
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Oh Fu**ck!!
Elle terdiam mematung melihat hal panas yang terpampang nyata di hadapannya.
Lihatlah, betapa menggodanya punggung tegap berotot yang di miliki oleh pria yang kini tengah membuat sesuatu itu.
Otot kekar yang tercetak dengan proporsi yang pas di sana, benar-benar membuat Elle merasa panas dingin.
Di tambah lagi dengan warna kulit tan yang di miliki oleh pria itu, membuat Elle membayangkan hal yang..
Sh**it!! Apa yang kau pikirkan Elle!!
Elle seketika saja membalikkan tubuhnya.
Sadarlah!! Kau memiliki suami!
Namun, tidak dapat di pungkiri. Elle merasa sedikit tergoda melihat kekarnya tubuh yang di miliki oleh Gavin.
"Kau tidak akan masuk?"
Oh God! Kenapa suara bariton pria itu terdengar sangat menggoda!!
Elle mengigit bibirnya, menahan segala pikiran kotor yang terus saja bermunculan di kepalanya.
Salah memang karena Elle sudah bukan seorang gadis lajang. Tapi, mau bagaimana lagi? Elle bukan lagi seorang gadis muda yang belum pernah merasakan apa yang di namakan hawa nafsu.
"Eemm.. I, itu.."
Gavin membalikkan tubuhnya, dia menyandarkan pantatnya pada meja bar dengan segelas kopi panas di tangannya.
Gavin menaikkan sebelah alisnya melihat Elle yang hanya berdiri di ambang pintu. Terlebih lagi, gadis itu memunggunginya.
"Kenapa? Apa kau malu?"
Elle seketika saja mengusap tengkuknya.
"Apa perlu aku ingatkan kembali kalau kau pernah melihat hal yang lebih dari ini? Kau bahkan sudah menyentuh area.."
"Stop!" Elle membalikkan tubuhnya kembali menghadap Gavin. "Tuan tidak pelu melanjutkannya. Saya mengerti maksud Tuan."
Elle menatap Gavin dengan sedikit sinis.
Ayolah.. Kenapa mulut pria itu begitu vulgar!!
Tidak bisa kah dia mengerti kalau Elle merasa malu. Ingin sekali rasanya Elle menjahit mulut pria itu.
"Kau berani menatapku seperti itu?" Gavin menaikkan sebelah alisnya.
"Ti, tidak tuan."
Elle memalingkan wajahnya dengan perasaan dongkol.
Gavin diam-diam mengulum senyumnya. Sungguh, Gavin benar-benar merasa terhibur dengan raut wajah Elle yang terlihat sangat kesal.
Ah, sepertinya, kini menggoda Elle menjadi salah satu hobi baru yang di miliki Gavin.
Atau bahkan mungkin, akan menjadi candu?
Ya, katakan lah seperti itu. Menggoda Elle kini sudah menjadi hal yang candu untuknya.
__ADS_1
Entahlah, Gavin hanya merasa ada perasaan asing yang menjalar di hatinya saat dia berhasil menggoda Elle.
"Khem! Masuklah, aku akan membersihkan diri. Kau bisa menyiapkan apa yang harus kau siapkan. Walk in closetnya ada di sana."
Gavin mengedikkan dagunya ke arah pintu berwarna hitam yang terletak di sudut ruangan.
"Baik Tuan."
Gavin pun berlalu pergi dari sana.
Elle lantas segera masuk ke dalam. Dia menatap kamar Gavin dengan perasaan kagum.
Bagaimana luasnya kamar ini, bagaimana cantiknya design interior di ruangan ini, juga dengan adanya mini bar yang terletak di sudut ruangan. Benar-benar membuat Elle merasa kagum.
Design ruangan ini sungguh berbeda dengan design beberapa ruangan yang sempat di lewati Elle. Jika ruangan yang lainnya memiliki design yang netral dan di dominasi dengan warna putih, lain hal nya dengan kamar Gavin.
Kamar Gavin memiliki design yang sangat klasik namun sarat akan kesan misterius. Kamar Gavin juga di dominasi dengan warna coklat tua dan hitam. Hal itu benar-benar membuat kamar ini terkesan seperti kamar seorang vampire atau drakula.
Langlah Elle terhenti tepat di depan pintu berwarna hitam yang sebelumnya di tunjukkan oleh Gavin.
"Wow.."
Lagi dan lagi, Elle tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya melihat betapa luas dan mewahnya ruangan walk in closet ini.
Pict by: Pinterest
*Note : Anggap aja itu bajunya cuma warna hitam dan putih ya wakk, mau nyari uang sesuai sama keinginan sensi tu agak susah soalnya :D Ingat, gambar hanya sekedar ilustrasi.
