
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Ke esokan harinya..
Rumah Dean..
Dean menghirup nafasnya dalam-dalam, menikmati sejuknya suasana pagi hari yang begitu menenangkan Jiwa.
Dia menoleh ke samping kirinya, di mana ada seorang wanita cantik yang masih setia tenggelam dalam tidur lelapnya.
Senyumnya tersungging melihat wajah polos istrinya yang begitu damai saat sedang tertidur lelap.
Dean tiba-tiba saja kembali teringat akan hal yang terjadi tadi malam. Dimana dia akhirnya bisa mendapatkan kesempatan terakhir untuk merajut kehidupan rumah tangga yang layak bersama dengan Elle.
Hah.. Andai saja sejak dulu dia berani melangkah ke depan, mungkin saja dia sudah menikmati wajah indah Elle di setiap paginya.
Ya, andai saja..
Tapi, sudahlah.. Setidaknya, mulai sekarang hingga nanti dan seterusnya, Dean sudah bisa menikmati moment seperti ini di setiap pagi harinya.
Dean berjanji pada dirinya sendiri, dia akan menebus semua kesalahan yang telah di lakukannya pada Elle.
Saat Dean hendak mengelus wajah Elle, Dean menarik kembali tanggannya.
"Astagaaa.. Aku baru teringat pada Ayana. Aku yakin, wanita itu pasti akan merajuk habis-habisan." Dean bergumam di dalam hatinya.
Tapi, sudahlah biarkan saja. Dean akan memikirkan Ayana nanti.
"Eelll.. Bangunlah.."
Den mengelus wajah Elle dengan lembut.
"Ell, bangun.. Ini sudah jam 7 pagi, sudah waktunya bersiap untuk bekerja.."
"Sayang.."
Dean tiba-tiba saja mengulum senyumnya, dia merasa sedikit tersipu setelah mengucapkan kata manis itu.
Ah entahlah, Dean rasanya seperti menjadi remaja belasan tahun yang baru saja merasakan jatuh cinta.
"Sayaaang.."
Dean mencubit hitung mancung Elle dengan perasaan gemas karena Elle tak kunjung bangun dari tidur lelapnya.
"Emmhhh! Sebentar.. 5 menit lagi!"
Elle menyingkirkan tangan Dean dari wajahnya. Kedua mata gadis itu masih terpejam dengan erat, dia belum sadar kalau saat ini dia sedang tertidur di samping Dean.
"Sayang, bangun.. Kau harus berangkat kerja."
Dean berbisik tepat di telinga Elle.
Sayang?
Suara seorang pria?
Elle sontak saja membuka kedua matanya, dia beringsut menjauhi Dean dengan perasaan sedikit panik, dadanya bergemuruh seolah tengah lari marathon.
Pikirannya seketika saja terbayang pada kejadian di mana dia tidur bersama dengan Gavin.
Tapi, setelah melihat kalau pria itu adalah Dean yang notabenenya merupakan suaminya, Elle seketika saja menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Aaaah, Dean.. Kau mengejutkanku!!"
Elle kembali menjatuhkan kepalanya di atas kasur.
Dean menggaruk pelipisnya. "Maafkan aku.."
__ADS_1
Elle kembali menghela nafasnya, dia menoleh pada Dean.
"Tak apa, aku hanya terlalu terbiasa bangun tanpa ada orang di sampingku. Jadi aku hanya merasa sedikit terkejut."
Dean merasa terhenyak, sebegitu lamanya dia membiarkan Elle tidur sendirian hingga gadis itu kembali terbiasa bangun tanpa ada orang lain di sampingnya.
Sungguh, Dean kembali merasa menyesal.
"Aku, minta maaf.." Lirih Dean.
"Sudahlah.. Tak apa.. Bukan kah kita sudah sepakat untuk memulai semuanya kembali dari awal? Jangan ada kata maaf lagi.."
Dean menganggukkan kepalanya, senyum kecil pun tersungging di bibirnya.
"Kalau begitu.. Boleh kah aku memberikan kecupan selamat pagi?"
Elle mengerjapkan matanya. Jujur, dia merasa sedikit tidak siap jika harus langsung masuk ke tahap seperti itu.
Elle benar-benar ingin memulai semuanya dari awal lagi. Pendekatan, skinship, Elle ingin memulainya secara perlahan.
Elle lantas menghela nafasnya untuk sejenak. "Emmm.. Sebaiknya kita memulainya secara perla.."
