
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Di sisi lain..
Apartment Dean..
Dean duduk termenung di balkon kamarnya, tatapan matanya kosong seolah jiwanya menghilang entah kemana.
Segelas kopi yang sedari tadi ada di atas meja, sama sekali tidak dia sentuh. Jangankan di sentuh, di lirik saja tidak.
Yang awalnya kopi itu masih mengepulkan asapnya, kini sudah tidak lagi terlihat mengepulkan asapnya.
Dean menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi, menghela nafasnya dengan di penuhi rasa frustasi, mengusap wajahnya dengan kasar, lalu kembali menegakkan tubuhnya.
Sudah hampir 2 jam lamanya dia melakukan hal itu berulang kali.
Seorang wanita yang duduk di sampingnya pun lama kelamaan mulai merasa jengah.
"Ck! Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan?! Aku jengah melihatmu melakulan hal itu terus menerus."
Namun, Dean tak menggubris wanita itu. Dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya.
"Deaaan!! Kau mendengarku atau tidak sih!!"
Wanita itu menarik Dean agar menghadap ke arahnya.
Dia merasa sedikit terkejut melihat Dean yang menatapnya dengan sangat tajam.
Pict by : dearriss
Wanita itu bernama Ayana (26 tahun), kekasih Dean.
"Ke, kenapa kau menatapku seperti itu Dean?" Wanita itu tampak sedikit gugup.
Jujur, selama 3,5 tahun dia berpacaran dengan Dean. Ini adalah kali pertama dia melihat Dean menatapnya seperti itu.
"Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku sudah membuatmu marah? Apa ak.."
"Bisa kah kau diam!"
Ayana berjengkit kaget karena Dean tiba-tiba saja berteriak padanya.
"Ka, kau berteriak padaku?"
Ayana menatap Dean dengan di penuhi rasa terkejutnya, dia sungguh tidak menyangka kalau Dean akan berteriak padanya.
Selama ini, se marah apa pun Dean padanya, se besar apa pun kesalahan yang dia lakukan pada Dean. Dean tidak akan pernah berteriak padanya.
"Tidak kah kau lihat kalau aku sedang merasa frustasi?!"
"Tidak bisa kah kau membujukku atau menghiburku dengan kata-kata yang lembut agar aku bisa sedikit lebih tenang??"
"Aku jengah menghadapi sikapmu yang sangat manja! Aku jengah menghadapi sikap mu yang tidak pernah mau mengerti keadaanku!"
__ADS_1
Ayana menjatuhkan rahangnya, dia tidak percaya kalau Dean bisa mengatakan hal itu padanya.
"Hah? Kau mempermasalahkan hal itu sekarang? Apa yang salah denganmu Dean? Bukan kah kau selama ini tidak pernah mempermasalahkan bagaimana sikapku kepadamu?"
Dean beranjak dari duduknya kemudian berkacak pinggang.
Pria itu menatap Ayana untuk sejenak. Dia lantas menengadahkan kepalanya dengan mata yang terpejam erat, dia berusaha untuk mengatur emosinya.
Dean menghela nafasnya kemudian menatap Ayana dengan sangat tajam.
"Tanpa harus aku katakan, tanpa harus aku minta, seharusnya kau bisa berpikir untuk merubah sikapmu. Aku menghidupimu selama ini tidak semata-mata hanya untuk sekedar memanjakanmu saja. Aku menghidupimu karena aku juga ingin kau membalasku dengan segala perhatian darimu. Aku menghidupimu karena aku ingin kau menjadi tempatku bersandar ketika aku merasa lelah. Seharusnya kau bisa memikirkan hal itu tanpa harus aku jelaskan dan tanpa harus aku minta."
"Selama ini aku selalu bersabar menghadapi sikapmu yang sangat manja itu. Selama ini aku selalu bersabar menghadapi kau yang selalu bersikap semaumu sendiri. Tidak bisa kah kau memberikan perhatian padaku hanya untuk sedikit saja? Aku lelah Ay.."
"Kau berubah Dean.."
Kedua mata Ayana terlihat berkaca-kaca.
"Itu semua karena kau yang tidak pernah bisa memperbaiki sikapmu. Seharusnya kau bisa seperti dia yang akan memperhatikanku tanpa harus aku minta."
Ayana merasa sedikit terhenyak.
Apa Dean kini tengah membandingkannya dengan Elle?
Apa Dean kini sudah mulai jatuh cinta pada Elle?
"Kau, kau membandingkanku dengan istrimu?"
"Ya! Aku membandingkanmu dengannya!" Dean menjawab tanpa ragu.
Pria itu tak kuasa lagi menahan rasa emosinya.
