
Cuap-cuap bentar ya wakk...
Mon maap ya wakk, sensi jarang update. Di kota tempat sensi tinggal tu perubahan cuacanya lagi ekstrim banget. Dari yang panasnya kayak lagi di oven, bisa jadi tiba-tiba hujan.
Nah, berhubung sensi punya daya tahan tubuh yang lemah banget + sensi juga habis mudik ke luar kota, sensi kecapekan. Jadi ya gitu deh, gampang sakit. Boro-boro mau update, buka mata aja dunia tu rasanya kayak berputar-putar gitu wakk :D
Yaudah sih ya, curhatnya udahan dulu.. Sok di baca..
.......
.......
.......
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Hmmpphhh..."
Gavin memghela nafasnya dalam-dalam, menikmati sisa rasa ngantuk dari tidur pulasnya semalam. Pria itu tersenyum merasakan tangan Elle yang melingkar di perutnya.
Gavin lantas menoleh pada Elle. Lihatlah, betapa indahnya makhuk ciptaan Tuhan yang tengah tertidur pulas menggunakan lengan Gavin sebagai bantalan kepalanya ini.
Hanya dengan melewati satu ronde saja, bibir gadis itu sudah sangat bengkak seperti ini, bahkan tidurnya saja sudah melebihi orang pingsan.
"Tcih!"
Gavin tiba-tiba saja terkekeh geli, dia lupa kalau semalam adalah yang pertama kalinya untuk Elle. Jadi ya wajar saja kalau Elle merasa sangat kelelahan. Salahkan saja Gavin yang tidak ingat situasi dan kondisi.
Meskipun Gavin tahu kalau itu adalah kali pertamanya untuk Elle, Gavin tetap menghabiskan ronde pertamanya dalam waktu yang hampir 2 jam. Gavin bahkan sampai membuat Elle menangis karena terlalu lama bermain.
Hah.. Gavin tiba-tiba saja merasa bersalah akan hal itu. Tidak, bukan merasa bersalah, tapi Gavin merasa takut. Dia takut kalau Elle tidak akan pernah mau lagi melakukannya karena Gavin melakukannya dengan cukup keras untuk pengalaman pertamanya.
Jika saja itu gadis lain, Gavin tidak akan peduli karena Gavin tidak akan pernah mau lagi berhubungan dengan gadis itu untuk yang kedua kalinya. Lain halnya dengan Elle, gadis yang memang dasarnya Gavin niatkan untuk menjadi pasangan hidupnya.
Tapi ya.. Semoga saja Elle tidak akan merasa takut. Toh, meskipun gadis itu menangis, dia tetap saja menge**rang kenikmatan.
Membicarakan hal itu, tiba-tiba saja membuat dia teringat kembali akan hal panas yang tadi malam dia lakukan bersama Elle. Sungguh, tadi malam adalah hal terdahsyat yang baru pertama kali Gavin rasakan di seumur hidupnya.
Entahlah, mungkin saja karena Gavin melakukannya dengan di bumbui perasaan.
Oh astaga!!
Sebelah tangan Gavin yang bebas tiba-tiba saja terangkat untuk memijat pangkal hidungnya.
Kenapa bisa begini?? Kenapa hanya dengan memikirkan kejadian tadi malam saja bisa membuat Gavin junior terbangun??!!
Gavin menghela nafasnya dalam-dalam, mencoba untuk menetralkan pikirannya dari hal-hal kotor yang ada di kelalanya.
"Hengghhh..."
Gavin menoleh saat mendengar lenguhan kecil Elle.
"Ell?? Babby??"
"Hmmh?"
Elle bergumam tanpa membuka kedua matanya.
"Kau sudah bangun?"
Gavin mengelus kepala Elle dengan sangat lembut.
"Biarkan aku tidur untuk 5 menit lagi saja."
Elle mengusakkan kepalanya, tangannya semakin melingkar dengan sangat erat di perut Gavin.