Gadis itu menghentikan kalimatnya, dia tiba-tiba saja terpikirkan akan suatu hal. Kedua bola matanya menggulir pada jam yang terpasang di dinding.
Elle sontak saja membulatkan kedua matanya melihat waktu yang kini sudah menunjukkan pukul 7.45 a.m.
"Oh Tidak! Aku terlambat!" Sentak gadis itu.
"Astaga Deaaan.. Kenapa kau tidak membangunkan ku sejak tadi??"
Elle beranjak dari kasurnya dengan sangat tergesa, dia berlari menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya.
Hal itu sontak saja membuat Dean mengernyitkan dahinya. Bukan kah hari masih terlalu pagi untuk Elle terlambat bekerja?
Dan apa tadi dia bilang? Tidak membangunkannya sejak tadi?? Tidak sadar kah dia kalau dia lah yang sulit untuk di bangunkan?
Dean berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tangannya terangkat untuk menggaruk pelipisnya. Tidak di sangka, ternyata istrinya itu memiliki tingkah yang amat sangat menggemaskan.
.......
.......
.......
Elle menggelengkan kepalanya. "Arah kita berbeda, kau akan terlambat jika mengantarku terlebih dahulu."
"Yasudah, hati-hati.."
"Emm.." Elle mengangguk kecil. "Bye Dean.."
"Bye.."
Elle pun segera melajukan mobilnya.
Saat dalam perjalanan, dia tidak ada hentinya merapalkan do'a. Berharap agar setidaknya Gavin tidak memberikan hukuman kepadanya.
Ayolah.. Ini adalah hari pertama Elle bekerja langsung di bawah Gavin, dan dia justru terlambat masuk kerja.
Oooh.. Elle tidak bisa membayangkan, amukan seperti apa yang akan dia dapatkan dari Gavin.
.......
.......
.......
Jaliandro Company...
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Elle segera berlari menuju receptionist.
Beruntungnya, semua orang sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sehingga tidak ada orang lain selain security dan petugas receptionist yang melihat keadaan Elle yang begitu kacau.
__ADS_1
"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?"
Elle mengangkat tangan kanannya, meminta petugas receptionist itu untuk menunggu sebentar.
"Fyuuuhh!!!" Gadis itu segera mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Khem, begini.. Saya ingin bertemu dengan Tuan, Gavin?"
"Bisa kah nona memberitahu nama nona?"
"Elle.. Ah, tidak.. Elleonor Bifatigirni."
"Aaah.. Nona Elle.." Si receptionist itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Si receptionist itu lantas menyunggingkan senyum kecilnya. "Mari, saya antar nona menuju ruangannya."
Saat berada di dalam elevator, Elle melirik name tag yang di gunakan oleh si receptionist.
"Eemm.. Nona, Tifa?"
"Ya?" Tifa menoleh pada Elle.
"Apa aku sangat terlambat?"
Elle menatap Tifa dengan tatapan memelas.
Tifa seketika saja mengusap tengkuknya.
"Sepertinya begitu, nona.. Tuan sudah menanyakan kedatangan nona sejak 30 menit yang lalu."
Sontak saja, hal itu membuat Elle menjatuhkan rahangnya. "Ti, ti, tiga puluh menit?"
Tifa menganggukkan kepalanya.
Tring!!
Pintu Elevator terbuka.
Elle mengikuti langkah Tifa yang menuntunnya menuju salah satu ruangan yang bertuliskan "CEO".
Sebelum meninggalkan Elle, Tifa menoleh pada Elle dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
"Saya harap, nona akan baik-baik saja."
Tanpa menunggu tanggapan apa pun dari Elle, Tifa lantas berlalu pergi begitu saja.
Meninggalkan Elle yang menatap pintu ruang CEO itu dengan tatapan horor.
Gadis itu menghela nafasnya beberapa kali, menyiapkan diri dan mental untuk menghadapi Gavin.
Elle lantas menelan salivanya dengan sedikit kasar sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk!"
Elle kembali menghela nafasnya setelah mendengar suara bariton Gavin yang menusuk ke dalam indra pendengarannya.
Elle membuka pintu itu secara perlahan.
Baru satu langkah dia masuk ke dalam ruangan itu, Elle sudah di sambut dengan pertanyaan yang seketika saja mampu membuat dadanya bergemuruh dengan hebat.
"Apa kau tidak memiliki niat untuk bekerja? Kau telat hampir 40 menit."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..