
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Italia, rumah Dean...
"Sudahlah.. Jadi, kau ingin paman melakukan apa? Paman memang bisa membantumu dalam hal apa papun. Hanya saja, dalam hal ini, paman tidak bisa gegabah. Paman berhubungan dengan sangat baik dengan keluarga mereka. Terlebih lagi, paman juga tidak tahu niat sebenarnya yang sedang di lakukan oleh Gavin."
"Aku mengerti paman. Hanya saja...."
Setelah menceritakan semuanya secara rinci, terjadi keheningan antara Dean dan Khalid untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk memulai percakapan. Keduanya terlihat tenggelam dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Lantas, apa yang ingin kau lakukan?"
Hanya pertanyaan itu yang bisa terucap dari mulut Khalid setelah dia tenggelam dari berbagai pemikirannya. Karena jujur, dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya di inginkan Dean.
"Aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya ingin istriku kembali padaku, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu, aku memang salah, tapi aku juga tidak bisa merelakan istriku begitu saja."
"Dengarkan paman, Dean. Untuk hal yang satu ini, paman sama sekali tidak bisa membantumu. Paman tidak bisa membenarkan apa yang sudah kau lakukan. Jika kau meminta paman untuk memberikan pekerjaan padamu, atau pun kau meminta paman untuk membantumu secara finansial, paman sudah pasti akan melakukannya tanpa harus berpikir panjang."
"Tapi kalau untuk hal ini, jujur saja, tidak ada yang bisa paman lakukan untuk mu. Semuanya kembali lagi pada masalah hati masing-masing. Paman mungkin saja bisa menyeret istrimu untuk bisa kembali padamu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, tidak akan ada kebahagiaan dalam kehidupan rumah tanggamu untuk kedepannya."
"Kalau kau memang menginginkan istrimu untuk kembali, maka berusahalah dari hati dengan lebih keras lagi. Cukup satu kali saja paman melakukan kesalahan dengan menyakiti hati seorang perempuan, paman tidak ingin melakukannya lagi."
Dean benar-benar terdiam seribu bahasa, dia tidak berniat untuk menjawab atau pun membantah apa yang di katakan Khalid. Karena mau bagaimana pun, apa yang di katakan Khalid sangat lah benar adanya.
Faktor utama Khalid bisa berakhir di Italia dan bertemu dengan Dean juga Xi Chen, itu adalah karena Khalid telah menyakiti hati seorang perempuan yang tidak lain adalah istrinya sendiri.
Ah, jika di ceritakan akan terlalu panjang. Maka, akan sangat wajar kalau Khalid tidak bisa menbantunya dalam hal ini.
"Kau bisa menghabiskan waktu di sini selama apa pun yang kau inginkan. Tapi, paman tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan. Maafkan paman, Dean, paman benar-benar tidak bisa memenuhi permintaanmu. Cobalah untuk membuat kesepakatan dengan istrimu secara baik-baik. Paman rasa itu adalah satu-satunya cara yang bisa kau lakukan."
__ADS_1
"Hanya ingat satu hal, jangan pernah melakukan sesuatu yang akan merusak kehidupan istrimu dan kehidupanmu sendiri."
Dean menghela nafas kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sekembalinya dia dari California beberapa hari yang lalu, Dean selalu saja terngiang sepenggal percakapan itu yang dia lakukan bersama Khalid.
Tidak dapat Dean pungkiri, sejatinya apa yang di katakan Khalid memang sepenuhnya benar. Apa yang sudah Dean lakukan memanglah salah, dan apa yang hendak Dean lakukan pun memang salah. Tidak seharusnya Dean melakulan hal kotor demi untuk mendapatkan Elle kembali ke sisinya.
Dean benar-benar kehabisan akal, apa yang harus dia lakukan agar Elle bisa memafkan dirinya. Dean tidak tahu, apa yang dulu merasukinya hingga dia berbuat sesuatu hal yang merugikan dirinya sendiri.
Tapi mau apa di kata, semuanya sudah terjadi. Dean tidak bisa mengulang waktu, Dean tidak bisa membalikkan keadaan, semuanya sudah terlanjur. Yaaa, memang benar apa kata orang. Penyesalan akan selalu datang di belakang.
Drrrrttt... Drrrrttt.. Drrrrttt..
Dean menoleh pada ponselnya yang tergeletak di sampingnya dengan tatapan malas. Entah untuk yang ke berapa kalinya, Dean lagi dan lagi mendapatkan panggilan telepon. Namun, meskipun Dean merasa enggan untuk mengangkat panggilan itu, Dean tetap meraih ponsel itu karena panggilan yang dia dapatkan tidak kunjung berhenti.
Dean menghela nafas panjang saat melihat nama si pemanggil. Dean benar-benar lupa kalau urusannya dengan Ayana belum sepenuhnya selesai.
Belum juga selesai dia berpikir jernih tentang masalahnya dengan Elle. Dean harus kembali di lemparkan pada kenyataan kalau ada masalah lain yang harus dia hadapi.
Sepulangnya dia dari bertemu dengan Khalid, sedikit banyaknya mampu menyadarkan Dean atas apa yang telah dia lakukan.
Katakan lah Dean Tidak tahu diri karena tidak pernah merasa bersalah atas apa pun yang dia lakukan. Dari awal, Dean selalu menyalahkan ayahnya karena telah memaksanya untuk menikah dengan Elle.
Tapi, semua itu sebenarnya salah. Andai saja Dean berusaha lebih baik untuk menolak pernikahan itu, mungkin saja semuanya tidak akan seperti ini. Ah tidak, Dean harus meralat perkataannya.
Andai saja dia hanya berhubungan dengan satu perempuan, tidak akan ada yang tersakiti atas semuanya. Kalau seperti ini jadinya, bukan hanya Elle yang tersakiti. Tapi juga ada Ayana dan Dean sendiri. Ya, itu semua kembali lagi karena ke egoisan Dean sendiri.
"Ay?"
Dean memutudkan untuk mengangkat panggilandari Ayana setelah Ayana kembali menelponnya untuk yang ke sekian kalinya.
π(Kau di mana?)
__ADS_1
"Aku di rumah."
π(Bisa kah kau datang menemuiku?)
Dean mencoba untuk tidak peduli. Namun, dahinya tiba-tiba saja mengernyit saat dia samar-samar mendengar suara isak tangis Ayana.
"Ada apa denganmu? Apa kau menangis?"
π(Aku tidak tahu harus menjelaskan dengan cara seperti apa, aku bingung.. Bisa kah kau hanya datang dan melihat apa yang aku miliki?)
"Baiklah, kau di mana? Aku akan mendatangimu."
π(Rumah sakit. Aku ada di rumah sakit. De Para Hospital.)
"Rumah sakit? Apa yang kau lakukan di sana?"
Dean beranjak dari tempatnya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Dia meraih kunci mobil miliknya dengan sedikit tergesa. Mendengar tempat di mana saat ini Ayana berada, sedikit banyaknya membuat Dean merasa khawatir.
π(Hanya datang saja, aku benar-benar tidak bisa menjelaskan situasinya. Aku terlalu kalut, aku juga benar-benar merasa bingung.)
"Baiklah, jangan menangis, tunggu aku di lobby. Aku akan datang dalam 20 menit."
Tanpa menunggu jawaban apa pun lagi dari Ayana, Dean memutuskan panggilan itu secara sepihak. Dia bergegas menuju rumah dakit tempat di mana Ayana berada dengan perasaan yang tidak menentu, bahkan hingga membuat dia mengabaikan ibunya yang terus saja memanggil namanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..