"Kau bahkan bisa memiliki waktu sepuasmu, tidurlah lagi.."
Gavin menepuk-nepuk punggung Elle dengan lembut. Mencoba untuk membuat Elle kembali tertidur.
Namun...
Gavin mengernyitkan dahinya saat Elle tiba-tiba saja menjauhkan kepalanya.
"Why? What's wrong babby?"
__ADS_1
Elle tidak menjawab, dia hanya menatap Gavin dengan mata yang mengerjap bingung. Dia mencoba untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Kenapa mereka bisa tidur dalam posisi yang sangat intim? Ah tidak, lupakan pertanyaan itu. Elle akan mengganti pertanyaannya dengan pertanyaan yang lebih tepat. Kenapa mereka bisa tidur tanpa mengenakan pakaian?
Tanpa harus Elle pastikan pun, Elle sudah bisa merasakan kalau mereka tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun. Terlebih lagi, kakinya yang menempel langsung di atas kulit paha Gavin. Membuat Elle sangat yakin kalau mereka saat ini tidur tanpa mengenakan apa pun.
Tapi.. Kenapa?? Elle terus mencoba untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
Hingga tak lama setelah itu.. Bak roll film yang di putar kebelakang, satu demi satu hal yang terjadi tadi malam tiba-tiba saja terbayang di benak Elle.
Wine.. Balkon.. Box Shower.. Hingga..
"Oh God!"
Elle menepuk dahinya dengan cukup keras seraya menjatuhkan kepalanya di atas lengan Gavin.
"Hey hey.. What are you doing babby? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?"
Gavin menurunkan tangan Elle dari atas dahi gadis itu.
Elle menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata yang terpejam, dia tidak berani menoleh pada Gavin.
Di bandingkan dengan rasa takut, Elle saat ini justru merasa sangat malu. Bayangkan saja, seberapa malunya dia saat menyadari kalau apa yang terjadi tadi malam adalah murni keinginannya sendiri.
Di saat Gavin hanya meminta bantuannya, Elle justru meminta hal yang lebih di saat Gavin sudah menberikan peringatan padanya. Ah tidak, tidak usah membahas hal itu. Sebenarnya, dengan setuju untuk menbantu Gavin saja sudah membuat Elle merasa sangat malu.
Ayolah.. Elle masih lah seorang perempuan yang berstatus sebagai istri orang lain. Tapi dengan bebasnya dia malah bermain gila dengan pria lain yang bukan suaminya.
Astaga!! Di mana akal warasmu tadi malam Elle!! Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini!!
Tapi.. Elle juga tidak munafik, Elle tidak dapat memungkiri kalau tadi malam adalah pengalaman pertamanya yang sangat luar biasa.
Apa Elle merasa bersalah pada Dean? Jawabannya tentu saja tidak! Meskipun Elle tahu kalau hal ini salah, tapi Elle juga tidak sepenuhnya salah karena dia yak8j kalau Dean juga melakukan hal seperti ini. Bahkan mungkin saja apa yang di lakukan Dean lebih parah jika di bandingkan dengan apa yang di lakukan Elle.
Hanya saja, yang Elle sayangkan untuk saat ini, mereka melakukannya di saat Elle masih berstatus sebagai istri orang. Andai saja Elle saat ini sudah menjadi seorang janda, mungkin saja Elle tidak merasa malu seperti ini.
Haishhh!! Apa juga yang dia pikirkan. Istri orang atau pun janda, harusnya Elle tetap merasa malu kan?
Tapi ya.. Mau bagaimana lagi? Elle bukan lagi seorang gadis belasan tahun yang akan berteriak dengan sangat heboh atau pun menangis karena hal seperti ini. Toh, ini juga merupakan keinginannya sendiri.
Apa lagi yang bisa Elle lakukan selain menghadapi apa yang selanjutnya akan terjadi? Yang terpenting, Elle harus berdoa, semoga saja apa yang mereka lakukan tadi malam tidak membuahkan hasil. Karena ya, seingat Elle, mereka melakukannya tanpa mengenakan pengaman.
