Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Bersikap Egois


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Hari sabtu, Lewis cafe..


"Jadi, Dean sudah empat hari tidak pulang ke rumah?"


Elle mengangguk lesu. "Terhitung dari setelah kita bertengkar."


Amy menghela nafasnya untuk sejenak.


"Kau sungguh tidak ingin mencari tahu kemana dia pergi? Ini bukan hal yang wajar Ell.. Dari semenjak ayahnya meninggal, suami mu hampir tidak pernah tidur di dalam satu ruangan denganmu."


"Entahlah Am, aku terlalu takut untuk mencari tahu."


Elle menopang kepala menggunakan tangan kirinya yang bertumpu pada meja, tangan kanannya tidak ada hentinya memainkan cake stroberi yang sudah tidak lagi berbentuk.


Terhitung, sudah hampir 30 menit Elle hanya menatap dan memainkan cake itu.


"Ck! Berhentilah memainkan cake yang tidak berdosa itu. Kau bahkan belum memakannya barang satu suap pun!"


Amy merebut sendok kecil yang Elle gunakan untuk memainkan cake stroberi itu.


Elle hanya menghembuskan nafasnya dengan begitu berat.


"Lantas, bagaimana sikap ibu mertua mu setelah dia memakimu?"


Elle mengedikkan bahunya. "Aku belum berpapasan dengannya. Kau tahu sendiri, di saat hari masih pagi, dia selalu pergi yang hingga saat ini pun aku tidak tahu dia pergi kemana. Sedangkan di sore hari, dia selalu pergi bersama teman-temannya. Aku pun hanya mengurung diri di kamar setelah aku pulang dari kantor."


"Jadi, kau benar-benar meninggalkan pekerjaan rumah?"


"Em hem.." Elle mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku mengunakan jasa laundry untuk mencuci pakaianku sendiri. Untuk makan, aku hanya makan di kantor. Jadi, aku tidak harus repot-repot keluar dari kamar untuk mencuci piring."


Amy terkekeh geli. "Kau benar-benar berniat melakukan hal itu."


"Tentu saja.." Sahut Elle cepat. "Aku tidak mau lagi di jadikan sebagai pembantu. Biarkan saja mereka mengurus keperluan mereka masing-masing. Untuk apa aku mengurus keperluan mereka kalau tidak ada satu pun dari mereka yang menghargaiku. Sudah cukup selama ini mereka menginjak-nginjak harga diriku. Aku tidak ingin lagi.."


"Bagus bagus.. Seperti itulah sahabatku seharusnya.." Amy menepuk-nepuk bahu Elle, senyum bahagia tidak hentinya tersungging di bibir Amy.


Elle menatap Amy dengan sudut bibirnya yang sedikit berkedut.

__ADS_1


"Kau tahu Am.. Tidak hanya itu saja, aku bahkan tidak membayar tagihan listrik dan juga air. Padahal, surat tagihan itu datang sehari setelah ibu mertuaku mengoceh. Aku juga sengaja tidak mengisi kulkas dengan bahan-bahan makanan."


"Kau benar-benar melakukan hal itu?" Amy sedikit terkejut untuk hal yang satu ini.


"Em hem.." Elle mengangguk kecil. "Kau juga tahu sendiri kan. Selama ini, setelah ayah mertuaku tiada, aku lah yang bertanggung jawab untuk membayar semua tagihan rumah itu."


Amy menganggukkan kepalanya, Elle pernah menceritakan hal itu padanya.


Elle kini beralih memainkan sedotan yang ada di gelas minumannya. "Aku sengaja melakulan hal itu karena aku ingin mereka merasakan. Jika bukan karena aku, mereka tidak akan bisa hidup dengan baik."


"Bukannya aku ingin meremehkan Risa (kakak perempuan Dean) dan Haris (suami Risa). Hanya saja, apa yang bisa di harapkan dari penghasilan mereka? Haris, dia hanya bekerja sebagai security toko pakaian biasa. Risa, dia hanya seorang pelayan cafe yang bahkan cafe itu jarang di kunjungi pelanggan."


"Untuk mencukupi kebutuhan Miguel (anak Risa dan Haris) saja, terkadang mereka masih meminjam uang padaku. Sedangkan Dean? Aku tidak tahu kemana larinya semua uang yang dia miliki. Ibu mertuaku saja hanya bisa mengandalkan uang pensiun dari ayah mertuaku yang jumlahnya tidak seberapa. Lantas, bagaimana mereka akan membayar setiap tagihan rumah dan mencukupi kebutuhan makan sehari-hari mereka? Biarkan aku bersikap Egois hanya untuk sekali ini saja."


