Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Sandaran


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Apa tuan memiliki tujuan lain?"


Bram (40 tahun, supir pribadi Gavin) melirik Gavin melalui kaca spionnya.


"Tidak, pulang saja."


"Baik Tuan."


Gavin menghela nafasnya, dia menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.


Kepalanya terasa cukup pening memikirkan berbagai hal yang di katakan mommy nya sebelum wanita itu memasuki pesawat.


Sebenarnya, Hannah berencana kembali ke Santa Marino besok lusa. Namun, karena ada hal mendesak yang harus segera dia urus, wanita itu pun memutuskan untuk kembali ke Santa Marino malam ini juga.


Gavin, sebagai seorang anak yang cukup baik untuk mommy nya (i juga menurut versinya sendiri), me


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Gavin membuka kedua matanya yang terpejam. Dia menegakkan tubuhnya lalu melihat orang yang di maksud oleh Bram. Di mana orang itu tengah terduduk di tepi jalan dengan keadaan yang sedikit menyedihkan.


"Apa yang dia lakukan di sana?" Gumam Gavin.


"Apa saya perlu menepikan mobil?"


"Ya."


Oh sungguh, itu adalah jawaban tercepat yang pernah Bram dapatkan dari tuannya. Gavin benar-benar menjawab 1 detik setelah Bram menanyakan hal itu.


Gavin lantas turun dari mobilnya. Perlahan, dia melangkah mendekati Elle. Gavin mengernyitkan dahinya mendengar Elle yang seperti sedang terisak pilu.


Apa yang di alami gadis ini? Kenapa gadis ini menangis sendirian di sini? Apa gadis ini mengalami suatu hal yang begitu menyedihkan?


"Elle?"


Gadis itu tidak menjawab, namun gadis itu menghentikan tangisannya.


Gavin lantas memutuskan untuk menyentuh kepala Elle.


"Gavin?" Lirih gadis itu.


Gavin terhenyak, dia terkejut mendapati wajah Elle yang terlihat sangat menyedihkan. Meskipun hari sudah gelap, namun Gavin tetap dapat melihat wajah Elle dengan sangat jelas berkat bantuan pencahayaan lampu jalanan.


Bola mata dan hidungnya yang memerah, kelopak matanya yang membengkak, kedua pipinya yang begitu basah akibat air mata.


Sudah berapa lama gadis itu menangis?


Gavin berjongkok di depan Elle, dia mensejajarkan posisinya dengan Elle.


"Apa kau menangis karena mobilmu bermasalah, hm?"


Gavin menyelipkan helaian rambut Elle ke belakang telinga gadis itu.


Gavin sebenarnya bisa menebak apa yang sebenarnya menjadi alasan gadis itu menangis. Kendati demikian, Gavin tidak langsung menanyakannya. Biarlah gadis itu sendiri yang menceritakan semuanya.


Elle menganggukkan kepalanya. "A, aku.. Aku ingin pulang ke rumah kedua orang tuaku. Tapi mobilku tiba-tiba saja bermasalah. Aku, aku.. Ah, mobilku..."


Bolehkah Gavin tertawa? Elle benar-benar terlihat seperti anak gadis berusia 5 tahun yang sedang menangis karena bonekanya telah rusak. Andai saja situasinya, memungkinkan, Gavin pasti sudah melahap Elle saat ini juga.


Oh God, rasanya Gavin seperti seorang pedofil yang menyukai anak di bawah umur.


Gavin mengigit pipi dalamnya untuk menahan tawanya.


"Khem! Jangan menangis lagi, aku akan meminta orang untuk memperbaiki mobilmu. Sekarang, sebaiknya kau ikut bersamaku."


Ragu, tentu saja. Elle merasa sangat ragu. Harus kah di mengikuti Gavin? Dia merasa sedikit was-was terhadap Gavin. Tapi, di saat seperti ini, siapa lagi yang akan dia mintai tolong.


Amy? Gadis itu saat ini sedang berada di luar negeri untuk menghadiri pernikahan saudara sepupunya.


Mau tidak mau, Elle menganggukkan kepalanya. Dia setuju untuk ikut dengan Gavin.

__ADS_1


Karena mau menolak pun, Elle tidak bisa menghubungi seseorang untuk memperbaiki mobilnya. Handphonenya kehabisan baterai, alat charge ponselnya pun tidak tahu dia letakkan di mana.


Ah, sungguh, ini adalah hari tersial yang di miliki oleh Elle.


"Eh, tunggu."


Elle mahan Gavin saat pria itu hendak menariknya menuju mobil pria itu.


"Apa ada yang tertinggal?"


"Tas dan koper ku di dalam mobil."


"Biarkan saja, biarkan orang suruhanku yang membawanya."


.......


.......


.......


Kediaman Gavin..


Jujur saja, Elle merasa sangat canggung berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Gavin. Terlebih lagi, mereka saat ini berada di dalam kamar Gavin.


Jangan samakan dengan ketika mereka berada di kantor, itu sudah dalam konteks yang berbeda.


Ya meskipun setiap pagi Elle memang ada di kamar Gavin untuk menyiapkan keperluan kerja pria itu. Namun tetap saja, untuk saat ini, posisi dan kondisinya benar-benar berbeda.


Elle menghela nafasnya, dia menoleh pada Gavin yang saat ini tengah duduk di sofa seraya berkutat dengan laptopnya.