"Aku ingin kau bisa bersikap lebih dari dia. Aku ingin kau bisa memberiku perhatian lebih dari dia memberikan perhatian padaku! Aku ingin kau bisa mengerti aku lebih dari dia mengerti aku! Aku ingin kau memanjakanku lebih dari dia memanjakanku!"
Ayana merasa terhenyak untuk yang kedua kalinya, dia menatap Dean dengan penuh luka.
"Kenapa kau berkata seolah-olah kau mulai mencintainya? Atau jangan-jangan, kau memang sudah mencintainya?"
Dean seketika saja terdiam kaku, dia baru menyadari semua hal yang baru saja dia katakan.
"Kau diam?" Ayana menaikkan sebelah alisnya. "Jadi kau benar-benar mulai mencintainya?"
Dean menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus berkata apa.
Karena sejujurnya, Dean mulai mencintai Elle. Ah tidak, Dean sudah mencintai Elle.
Dean tidak tahu, sejak kapan cinta itu tumbuh di hatinya. Dean tidak mengerti, kenapa dia tidak bisa menolak cinta yang tumbuh untuk Elle.
Dean benar-benar tidak bisa menolak pesona yang di miliki oleh Elle. Entah itu paras, sikap, maupun kepribadian. Semua hal yang di miliki oleh wanita itu benar-benar mampu menggeserkan nama Ayana dari dalam hatinya.
Awalnya, Dean bertahan dalam hubungan pernikahannya dengan Elle karena sebuah tujuan.
Namun, lambat laun, alasan Dean mempertahankan rumah tangganya itu mulai berubah.
Tidak lagi karena hal yang menjadi tujuannya, tapi karena perasaan cinta yang entah sejak kapan mulai tumbuh di hatinya.
Selama ini, Dean berusaha untuk menyangkal perasaan itu karena dia sudah memliki Ayana. Dean juga berusaha menyangkal perasaan itu karena Dean sudah berjanji pada Ayana untuk tidak mencintai Elle.
Dean bahkan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari Elle agar perasaan cintanya terhadap Elle tidak semakin membesar.
__ADS_1
Tapi, bukannya melebur.. Semakin Dean menghindari Elle, justru semakin besar pula cinta yang tumbuh untuk wanita itu.
Dan, ketahuilah.. Meskipun Dean kini sudah mencintai Elle, Dean tetap merasa tidak bisa jika dia harus melepaskan Ayana. Dean juga merasa tidak sanggup jika harus melepaskan Elle demi untuk bertahan dengan Ayana.
Katakanlah Dean serakah, dia tidak akan menyangkalnya. Karena memang begitulah adanya. Dia benar-benar tidak bisa jika harus melepaskan salah satu dari kedua wanita itu.
"Maafkan aku Ayana.." Hanya itu yang bisa terucap dari mulut Dean.
Ayana seketika saja beranjak dari duduknya, buliran bening kini mulai keluar dari matanya.
"Kau benar-benar mencintainya? Kau sungguh mencintainya??" Lirih Ayana.
"Tatap mataku dan jawab pertanyaan yang aku berikan.. Jangan hanya diam saja.. Hmm.."
Dean lantas menatap Ayana dengan tatapan sendu.
"Apa kau benar-benar mencintainya?"
Kedua mata wanita itu memancarkan luka yang begitu mendalam.
"Maafkan aku.." Suara Dean terdengar sedikit parau.
"Kenapa Dean? Kenapa?? Hmm??"
"Kenapa?! Ha! Kenapaaaaa??!!" Ayana sudah tak kuasa untuk mengontrol emosinya.
"Kemana semua janji yang dulu kau berikan padaku? Ha??!! Katakan!! Jawab aku! Kemana perginya semua janji itu?!"
"Dulu, kau memohon padaku agar aku bertahan di sisimu! Dulu, kau memohon padaku agar aku menunggu hingga kau mendapatkan apa yang kau inginkan! Kau juga berjanji untuk tidak mencintai wanita itu!"
"Sekarang, kenapa kau mengingkari janjimu? Ha!! Kenapa?? Jawab aku!! jangan hanya diam saja!!"
Ayana memukul dada Dean dengan penuh Emosi, di sertai isakan yang terdengar sangat pilu.
"Maafkan aku Ay.. Maafkan aku.."
Dean memeluk Ayana dengan sangat erat.
Ayana semakin terisak pilu.
"Kenapa ha?! Kenapa Dean.. Kenapa???"
Wanita itu sudah tidak lagi memukuli Dean.
"Maafkan aku ay.. Sungguh, aku minta maaf.."
Dean mengecup puncuk kepala Ayana berulang kali, buliran bening kini perlahan mulai mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku.."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..