Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Sudah Terlambat


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Camkan baik-baik! Sampai mati pun, aku tidak akan pernah mau menandatangani surat perceraian itu!"


Perkataan yang di lontarkan Dean terus saja terngiang-ngiang di kepala Elle.


Sungguh, semenjak Dean mengatakan hal itu padanya, perasaan Elle menjadi sangat tidak tenang.


Elle tadi memang mengabaikan Dean, bahkan Elle benar-benar tidak menoleh saat pria itu terus meneriakkan namanya. Namun, saat Elle dan Gavin berlalu pergi dari sana. Dean sempat meneriakkan hal itu.


Ah, bagaiaman jika Dean benar-benar tidak mau menandatangani surat perceraian itu? Demi Tuhan.. Elle merasa muak jika harus terus melihat wajah Dean di sekelilingnya.


Entah kenapa, saat ini Elle benar-benar menbenci Dean.


Elle menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, dia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Gadis itu melangkah menuju lemari es untuk mengambil segelas air mineral dingin.


Memikirkan perkataan Dean sejak tadi, benar-benar membuat kepala Elle terasa sangat panas, tenggorokannya bahkan terasa kering. Apa mungkin karena Elle terlalu kesal pada Dean? Ya, mungkin saja..


"Haish! Kenapa air ini dingin sekali.."


Elle menatap gelas berisi air mineral yang dia genggam kemudian meletakkannya di atas meja pantry. Gadis itu lantas menggulirkan netranya ke setiap penjuru apartment yang beberapa hari ini dia tinggali.


Bukan, ini bukan apartment miliknya. Apartment ini milik Gavin.


Sebenarnya, Elle bisa saja mencari apartment sendiri. Namun, Gavin dengan sifat pemaksa dan tidak ingin di bantahnya memaksa Elle untuk tinggal di apartmen miliknya.


Pria itu berkata, dia ingin memastikan keadaan Elle baik-baik saja dan tidak mendapat gangguan dari siapa pun juga dari mana pun.


Padahal, jika di pikir kembali. Siapa lagi yang akan menganggunya jika bukan pria itu sendiri? Apa pria itu tidak sadar kalau selama ini justru dia lah yang selalu mengganggu Elle?


Ting Tong!!


Elle mengernyitkan dahinya, dia menatap jam yang terpasang di dinding.


"Apa dia sudah datang? Kenapa cepat sekali?"


Elle lantas berjalan menuju pintu, dia membulatkan matanya saat melihat layar monitor kecil yang terpasang di dekat pintu untuk memastikan siapa yang datang.


Elle seketika saja membulatkan bola matanya saat melihat orang yang tengah berdiri di depan pintu apartment nya adalah Amy.


"Waaa.. Bagaimana bisa kau datang secepat ini? Secepat apa kau mengemudikan mobilmu?"

__ADS_1


Amy menampilkan cengiran lebarnya. "Bagaimana? Hebat bukan? Kemampuan mengemudiku sekarang sudah hampir sama denganmu."


"Tcih!" Elle menyunggingkan senyum kecilnya. "Ya ya ya, terserah apa katamu. Tapi, bagaimana bisa kau datang secepat ini?"


Amy mengangkat bahunya acuh, dia masuk ke dalam tanpa menunggu ajakan dari Elle.


"Hanya, menginjak pedal gas hingga tidak bisa lagi di injak."


"What?!" Elle menatap Amy dengan di penuhi rasa tidak percaya, dia benar-benar merasa sanksi atas apa yang di katakan oleh Amy.


"Apa jalanan tidak ramai? Bagaimana kalau kau terlibat kecelakaan lalu lintas? Kau tidak sedang bergurau kan? Kau bahkan tidak bisa mengendarai mobil melebihi kecepatan 150 km/jam."


Amy seketika saja terkekeh kecil saat melihat raut wajah Elle yang tampak begitu khawatir.


"Aku hanya bergurau.. Saat kau menghubungiku, kebetulan aku sedang berada di dekat sini. Apa kau lupa? Mommy ku memiliki toko pakaian di dekat sini."


Elle menghela nafas lega, dia duduk di samping Amy.


"Ku kira kau benar-benar mengendarai mobil seperti orang kesetanan, aku sungguh tidak bisa membayangkannya."


"Aku tidak se nekad dirimu Ell.. Aku masih menyayangi nyawaku, aku masih ingin menikmati masa lajangku dengan di penuhi kebebasan juga kebahagiaan."


