Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Suasana Hati Yang Baik


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Di sisi lain..


Markas utama The Dark..


Sam memasuki markas besar The Dark dengan langkah tergesa, alisnya menukik tajam seolah ada beban berat yang tengah hinggap di kepalanya.


Pria itu mengabaikan para anggota The Dark yang menyapa kedatangannya.


Dia benar-benar fokus pada tujuan utamanya datang ke markas besar.


Ruang senjata, dan Gavin..


Kraaak!!


Sam membuka pintu ruang senjata dengan sangat kasar.


"Gavin, untuk apa kau memintaku menyiapkan meja asisten pribadi di runganmu?"


Gavin melirik Sam sekilas, dia tidak marah atas kelakuan Sam yang membuka pintu dengan kasar.


Marah pun percuma, Sam tetap akan melakukannya lagi dan lagi.. Katakanlah itu merupakan tabiat buruknya yang sangat sulit untuk di ubah.


"Untuk gadis itu, tentu saja.. Apa lagi?"


Sam mengernyitkan dahinya.


"Jadi.. Kau, kau benar-benar akan menggantikan posisiku dengan gadis itu?"


Sam membuntuti setiap langkah Gavin, pria itu bak anak ayam yang mengekori langkah induknya.


Namun sayangnya, Gavin seolah menulikan pendengarannya. Dia tetap fokus pada kegiatannya yang tengah mencoba untuk merakit senjata baru, seolah menganggap kalau Sam tidak ada bersamanya di dalam ruangan itu.


"Gavin, tidak bisa kah kau mengingat kembali bagaimana perjuanganku untuk aku bisa sampai di tititik ini?"


"Tidak bisa kah kau mengingat kembali bagaimana sulitnya aku meyakinkan semua orang kalau aku mampu menjadi tangan kananmu?"


"Apa kau tidak ingat? Kau bahkan menindasku dengan sangat brutal dalam masa percobaan ketika aku mengajukan diri untuk menjadi tangan kananmu."


"Dan kau sekarang dengan begitu mudahnya menggantinkan posisiku dengan seseorang yang bahkan sama sekali tidak kau kenal."


"Ayooolaaah.. Jawab akuu.."


Sam hampir merengek, dia merasa sangat jengkel karena Gavin tidak memberikan tanggapan apa pun.


"Gavin.."


Kedua mata Sam kini mulai berkaca-kaca.


"Kaaaak..."


Runtuh sudah kejantanan yang di miliki oleh Sam, pria itu benar-benar merengek seraya menarik-narik kemeja yang di kenakan oleh Gavin.


Hal itu sontak saja membuat Gavin mengernyitkan dahinya. Dia menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada Sam dengan tatapan heran.


"Kau menangis?"


Persimpangan di dahi Gavin benar-benar tercetak dengan sangat sempurna.


Sungguh, Gavin merasa sedikit terkejut saat melihat kedua mata Sam yang memerah dan berkaca-kaca.


Sam seketika saja mengerjapkan matanya. "Aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri. "Menangis?"

__ADS_1


"Aku, tidak.. Ha ha.. Jangan bercanda. Mana mungkin aku menangis."


Sam memalingkan wajahnya, tangannya terangkat untuk menghapus cairan bening yang sedikit keluar dari sudut matanya.


Gavin seketika saja menahan kekehannya, dia tidak menyangka kalau sepupunya itu akan merengek hanya karena hal sepele seperti ini.


Ah, jangan lupakan dengan buliran bening yang sempat keluar dari matanya. Benar-benar membuat Gavin sedikit sanksi pada usia yang di miliki oleh pria itu.


Lagi pula, apa Sam masih tidak mengerti tentang apa yang menjadi tujuannya?


Kenapa pria itu bisa berpikir kalau dia benar-benar akan menggantikan posisi Sam dengan Elle?


Toh, kalau pun Gavin memang akan melakukannya. Bukannya hal itu malah akan merugikan dirinya sendiri?


Untung saja Gavin saat ini sedang dalam suasana hati yang baik, sehingga dia tidak langsung menghajar Sam.


"Jadi, kau tidak menangis?"


Sam menggelengkan kepalanya. "Tidak!"


Gavin menghela nafasnya, dia lantas kembali melanjutkan kegiatannya.


"Baguslah.. Berhenti merengek dan segera kerjakan tugasmu. Apa kau lupa dengan apa yang harus kau kerjakan?"


Sam mengerjapkan matanya. "Jadi, kau tidak akan menggantikan posisiku? Atau, ini adalah tugas terakhir yang kau berikan padaku."


Gavin kembali menghela nafasnya, dia memejamkan matanya untuk sejenak.


Kenapa sepupunya ini tiba-tiba saja berubah menjadi manusia bodoh?


Gavin lantas menoleh pada Sam, dia menatap Sam dengan sangat tajam.


"Apa kau bodoh! Sejak kapan otakmu bekerja dengan sangat lambat?"


Suara Gavin terdengar sedikit menggeram, dia benar-benar merasa gemas pada Sam yang tiba-tiba saja berubah menjadi lambat dalam hal berpikir.


