
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Sudah hampir 5 menit Elle berdiri di depan pintu ruangan yang bertuliskan CEO.
Ruangan yang hampir tidak pernah di kunjungi oleh pemiliknya, tapi ruangan yang juga menjadi ruangan yang paling sering di bersihkan oleh para petugas kebersihan.
Entahlah, selama 5 tahun Elle bekerja di perusahaan ini. Elle baru pertama kali ini melihat sang CEO mengunjungi perusahaan ini.
Yang sialnya, pria yang menjadi CEO perusahaan tempatnya bekerja itu merupakan pria yang hampir merenggut keperawanannya.
Tapi, Elle tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pria itu karena hal itu juga merupakan kesalahannya sendiri.
Ah, entahlah.. Elle merasa sangat malu jika harus memikirkan hal itu kembali.
Elle menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, dan untuk yang ke sekian kalinya juga, Elle mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu itu namun dia urungkan kembali.
Begitu saja.. Elle sudah melakukannya lebih dari 4 kali. Mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu itu, namun dia turunkan kembali karena merasa ragu.
Bertepatan saat Elle mengangkat tangan untuk yang ke sekian kalinya, pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka.
Elle menyunggingkan senyum canggungnya saat melihat kalau Sam lah yang membuka pintu ruangan itu.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Sam merasa terpesona akan paras yang di miliki oleh Elle.
Kemana saja Sam selama ini sampai tidak tahu kalau dia bekerja di sini? Bahkan gadis itu sudah bekerja di sini selama 5 tahun, dan jelas itu bukan waktu yang singkat.
Oh, sungguh.. Sam tidak bisa memalingkan tatapannya dari wajah Elle.
Hidungnya yang mancung, pipi atasnya yang akan menjadi tembam ketika tersenyum, matanya yang kecil namun sarat akan ketajaman, alisnya yang tebal dan terbentuk dengan indah.
Bulu matanya yang begitu lentik yang akan bergoyang dengan ringan ketika gadis itu berkedip. Riasan tipis yang di kenakannya benar-benar menambah kesan menggemaskan namun juga sarat akan kecantikan yang nyata..
Juga.. bibir mungilnya yang penuh seolah menggoda siapa saja untuk..
Ah sh**it!!
Sam menggelengkan kepalanya.
Apa yang kau pikirkan!!
Tapi.. Mau bagaimana lagi? Wanita, ah tidak.. Gadis itu benar-benar sangat menggoda.
Elle mengibaskan tangannya di depan wajah Sam karena pria itu terus menatap ke arahnya hampir tanpa berkedip.
Elle juga merasa sedikit bingung karena pria itu tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya.
"Tuan? Apa kau baik-baik saja?"
Sam seketika saja tersadar dari lamunannya.
"Khem!" Sam memalingkan tatapannya dari wajah Elle. "Kenapa kau tidak segera masuk ke dalam? Tuan sudah menunggu sejak tadi."
Elle mengernyitkan dahinya. "Tuan, saya sedari tadi hendak masuk ke dalam. Tapi tuan menghalangi jalan masuk saya."
"Ah, ya?"
Sam mengerjapkan matanya, menyadari posisinya yang memang berada di tengah-tengah pintu, sontak saja membuat dia merasa sedikit canggung.
__ADS_1
"Khem!"
Sam kembali berdehen guna menghilangkan rasa canggungnya. Tanpa berkata apa pun lagi, Sam pun segera berlalu pergi dari sana.
"Kenapa dia begitu aneh?"
Elle bergumam seraya menatap kepergian Sam.
"Apa kau tidak akan masuk?"
"Ah, ya tuan.."
Elle segera masuk ke dalam ruangan itu setelah mendengar suara bariton Gavin.
Gavin menatap Elle yang berdiri di depan meja kerjanya dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
"Kau terlambat 1 menit 37 detik."
What!!
Elle seketika saja mengernyitkan dahinya.
Apa pria itu sungguh menghitung waktu?
"Jangan salahkan saya Tuan.. Salahkan saja asisten pribadi Tuan yang menghalangi jalan masuk."
Elle berkata dengan sedikit bersungut-sungut, dia merasa tidak terima karena pria itu benar-benar menghitung keterlambatannya yang bahkan tidak sampai 2 menit.
Apa pria itu tidak bisa sedikit memberikan toleransi?
Tapi sedetik kemudian, Elle mengerjapkan matanya karena sadar kalau apa yang di lakukannya itu merupakan kesalahan.
Di tambah lagi dengan Gavin yang kini menatap Elle dengan tatapan tajamnya. Membuat Elle kini menjadi sedikit gugup.
