh gadis itu. Seolah setiap inci kulit gadis itu belum terjamah barang satu centi pun.


"Oh God! Fu**ck!! Tahan Gavin! Kau bukan pria bereng**sek yang akan meniduri seorang gadis yang tidak sadarkan diri!"


Pria itu berkacak pinggang, kepalanya menengadah dengan mata yang terpejam erat.


Sungguh, kepalanya tiba-tiba saja berdenyut. Di tambah lagi dengan bagian bawahnya yang kini mulai bereaksi. Membuat kepalanya semakin berdenyut dengan sangat kuat.


Gavin menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dia mencoba berusaha untuk mengontrol hawa panas yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya.


Ck! Apa yang di miliki oleh gadis ini? Kenapa hanya dengan melihat tubuhnya saja bisa membuat milik Gavin berekasi dengan sangat cepat?


Ketahuilah, ini adalah kali pertama Gavin mengalami hal seperti ini.


Oh, lupakan masalah bagian dada dan bagian inti tubuh gadis itu yang masih tertutup dengan kain.


Tanpa harus melihat bagian yang ada di dalam kain itu pun, Gavin sudah hampir sampai pada titik di mana dia tidak bisa mengontrol nafsu kelelakiannya.


Gavin tidak bisa membayangkan. Bagaimana jadinya? Jika dia sampai benar-benar melihat kedua bagian yang masih tertutup kain itu.


Gavin lantas mencoba untuk tenang, dia kembali pada niat awalnya untuk memakaikan kemejanya pada Elle.


Namun..


"Sh**it!!!"


Gavin kembali mengumpat saat telapak tangannya menyentuh permukaan kulit bagian pinggang Elle yang amat sangat ramping.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2