
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.......
...----------------...
"Bukan kah itu Gavin Jaliandro?"
"Ya.. Dia Gavin Jaliandro, apa yang dia lakukan di sini, bukan kah seharusnya dia VIP?"
"Mungkin kah karena keributan yang terjadi?"
"Mungkin saja, kabarnya ini merupakan club malam milik sahabatnya, wajar saja jika dia membantu mengatasi keributan yang terjadi."
"Ya, mungkin saja."
"Ouch.. Lihatlah, betapa brutalnya gadis itu."
"Aku bahkan merasa ngeri hanya dengan melihatnya."
"Kenapa gadis itu memukuli pria itu?"
Bisikan demi bisikan terus saja terjadi saat Gavin melewati orang-orang menuju keributan yang terjadi.
Jujur, saat ini Gavin sedang merasa sangat marah akibat keributan itu. Ah tidak, lebih tepatnya pada orang yang saat ini tengah membuat keributan.
Bukan pada si pria, melainkan pada si gadis. Tau kan siapa gadis itu? Siapa lagi jika bukan Elle.
Sebenarnya, Gavin bukan marah karena Elle memukuli seorang pria. Melainkan karena Elle tidak menghiraukan perkataanya.
Gavin sudah berpesan pada Elle untuk berdiam diri di rumah. Gavin bahkan sudah meminta Amy untuk menahan Elle tetap berada di tempatnya. Seharusnya Gavin tidak mempercayakan Elle pada Amy. Seharusnya Gavin ingat kalau Amy adalah sahabat Elle sejak kecil, sudah bisa di pastikan kalau Amy akan luluh dengan bujuk rayu Elle.
"Haaah..."
Gavin memijat pangkal hidungnya saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Rasa kesalnya pada Elle tiba-tiba saja tergantikan menjadi rasa takjub tat kala melihat seorang pria yang terkapar di sela-sela kaki Elle.
Apa kah pria itu lemah? Atau kah Elle yang terlalu kuat? Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.
"Babby, stop."
Apa yang terucap dari mulut Gavin seketika saja membuat semua orang yang ada di sana merasa sangat terkejut.
"Babby??"
"Apa jangan-jangan rumor tentang dia yang sedang menjalin hubungan itu benar adanya?"
"Waaah.. Aku harus mengabadikan momen langka ini."
"Babby, berhenti, sudah cukup."
Gavin masih berusaha untuk menahan kesabarannya.
"Babby.." Gavin mencoba untuk menyentuh tangan Elle.
Namun, Elle menepis tangan Gavin dengan cukup kasar.
"Biarkan aku memukulinya! Berani sekali dia meletakkan tangan kotornya di tubuhku! Bahkan dia mengataiku gadis ******!"
Elle masih saja memukili pria itu.
Gavin mengusap tengkuknya melihat wajah pria itu yang sudah tidak lagi memiliki rupa akibat tertutup dengan darah. Sebenarnya, Gavin tidak peduli pada pria itu. Toh, dia juga akan melakukan hal yang sama pada pria itu saat mengetahui apa yang di lakukan pria itu pada Elle.
Tapi, jika di biarkan, pria itu bisa saja mati terbunuh. Gavin tidak mau Elle membunuh orang di hadapan banyak pasang mata.
__ADS_1
Mau tidak mau, Gavin pun menghentikan Elle dengan cara yabg sedikit ekstream. Gavin mencengkram tengkuk Elle hingga gadis itu menengadahkan wajahnya.
"Yak!! Apa yang kauhhhmmmpppp..."
"Whaaaaaa...."
Apa yang di lakukan Gavin membuat semua orang ada di sana merasa tercengang.
"Dia.. Dia menciumnya.."
Lirih seseorang yang melihat kejadian itu.
"Sudah cukup babby, kau bisa membunuhnya."
"Ga, Gavin.."
Elle menatap Gavin dengan mata yang mengerjap, dia berusaha untuk tidak menelan salivanya. Elle memang sempat merasa sangat mabuk, namun kemarahannya membuat dia mendapatkan setengah dari kesadarannya.
Elle lantas bergegas untuk beranjak dari atas pria yang dia pukuli.
"A, ap, apa yang kau lakukan di sini?"
Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu? Tentu saja untuk mendisiplinkan gadis nakal. Kau tahu, pria itu bisa saja mati akibat kenakalan yang kau lakukan."
"What?" Kedua bola mata Elle membulat dengan sempurna. "Aku? Nakal? Heyy... Salahkan saja pria itu yang meremas pantatku dengan tidak sop.. Yaaakkk!! Turunkan aku!!"
Elle memberontak saat Gavin tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya bak tengah mengangkat karung beras. Dia memukul punggun Gavin dengan cukup keras.
