
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Rumah Dean..
"Ell.."
Elle menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Tamara (Ibu Dean) yang duduk di sofa ruang tamu. Yang jika di lihat, wanita yang usianya hampir memasuki setengah abad itu tengah menunggu kedatangannya.
"Ibu memanggilku?"
"Ya, ibu memanggilmu.. Kau baru saja pulang dari bekerja? Atau?"
"Iya bu, aku baru saja pulang dari bekerja."
Tamara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ibu ingin menanyakan sesuatu padamu."
Elle menyunggingkan senyumnya. "Ibu bisa menanyakan apa saja.
"Apa semalam kau bertengkar dengan Dean? Ibu dapat mendengar teriakanmu. Kau bahkan pergi dari rumah dan tidak kembali untuk pulang."
Senyum yang tersungging di bibir Elle seketika saja luntur.
Elle dapat melihat perubahan tatapan yang di berikan oleh wanita itu. Mulanya, wanita itu memang menatapnya seperti biasanya. Namun, kini tatapan wanita itu perlahan berubah menjadi sedikit tajam.
Oh, jangan lupakan perubahan raut wajahnya juga yang mulai menegang seperti tengah menahan.. Amarah? Atau emosi? Mungkin..
Jika seperti itu, tandanya Elle harus bersiap untuk mendengar berbagai macam ocehan yang keluar dari mulut wanita itu.
"Ya kami bertengkar. Ada sedikit permasalahan yang kami debatkan. Tapi kami sudah menyelesaikannya." Elle berkata dengan raut wajah datarnya.
Tamara menaikkan sebelah alisnya. "Sedikit permasalahan?"
"Ya.. Bukan kah itu hal wajar yang pasti akan terjadi pada setiap pasangan suami dan istri? Lagi pula, ini juga bukan kali pertama ibu mendengar pertengkaran kami."
Tamara menghela nafasnya, kali ini dia benar-benar menatap Elle dengan wajah yang tidak biasa. "Dengar Elle.."
Okay baik.. Elle akan mendengarkannya..
__ADS_1
"Se marah apa pun kau pada suami mu, se hebat apa pun pertengkaran yang terjadi di antara kalian. Kau tidak sepantasnya berteriak pada suami mu, kau juga tidak sepantasnya pergi dari rumah. Itu perbuatan yang tidak bisa dimaafkan. Bahkan jika Dean memukuli mu, atau pun memberikan hukuman padamu. Kau juga tidak seharusnya menghindari Dean. Kau harus menerima hukuman itu dengan lapang dada. Seorang suami tidak mungkin menghukum istrinya kalau istrinya tidak melakukan kesalahan. Melawan suami adalah perbuatan yang sangat buruk bagi seorang istri."
Boleh kah Elle berkata jujur? Elle sedikit tercengang mendengar penuturan dari wanita yang berstatus sebagai ibu mertuanya itu.
Tidak boleh melawan? Bahkan untuk kekerasan fisik sekali pun? Oooh, Elle tidak percaya kalau kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut wanita itu.
Atau jangan-jangan, dulu dia juga di perlakukan seperti itu oleh ayah Xi Chen (ayah Dean)? Tapi, mengingat kepribadian Xi Chen, sepertinya hal itu tidak lah mungkin terjadi.
Juga, tidak boleh pergi dari rumah? Tidak boleh menghindar? Tidak sadar kah dia kalau selama ini, Dean lah yang hampir tidak pernah pulang ke rumah. Tidak sadar kah dia selama ini kalau Dean lah yang selalu pergi ketika mereka bertengkar.
Ini adalah kali pertama Elle meninggalkan rumah ketika dia bertengkar dengan Dean, ini juga kali pertama Elle berteriak pada Dean. Itu pun dia lakukan karena dia sudah benar-benar merasa muak pada sikap Dean yang sangat arogan.
Tapi, wanita itu berkata seolah-olah Elle yang paling salah di sini, seolah-olah Elle lah yang berlaku tidak baik di sini. Oh, sungguh.. Elle tidak tahu harus memberika reaksi seperti apa.
Ketahuilah, selama ini, Elle merasa kalau Dean menjadikannya tidak lebih dari hanya sekedar sebagai tempat singgahnya saja. Kalau pun Dean tidur di rumah, maka pria itu akan tidur di kamar yang berbeda dengannya. Atau pun jika satu kamar, Dean memilih untuk tidur di sofa atau bahkan di atas lantai dari pada harus tidur di sampingnya.
Elle selama ini tidak pernah tau di mana Dean tidur. Elle selama ini juga tidak pernah mengerti tentang alasan kenapa pria itu tidak pernah mau tidur di sampingnya. Bertanya pun percuma, Dean tidak akan pernah menjawabnya dengan jujur.
Bukannya Elle tidak ingin mencari tahu, hanya saja, Elle menghindari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja akan menyakiti hatinya. Elle benar-benar menghindari hal itu.