"Gavin?"


"Hmm?" Pria itu menyahut tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop.


"Biarkan aku pindah ke kamar tamu."


Javer menghela nafasnya, dia menghentikan kegiatannya kemudian menoleh pada Elle.


Ketahuilah, ini sudah ke sekian kalinya Elle meminta untuk pindah kamar.


Gavin lantas beranjak dari duduknya, dia mendekati Elle yang saat ini tengah berbaring di atas kasur.


Hal itu seketika saja membuat Elle merasa panik.


"Hey hey hey.. Kau mau apa?"


Gadis itu beringsut dari tidurnya untuk duduk.


Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu? Apa yang akan aku lakukan?"


Elle bergidik, dia sedikit was-was melihat raut wajah Gavin yang terlihat begitu seduktif.


"Gavin, ini tidak lucu."


Elle hendak beranjak dari kasur.


Namun terlambat, Gavin sudah lebih dulu menariknya. Menjatuhkan Elle kembali ke atas kasur, kemudian menempatkan gadis itu di bawah kungkungannya.


Elle menelan salivanya seraya memalingkan wajahnya, dia merasa sangat gugup saat ini. Saking gugupnya dia karena Gavin, dia bahkan sampai melupakan masalah yang baru saja dia hadapi di rumah.


"Ga, Gavin.."


"Hmm??"


"Menyingkirlah.."


"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak ingin menyingkir?"


Elle mendengus, dia menatap Gavin dengan sangat tajam. "Ketahuilah, aku pandai bela diri. Aku bisa saja menendangmu dari sini."


Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Lakukan lah. Aku ingin tahu, seberapa kuat kau bisa menendangku."


Elle merasa tertantang, dia menendang Gavin dengan gerakan yang begitu cepat.

__ADS_1


Tapi sayangnya, gerakannya kalah cepat di bandingkan dengan gerakan Gavin.


Pria itu sudah lebih dulu mengunci kedua kaki Elle sebelum Elle berhasil menendang Gavin.


"Apa itu yang kau sebut dengan pandai bela diri?"


"Kau curang!"


"Aku tidak."


"Ck. Menyingkirlah! Apa kau tidak sadar kalau beban tubuhmu begitu berat jika di bandingkan dengan berat tubuhku! Kau membuatku kesulitan untuk bernafas."


"Kalau begitu.. Aku akan membantumu untuk bernafas."


Elle mengernyitkan dahinya. "Jangan bergurau Gavin! Kau tahu, suasana hatiku sedang dalam keadaan yang buruk. Jangan membuat suasana hatiku semakin bertambah bummmphhh.."


Gavin membungkam mulut Elle dengan mulutnya.


Awalnya hanya sekedar kecupan. Lambat laun, kecupan itu perlahan berubah menjadi lu**matan lembut.


Tidak ada penolakan pasti yang di berikan oleh Elle, gadis itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Gavin.


Seolah mendapatkan setetes air di padang gurun yang begitu tandus, Elle menyambut dan membalas setiap lu**matan yang Gavin berikan dengan sedikit tidak sabar.


Gavin merasa heran, kenapa gadis ini tiba-tiba saja berubah menjadi agresif. Pria itu lantas melepaskan pagutan mereka.


Gavin sedikit terhenyak mendapati Elle yang kini sudah berlinang air mata.


"Hey hey hey.. Apa aku menyakitimu?" Pria itu menghapus air mata Elle.


Elle mengigit bibirnya, dia juga tidak tahu kenapa air mata itu tiba-tiba saja keluar dari matanya.


"Aku.. Tidak tahu.." Lirih gadis itu.


Gavin menghela nafasnya, dia merebahkan tubuhnya di samping Elle.


"Kemarilah."


Gavin menarik Elle untuk masuk ke dalam pelukannya.


Elle tidak menolak, gadis itu masuk ke dalam pelukan Gavin tanpa ragu


"Menangislah, pakaianku cukup kering untuk kau basahi dengan air matamu."


Bak kerbau di cucuk hidungnya, Elle seketika saja terisak pilu saat itu juga. Dia terisak pilu seraya meremat pakaian bagian dada yang di kenakan Gavin.


Gavin menyunggingkan senyum kecilnya. Entah kenapa, dia merasa senang karena menjadi sandaran untuk Elle.


Gavin tidak keberatan kalau saja Elle memang ingin menjadikannya sebagai tumpuan. Gavin bahkan akan dengan suka rela menyerahkan seluruh raga dan hatinya untuk Elle.


Apa kah Gavin penah memberitahu kalian kalau dia sudah benar-benar jatuh pada pesona yang di miliki Elle? Jika sudah, Gavin tidak bosan memberitahu kalian untuk yang ke sekian kalinya.


Sungguh, Gavin benar-benar sudah bertekuk lutut pada Elle. Gavin sudah benar-benar hanya terpusat pada Elle.


Entahlah, Gavin juga tidak tahu kenapa dia sekarang bisa menjadi seperti ini terhadap seorang gadis.


Tapi, biarkan saja, Gavin tidak peduli. Selama gadis itu Elle, Gavin tidak merasa keberatan untuk selalu melakukan hal yang di luar kebiasaannya.


Gavin menepuk-nepuk punggung Elle dengan lembut, pria itu mengecup puncuk kepala Elle untuk sejenak. Dia membiarkan Elle menangis hingga gadis itu benar-benar merasa puas.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2