
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Gavin meletakkan segelas air di atas meja kerjanya. dia meyandarkan pantatnya pada pinggiran meja kerjanya. Pria itu menatap Elle yang duduk di kursi yang terletak di depan meja kerjanya dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
"Bagaimana perasaanmu? Are you okay?"
Elle menghela nafasnya. "I don't know.. But, yeah.. I'm okay."
Gadis itu menjawab tanpa menatap Gavin, tatapan matanya terfokus pada ujung hilss yang dia kenakan.
Keheningan pun terjadi untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan. Mereka terlalu sibuk bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing.
Hingga...
"Gavin?" Elle mendongakkan kepalanya untuk menatap Gavin.
"Hm?" Gavin menatap Elle seraya menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa tadi kau memintaku untuk tidak menanggapi Dean? Kenapa situasinya seolah-olah tidak ada yang tahu kalau aku sudah menikah?"
Gavin mengedikkan bahunya. "Semua data milik karyawan yang bekerja di perusahaanku tersimpan dengan baik, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Pengecualian untukmu, hanya aku, Sam dan pihak penanggung jawab NJ Company saja yang mengetahui statusmu."
"Aaa.. Jadi begitu.." Elle mengangguk-anggukkan kepalanya.
"So? Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Kenapa suamimu sampai datang kesini?"
Elle mengerjapkan matanya, dia menatap Gavin dengan di penuhi rasa kebingungan.
Apa pria itu sedang mengintrogasinya? Apa pria itu tidak tahu kalau Elle kemarin datang ke pengadilan agama? Atau kah pria itu hanya pura-pura tidak tahu saja? Bukan kah selama ini pria itu selalu mengawasinya?
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Aku menanyakan hal ini karena suami mu membuat keributan di perusahaan milikku. Dan kau perlu tau, aku tidak lagi mengawasimu. Aku melakukan apa yang kau minta padaku tempo hari."
"Jadi kau benar-benar berhenti mengawasiku?"
Gavin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sesuai dengan apa yang kau inginkan."
Elle seketika saja mengulum senyumnya, dia tidak menyangka kalau Gavin benar-benar melakukan apa yang tempo hari dia minta.
Jujur saja, Elle merasa keberatan karena Gavin selalu mengawasi gerak geriknya. Ya meskipun sebenarnya Elle juga tidak tahu siapa saja yang mengawasinya. Namun tetap saja, Elle menjadi merasa tidak leluasa dalam beraktifitas.
Tempo hari, Elle sebenarnya merasa ragu untuk meminta hal itu pada Gavin. Ya, kalian tahu sendiri kan karakter Gavin seperti apa. Elle ragu kalau pria itu akan menuruti permintaannya agar pria itu tidak lagi mengawasinya.
__ADS_1
Terlebih lagi, ketika Elle sudah mengumpulkan tekad untuk mengatakan hal itu pada Gavin. Pria itu hanya memberikan tanggapan berupa gumaman kecil.
Jadi Elle benar-benar merasa sedikit terkejut ketika mengetahui kalau pria itu sudah benar-benar tidak lagi memgawasi gerak geriknya.
"Baiklah.. Kalau begitu aku akan kembali bekerja."
Elle beranjak dari kursinya kemudian berlalu pergi begitu saja menuju meja kerjanya.
"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku."
Elle menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Gavin. "Pertanyaan yang mana?"
"Apa yang terjadi antara kau dan suamimu?"
Elle mengedikkan bahunya. "Bukan suatu hal yang besar. Hanya saja, ada satu hal yang sepertinya akan membuatmu merasa senang."
Gavin menaikkan sebelah alisnya, dia menunggu hal apa yang selanjutnya akan di katakan oleh Elle.
"Tidak lama lagi, pria itu sudah bukan lagi suamiku."
Tanpa menunggu tanggapan dari Gavin, Elle melanjutkan langkahnya menuju meja kerjanya.
Gadis itu lantas memfokuskan dirinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tanpa menghiraukan Gavin yang terus saja menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
.......