Plakkk!!
Gavin memukul pantat Elle. "Diam dan menurutlah."
"Haish! GAVIIIIIIINNNN!!"
Sedangkan Amy, dia hanya bisa menatap kepergia Elle dengan raut wajah memelas.
"Haaahh.. Tamat sudah riwayat kita Ell..."
.......
.......
.......
Kediaman Gavin..
"Aku bisa berjalan sendiri!!!"
Elle memberontak saat Gavin lagi-lagi mengangkat tubuhnya bak mengangkat karung beras.
"Kau masih akan memberontak?"
Elle seketika saja terdiam saat Gavin mengeluarkan suara rendahnya.
Osh, jika sudah seperti ini, Elle sangat yakin kalau malam ini dia akan melewati malam yang sangat panjang.
Lagi pula, kenapa juga pria ini bisa ada di tempat yang sama dengannya? Bukan kah pria ini sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negri? Apa kah pria ini berbohong padanya?
Meskipun pertanyaan itu berputar di benaknya, namun Elle merasa sangat enggan untuk mengutarakannya. Jangankan untuk bertanya, hanya untuk sekedar bernafas saja Elle merasa sangat kesulitan akibat atmosfir yang ada di sekitarnya terlalu sesak.
Elle merasa semakin was-was saat mereka sudah memasuki lorong yang menuju ke kamar. Dia berusaha untuk berpikir keras tentang bagaimana caranya agar dia bisa meloloskan diri dari Gavin.
Elle yakin, sangat yakin, pria itu pasti akan mengomelinya tanpa henti. Elle juga sangat yakin, pria itu pasti akan memberikan hukuman yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Tapi, oh, ayolah, lagi pula apa salah Elle? Kenapa dia harus merasa sangat takut seperti ini. Toh, dia dan Gavin juga belum memiliki hubungan yang pasti. Kenapa pria ini bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
Oh astagaaa.. Memikirkannya saja membuat Elle merinding. Elle tiba-tiba saja merasa enggan untuk membayangkan kalau saja suatu saat nanti mereka benar-benar akan menjadi pasangan.
Eh, tunggu. Kenapa juga Elle memikirkan hal itu di saat seperti ini. Seharusnya saat ini Elle memikirkan cara agar dia bisa lolos dari Gavin. Terlebih lagi, dia dan Dean belum sepenuhnya berpisah. Bukan waktu yang tepat untuk dia memikirkan hubungannya dengan Gavin.
Anggap saja dia dan Gavin saat ini menjalin hubungan sebagai teman tapi mesra. Ya, anggap saja seperti itu.
Saat mereka sudah masuk ke dalam kamar, Elle menahan nafasnya dengan mata yang terpejam erat. Dia sedang bersiap kalau saja Gavin akan melemparkannya ke atas kasur.
Tapi....
"Eh.."
Elle menatap Gavin dengan tatapan heran saat Gavin membaringkannya di atas kasur dengan sikap yang sangat lembut.
Apa yang salah dengannya? Apa dia kerasukan sesuatu?
Elle semakin bertambah heran saat Gavin turut membaringkan tubuhnya di samping Elle, belum lagi dengan Gavin yang justru memejamkan matanya seraya memeluk Elle dengan sangat erat.
"Ga, Gavin?"
"Diam, dan tidurlah.. Aku lelah, aku akan memikirkan hukuman untukmu esok hari."
"Hah?"
"Tidur sekarang." Gavin menatap Elle dengan sangat intens. "Atau haruskan aku memberikan hukuman yang sangat kau hindari."
Tangan Gavin perlahan mulai merambat naik dari perut Elle menuju dada Elle.
"E, e, eh.. Ok ok, kita tidur."
"Bagus, tidurlah."
Gavin kembali memejamkan matanya.
"Tapi, apa tidak sebaiknya kita membersihkan diri terlebih dahulu?"
"Apa kau sedang memberikan kode padaku untuk kita mandi bersama?"
"Tidak, sebaiknya kita tidur!"
Elle memilih untuk bungkam, dia berusaha untuk mengabaikan keadaan tubuhnya yang benar-benar sangat lengket.
Hal itu pun hanya bisa membuat Gavin terkekeh kecil. Tidak dapat Gavin pungkiri, tingkah Elle membuat rasa lelah Gavin sedikit terobati.
Ketahuilah, Gavin saat ini benar-benar merasa lelah. Bayangkan saja, dia baru saja kembali dari perjalanan bisnis kemudian langsung menuju The Saphire tanpa mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu.
Tapi ya sudahlah, esok pun rasa lelahnya akan hilang. Ah tidak, lebih tepatnya harus hilang. Dengan begitu, dia bisa memikirkan hukuman yang tepat untuk Elle.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1