Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Dia Baik-baik Saja


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Apartemen Elle...


Tut tut tut.. Tilulit..


Elle menoleh ke arah pintu saat mendengar seseorang tengah menekan sandi pintu apartemennya. Namun, Elle hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh.


Dia sudah terbiasa mendengar seseorang membuka pintu apartemennya tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Toh, kalau tidak Gavin, paling juga Amy.


"Yuhuuuuu.. Spadaaaa... Apa kah ada orang di rumah?"


Elle melambaikan tangannya tanpa menoleh pada Amy, netranya lebih terfokus pada acara yang tengah tayang di televisi.


"Apa ada yang salah dengan kinerja otakmu? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu menonton acara ini?"


Amy menatap Elle dengan tatapan heran karena Elle akhir-akhir ini benar-benar selalu menonton acara televisi yang menayangkan tentang politik.


Apa jangan-jangan Elle ingin bergabung dengan salah satu partai politik itu? Tapi.. Tidak mungkin kan?


Elle memutar bola matanya mendengar celotehan yang keluar dari mulut Amy.


"Setidaknya duduk dulu jika kau ingin mengoceh."


Namun, bukannya menanggapi perkataan Elle. Amy justru menodorkan map berwarna coklat ke depan wajah Elle.


"Apa ini?"


Elle menatap map coklat itu dengan kedua alisnya yang saling bertaut.


Amy mengedikkan bahunya. "Entah, aku tidak tahu. Penjaga menitipkannya padaku."


Elle pun menerima map itu, dia menegakkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum membuka map coklat itu.


Amy yang merasa penasaran pun mendekat ke arah Elle untuk melihat isi yang ada di dalam map coklat itu.


"Waaaaah.. Kau benar-benar akan menjadi seorang janda Ell.."


Tanpa harus membaca isinya pun, Amy sudah bisa mengetahui apa yang tertera di atas kertas itu saat melihat sederetan kalimat yang tertera pada bagian atas kertas itu.


"Hmmm.." Elle menghela nafasnya untuk sejenak. "Yeah.. Mau bagaimana lagi, aku sudah tidak bisa mempertahankan hubungan rumah tanggaku. Terlebih lagi, Dean menghamili kekasihnya. Bukan kah lebih baik untuk aku berpisah dengannya?"


Amy mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi sedetik kemudian, perempuan itu menatap Elle dengan kedua netranya yang sedikit melotot.

__ADS_1


"Tunggu dulu, apa tadi katamu? Dean menghamili kekasihnya?"


Elle mengangguk lesu, seolah terlalu malas untuk membahas hal itu lebih jauh.


"Benar-benar.. Aku tidak menyangka kalau Dean seberengsek itu."


Elle mengedikkan bahunya. "Sudahlah, biarkan saja. Mungkin perempuan itu memang pilihan terbaik untuknya."


"Tapi.. Dari mana kau mengetahui hal ini? Bukan kah kau sudah hampir sebulan tidak berkomunikasi dengan Dean?"


"Perempuan itu mendatangiku."


"What?"


Lagi-lagi Amy membulatkan kedua netranya. Dia tidak habis pikir dengan orang-orang yang ada di sekeliling Elle.


Dean dengan keberengsekannya, juga kekasih Dean dengan rasa tidak tahu malunya. Belum lagi di tambah dengan Gavin yang sungguh sulit untuk di mengerti tingkahnya.


Ah tidak, tapi setidaknya Gavin memiliki sikap yang lebih baik terhadap Elle. Jadi mari kita kesampingkan pria itu.


"Aku sungguh tidak habis pikir dengan hidupmu Ell, kenapa lau harus berhubungan dengan orang-orang yang tidak memiliki adab."


Elle seketika saja menatap Amy dengan sedikit sinis. "Bukan kah kau juga termasuk ke dalam salah satunya?"


"Yak! Enak saja kau kalau berbicara.. Ingat, aku adalah sahabat mu satu-satunya, jadi jangan sia-siakan aku begitu saja dengan perkataan tajam mu."


"Baiklah baiklah.. Maafkan aku.."


