Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Terlalu Bingung


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


"Loh, pah.. Mana Gavin?"


Elle mengernyitkan dahinya melihat Baraf yang hanya duduk seorang diri.


"Dia baru saja pergi, mungkin sekitar 10 menit yang lalu."


"Tanpa berpamitan padaku?"


"Jangan salah paham dulu. Dia pergi dengan terburu-buru, ada sesuatu yang harus segera dia urus. Lagi pula, dia tidak ingin menggangu waktumu dengan mamah mu. Jadi dia memutuskan untuk tidak berpamitan padamu."


Elle ber "oh" ria seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Elle lantas duduk di samping Baraf. Tanpa mengatakan apa pun, gadis itu menyeruak masuk ke dalam pelukan Baraf. Dia menyandarkan kepalanya pada dada Baraf yang terbilang masih cukup bidang di usianya yang sudah memasuki angka 60.


Jujur saja, Baraf merasa bingung pada sikap Elle yang tiba-tiba saja menjadi seperti ini. Tidak biasanya Elle memeluknya tanpa alasan yang jelas.


Tapi, meskipun begitu, Baraf tetap membalas pelukan Elle. Pria itu menepuk-nepuk punggung Elle dengan lembut.


Baraf menatap Alys yang baru saja datang dengan dahi yang mengernyit bingung. Pria itu seolah bertanya tentang apa yang terjadi pada putri mereka.


Alys hanya mengedikkan bahunya, dia memberikan isyarat pada Baraf kalau Elle baru saja menangis.


Baraf mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Pah?"


"Hm?"


"Apa kah papah akan marah jika aku memutuskan untuk nerpisah dengan Dean?"


Baraf terdiam, dia mengernyitkan dahinya. Bafar kembali melirik Alys.


Namun Alys lagi-lagi hanya mengedikkan bahunya. Wanita itu memberikan tatapan mata seolah berkata "hanya dengarkan saja apa yang ingin putrimu katakan."


Baraf menghela nafasnya untuk sejenak.


"Apa tidak ada keputusan lain selain berpisah?"

__ADS_1


Elle menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa jika harus bertahan dengan seorang pria yang sudah menduakan ku. Terlebih lagi, pria itu menikahinya hanya demi untuk mendapatkan sesuatu hal."


Baraf seketika saja melepaskan Elle dari pelukannya, dia menatap putrinya itu dengan tatapan penuh kebingungan.


"Apa maksudmu sayang? Coba ceritakan dengan lebih jelas."


"Aku.. Aku tidak tahu sebidang tanah apa yang di inginkan oleh Dean. Tapi yang jelas, pria itu menikahiku hanya demi mendapatkan sebidang tanah itu."


"Tunggu, tanah?"


Baraf menoleh pada Alys.


"Apa sebidang tanah yang di maksud adalah tanah yang sempat ingin aku dan Xi Chen jadikan sebagai hotel?"


Alys menganggukkan kepalanya.


Baraf terlihat semakin bingung. "Tapi, bagaimana mungkin Dean mengetahui hal itu? Bukan kah yang mengetahui sebidang tanah itu hanya aku, kau, Xi Chen dan.. Tamara?"


Alys kembali menganggukkan kepalanya. "Aku tidak tahu bagaimana Dean bisa mengetahui tanah itu. Tapi yang pasti, Elle berkata kalau Tamara lah yang menginginkan tanah itu. Putri kita tidak sengaja mendengarkan percakapan Dean dan Tamara ketika mereka berdua tengah membahas masalah tanah itu."


Baraf terdiam, jujur saja, Baraf merasa sangat bingung, bagaimana dia harus memberikan tanggapan soal sebidang tanah itu.


Tidak mungkin kan dia berterus terang pada putrinya kalau dia menikahkan putrinya dengan Dean karena sebidang tanah itu.


Baraf juga merasa bingung, kenapa Tamara tiba-tiba saja menginginkan tanah itu? Toh, kalau pun nantinya Elle dan Dean memiliki keturunan, tanah itu juga tetap tidak akan jatuh ke tangan Tamara.


Lantas, kenapa Tamara bisa-bisanya berkata kalau dia menginginkan tanah itu?


"Haruskah aku berkata yang sejujurnya?"