.......
.......
Elle seketika saja menghentikan langkahnya.
Hal itu membuat Gavin yang berjalan di samping Elle juga ikut menghentikan langkahnya, pria itu menatap Elle dengan di penuhi rasa kebingungan.
"Why? Kenapa kau mengumpat dengan begitu tegas?"
Elle tidak menjawab, matanya terfokus pada Dean yang berada di area luar perusahaan. Elle fikir, Dean sepertinya sudah menunggunya sejak kejadian tadi siang.
Gavin yang melihat hal itu pun mengernyitkan dahinya, dia lantas menoleh ke arah pandang Elle.
"Abaikan saja.."
"Abaikan?"
"Hmm.." Gavin menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lagi pula, kenapa juga kau harus memarkirkan mobilmu di depan perusahaan? Apa kau lupa kalau gedung ini memiliki basment untuk memarkirkan mobil? Bahkan kau memiliki tempat khusus untuk memarkirkan mobilmu."
Elle menatap Gavin dengan sedikit kesal. Terlebih lagi, hari ini dia di paksa berangkat ke kantor bersama dengan pria itu dan meninggalkan mobilnya di kediaman pria itu.
"Dan apa kau lupa kalau gedung perusahaan ini milikku? Aku berhak memarkirkan mobilku tempat mana pun yang aku inginkan." Pria itu menjawab dengan acuh tak acuh.
Elle seketika saja memutar bola matanya. "Ya ya terserah padamu!"
"Jika sudah seperti ini, bagaiamna aku harus mengabaikannya? Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk aku mengabaikannya. Kau tahu, Dean termasuk tipikal orang yang sangat gigih. Dia tidak akan menyerah hanya karena di abaikan."
"Kau hanya perlu mengabaikannya. Jangan menoleh padanya meskipun dia memanggil namamu berulang kali. Anggap saja dia tidak ada di sekitarmu. Mudah bukan?"
Elle seketika saja mengernyitkan dahinya, dia menatap Gavin dengan mata yang memicing.
"Kenapa kau seolah-olah sangat mendukung perseteruanku dengan Dean?"
Gavin mengangkat bahunya acuh. "Aku memang sangat mendukung perseteruan kalian. Jika kalian benar-benar berpisah, bukan kah hal itu akan menguntungkan untukku? Aku bisa menarikmu ke pelukanku tanpa ada gangguan apa pun. Aku bahkan bisa menggantikan posisi pria itu sebagai suami mu."
"Tcih!" Elle menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau begitu percaya diri? Kau berbicara seolah-olah aku bersedia untuk berada di sisi mu."
"Kalau pun kau tidak mau, kau akan tetap berada di sisiku. Kau tahu, aku juga termasuk tipikal orang yang sangat gigih. Aku akan mendapatkan apa pun yang menjadi keinginan ku, bagaimana pun caranya. Sekali pun aku harus menculikmu dan mengurungmu di kediamanku untuk selamanya, aku tetap akan melakukannya."
"Waaah.." Elle memalingkan wajahnya, dia merasa sedikit gemas melihat tatapan mata Gavin yang seolah di penuhi dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi. "Aku tidak menyangka kalau kau sudah menyiapkan rencana sematang itu."
"Emm.." Gavin menggelengkan kepalanya. "Itu bukan rencana, tapi tujuan yang harus aku gapai di hari yang akan datang."
"Tcih! Waaah.. Ha ha.."
Elle tidak tahu lagi harus menanggapi perkataan Gavin dengan seperti apa. Jika ada penghargaan tentang rasa percaya diri tinggi, sepertinya Gavin akan menjadi orang pertama yang akan memilikinya.
"Sudahlah.. Abaikan saja, kau hanya perlu keluar dari gedung ini kemudian masuk ke dalam mobilku. That's so easy babby.."
Elle mendengus. "Yaa. Easy!"
Gadis itu lantas berlalu pergi begitu saja, mengabaikan Gavin yang terkekeh gemas karena sudah berhasil membuat Elle merasa kesal.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..