
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Eston place.
Beberapa saat setelah Elle meninggalkan hotel.
"Hufhh.."
Gavin menghela nafasnya perlahan, tangan kanan pria itu terangkat untuk memijat pangkal hidungnya.
Sungguh, kepalanya terasa berdenyut akibat kejadian tadi malam di mana hasratnya tidak dapat dia tuntaskan. Di tambah lagi dengan dia yang baru bisa memejamkan matanya pukul 4 dini hari. Benar-benar membuat kepalanya berdenyut dengan tidak karuan.
Pria itu lantas menoleh ke arah samping kanannya, tempat di mana Elle tidur.
Gavin seketika saja mengernyitkan dahinya melihat selimut yang sudah tersingkap tanpa ada orang di sampingnya. Dia meraba bagian kasur yang kosong itu.
Dingin..
Itu pertanda bahwa Elle sudah meninggalkan kasur dalam waktu yang cukup lama.
Dia pergi tanpa membangunkanku?
Entah kenapa, ada sedikit rasa kesal di hatinya. Terlebih lagi saat dia yang tiba-tiba saja membayangkan keadaan di mana Elle meringis seraya menyebut nama pria lain. Yang padahal, Elle bisa melihat dengan jelas kalau Gavin bukan lah pria yang di maksud oleh Elle.
Ah, Gavin lupa.. Gadis itu tengah dalam keadaan mabuk..
Gavin mendengus lalu beranjak dari kasurnya. Dia tidak akan lagi memperdulikan gadis itu.
Anggap saja gadis itu hanya seulas kesialan untuknya.
Ya walaupun sejujurnya Gavin sedikit tertarik pada gadis itu, tapi sudahlah.. Gavin akan mengenyahkan rasa ketertarikannya. Untuk apa juga Gavin memikirkan gadis yang sudah jelas-jelas memiliki laki-laki lain.
Gavin bukan tipe pria rendahan yang akan merebut seorang gadis dari tangan pria lain. Kecuali gadis itu yang datang sendiri kepadanya, Gavin akan mempertimbangkan untuk menerima gadis itu.
Selama gadis itu bisa memberikan kepuasan untuknya, maka tidak ada salahnya kan? Toh, Gavin juga ujung-ujungnya akan menggunakan gadis itu hanya untuk satu malam saja.
Saat Gavin hendak melangkah ke kamar mandi, netranya tiba-tiba saja terfokus pada secarik kertas yang terletak di atas meja.
Dia lantas mengambil kertas itu kemudian membaca setiap kalimat yang tertulis di atas kertas itu dengan alis yang saling bertaut.
(Tuan.. Maafkan atas kebodohanku tadi malam.. Maafkan aku juga karena sudah tidak sengaja merendahkan harga dirimu.. Aku sungguh-sungguh tidak menyadari apa yang aku lakukan, aku benar-benar dalam keadaan yang sangat mabuk.. Aku tidak mengenalmu, dan tuan juga sudah pasti tidak mengenalku. Jadi, yeah.. Tolong lupakan kejadian semalam. Dan untuk kemeja yang kau kenakan padaku, aku pastikan kalau aku akan menggantinya bersama dengan kemeja tuan yang tidak sengaja aku kotori. Cukup kirimkan nomor rekening tuan ke nomor ponsel ini, 813xxxxxx. Dan tolong, hanya kirimkan nomor rekening Tuan, jangan meminta pertanggung jawaban apa pun dariku. Karena sudah ku katakan sebelumnya, aku dalam keadaan mabuk. Tuan juga sudah pasti tidak akan bisa menemukan keberadaanku. Sekali lagi aku minta maaf, dan Terima kasih..)
Sudut bibir Gavin tiba-tiba saja berkedut, dia meremas secarik kertas itu dengan penuh emosi.
__ADS_1
Gadis itu pikir dia siapa? Dengan se enak hati meminta Gavin untuk melupakan kejadian tadi malam! Apa dia pikir Gavin seorang pria rendahan yang akan meminta pertanggung jawaban pada gadis itu? Lancang sekali dia! Apa gadis itu tidak tahu kalau Gavin adalah seorang ketua mafia yang paling di takuti di seantero daratan Eropa?