Elle menaikkan sebelah alisnya. "Kau sedang menyinggung ku?"


"Yaaaaa!!" Elle menatap Amy dengan tatapan datarnya, dia benar-benar merasa kesal melihat sikap Amy yang begitu mendramatisir. "Apa kau ingin mati?"


Tatapan datar Elle seketika saja mampu membuat Amy merasa merinding. Sungguh, hanya dengan mendapatkan tatapan datar dari Elle, bulu kuduk Amy benar-benar berdiri dengan sempurna.


"Tidak, aku masih ingin hidup. Aku hanya bergurau, ok.."


Amy mengembalikan sikapnya seperti semula. Jika sudah seperti ini, lebih baik dia berhenti menggoda Elle. Jika tidak, maka Amy harus menerima resiko yang sangat dia hindari, yaitu diamnya Elle.


Ketahuilah, jika Elle sudah benar-benar merasa marah, gadis itu akan membungkam mulutnya rapat-rapat. Diamnya Elle tidak hanya satu atau du jam, gadis itu bisa membungkam mulutnya selama berbulan-bulan.


Yang paling menakutkan dari diamnya Elle, jika Elle sudah benar-benar merasa marah, sekali pun Amy menangis darah, Elle tetap akan mendiamkannya.


Marahnya Elle benar-benar seperti seorang psikopat bukan? Tapi ya mau bagaimana lagi, begitulah dia. Cukup satu kali saja Amy merasakan kemarahan Elle, Amy tidak mau lagi merasakannya.


"Hah.. Sudahlah.."


Elle memalingkan wajahnya, dia menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Ah ya, apa yang membuat mu memintaku datang kemari? Apa kau memiliki sesuatu untuk kau ceritakan padaku?"


"Ssshhh, hmm.." Elle tampak berpikir untuk sejenak. "Bagaimana kalau Dean benar-benar tidak mau menandatangani surat perceraiannya?"

__ADS_1


"Apa dia mengatakan hal itu?"


"Hmm.." Elle menganggukkan kepalanya.


"Kapan dia mengatakan hal itu? Apa kau pergi menemuinya? Bukan kah kau memutus komunikasi mu dengannya?"


"Bukan aku yang menemuinya, dia yang datang menemuiku."


"Menemuimu? Di mana? Di sini?"


"Haaah.. Masih baik jika dia datang menemuiku di sini."


Elle menoleh pada Amy dengan di penuhi rasa jengah. "Kau tahu.. Dia datang menemuiku di Jaliandro Company. Hal gilanya, dia benar-benar membuat keributan di sana. Dan hal yang lebih parahnya lagi, saat itu aku sedang menuju ruang rapat bersama para petinggi Jaliandro Company."


"What?!" Amy benar-benar merasa sangat terkejut. "Woaaah.. Aku tidak menyangka pria itu akan melakukan hal se nekad itu."


Elle menghela nafasnya, dia menatap langit-langit ruangan itu dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.


"Aku tidak tahu, untuk apa Dean berusaha agar aku tidak menceraikannya? Apa karena tanah itu? Bukan kah sudah ku katakan, aku tetap akan memberikan tanah itu padanya?"


"Bagaimana jika alasannya karena dia sudah mencintaimu?"


"Tcih!" Elle sedikit menaikkan sudut bibirnya. "Cinta? Tahu apa dia soal cinta? Pria mana yang bisa dengan mudahnya menduakan cinta? Bahkan selama bertahun-tahun lamanya."


"Toh, kalau pun dia memang benar-benar mencintaiku, aku tetap tidak akan merubah keputusanku. Semuanya sudah terlambat. Cukup satu kali aku memberikan kesempatan padanya. Tidak ada kesempatan kedua apa lagi ketiga. Aku bukan gadis bodoh yang akan terus menerus termakan kata cinta."


Amy seketika saja menyunggingkan senyumnya, dia menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Ya.. Begitu lebih baik.. Lebih baik menjadi seorang janda tapi merasa bahagia. Dari pada harus terikat hubungan pernikahan yang di jalani dengan penuh penderitaan."


Elle mengangguk kecil, dia menyetujui apa yang Amy katakan. Karena memang pada dasarnya, apa yang bisa dia harapkan dari Dean? Sedari awal menikah pun, Elle sudah merasa seperti tidak memiliki seorang suami. Jadi, dari pada dia harus terus merasakan hal seperti itu. Lebih baik dia benar-benar tidak memiliki seorang suami.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2