Alys menganggukkan kepalanya. Sejatinya, dia sedari awal sudah ingin menceritakan masalah sebidang tanah itu pada Elle. Namun, Akys tidak melakukannya. Dia menunggu Baraf untuk menceritakannya sendiri pada Elle.


Toh, pernikahan Elle dan Dean yang ada sangkut pautnya dengan tanah itu juga merupakan usulan yang di katakan oleh Baraf. Jadi biarkan Baraf saja yang menceritakannya secara langsung.


Baraf lantas menghela nafasnya untuk sejenak, dia menatap Elle dengan sedikit ragu.


"Berjanjilah untuk mencerna apa yang papah ceritakan dengan seksama. Pahami apa yang papah ceritakan dengan baik. Jika kau memang belum mengerti dengan apa yang papah ceritakan. Tanyakan saja, jangan mengumpulkannya hanya dari apa yang ada di pikirkan mu."


Elle terdiam, jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan sangat cepat. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba saja merasa tidak enak. Dia sedikit takut untuk mendengarkan apa yang akan di ceritakan oleh Baraf.


Namun, kendati demikian, Elle tetap menganggukkan kepalanya. Karena meskipun Elle merasa takut, tapi Elle juga ingin mengetahuinya.

__ADS_1


"Jadi..."


Baraf mulai menceritakan masalah sebidang tanah itu pada Elle.


Tentang awal mula adanya tanah itu, tentang bagaimana dia dan Xi Chen mendapatkan tanah itu, tentang apa rencana dia dan Xi Chen mengenai tanah itu, juga tentang kenapa pernikahan Elle dan Dean ada hubungannya dengan tanah itu.


Baraf benar-benar menceritakan semuanya, tidak ada satu hal pun yang dia lewati dari apa yang dia dan Xi Chen lalui demi mendapatkan sebidang tanah itu.


Termasuk dengan Xi Chen yang menjual semua harta warisan milik Tamara demi untuk mendapatkan sebidang tanah itu.


Elle terkejut, tentu saja. Bahkan Elle merasa sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau Baraf lah yang mengusulkan ide gila tentang pernikahannya dengan Dean.


Ya meskipun sejatinya Baraf melakukan hal itu dengan tujuan untuk menjadikan tanah itu sebagai milik Elle. Namun tetap saja kan, bagi Elle, ide tentang pernikahan Elle dan Dean merupakan ide yang cukup gila.


Terlebih lagi dengan Baraf yang juga sebenarnya sudah mengetahui kalau di kala itu Dean sudah memiliki kekasih. Benar-benar membuat Elle tidak tahu lahi harus memberikan tanggapan seperti apa.


Namun, di balik hal yang di certikan Baraf juga. Elle kini bisa sedikit mengerti, kenapa Tamara bisa begitu menginginkan sebidang tanah itu.


Karena mau bagaimana pun, sebidang tanah itu bisa di dapatkan berkat Tamara yang rela menjual harta warisannya.


"Jika kau ingin marah pada papah, maka lakukanlah. Papah akui, itu kesalahan papah karena telah mengusulkan ide untuk menikahkan mu dengan Dean. Salah papah juga karena terlalu memaksakan pria yang sudah memiliki kekasih untuk menikahi anak perempuan papah satu-satunya. Papah benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya akan menjadi seperti ini."


Elle tidak menjawab, lidahnya terlalu kelu untuk menanggapi Baraf.


Tanpa mengatakan hal barang satu patah kata pun, bahkan tanpa menatap Baraf barang hanya untuk satu detik saja, Elle memiliki untuk beranjak dari tempatnya.


Gadis itu berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Baraf dan Alys yang kini saling bertukar pandang dengan di penuhi rasa bersalah.


Bukan karena Elle marah pada pria yang menjadi ayah kandungnya itu. Namun karena Elle merasa terlalu bingung, bagaimana dia harus memberikan tanggapan atas apa yang dia dengar.


Tapi tidak dapat di pungkiri, Elle juga merasa marah akan hal itu. Tapi ya mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi.


Yang Elle butuhkan untuk saat ini hanyalah menenangkan dirinya. Biarkan dia berpikir untuk sejenak sebelum nantinya dia akan kembali membahas masalah ini dengan kedua orang tuanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2