Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Perdebatan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Rumah Dean..


Tok.. Tok.. Tok..


Elle menghela nafasnya mendengar pintu kamarnya yang di ketuk.


"Sebentar.."


Elle segera membenahi pakaiannya kemudian membuka pintu kamarnya.


"Kau sedang bersiap untuk berangkat ke kantor?"


Tamara menatap penampilan Elle yang belum rapi sepenuhnya.


"Iya bu, aku sedang bersiap. Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor."


"Bisakah kau menyelesaikannya dengan cepat? Ada sesuatu yang ingin ibu bahas denganmu." Raut wajah Tamara terlihat seperti tengah menahan emosinya.


Elle menyunggingkan senyum kecilnya. "Baik bu, aku akan turun dalam 5 menit."


"Hm.. Cepatlah.." Tamara berlalu pergi dari sana.


Elle mengangkat bahunya acuh kemudian menutup pintu kamarnya.


Sebenarnya, tanpa harus bertanya pun, Elle sudah tau tentang apa yang akan di katakan oleh Tamara.


Apa lagi jika bukan masalah biaya tagihan rumah?


Hah, sudahlah.. Elle tidak akan terlalu memikirkannya, dia hanya akan menjawab dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


Tapi, Elle tidak bisa berjanji untuk mengontrol emosinya. Elle juga tidak bisa berjanji untuk mengontrol perkataan yang akan di ucapkannya.


Sudah cukup Elle menjadi wanita lemah yang bisa di tindas sesuka hati mereka. Elle tidak lagi ingin menjadi wanita yang hanya akan berkata "Ya" saat ibu mertuanya memintanya untuk melakukan hal ini dan itu.


Ayolah.. Dia juga kan memiliki anak perempuan yang lain. Kenapa juga harus selalu Elle yang melakukan perintahnya?


Selesai bersiap, Elle pun segera keluar dari kamarnya.


Elle sedikit terkejut melihat Risa dan Haris yang juga ikut menunggunya.

__ADS_1


"Duduklah.." Ucap Tamara.


Elle lantas duduk di sofa panjang yang terletak di sebelah kanan sofa yang di duduki Risa dan Haris. Sedangkan Tamara, dia duduk di sofa single yang menghadap ke arah Elle.


Sekilas, Elle melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 30 menit untuk dia meladeni ibu mertuanya.


"Apa yang ingin ibu bicarakan padaku?"


Elle langsung saja pada intinya, dia tidak lagi ingin berbasa basi dengan menyapa satu persatu dari mereka.


Tamara menghela nafasnya untuk sejenak. "Apa kau tidak membayar tagihan?"


"Ya, ada yang salah dengan itu?"


Tamara mengernyitkan dahinya mendengar nada suara Elle yang terkesan sedikit pongah.


Tidak jauh berbeda dengan Risa san Haris, mereka juga menatap Elle dengan di penuhi rasa kebingungan.


Kemana perginya Elle yang lemah lembut? Kemana perginya Elle yang sopan dan santun?


Tapi, sudahlah biarkan saja, ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu.


"Khem! Apa alasanmu tidak membayar tagihan?"


Elle menatap Tamara dengan intens.


Tamara menganggukkan kepalanya. "Katakan."


"Apa tujuan ibu menjadikan aku sebagai istri Dean? Apa yang menjadi tujuan dari ibu menikahkan aku dengan Dean? Apa kah ibu bisa menjelaskan hal itu?"


Tamara mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukan kah sudah jelas.. Alasan ibu menikahkanmu dengan Dean itu karena ibu ingin kau menjadi menantu ibu. Ibu bahkan sudah menganggapmu sebagai putri kandung ibu sendiri."


"Pfft.." Elle menutup mulutnya, dia menahan tawanya.


Hal itu sontak saja membuat mereka yang ada di sana menatap Elle dengan tatapan semakin bingung.


"Ibu bilang, ibu menganggapku sebagai putri kandung ibu sendiri?"


Meskipun merasa sedikit bingung, namun Tamara tetap menganggukkan kepalanya.


"Jika memang seperti itu adanya. Lantas, kenapa selama ini ibu tidak memperlakukan aku selayaknya ibu memperlakukan putri kandung ibu? Kenapa ibu malah memperlakukan aku selayaknya ibu memperlakukan seorang pembantu??"


Wajah Elle kini terlihat sangat datar, tatapan matanya benar-benar dingin seolah bisa membekukan siapa saja yang menatapnya.