"O, ok, maafkan aku.. Aku hanya merasa sedikit terkejut akan keputusanmu."


Sam mengusap tengkuknya, hawa dingin tiba-tiba saja menjalari tubunya.


"Dengarkan aku baik-baik! Aku tidak mungkin menggantikan posisimu. Aku hanya meminta dia untuk menjadi asisten pribadiku. Bukan untuk menjadi tangan kananku!"


"Aaa.. Begitu.." Sam mengangguk-anggukkan kepalanya.


Menyadari kebodohannya, Sam seketika saja menampilkan cengiran lebarnya.


"Maafkan aku, aku salah menangkap perkataanmu.."


Sam menggaruk pelipisnya.


Gavin menghela nafasnya. "Pergi dari sini dan segera lakukan tugasmu! Atau aku akan menghajarmu saat ini juga!"


Tanpa berkata apa pun lagi, Sam segera berlalu pergi dari hadapan Gavin.


Gavin menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, dia lantas mengusap wajahnya.


Hah.. Gavin merasa tidak habis pikir, kenapa dia harus memiliki tangan kanan yang otaknya terkadang sangat lamban dalam berpikir.


Yang sayangnya, tangan kanannya itu juga merupakan sepupu satu darahnya.


Gavin merasa sangat bingung, bagimana Sam bisa melakukan semua tugasnya dengan sangat baik dengan kapasitas kerja otaknya yang seperti itu? Bahkan Sam dapat melakukan setiap tugasnya dengan hasil yang lebih dari memuaskan.


Oh, sungguh.. Gavin benar-benar merasa sangat heran.


Gavin menatap peralatan yang berserakan di atas meja dengan tanpa minat, dia merasa sudah tidak bernafsu lagi untuk merakit senjata baru.


Pria itu lantas keluar dari dalam ruangan senjata tempat di mana dia kini berada.

__ADS_1


Saat pria itu berjalan, para anggota The Dark yang melihatnya pun menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


Gavin berjalan masuk ke dalam satu lorong yang mengarah ke dalam ruang penyiksaan.


"Tuan.."


Sang penjaga ruang penyiksaan menundukkan kepalanya.


"Apa dia masih belum membuka mulutnya?"


"Maafkan saya Tuan.."


Gavin menghela nafasnya, dia masuk ke dalam ruang penyiksaan.


Seorang pria terikat dalam posisi terlentang di atas batu besar.



Pria itu menatap Gavin dengan sangat nyalang.


"Oooh.. Gavin Jaliandro.. Akhirnya kau datang juga? Haha.. Aku tidak menyangka, kemampuan anak buahmu begitu buruk. Hanya untuk sekedar membuatku membuka mulut saja, mereka tidak mampu melakukannya."


Gavin menaikkan sebelah alisnya.


"Setelah kau melihat ini. Aku yakin, kau akan membuka mulutmu."


Gavin menunjukkan selembar foto pada pria itu.


Pria itu membelalakkan matanya melihat orang yang ada di dalam foto tu, di mana Gavin tengah menggendong putri kecilnya dengan begitu akrab selayaknya seorang paman yang tengah menggendong keponakannya.


"Ba, bagaimana mungkin.. Bagaimana mungkin kau bisa menemukan putriku.." Lirih pria itu.


Gavin menyunggingkan smirknya. "Apa kau lupa siapa aku? Sekali pun kau menyembunyikan putrimu di dasar palung mariana, aku tetap bisa menemukan putrimu dengan sangat mudah."


Gavin menghela nafasnya, dia menatap selembar foto yang masih dia pegang.


"Putri kecilmu tumbuh menjadi anak yang sangat pintar.. Apa kau tahu sesuatu yang luar biasa? Ah ya, kau tidak tahu."


Gavin tiba-tiba saja terkekeh kecil. Kekehan kecil yang mampu membuat pria itu bergidik ngeri.


"Kalau begitu, akan ku beri tahu.. Putrimu dapat merakit pistol dengan sangat baik hanya dengan satu kali belajar, bukan kah itu hal yang luar biasa untuk seukuran anak perempuan berusia 9 tahun? Haruskah aku menjadikan putrimu sebagai muridku?"


Gavin menatap pria itu dengan seulas senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Tidak tidak!! Jauhi putriku!!! Jangan sentuh putriku!! Katakan, katakan apa yang ingin kau ketahui! Aku, aku akan menjawabnya. Aku akan mengatakan apa pun yang aku ketahui. Aku akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya! Tapi aku mohon, jauhi putriku.. Aku mohon.."


Gavin mengedikkan bahunya.


"Karena aku sedang dalam suasana hati yang baik, aku tidak akan memberimu hukuman untuk saat ini."


Gavin lantas menarik kursi yang ada di dekatnya, dia menghadapkan kursi itu pada pria itu.


"Cha.. Kalau begitu, mari kita melakukan tanya Jawab."


Gavin duduk manis di atas kursi itu, dia menyilangkan kakinya dengan caranya yang begitu angkuh.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2