
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
"Wha, what!!" Kedua bola mata Amy membulat dengan sempurna, bahkan hingga membuat sudut matanya sedikit berkedut.
"JADI KAU BERCINTA DENGAN Aaaww!!"
Amy meringis ngilu merasakan sakit di tulang kering kakinya yang di tendang oleh Elle.
"Pelankan suaramu!! Semua orang menatap ke arah kita!!"
Amy seketika saja menoleh ke arah kanan dan kirinya. Benar saja, semua orang menatap ke arah mereka.
"Maafkan aku.." Amy menampilkan cengiran lebarnya.
"Jadi, kau benar-benar bercinta dengannya?" Amy kini memelankan suaranya.
Elle memutar bola matanya. "Bukan bercinta Am!! Tapi hampir, okay, hampir.. Hampir bercinta dan bercinta itu jelas sangat jauh berbeda. Aku hingga saat ini masih perawan!! Tolong catat dan garis bawahi. Aku, masih, pe ra wan!" Wanita itu menekankan kalimat terakhirnya. "Kau harus mengingat hal itu baik-baik!"
"Ok ok.. Lupakan masalah hampir bercinta dan masalah keperawanan.. Yang jelas, pada intinya, kau sempat yeah.. Kau tau.. Eum, lebih dari sekedar berciuman dan berpelukan.. Kulit bertemu dengan kulit dan.. Yeah, begit.. E, eh.."
Amy seketika saja memundurkan kepala, kedua tangannya terangkat untuk menutupi kepalanya saat Elle mengacungkan sendok yang dia pegang seolah hendak memukul kepalanya menggunakan sendok itu.
"Tidak bisa kah kau tidak medeskripsikannya dengan sangat jelas!!" Elle berkata dengan sangat gemas.
Sungguh, andai saja Amy bukan sahabatnya, Elle sudah pasti memukul kepala Amy menggunakan sendok yang sudah dia letakkan kembali ke atas piring.
"Ya mau bagaimana lagi.. Aku cukup terkejut mendengar ceritamu. Lagi pula, kau juga yang salah. Sudah ku katakan untuk berhenti, kau tetap tidak berhenti meminum minuman itu. Seharusnya kau sadar diri kalau toleransi mu terhadap minuman beralkohol itu sangat rendah."
"Hmphh.." Elle menghela nafasnya. "Aku tau aku yang salah. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi.."
"Lantas, apa kau benar-benar memberikan pesan itu padanya?"
Elle menganggukkan kepalanya. "Lebih tepatnya, aku meletakkan kertas itu di atas meja yang terletak di samping kasur. Akan sangat tidak mungkin kalau sampai pria itu tidak menemukan kertas yang aku letakkan. Tapi anehnya, pria itu sama sekali tidak menghubungiku."
"Jelas saja.. Pria seperti dia tidak akan pernah menghubungimu. Untuk apa dia meminta ganti rugi darimu? Tanpa harus meminta ganti rugi darimu pun, pria itu sudah bisa menghasilkan uang miliyaran dolar hanya dalam waktu yang kurang dari satu menit."
Elle seketika saja menatap Amy dengan alis yang saling bertaut. "Kenapa kau berkata seolah-olah kau mengenal pria itu?"
Sontak saja, pertanyaan itu membuat Amy menjatuhkan rahangnya.
__ADS_1
"Kau sungguh tidak tahu siapa pria itu?"
Elle menggelengkan kepalanya dengan tanpa dosa. "Apa kah dia se terkenal itu?"
"Oh God! Elle... Apa saja yang kau lakukan selama hidupmu ini!!"
Amy mere**mas kedua tangannya di depan wajah Elle seolah dia tengah mere**mas wajah Elle.
Elle hanya bisa sedikit memundurkan wajahnya dengan mata yang mengerjap.
"Hufhhh..." Amy menghembuskan nafasnya perlahan, dia mencoba untuk menetralkan rasa gemasnya terhadap Elle.
"Dengarkan aku baik-baik.."
Elle menganggukkan kepalanya, dia memasang pendengarannya baik-baik agar bisa mendengar perkataan Amy dengan jelas.
"Pria itu bernama Gavin Jaliandro. Dia adalah pria terkaya no satu seantero daratan Eropa! Ingat! Nomor satu seantero daratan Eropa.. Dia juga merupakan pemimpin mafia yang paling di takuti. Tidak hanya satu atau dua artikel yang menyebutkan namanya. Jadi, hampir semua orang di daratan Eropa ini mengenal dia. Bahkan, namanya juga di kenal di berbagai belahan dunia."
