
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Elle terdiam, dia terpukau akan keindahan air terjun yang ada di hadapannya.
Elle benar-benar tidak tahu kalau selama ini ada air terjun tersembunyi yang begitu memanjakan mata.
Pict by : Pinterest
Elle menatap keindahan air terjun itu dengan mata yang berbinar.
Hal itu membuat Gavin menyunggingkan senyumnya. Dia tidak menyangka kalau perubahan mood Elle akan bergerak secepat itu. Terlebih lagi, perubahan mood Elle bisa terjadi hanya karena hal kecil. Benar-benar membuat Gavin semakin tertarik pada gadis itu.
"Kau menyukainya?"
Elle mengangguk kecil. "Sedari aju kecil, aku sudah sering mengunjungi pantai ini. Tapi, ini kali pertama aku mengetahui ada air terjun seindah ini di dekat pantai ini. Andai saja aku tau, mungkin aku akan lebih sering datang ke sini."
"Wajar kalau kau tidak mengetahuinya, air terjun ini baru ada sekitar 10 tahun yang lalu."
Elle mengernyitkan dahinya, dia menoleh pada Gavin.
"Maksudmu?"
"Ini air terjun buatan. Daddy ku membuatnya untuk hadiah ulang tahun mommy ku."
Elle lantas ber "Oh" ria seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tapi sedetik kemudian, dia membulatkan kedua bola matanya karena baru menyadari apa yang Javer katakan.
"Wait, whaat!! Air terjun ini buatan? Hadiah ulang tahun untuk mommy mu?"
Gavin mengangkat bahunya acuh.
"Kenapa kau begitu terkejut? Ini hanya hal kecil."
"Wha, what?! Hal kecil?" Alis mata Elle seketika saja saling bertaut.
"Hmm.. Ini hanya hal kecil. Jika kau mau, aku bahkan bisa membuatkan sebuah pulau yang lebih bagus dari ini untukmu."
Elle sontak saja menjatuhkan rahangnya.
Apa yang baru saja pria ini katakan? Membuatkan pulau?
"Ha ha ha.. Waaah.." Elle mengibaskan tangan kanannya ke udara, gadis itu hanya bisa tertawa kaku.
Dia tiba-tiba saja merasa penasaran tentang berapa banyak harta kekayaan yang di miliki oleh keluarga Jaliandro.
Bisa-bisanya pria itu berkata dengan ringannya akan membuatkan sebuah pulau untuknya.
Oooh.. Sungguh, bulu kuduk Elle tiba-tiba saja merinding hanya karena membayangkannya.
"Jangan bergurau Gavin, itu tidak lucu."
"Apa aku terlihat seperti sedang bergurau? Tidak ada salahnya kan membuat sesuatu yang bisa menyenangkan hati pasangannya."
"Pfft!" Elle seketika saja menahan tawanya. "kenapa kau berkata seolah-olah aku akan jatuh ke dalam pelukanmu?"
Gavin menyunggingkan senyum simpulnya. "Kita lihat saja nanti."
"Tcih! kau terlalu percaya diri Gavin." Elle mengibaskan tangannya ke udara.
Gavin mengedikkan bahunya. "Aku memang selalu seperti itu."
Elle hanya bisa memutar bola matanya.
Jujur, Elle merasa sedikit jengah nenghadapi tingkat kepercayaan diri Gavin yang terlalu tinggi.
Tapi mau bagaimana lagi? Memang begitulah adanya.
Selama beberapa waktu terakhir ini dia mengenal Gavin, apa yang menjadi keinginan pria itu selalu saja terwujud. Jadi wajar saja jika pria itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.
__ADS_1
Elle kini tiba-tiba saja merasa was-was. Takut kalau apa yang di katakan Gavin akan menjadi kenyataan. Di mana dia akhirnya benar-benar akan jatuh pada pelukan pria itu.
Sebenarnya, Elle bisa saja menghindar. Kendati demikian, Elle tetap tidak melakukannya.
Bukan karena dia memberikan harapan pada Gavin. Selain karena dia terikat kontrak kerja yang memiliki denda yang amat sangat besar, yang di mana sudah di pastikan kalau dia tidak akan mampu untuk membayarnya. Dia juga merasa penasaran mengenai fakta tentang Dean dan keluarganya yang sebelumnya di katakan oleh Gavin.
"Lihatlah ke sana, ada se ekor rusa."
Elle lantas menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Gavin.
"Di mana?"
Elle mengernyitkan dahinya karena tidak melihat rusa yang di maksud oleh Gavin.
"Kau membodohiku?"
Elle hendak kembali menoleh pada Gavin.
Namun...
"Aaaaaaa Gaviiiinn!!"
Byurrr!!!!
Gavin membawa Elle jatuh dari ketinggian 10 meter untuk masuk ke dalam air dengan posisi Elle berada di dalam pelukannya.
Elle seketika saja mengalungkan kedua lengannya pada leher Gavin dengan sangat erat. Wajahnya dia benamkan pada ceruk leher Gavin dengan kedua matanya yang terpejam dengan sangat erat.
Gadis itu tiba-tiba saja merasa panik saat Gavin hendak melepaskannya.
"Hey hey hey! Ja, jangan lepaskan aku! Jangan jauhkan tanganmu dari pinggang ku! Aku, aku tidak bisa berenang."