"Babby?"
Elle menoleh pada Gavin dengan tatapan bingung.
"Are you okay?"
"Sepertinya.. Tidak.."
"Apa yang kau pikirkan?"
Elle mengigit bibirnya, dia kembali memalingkan wajahnya dari Gavin.
"It's just.. Yeah.. *You should know what I'm thinking.."
*Note : Seharusnya kau tahu apa yang aku pikirkan.
"Do you believe me?"
Elle menghela nafasnya. "Honestly, I don't know."
*Note : Jujur, aku tidak tahu.
Gavin menyunggingkan senyum kecilnya, dia mengerti atas keraguan yang di rasakan oleh Elle.
"Hanya, cobalah untuk percaya padaku. Semuanya akan baik-baik saja."
Elle menoleh pada Gavin dengan sedikit ragu.
"should i?"
Gavin mengedikkan bahunya. "Coba saja."
Elle terdiam, dia bingung harus menanggapinya seperti apa.
"Sudahlah, lebih baik kita membersihkan diri. Aku yakin, rasa kantukmu pasti sudah menghilang."
"Yeah.. Memang seperti itu."
__ADS_1
"Sebentar, biarkan aku bangun terlebih dahulu."
Gavin menarik tangannya dari bawah kepala Elle kemudian beringsut untuk bangun.
Elle seketika saja memalingkan wajahnya, dia masih merasa sedikit malu untuk melihat Gavin yang tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Hal itu membuat Gavin terkekeh kecil, tapi Gavin mencoba untuk mengabaikan hal itu. Saat ini bukan waktunya untuk menggoda gadis itu.
"Aku akan membantumu untuk membersihkan diri."
Gavin hendak menyingkap selimut yang masih menutupi tubuh Elle.
Namun..
"Tunggu."
Elle menoleh pada Gavin dengan dahi yang mengernyit bingung.
"Membantu?"
Gavin mengangkat bahunya acuh. "Yaa.. Membantu.. Aku yakin, itu akan terasa sangat sakit."
"Benarkassshhh!!"
Elle meringis ngilu saat dia mencoba untuk menggerakkan pinggulnya.
Kemana saja dia sedari tadi? Kenapa sakitnya baru terasa sekarang?!
"Ya, kau benar. Ini benar-benar sakit."
"So, biarkan aku membantumu."
Mau tidak mau, Elle pun hanya bisa pasrah saat Gavin menyingkap selimut itu.
Gavin lantas menggendong Elle ala bridak kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Tunggu, Gavin."
Gavin menghentikan langkahnya.
"Why?"
"Bukankah tadi malam kita tidak menggunakan pengaman?"
"Em hem, so?"
"Bagaimana jika itu membuahkan hasil?"
"Aaah.." Gavin mengangguk-anggukkan kepalanya seraya kembali melanjutkan langkahnya. "Mudah saja, kita hanya perlu menikah."
Elle mengernyitkan dahinya. "Semudah itu?"
Gavin mengangkat bahunya acuh. "Bukan kah sudah pernah ku katakan padamu kalau ku berniat untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku?"
"Y, yah.. But.. Bukan kah kita harus saling mengenal terlebih dahulu?"
"Apa yang kita lakukan tadi malam sudah lebih dari cukup dari sekedar saling mengenal. Kau tahu, tadi malam kau sungguh luar biasa.."
"Wha, what!!"
Kedua bola mata Elle membulat dengan sangat sempurna.
"Bahkan desa**han indahmu masih terngiang-ngiang di kepalaku."
"Yakk!!"
Elle mencubit dada Gavin dengan cukup keras.
Alih-alih merasa sakit, Gavin justru terkekeh geli. Dia merasa cukup sangat gemas melihat wajah Elle yang saat ini sudah merah bak kepiting yang baru saja di rebus.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..