Gavin kini mengurungkan niatnya untuk tidak memperdulikan gadis itu. Gavin kini justru semakin berniat untuk menemukan keberadaan gadis itu, dia ingin memberikan pelajaran kepadanya. Dia ingin menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa merendahkan dan meremehkannya.
Gavin tidak lagi peduli jika gadis itu sudah memiliki kekasih.
Dan tadi dia bilang apa? Tidak akan bisa menemukan keberadaannya? Bahkan jika gadis itu bersembunyi di dalam palung mariana sekali pun, Gavin pasti akan menemukan keberadaan gadis itu dengan sangat mudah.
Tunggu saja, Gavin akan membuat perhitungan pada gadis itu karena telah melukai harga dirinya lebih dari satu kali.
.......
.......
.......
Jaliandro Company..
"Kau benar-benar membawa gadis itu ke ruang pribadimu?"
Sam bertanya tepat setelah Gavin keluar dari Elevator, dia tidak menyadari raut wajah Gavin yang terlihat tengah menahan kekesalan. Dia mengikuti langkah Gavin dari belakang dengan di penuhi rasa penasaran.
Namun, bukannya mendapat jawaban atas pertanyaannya barusan, Sam justru mendapatkan perintah yang membuat dahinya sedikit mengernyit.
"Dapatkan informasi tentang gadis itu."
"Tunggu, maksudmu, gadis yang tadi malam mengeluarkan isi perutnya di bajumu?"
Gavin menghentikan langkahnya, dia menatap Sam dengan sangat tajam.
"Ya, gadis itu. Cari informasinya dengan sangat detail, jangan sampai kurang satu informasi pun. Pastikan informasi tentang gadis itu sudah ada di atas mejaku sebelum aku menyelesaikan rapat. Atau jika tidak, aku akan mengajakmu untuk berduel di atas ring tinju."
Sam seketika saja menelan salivanya.
Tuhan, apa yang sudah di lakukan gadis itu?
Kenapa di yang harus menjadi korban kekesalan Gavin?
Bagaimana caranya dia bisa menemukan informasi tentang gadis yang bahkan tidak dia ketahui namanya hanya dalam waktu yang sangat singkat?
Oh Tuhan, bisa kah kau mengulang waktu dan mencegah gadis itu untuk tidak mencari masalah dengan Gavin?
Tapi, meskipun begitu, Sam tetap menganggukkan kepalanya.
Sam masih menyayangi nyawanya, dia tidak ingin menjadi korban kemarahan Gavin. Karena arti berduel bukanlah berduel yang sesungguhnya. Melainkan menjadikan Sam sebagai samsak tinju pria itu.
"Sekarang!"
__ADS_1
"Baiklah, sekarang."
Sam berlalu pergi dari hadapan Gavin dengan langkah yang sedikit tergesa.
Gavin pun melangkah menuju ruang rapat.
Saat rapat berlangsung, pikiran Gavin tidak bisa terfokus dengan benar pada rapat itu.
Pikirannya terlalu melanglang buana pada sosok gadis yang sudah mennggoyahkan sisi kelelakiannya.
Gavin merasa sangat tidak sabar untuk segera menemukan keberadaan gadis itu, Gavin tidak sabar untuk segera memberikan pelajaran pada gadis itu.
Gavin sudah membayangkan pelajaran seperti apa yang akan membuat gadis itu bertekuk lutut di bawah kakinya.
Ya, Gavin berencana membuat gadis itu bertekuk lutut di bawah kakinya.
Jika perlu, Gavin akan mengikat gadis itu sampai gadis itu tidak akan pernah bisa lepas dari genggamannya.
"Tuan.."
"Tuan Gavin?"
Gavin seketika tersadar dari lamunannya, dia menatap salah satu petinggi Jaliandro Company yang baru saja memanggil namanya.
"Jadi, bagaimana keputusan yang akan tuan ambil? Haruskah kita menyetujui proyek ini?"
Gavin menghela nafasnya, Gavin sama sekali tidak mengerti inti dari rapat yang dia hadiri.
Salahkan saja pikirannya yang terlalu fokus pada gadis itu.
"Kita tunda rapatnya hingga esok hari. Aku memiliki hal yang lebih penting yang harus segera aku tangani!"
Gavin beranjak dari kursinya kemudian berlalu pergi dari ruang rapat itu dengan begitu saja.
Meninggalkan tatapan kebingungan dari para petinggi Jaliandro Company yang hadir di rapat itu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..