
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Rumah Dean..
"Ini sudah memasuki bulan ke 5, kenapa hingga saat ini belum ada kabar mengenai kehamilan istrimu?"
Dean memijat pelipisnya. "Bisa kah ibu bersabar? Aku sedang memulainya ibu. Aku sedang berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengannya. Semuanya butuh proses."
"Proses kau bilang? Proses seperti apa yang kau lalui? Proses seperti apa yang kau lakukan? Hingga saat ini kau belum mendapatkan hasil sedikit pun. Sampai kapan kau akan memulai?"
Dean menghela nafasnya, dia sungguh merasa lelah menghadapi sikap ibunya yang selalu merasa tidak sabar. Ketahuilah, ini sudah kali ke 4 ibunya mendesaknya agar segera menghamili Elle.
"Bukan kah ibu memberiku waktu 1 tahun, kenapa ibu terus menerus mendesakku? Biarkan aku mengatasinya dengan caraku sendiri. Bukan kah yang ibu inginkan hanyalah sebidang tanah itu? Aku pasti akan mendapatkannya untuk ibu. Tolong bersabarlah."
"Bersabar, bersabar, dan bersabar. Selalu itu yang kau katakan. Ibu sudah cukup bersabar selama 2 tahun ini. Ibu merasa muak melihat wajah istrimu yang selalu hilir mudik di rumah ini. Ibu tidak tahan untuk tidak memakinya!!"
"Ibu, sudah cukup!"
Dean kini sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Dean benar-benar merasa sangat penasaran, kesalahan apa yang di lakukan oleh Elle hingga membuat ibunya begitu membenci Elle.
Toh, kalau pun memang keluarga Elle yang merebut tanah itu, tidak seharusnya ibunya membenci Elle sampai sebegitunya. Elle tidak bersalah, dia tidak berhak mendapatkan rasa kebencian yang begitu besar dari ibunya.
"Aku muak mendengar ibu yang selalu menjelekkan Elle. Aku tidak tahu kesalahan apa yang istriku perbuat sehingga ibu sangat membencinya. Jika ibu memang tidak ingin melihat wajah istriku, maka biarkan aku dam istriku pergi dari rumah ini."
"Aku benar-benar tidak tahan melihat Elle yang selalu di tindas oleh kalian. Bahkan hingga saat ini Elle masih mau membantu ekonomi kalian. Tidak kah ibu menyadari hal itu? Jika bukan karena Elle yang ikut mengeluarkan uangnya untuk kebutuhan hidup kalian, sudah di pastikan kalian akan hidup dengan kesusahan."
"Apa ibu sampai sekarang masih tidak sadar kalau penghasilanku tidak lebih besar dari istriku? Apartment dan mobil yang aku miliki pun itu hasil tunjangan dari tempatku bekerja. Hingga saat ini aku masih belum bisa melunasinya. Aku tidak bisa jika harus mencukupi kebutuhan hidup kalian semua."
Tamara seketika saja menatap Dean dengan sangat tajam.
"Itu semua karena kau memberikan hampir seluruh penghasilanmu pada kekasihmu!"
"Ibu, cukup! Bukan kah kita sepakat untuk tidak membahas Ayana? Bagaimana jika Elle mendengarnya? Bukan kah itu sama saja dengan ibu menghancurkan rencana ibu sendiri?"
__ADS_1
"Apa salahnya? Ibu sudah sangat muak jika harus terus bersabar. Ibu ingin segera mendapatkan tanah itu agar kehidupan ekonomi kita menjadi lebih baik. Lagi pula, apa yang ibu katakan memang benar adanya. Penghasilanmu lebih banyak kau keluarkan untuk menghidupimu kekasihmu yang tidak bisa apa-apa itu."
"Sedari dulu juga ibu tidak menyukai kekasihmu. Apa yang bisa wanita itu lakukan selain hanya menengadahkan tangannya padamu! Apa dia pikir dia pikir dia itu seorang ratu yang harus selalu di layani! Ibu tidak mengerti kenapa kau begitu mencintai perempuan tidak berguna seperti itu!!"
"Meskipun ibu membenci Elle, tapi setidaknya Elle lebih baik dari wanita tidak berguna itu! Elle lebih bisa di andalkan dalam segala hal. Aaah, ibu mengerti sekarang. Apa jangan-jangan karena wanita itu yang membuatmu hingga saat ini tidak bisa menghamili Elle? Apa jangan-jangan hingga saat ini kau belum menyentuh Elle sama sekali?"