"Jangan menjadikan asistenku sebagai alasan keterlambatanmu. Kau bisa memintanya untuk bergeser dari tempatnya. Atau kau juga bisa mendorongnya agar dia menyingkir dari jalanmu."
Elle berusaha untuk tidak menelan salivanya, dia hanya diam tanpa berani lagi memberikan bantahan apa pun.
"Ketahuilah, aku sangat membenci keterlambatan. Bahkan hanya untuk 20 detik saja."
"Waktu adalah uang untukku. Hanya dalam waktu yang kurang dari 1 menit, aku mampu menghasilkan uang miliyaran rupiah."
"Pikirkan, berapa kerugian yang harus aku terima karena keterlambatanmu! Tidak hanya untuk saat ini, tapi juga untuk sebelum kita melakukan rapat."
Elle kini benar-benar menelan salivanya, dia tidak mampu untuk memikirkan kerugian yang di katakan oleh pria itu.
"Maafkan saya Tuan." Cicit Elle.
Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Atau.. Kau juga akan menyuruhku untuk meminta ganti rugi padamu? Seperti yang kau lakukan waktu itu?"
Elle lagi-lagi menelan salivanya. Perlahan, dia menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam erat.
Bisa kah dia mengubur diri ke dalam tanah saat ini juga?
Atau, bisa kah Tuhan melenyapkan dia dari hadapan pria itu?
Sungguh, Elle benar-benar merasa malu untuk hal yang satu ini.
Gavin benar-benar menikmati pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
Melihat bagaimana Elle berdiri dengan kepala yang menunduk serta kedua tangannya yang saling bertaut di depan tubuhnya, membuat Elle terlihat seperti bocah berumur 7 tahun yang sedang di marahi oleh ayahnya.
__ADS_1
Ah, haruskah Gavin mengurungnya di dalam mansion miliknya saat ini juga?
Gavin tiba-tiba saja ingin menyimpan segala hal yang ada pada gadis itu untuk dirinya sendiri.
"Emmm.. Begini Tuan.." Elle mere**mat kedua tangannya, dia benar-benar merasa sangat gugup.
Gavin bersedekap dada, dia menyilangkan kaki dengan caranya yang begitu pongah. Tatapan tajamnya tidak lepas dari Elle, dia hanya diam menunggu apa yang selanjutnya akan di katakan oleh Elle.
"Emm, bisa kah Tuan memaafkan saya untuk hal yang satu itu? Saya melakukan itu karena saya benar-benar tidak mengenal Tuan. Saya benar-benar meminta maaf untuk semua yang terjadi di malam itu, itu semua murni karena kesalahan saya yang sedang dalam keadaan mabuk."
Elle menghela nafasnya untuk sejenak.
"Dan juga, saya minta maaf karena telah lancang dengan pergi begitu saja dan hanya meninggalkan secarik kertas. Dan ya.. Begitulah.. Pada intinya, saya benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya."
Gavin menarik sudut bibir sebelah kirinya. "Jadi.. Jika kau mengenalku, kau tidak akan pergi begitu saja?"
"Eh?"
Elle seketika saja mengangkat kepalanya, dia menatap Gavin dengan mata yang mengerjap lucu.
Gavin beranjak dari duduknya, dia mendekati Elle tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis itu.
Pria itu mendekatkan mulutnya pada telinga kiri Elle.
"Bereskan semua barang-barang milikmu yang ada di sini. Mulai besok, kau akan menggantikan Sam sebagai asisten pribadiku."
Tanpa menunggu tanggapan apa pun dari Elle, Gavin lantas berlalu pergi begitu saja.
Hari ini Elle benar-benar berubah menjadi sangat lambat dalam hal apa pun, terbukti dari dia yang baru sadar dengan apa yang di katakan oleh Gavin setelah 2 menit berlalu.
"Tunggu, apa?"
Kedua mata Elle membulat dengan sempurna.
"Bereskan barang-barang? Asisten pribadinya?"
"What!"
Kedua alis gadis itu saling bertaut.
...-TBC-...
*Note : Gini wakk, sensi kan ga konsisten ya nyebut si Elle nya. Terkadang wanita, terkadang juga gadis.
Di saat sama orang lain, sensi nyebut Elle dengan sebutan wanita karena mereka taunya Elle udah nikah.
Sedangkan pas sama Gavin dan Sam, sensi nyebut Elle sebagai gadis karena mereka tau kalo Elle masih perawan. Biasanya kalo perawan kan di sebutnya gadis yakk..
Jadi, baiknya gimana nih? Di sebut wanita aja? Atau gadis aja seterusnya sampe si Elle bener-bener di unboxing? :D
Kasih sarannya di kolom komentar ya.. Terima kasih πΉ
*****
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..