Gavin seketika saja mengernyitkan dahinya.
"Kau tidak bisa berenang?"
"Kenapa? Kau akan menghinaku lagi?"
"Tidak." Gavin menyahut dengan sangat cepat. "Jika kau tidak bisa berenang, lantas apa yang akan kau lakukan saat kau datang ke air terjun?"
"Tentu saja menikmati keindahan dan suasana tenangnya."
"Aku pernah hampir tenggelam satu kali. Hal itu yang membuatku tidak pernah mau belajar berenang. Jadi tolong, jangan lepaskan aku."
Tubuh Elle kini sedikit bergetar akibat rasa takutnya.
"Hey.. Tenanglah, aku tidak akan melepaskanmu." Gavin mengelus punggung Elle dengan sangat lembut. "Lagi pula, ini tidak terlalu dalam."
"Tidak terlalu dalam kepalamu! Kakiku tidak menyentuh dasar! Bagaimana bisa kau menyebutnya dengan tidak terlalu dalam!"
"Tcih!" Gavin seketika saja terkekeh kecil, bisa-bisanya gadis ini memakinya di saat keadaan seperti ini.
Apa gadis ini tidak takut kalau dia mungkin saja akan melepaskannya?
Ah, dia lupa, gadis ini memeluk lehernya dengan sangat erat.
"Kau tidak ingin menikmati pemandangan sekitar dari sini?"
Elle menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku takut."
"Cobalah, kau bisa menikmati pemandangan yang lebih indah dari ini. Kau pasti akan sangat menyukainya. Aku berjanji, aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan memegangmu dengan sangat erat."
Elle kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Percayalah padaku, rasa takutmu akan hilang setelah melihat pemandangannya."
Meskipun merasa ragu, tapi Elle tetap mengangkat wajahnya dari ceruk leher Gavin secara perlahan.
Dan benar saja, rasa takutnya tiba-tiba saja hilang setelah dia melihat pemandangan sekitar.
Deretan pohon yang menjulang tinggi, suara gemericik air terjun yang bersahutan dengan para burung yang berterbangan, benar-benar membuat hati Elle merasa damai.
"Wow!"
__ADS_1
Elle tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Senyum kecil pun tersungging di bibirnya. Elle sungguh tidak menyangka kalau alam buatan tangan manusia bisa seindah ini.
"Babby?"
Suara rendah Gavin membuyarkan lamunannya.
"Ya?"
Elle mengernyitkan dahinya, dia menatap Gavin dengan tatapan bingung.
"Kau memanggilku apa?"
"Babby.."
Gavin mengulangi ucapannya dengan suaranya yang semakin rendah.
Bolehkah Elle jujur? Ada sesuatu yang terasa menggelitik di dalam perutnya saat Gavin memanggilnya dengan sebutan babby. Perasaan yang bahkan belum pernah dia rasakan saat dia bersama dengan Dean.
Apa kah Elle sudah gila? Bisa-bisanya dia merasakan perasaan seperti itu karena pria lain di saat dia sudah memiliki suami.
"Ja, jangan memanggilku seperti itu?"
Elle tiba-tiba saja merasa gugup karena Gavin menatapnya dengan sangat intens.
"Apa ada yang salah?"
"Te, tentu saja.. Apa kau lupa? Aku sudah.."
"Ya, kau sudah bersuami. Tapi aku tidak peduli. Aku berhak memanggil seseorang dengan sesuka hatiku."
"Terserah apa mau mu."
Elle memalingkan wajahnya yang terasa sedikit panas. Elle akui, Elle merasa sedikit tersipu karena Gavin terus saja menatapnya dengan sangat intens.
Kalau saja Elle bisa berenang, Elle pasti sudah melarikan diri saat ini juga.
Lagi pula, Elle juga bingung. Kenapa pria ini bisa bertahan dengan sangat lama di dalam air? Apa kaki pria ini tidak merasa pegal? Kakinya sedari tadi terus saja berayun agar mereka tetap berada di permukaan air.
"Babby??"
"Ck! Apa la.."
Elle membulatkan kedua bola matanya saat Gavin tiba-tiba saja mengecup bibirnya.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau suka sekali memanfaatkan kesempatan dalam kesemppphh.."
Gavin sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk melum**at bibir ranum Elle. Bibir yang sejak pertama dia merasakannya sudah menjadi candu untuknya.
Jujur saja, setiap kali dia bertatap muka dengan Elle. Dia selalu menahan diri untuk tidak memakan bibir Elle saat itu juga.
Tapi, kali ini, dalam posisi seperti ini, dan dalam keadaan seperti ini, Gavin sudah benar-benar tidak bisa lagi menahan keinginannya.
"Mmmhh.. Hah, hah, hah.."
Elle mencoba untuk mengatur nafasnya yang sedikit tersengal setelah Gavin melerai ciu**man mereka.
Gavin menyunggingkan senyumnya melihat wajah Elle yang begitu memerah.
"Kau tahu.. Bibirmu terlalu candu untukku."
Belum selesai Elle memgatur nafasnya, Gavin sudah kembali memakan bibirnya.
Elle tidak memiliki pilihan lain selain pasrah. Karena sejatinya, dia juga merasa terbuai akan setiap luma**an lembut yang di berikan oleh Gavin.
Hingga tanpa sadar, tangan kanannya merambat naik untuk merem**at rambut Gavin.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..