"Jangan hanya untuk satu kali ini saja.. Kalau bisa, bersikap egoislah untuk seterusnya. Kau berhak menentukan keputusanmu sendiri, Ell.." Amy menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku sekarang merasa penasaran, bagaimana selama ini uncle Xi Chen bisa mencukupi kebutuhan semua orang yang ada rumah itu."


Elle mengedikkan bahunya. "Setauku, selain mengajar, dia memiliki pekerjaan sampingan sebagai supir taxi."


"Oooh.. Jadi itu sebabnya aku pernah satu kali melihat uncle Xichen mengendarai taxi di malam hari."


"Kau pernah melihatnya?"


"Hemm.." Amy menganggukkan kepalanya. "Aku kira, aku salah melihat orang. Tapi, setelah mendengar apa katamu. Sepertinya aku yakin kalau orang itu memang uncle Xi Chen."


Elle mengedikkan bahunya.


"Ck! Semua ini tidak semudah yang kau pikirkan Am.."


"Apanya yang tidak mudah Ell? Apa selama ini kau di untungkan dalam pernikahanmu? Tidak kan.. Jadi untuk apa kau masih mempertahankan rumah tanggamu?"


Elle menghela nafasnya untuk sejenak. Dia tidak tahu bagaimana harus memberikan penjelasan pada Amy.


Jila di lihat, persoalannya memang sangat mudah.


Tapi, jika di jalani, kalian pasti akan mengerti tentang kesulitan seperti apa yang di alami Elle.


Tidak hanya soal keadaan, tidak hanya soal siapa yang di rugikan dan tidak di rugikan. Tapi juga soal hati dan juga kesiapan mental.


Jujur saja, besar kecilnya, Elle memiliki perasaan kepada Dean.


Perasaan yang membuatnya mempertahankan kehidupan rumah tangganya. Perasaan yang membuatnya berharap kalau suatu saat nanti Dean akan berubah. Perasaan yang bahkan membuatnya merasa sedikit takut untuk kehilangan Dean.


Bodoh memang.. Tapi, mau bagaimana lagi, perasaan itu sudah terlanjur tumbuh di hatinya.


Perasaan yang tumbuh di saat Dean masih bersikap baik padanya. Ya walaupun Dean bersikap baik padanya hanya dalam waktu beberapa bulan saja, tapi perasaan itu sudah terlanjur tumbuh.

__ADS_1


Salahkan saja Elle yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sampai tidak memiliki waktu untuk berhubungan dengan pria. Sekalinya memiliki hubungan dengan seorang pria, Elle mudah sekali untuk jatuh cinta.


Tapi, Elle tidak sepenuhnya salah. Toh, Elle juga mencintai suaminya sendiri, bukan orang lain atau pun pria asing.


"Menikahlah, maka kau akan mengerti apa yang menjadi kesulitanku saat ini."


Amy seketika saja mendelikkan matanya. "Tidak, terima kasih.. Nanti saja jika aku benar-benar siap. Kalau perlu, aku tidak usah menikah. Untuk anak, aku bisa melakukan proses bayi tabung. Untuk saat ini, berpacaran saja sudah cukup bagiku."


Elle mencebikkan bibirnya, dia melirik Amy dengan sedikit sinis.


"Tapi Ell.. Ada satu hal yang hingga saat ini masih menjadi pertanyaan di benakku."


Elle berhenti memainkan sedotannya, dia menatap Amy dengan sedikit penasaran. "Apa? Tanyakan saja.. Bukan kah selama ini kau tidak pernah merasa ragu untuk menanyakan sesuatu padaku?"


"Uumm.." Amy terdiam untuk sejenak. "Ini.. Tentang.. Malam di mana kita mengunjungi The Saphire."


Elle seketika saja menegakkan tubuhnya, dia menatap Amy dengan mata yang mengerjap.


"Bagaimana dengan pria itu? Apa yang terjadi antara kau dan dia di malam itu? Apa kau benar-benar tidak tahu tentang siapa pria yang kau duduki itu?" Amy bertanya dengan sangat menggebu-gebu. "Setelah malam itu, aku melihat hidupmu berjalan dengan sangat normal. Aku benar-benar merasa penasaran tentang ap.."


"Stop.. Sudah cukup.. Jangan mengatakan apa pun lagi. Bisa kah kau menanyakannya satu persatu?"


Amy mengusap tengkuknya canggung. "Maafkan aku, aku hanya terlalu antusias untuk menanyakan hal ini."


"Khem! Tak apa.."


"Jadi? Bagaimana?"


Elle mengernyitkan dahinya. "Apanya yang bagaimana?"


"Ck! Tentang pria itu Ell.."


Elle menampilkan cengiran lebarnya. "Sepertinya.. Aku tidak perlu menceritakan apa pun."


Amy seketika saja menatap Elle dengan tatapan datarnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2