Dan apa tadi dia bilang? Seorang suami tidak akan menghukum seorang istri kalau istrinya tidak melakukan kesalahan? Tidak kah dia berfikir? Kalau mungkin saja putranya yang melakukan kesalahan sehingga membuat Elle berteriak pada Dean dan meninggalkan rumah.
Oh, atau jangan-jangan wanita itu masih merasa dendam padanya karena kemarin dia tidak menuruti apa yang di perintahkan oleh wanita itu.
Jika sudah seperti ini, kalian percaya kan akan apa yang Elle katakan sebelumnya?
Bolehkah Elle melawan perkataan wanita itu? Elle benar-benar merasa tidak tahan atas sikap Tamara yang seolah-olah hanya menyalahkannya saja.
Namun..
"Terserah apa kata ibu."
Hanya sebaris kalimat pendek itu yang bisa terucap dari mulut Elle.
Elle lantas berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan raut muka Tamara yang seolah-olah bersiap untuk mengeluarkan amukannya.
"Elle!! Sikapmu benar-benar kurang ajar!! Kau benar-benar tidak tau cara bersyukur!! Harusnya kau bisa sadar diri kalau kau tinggal jauh dari orang tuamu!! Kau juga harus sadar diri kalau kau di sini sudah hidup dengan sangat enak!! Kau tidak perlu susah payah mencari tempat tinggal untuk kelangsungan hidup rumah tanggamu dengan Dean!! Kau harusnya bersyukur karena aku sudah memberikanmu tempat tinggal yang layak!! Seharusnya kau bersyukur karena aku sudah mencukupi kebutuhan utamamu!! Bukan malah bersikap arogan dengan tidak mendengarkan apa yang aku katakan!!"
Teriakan Tamara menggelegar memenuhi isi rumah.
Tapi Elle tidak memperdulikan teriakan ibu mertuanya itu. Elle tidak lagi peduli jika ibu mertuanya itu akan semakin tidak suka atau bahkan mungkin akan membencinya. Elle benar-benar tidak lagi peduli akan hal itu.
Karena memamg sedari awal, Elle sudah tau kalau ibu mertuanya itu memang tidak menyukainya.
__ADS_1
"Tcih!"
Elle menutup pintu kamarnya dengan sedikit kasar.
"Apa tadi dia bilang? Aku di sini hidup dengan enak? Apa dengan aku yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian itu bisa di bilang hidup dengan enak??!!"
Elle melepas pakaian kerjanya dengan penuh emosi, dia masuk ke dalam kamar mandi dengan mulut yang tidak hentinya menggerutu.
"Ada pun aku dan Dean hidup di sini, di rumah yang di sediakan olehnya, itu pun karena dia yang selama ini memintaku dan Dean untuk tidak pergi meninggalkan rumah!!"
"Tidak sadarkah dia kalau selama ini aku lah yang selalu mencukupi kebutuhan rumah ini!! Tidak sadar kah dia kalau aku lah yang membayar setiap tagihan yang di peruntukkan untuk kelangsungan hidup rumah ini!! Tidak sadar kah dia kalau dalam setiap bulannya aku lah yang selalu memberikan uang untuk kesenangannya!! Se enak jidatnya saja dia berkata kalau dialah yang mencukupi kebutuhan utamaku!!"
"Dan dia memintaku untuk bersyukur?? Apa yang harus aku syukuri?? Di perlakukan seperti pembantu? Atau di perlakukan seperti ATM berjalan yang bisa membayar semua tagihan rumah ini?"
"Oh Tuhan!! Kesalahan apa yang telah aku perbuat di masa lalu sehingga kini aku harus mendapatkan kehidupan yang seperti ini."
Elle menengadahkan wajahnya dengan mata yang terpejam, menikmati gemericik air dingin yang keluar dari shower.
Elle benar-benar berharap kalau air itu dapat mendinginkan kepalanya yang terasa sangat panas.
Belum cukup dingin kepala Elle akibat pertengkarannya yang terjadi dengan Deon di hari kemarin. Kini kepala Elle harus di buat semakin panas akibat ocehan dan makian yang keluar dari mulut ibu mertuanya.
Kalau saja ini adalah kehidupan di dalam anime atau kartun. Mungkin saja sudah ada kepulan asap yang keluar dari kepalanya.
Di tambah lagi dengan memikirkan pria yang menjadi korban dari kelakuannya saat mabuk, benar-benar membuat kepala Elle terasa semakin panas.
Eh tunggu.. Elle menegakkan kepalanya, dia menatap dinding kaca box shower dengan alis yang saling bertaut.
Berbicara tentang pria itu, kenapa hingga saat ini dia belum juga mendapatkan pesan nomor rekening dari pria itu?
Ah, biarkan saja lah.. Mungkin pria itu cukup kaya sehingga tidak membutuhkan uang ganti rugi darinya.
Elle mengangkat bahunya acuh kemudian kembali menengadahkan wajahnya, menikmati segarnya air dingin yang keluar dari shower yang jatuh membasahi wajah hingga seluruh tubuhnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..