Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Malam Panas


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Untung saja, Gavin masih dalam sadar akal sehatnya. Karena alih-alih membawa Elle menuju ranjang empuk yang ada di kamarnya, Gavin justru membawa Elle masuk ke dalam kamar mandi.


Pria itu membawa Elle masuk ke dalam box shower. Dengan Elle yang masih berada di dalam gendongannya, Gavin menyalakan air shower yang langsung mengguyur tubuh mereka.


Gavin berharap, dengan air dingin yang mengguyur mereka, mereka bisa mendapatkan kesadaran mereka kembali.


"Astaga!! Gavin, ini dingin sekali!!"


Dan ya, hal itu berhasil membawa Elle kembali ke dalam kesadarannya. Meskipun Elle tidak sepenuhnya sadar, tapi setidaknya Elle sudah tidak lagi dalam keadaan mabuk parah.


"Gavin, lepaskan aku!!"


Elle berusaha turun dari gendongan Gavin.


Namun, alih-alih menurunkan Elle, Gavin justru semakin mempererat cengkramannya pada kedua paha Elle. Karena niatnya untuk mengembalikan kesadaran, hanya berhasil terjadi pada Elle.


Sungguh, dalam posisi seperti ini, nafsu kelelakian Gavin justru semakin meningkat dengan sangat pesat.


Bodohnya Gavin, dia lupa kalau Elle saat ini mengenakan kaos berwarna putih. Dengan air yang mengguyur tubuh mereka, membuat Gavin dapat melihat dua bongkahan dada kenyal milik Elle yang tercetak dengan sangat jelas.


"Ga, gavin.."


Elle menatap Gavin dengan mata yang mengerjap. Elle memang masih dalam keadaan mabuk. Tapi, berkat air dingin yang mengguyur tubuhnya, mabuk yang di alaminya sedikit menghilang.


Dengan kesadarannya yang perlahan mulai terkumpul, membuat Elle tersadar akan sesuatu milik Gavin di bawah sana yang sudah sangat mengeras.


"Gavin.. Ini salah.."


Mulut dan hatinya sungguh berlawan arah. Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi percayalah, di dalam lubuk hatinya, Elle cukup merasa penasaran akan sesuatu di bawah sana yang mengganjal di sela-sela intinya.


"Bisa kah kau membantuku? Untuk satu kali ini saja.."


Elle meneguk salivanya dengan sangat kasar. Suara Gvin yang terdengar sangat berat, membuat tubuh Elle perlahan mulai terasa semakin panas. Bahkan hingga membuat bagian inti miliknya terasa berkedut akibat membayangkan hal yang iya iya.


Sungguh, Elle merasa sangat penasaran, akan seperti apa rasanya jika milik Gavin sampai benar-benar memasukinya. Hanya merasakan dari luar saja, Elle tahu kalau milik Gavin memiliki ukuran yang melebihi rata-rata.


Ya meskipun Elle belum pernah melakukannya, bukan berarti Elle tidak pernah melihat bagian inti milik pria.


Berterima kasihlah pada Amy yang meracuninya dengan berbagai tayangan film biru, membuat Elle pernah melihat bagian inti milik pria walaupun tidak secara nyata.


"Aku.."


"Untuk satu kali ini saja.. Aku sudah tidak bisa menahannya."


Gavin membenamkan wajahnya pada ceruk leher Elle. Nafasnya terdengar sangat memburu akibat menahan hawa nafsu yang saat ini sedang melandanya.


"Tapi.. Aku, aku.. Aku tidak tahu bagaimana caranya."


"Hanya lakukan apa yang aku katakan, aku berjanji, aku tidak akan mengambil apa yang kau miliki. Aku hanya ingin kau membantuku, kau bisa menggunakan tanganmu."

__ADS_1


Elle tampak berpikir untuk sejenak. Dia tidak munafik, dia merasa sangat penasaran akan bagaimana rasanya jika dia merasakannya menggunakan tangannya secara langsung.


"Ba, baiklah.."


Gavin lantas menurunkan Elle dari gendongannya. Pria itu mendorong Elle hingga punggung Elle terbentur kaca pembatas box shower.


Bagusnya, Gavin menempatkan tangannya tepat di punggung Elle. Sehingga punggung Elle tidak terbentur secara langsung pada kaca pembatas.


Ya meskipun nafsu memang menyelimuti Gavin, namun Gavin tetap tidak ingin menyakiti Elle. Terlebih lagi, Gavin tahu, ini adalah kali pertama untuk Elle. Gavin tidak ingin menciptakan suasana yang sudah di pastikan akan membuat Elle merasa takut.


Sebelum Gavin melakukan apa yang ingin dia lakukan, dia menatap Elle untuk sejenak.


"Apa kau memiliki kesadaranmu?"


Elle mengangguk kecil. "Aku cukup sadar."


"Jawab pertanyaanku terlebih dahulu."


Elle kembali mengangguk kecil.


"Siapa namamu?"