Elle ber "oh" ria, dia belum menyadari apa yang di katakan oleh Amy.
Tapi sedetik kemudian, Elle mengerjapkan matanya.
"Pffft.." Sudut bibir Elle sedikit berkedut seolah tengah menahan tawanya. "A, apa? Pria terkaya nomor satu? Ketua mafia?"
Amy menganggukkan kepalanya, raut wajahnya terlihat sangat serius.
"Jika untuk pria terkaya, ok, mungkin aku bisa saja percaya akan hal itu. Tapi mafia? Hah, kau jangan bergurau. Aku tidak percaya mafia itu masih ada. Bukan kah mafia hanya ada di jaman dulu? Sudahlah, jangan mencoba untuk bergurau denganku. Tapi tak apa, gurauanmu cukup untuk membuatku merasa terhibur."
Elle berbicara seolah semuanya memang hanya sebuah candaan, wanita itu bahkan menyedot minuman miliknya dengan gaya yang begitu santai.
Sontak saja, hal itu membuat Amy menjatuhkan rahang untuk yang kedua kalinya.
"Kau tidak benar-benar tidak mempercayai perkataanku?"
"Em em em.." Elle menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku percaya pada hal yang tidak mungkin ada."
Hah.. Sungguh, ingin sekali rasanya Amy memasukkan Elle ke dalam botol lalu melemparkannya ke tengah lautan.
Amy benar-benar tidak menyangka kalau Elle tidak akan mempercayai hal itu.
Apa tadi dia bilang? Hanya ada di jaman dahulu? Ayolah, justru mafia di jaman sekarang ini lah yang berlaku lebih ganas dari pada mafia di jaman dahulu.
Memang, mafia jaman dulu tidak kalah ganasnya di bandingkan dengan mafia jaman sekarang. Itu karena dulu belum ada hukum yang bisa menghentikan kegiata para mafia.
__ADS_1
Sedangkan sekarang, sudah ada hukum yang bisa menghentikan kegiatan mereka. Tapi mereka tetap bebas berkeliaran dan bertransaksi semau mereka. Bukan kah itu lebih ganas?
"Ah, sudahlah.. Tidak ada untungnya juga aku menjelaskannya padamu. Aku jelaskan pun, semuanya hanya akan percuma."
Sungguh.. Amy tidak tahu, istilah apa yang paling pantas di sematkan untuk Elle. Polos? Atau, bodoh?
Elle mendelikkan matanya. "Apa yang harus kau jelaskan? Bukan kah semuanya sudah jelas? Kau hanya berbicara omong kosong."
Amy memutar bola matanya jengah. "Ya, anggap saja seperti itu."
"Tapi kau jelas harus bersyukur. Setelah kejadian itu, kau masih bisa hidup dengan normal. Sejatinya, tidak ada satu orang pun yang bisa lolos dari genggamannya ketika ada seseorang yang berani berbuat masalah dengannya."
"Ck! Jangan berbicara seolah-olah semua itu adalah fakta!"
Elle kini mulai merasa sedikit ngeri, tapi dia masih berusaha untuk tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Amy.
Ya walaupun pada kenyataannya, sedari awal Amy bercerita, Elle sudah meraskan ketakukan yang nyata. Hanya saja, Elle berusaha menyangkal hal itu.
Elle tidak bisa membayangkan, akan seperti apa hidupnya untuk waktu ke depannya nanti jika hal itu benar-benar nyata adanya.
Ayolah.. Sudah cukup rumit hidup Elle dalam menghadapi kehidupan rumah tangganya. Elle tidak ingin kehidupannya bertambah rumit jika apa yang di katakan Amy bukanlah sebuah kebohongan.
"Apa aku terlihat seperti tengah bergurau?"
Amy menatap Elle dengan alis yang saling bertaut.
Elle seketika saja menelan salivanya dengan sedikit kasar.
"Jadi, itu semua benar?"
Amy menatap Elle dengan sedikit sinis. "Kau pintar, kau hidup di jaman modern yang bisa mencari apa pun melakui benda persegi panjang yang di namakan dengan ponsel. Gunakan koneksi internetmu itu untuk mencari tahu siapa pria itu. Jangan hanya sibuk mengurusi pekerjaan dan kehidupan rumah tanggamu saja!"
Elle kembali menelan salivanya, dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Apa yang harus aku lakukan??!!" Suaranya terdengar sangat frustasi.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..