"Ibu!!"
Perdebatan yang tidak berkesudahan itu terus saja berlanjut. Tanpa mereka sadari, kalau orang yang mereka bahas sedari tadi tengah mendengarkan percakapan mereka di balik pintu.
Elle, yang awalnya berniat untuk memberikan pakaian yang dia beli untuk ibu mertuanya, harus menghentikan niatnya tat kala mendengar suara Dean.
Hal itu pun membuat Elle hendak berlalu pergi dari depan kamar ibu mertuanya. Namun, Elle lebih memilih untuk tetap berdiam diri di depan kamar ibu mertuanya saat ibu mertuanya mulai membahas masalah keturunan.
Bukan maksud Elle ingin menguping percakapan mereka. Hanya saja, Elle merasa penasaran tentang jawaban seperti apa yang akan Dean berikan.
Elle merasa sangat senang di saat Dean memberikan jawaban kalau dia masih memulai dan sedang berusaha menjalin hubungan yang baik dengannya.
Namun, di saat Dean mulai membahas masalah sebidang tanah, jantung Elle tiba-tiba saja berdegup dengan sangat cepat. Elle tidak tahu, sebidang tanah apa yang mereka maksud.
Belum selesai Elle mencerna masalah sebidang tanah itu, jantung Elle di buat semakin berdegup dengan sangat kencang saat ibu mertuanya mulai membahas kekasih Dean.
Elle tidak tahu, Elle bahkan tidak mengerti, apa yang sebenarnya sudah terjadi di dalam pernikahannya. Elle masih belum bisa memahami apa yang baru saja dia dengar.
Tapi satu hal yang setidaknya bisa Elle pahami. Alasan kenapa Dean tidak ingin menyentuhnya, alasan kenapa Dean tidak memiliki perasaan kepadanya, adalah karena Dean sudah memiliki kekasih.
Elle memang ingin mencari tahu maksud dan tujuan Dean menikahinya, Elle juga memang ingin mencari tahu kenapa selama ini Dean selalu menghindarinya.
Tapi, Elle belum siap jika harus mengetahuinya dalam waktu secepat ini. Elle benar-benar tidak siap jika harus mengalami sakit hati di waktu yang sesingkat ini.
Di mana dia baru saja mulai menjalin hubungan baik dengan Dean. Di mana dia baru saja mulai menata hatinya untuk menerima Dean kembali.
"E, Elle?"
Dean merasa sangat terkejut melihat Elle yang berdiri di depan pintu kamar ibunya.
Begitu pula dengan Tamara, wanita itu benar-benar merasa terkejut karena ada Elle di sana dengan raut wajah yang salah sulit untuk di artikan.
__ADS_1
Apa kah dia mendengar semua percakapan yang mereka lakukan?
"Ell, sejak kapan kau ada di situ?" Dean tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
Dean benar-benar takut kalau saja Elle mendengar semua percakapan yang dia lakukan bersama dengan ibunya.
Namun, Elle tidak menjawab. Gadis itu mengalihkan netranya dari Dean. Dia menatap Tamara dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
"Aku ingin memberikan dress ini pada ibu. Aku membeli dress ini untuk ibu di saat aku menemani ibu dari atasanku pergi berbelanja pakaian. Aku pikir, ibu akan cocok memakai dress ini. Jadi, aku sengaja membelikan dress ini untuk ibu."
Tama terdiam, dia tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Jujur, Tamara merasa sedikit takut menghadapi sikap Elle yang terlihat biasa saja.
Tamara yakin, sangat yakin, Elle sudah pasti mendengar semua percakaan yang dia lakukan bersama Dean.
"Bukan kah lusa ibu akan menghadiri acara pernikahan anak dari teman ibu. Ibu bisa memakai dress ini."
Elle memberikan paper bag yang dia bawa pada Tamara.
Tamara melirik Dean sekilas, dia menerima paper bag itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Kalau begitu, aku akan pergi beristirahat."
Tanpa menunggu tanggapan apa pun dari keduanya, Elle berlalu pergi begitu saja.
Meninggalkan Dean dan Tamara yang saling bertukar pandang dengan tatapan yang di penuhi dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..