"Tapi sungguh, aku benar-benar tidak habis pikir. Apa perempuan itu tidak memiliki rasa malu sedikit pun? Berani-beraninya dia mendatangimu."


"Awalnya juga aku berpikir seperti itu. Tapi, setelah di pikir kembali, bukan kah sebenarnya aku yang salah? Mereka sudah menjalin hubungan sebelum aku masuk ke dalam hidup Dean."


"Apa yang salah dengan otak mu. Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau tidak salah Ell.. Kalau pun memang mereka sudah berhubungan sejak lama. Jika Dean memang tidak ingin meninggalkan kekasihnya, kenapa dia harus menikah denganmu? Bukan kah akan lebih baik kalau Dean tetap mempertahankan hubungan dengan kekasihnya?"


Elle menoleh pada Amy, dia menatap Amy untuk beberapa saat dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Rasanya seperti tengah di tatap oleh seekor singa yang akan menerkam mangsanya."


Elle terkekeh kecil. "Tidak, hanya saja, sejak kapan kau bisa sebijaksana ini?"


Amy mengernyitkan dahinya. "Yak! Kau pikir selama ini aku seperti apa?"


"Ok ok, maafkan aku.."


"Bisa kah kau sedikit serius? Tidak kah kau merasa kalau saat ini aku sedang mengasihanimu!"


Elle mencebikkan bibirnya, tanpa mengatakan sepatah kata pun, Elle tiba-tiba saja beringsut untuk memeluk Amy.

__ADS_1


"Astaga Ellll..."


Amy bersiap hendak mengoceh karena Elle mengejutkannya. Namun, ocehan itu tertahan di tenggorokannya saat mendengar isakan kecil yang mulai keluar dari mulut Elle.


"Hey hey hey.. Are you okay?"


Amy menepuk-nepuk punggung Elle dengan lembut.


"Aku... Aku.." Elle menggelengkan kepalanya. "I'm not okay Am.. I'm not okay.."


Amy menghela nafasnya untuk sejenak.


"Okay.. Kau bisa menangis sepuasmu, aku ada di sini, aku akan menemanimu hingga kau bosan denganku. Aw.."


Amy meringis saat Elle tiba-tiba saja mencubit pinggangnya.


"Yak! Bisa kah kau menangis tanpa menyakitiku!!"


Elle lantas melerai pelukannya. "Salah kan dirimu yang berbicara sembarangan, bagaimana mungkin aku bisa bosan denganmu. Kau sahabatku satu-satunya, hanya kau yang mengerti aku."


Senyum manis seketika saja tersungging di bibir Amy. "I know.. Kemarilah, aku yakin, kau masih belum puas menangis."


Elle pun kembali merangsek masuk ke dalam pelukan Amy.


"Saat ini kau boleh menangis sepuasmu, tapi ingat, besok dan seterusnya, jangan pernah lagi menangis karena mantan suamimu. Dia bukan lah seorang pria yang pantas untuk kau tangisi. Masih banyak pria baik di luar sana.. Mungkin, Gavin menjadi salah sat.. Aw.. Ssshh.. Ellll..."


Amy meringis saat Elle kembali mencubit pinggangnya. Namun, meskipun begitu, senyum manis tetap tersungging di bibir Amy.


Karena dengan begitu, Amy tahu kalau Elle baik-baik saja. Ya, meskipun Elle terus saja menangis dengan tersedu-sedu, tapi setidaknya Amy tahu kalau Elle hanya ingin meluapkan emosinya saja.


Amy tahu betul, Elle menangis bukan karena merasa sakit hati, perempuan ini hanya terlalu kesal, kesal dengan kehidupan rumah tangganya yang tidak sesuai dengan apa yang dia impikan.


Amy harap, setelah Elle benar-benar lepas dari Dean, Elle bisa mendapatkan kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan apa yang di impikannya.


Amy memang tidak bisa berbuat banyak, yang Amy bisa lakukan hanyalah berharap untuk kebahagiaan Elle. Amy juga akan selalu mendukung keputusan Elle, apa pun itu, selama dia bisa melihat sahabatnya tersenyum bahagia.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2