"Jaga bicaramu Ell!!" Risa berdiri dari duduknya, dia menunjuk wajah Elle dengan penuh emosi. "Di mana sopan santunmu?! Tidak bisa kah kau mengharagai ibu? Jangan bersikap kurang ajar!" Wanita itu meninggikan suaranya, matanya membulat sempurna seolah ingin menghancurkan Elle saat itu juga.

__ADS_1


"Kau yang seharusnya menjaga sikapmu Risa!!" Elle yang tersulut emosi pun ikut berdiri, dia menunjuk wajah Risa dengan tak kalah emosi.


"Aku yang seharusnya menanyakan hal itu pada kalian!" Elle menunjuk satu persatu orang yang ada di sana. "Bisa kah kalian mengharagaiku?! Bisa kah kalian tidak bersikap kurang ajar padaku?! Tidak sadar kah selama ini kalianlah yang mendorongku untuk bersikap seperti ini!!"


"Apa yang telah kami lakukan padamu? Hah!! Justru seharusnya kau bersyukur karena ibuku sudah memberikan tempat tinggal yang layak untukmu! Bukan malah bersikap kurang ajar seperti ini!!"


"Tcih! Kau mengungkit hal itu?" Elle menaikkan sebelah alisnya.


"Dengar baik-baik! Aku tidak pernah meminta ibumu memberikan tempat tinggal untukku bernaung!! Sejak awal, aku sudah berniat untuk hidup berumah tangga di luar rumah ini. Tapi apa? Ibu mu sendiri yang memintaku untuk tidak meninggalkan rumah ini!!"


"Bagaimana aku bisa menghargai kalian jika kalian saja tidak bisa menghargaiku?? Semenjak ayah Xichen tiada. Semua pekerjaan rumah, selalu aku yang mengerjakannya! Semua biaya tagihan rumah, selalu aku yang membayarnya! Tidak kah kau sadar akan hal itu?"


"Dan kau menyuruhku untuk bersyukur? Bagian mana yang harus aku syukuri? Kalian yang memperlakukanku selayaknya seorang pembantu? Atau kalian yang memperlakukanku selayaknya ATM berjalan?"


Elle tidak lagi bisa mengontrol emosinya, nafasnya memburu seolah tengah lari marathon. Suaranya meluap naik ke permukaan hingga membuat otot di lehernya tercetak dengan sempurna.


"Lantas apa?! Kau tidak bisa menerima hal itu?? Bukan kah tanggung jawab itu adalah kewajibanmu!! Sudah seharusnya kau berbakti pada keluarga ini!! Sudah seharusnya kau melakukan semua itu!! Sikapmu benar-benar arogan! Pantas saja rumah tanggamu berantakan!! Pantas saja selama ini kau tidak bisa memiliki keturunan! Tuhan tidak akan mempercayakan keturunan pada wanita arogan sepertimu!!"


"Risa!! Jaga bicaramu!!" Tamara menatap Risa dengan sangat tajam, dia merasa sedikit takut mendengar perkataan Risa yang membahas masalah keturunan.


"Kenapa ibu berteriak padaku! Memang seperti itu kenyataannya! Sampai kapan pun, wanita arogan seperti dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu!!"


"Risa, cukup!!"


"Kenapa kau juga menghentikanku? Hah!! Tidak ada yang salah dengan perkataanku!! Aku berbicara apa adanya!!"


"Risa!! Stooop!!"


Haris menarik tangan Risa agar istrinya itu kembali duduk. Tapi, Risa yang memang bebal tidak mengindahkan Haris. Dia masih bersikukuh menegakkan tubuhnya, tatapan tajamnya tak lepas dari Elle.


"Pffft.. Haha.." Tawa garing keluar dari mulut Elle. "Waaah.." Wanita itu bersedekap dada seraya memalingkan wajahnya dengan senyum mengejek yang tersungging di bibirnya.


"Ck ck ck ck ck.." Elle menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menatap Risa dengan tatapan meremehkan. "Kau berbicara seolah-olah kau adalah orang paling benar di rumah ini.."


"Haruskah aku membeberkan kebenaran yang sesungguhnya agar kau sadar kalau apa yang kau katakan itu adalah cerminan dari dirimu sendiri?" Elle menaikkan sebelah alisnya dengan senyum mengejek yang tak lepas dari bibirnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2