Elle mengernyitkan dahinya. "Pertanyaan macam apa itu! Kenapa kau menanyakan hal itu di saat seperti ini, Gavin."


Gavin seketika saja terkekeh kecil, sudah bisa di pastikan, Elle saat ini benar-benar memiliki kesadarannya.


Tanpa memberikan aba-aba apa pun, Gavin langsung menubrukkan bibirnya oada belah bibir Elle yang sangat ranum.


Meskipun gerakan Gavin cukup cepat. Tapi percayalah, ciu**man dan lu**matan yang di berikan Gavin terasa amat sangat lembut.


Di sela-sela ciumannya, Gavin menuntun tangan Elle munuju bagian inti miliknya. Dengan tangannya yang masih berada di atas tangan Elle, Gavin mulai memberikan arahan pada Elle agar gadis itu mere**mat bagian inti miliknya secara perlahan.


Merasa tidak cukup hanya dari luarnya saja, Gavin menyingkirkan tangan Elle dari bagian inti miliknya. Dengan gerakan cepat, Gavin meloloskan celana yang di kenakannya.


Gavin kembali menggenggam tangan Elle, dia mengarahkan tangan Elle agar kembali menggenggam bagian inti miliknya yang kini sudah tidak terhalang apa pun lagi.


Oh sh**it!


Elle mengumpat di dalam hatinya saat merasakan ukuran milik Gavin yang tidak cukup di genggamannya.


Elle tiba-tiba saja merasa penasaran. Telapak tangannya yang terlalu kecil? Atau milik Gavin yang terlalu besar?


"Hnggghh!!"


Gavin menggeram saat merasakan betapa halusnya kulit telapak tangan Elle. Dia tidak kuasa menahan hasratnya. Bahkan hingga membuat dia melepaskan tautan bibir mereka.


Gavin lantas mengatur nafasnya yang sangat memburu, dia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Elle.


"Gerakkan, secara perlahan."


Elle menuruti apa yang di katakan Gavin, dia menggerakkan tangannya secara perlahan.


Apa yang di lakukan Elle, seketika saja membuat Gavin semakin menggeram.


Sebelah tangannya yang sedari tadi masih setia bertengger di punggung Elle, perlahan kini mulai menjalar menuju dada Elle.

__ADS_1


Tidak mendapatkan penolakan apa pun, Gavin menelusupkan tangannya kedalam kaus yang Elle kenakan.


Ctak!


Bunyi terlepasnya pengait penghalang dada Elle terdengar begitu nyaring karena Gavin sebelumnya sudah mematikan air shower yang mengalir.


Perlahan, Gavin mulai memainkan dua bongkahan dada kenyal milik Elle. Mulutnya tidak tinggal diam, dia menyesap daun telinga Elle dengan cara yang begitu menggoda.


"Eungh! Gavin.."


"Yes.. Say my name babby.." Gavin berbisik di telinga Elle dengan suaranya yang terdengar sangat serak.


Hal itu sontak saja membuat Elle tidak kuasa menahan hasratnya, bahkan hingga membuat gerakan tangannya pada milik Gavin terhenti.


"Gavin.. Aku, aku tidak tahan."


Gavin seketika saja menghentikan aksinya, dia mengangkat wajahnya dari ceruk leher Elle. Gavin lantas menatap wajah sayu Elle dengan sangat intens.


"Apa yang kau inginkan?"


Elle terdiam untuk beberapa saat. Haruskan dia melakukannya? Elle tahu, dari awal, ini adalah sebuah kesalahan. Tapi.. Semuanya sudah terjadi, Elle benar-benar tidak kuasa lagi menahan hasratnya.


Bukan hanya karena efek wine yang diminumnya, tapi juga karena hasratnya yang sudah terpendam sangat lama. Hasrat yang selama ini tidak mampu dia lepaskan ada Dean.


"Kau.. Aku ingin kau.. Aku tidak tahan lagi."


"Kau yakin?"


"Ya.. Lakukanlah.."


"Kau sadar?"


"Aku sangat sadar. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Ajari aku apa yang selama ini belum pernah aku rasakan, Gavin."


Mendengar Elle menyebut namanya dengan sangat jelas, membuat Gavin meloloskan pakaian yang mereka menakan dengan gerakan cepat.


Tidak ingin membuat Elle merasa tidak nyaman, Gavin memutuskan untuk membawa Elle menuju ranjang empuk nan nyaman miliknya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Gavin pun mulai melakukan apa yang memang sudah sejak lama ingin dia lakukan pada Elle.


Ranjam empuk yang saat ini mereka tempati, menjadi saksi bisu atas malam panas yang terjadi di antara Elle dan Gavin.


Gavin tidak peduli kalau Elle saat ini masih menjadi istri pria lain. Gavin tidak lagi peduli kalau apa yang dia lakukan saat ini adalah kesalahan.


Lagi pula, ini bukan kali pertama Gavin melakukan kesalahan. Biarkan dia melakulan kesalahan lagi untuk yang kesekian kalinya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2