"Kenapa semuanya di dominasi dengan warna gelap?"
"Apa pria itu tidak memiliki baju selain warna hitam dan putih?"
Elle mengernyitkan dahinya.
Elle lantas menyiapkan setelan yang akan di kenakan oleh Gavin. Elle juga menyiapkan dasi dan jam tangan.
"Sepertinya aku harus meminta kenaikan gaji."
Elle berkacak pinggang seraya menatap setelan yang akan di kenakan Gavin dengan mata yang memicing tajam.
Gadis itu lantas menunggu Gavin dengan duduk di sofa yang ada di sana.
Tak lama setelah itu, pintu walk in closet terbuka menandakan Gavin sudah selesai membersihkan diri.
Elle pun beranjak dari duduknya, gadis itu hendak berlalu pergi dari sana.
Namun, Gadis itu tiba-tiba saja terdiam mematung melihat Gavin yang datang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya.
Elle lantas memalingkan wajahnya yang perlahan mulai terasa panas akibat merasa malu.
Ayolah.. Meskipun Elle sudah pernah melihat hal yang lebih dari itu, tapi Elle waktu itu tengah dalam keadaan mabuk. Lain halnya dengan dia yang saat ini dalam keadaan sadar sepenuhnya.
"Apa kah pria itu tidak memiliki bathrobe? Kenapa dia hanya mengenakan sehelai handuk?!" Elle bergumam di dalam hatinya.
Hal itu seketika saja membuat Gavin menyunggingkan senyum kecilnya, dia berusaha untuk mengabaikan raut wajah malu gadis itu.
Meskipun kendatinya Gavin ingin kembali menggoda Elle, namun dia tahan mengingat sebentar lagi dia harus menghadiri rapat.
Tanpa ada rasa malu sedikit pun, Gavin mendekati Elle seraya berniat untuk melepaskan handuknya di hadapan Elle.
"Tu, tunggu tuan."
Gavin menghentikan niatnya, dia menatap Elle dengan alis yang saling bertaut.
Elle kembali memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Tuan akan melepaskan itu di sini?"
"Apa ada yang salah?"
"Tidak bisa kah Tuan menunggu hingga saya keluar?"
"Kenapa memangnya? Aku tidak keberatan jika kau ingin melihat tubuhku. Bukan kah sebelumnya juga.."
Gavin menghentikan kalimatnya saat Elle tiba-tiba saja berlari keluar dari sana.
"Tcih!"
Pria itu tidak bisa menahan kekehannya.
"Ck! Dasar pria tidak tau malu!! Apa semua pria kaya seperti itu!!"
Elle menatap pintu walk in closet dengan tatapan sinis.
Gadis itu menepuk-nepuk pipinya yang terasa sangat panas.
Sungguh, andai saja Gavin bukan atasannya, Elle pasti sudah mematahkan leher pria itu. Ya, andai saja..
Saat Elle tengah menunggu Gavin, gadis itu mengernyitkan dahinya tat kala Gavin menyodorkan dasi padanya.
Apa dia juga harus memakaikan dasi untuk pria itu? Bahkan Elle saja tidak pernah memakaikan dasi untuk Dean.
"Apa kau tidak mengerti cara memasangkan dasi?"
Walaupun merasa enggan, namun Elle tetap menerima dasi itu.
Elle terdiam untuk sejenak.
"Tuan, bisa kah tuan sedikit menunduk. Tuan terlalu tinggi."
Gadis itu menyunggingkan senyum canggungnya.
Gavin mengedikkan bahunya, dia sedikit menundukkan tubuhnya agar Elle bisa memasangkan dasi padanya.
"Bukan aku yang terlalu tinggi, tapi kau yang terlalu pendek."
Elle seketika saja mengernyitkan dahinya.
"Apa tuan sedang menghina tubuh saya? Tidak kah tuan membaca resume data diri saya? Tinggi badan saya melebihi rata-rata tinggi wanita pada umumnya."
Gadis itu terus menggerutu seraya fokus memasangkan dasi pada Gavin. Dia melupakan rasa takutnya pada Gavin karena pria itu sudah menghina tinggi badannya.
Gavin mengabaikan ocehan Elle. Karena jujur, Gavin lebih terfokus pada kedua belah bibir ranum Elle yang terus bergerak akibat gadis itu terus mengoceh.
Cup!
Waktu seakan terhenti, Elle seolah tersihir menjadi patung saat Gavin tiba-tiba saja mengecup bibirnya.
Matanya mengerjap kaku, dia mencoba mencerna apa yang baru saja Gavin lakukan padanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1