
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Pagi harinya..
Cahaya mentari pagi masuk melalui jendela yang terbuka, membangunkan seseorang dari tidur lelapnya.
"Eungh.."
Elle melenguh kecil seraya mengucek matanya.
Dia menghela nafas dengan sangat lega merasakan betapa nenyak tidurnya semalam.
Elle lantas merenggangkan tubuhnya untuk menikmati betapa hangat dan betapa nyamannya kasur tempat di mana kini dia tengah berbaring.
Eh, tunggu..
Kasur? Hangat? Nyaman?
Elle mengerjapkan matanya, dia menggulirkan netranya ke sana kemari, mencoba menelisik tempat di mana kini dia tengah berada.
Dia merasa sangat terkejut setelah menyadari ada seorang pria asing yang kini tengah tertidur lelap di sampingnya.
Bagaikan mengurai benang yang kusut, seolah mencari jarum di dalam tumpukkan jerami, Elle mempekerjakan otaknya dengan sangat keras untuk mengingat kejadian semalam.
Bertengkar dengan Dean, menghubungi Amy, The Saphire, alkohol, membuat keributan, jatuh di pangkuan seorang pria, muntah, tak sadarkan diri, hingga..
Shi**t!!
Elle menelan salivanya dengan sangat kasar mengingat hal terakhir yang di lakukannya semalam.
Jantung Elle seketika saja berdebar dengan sangat kencang. Perlahan, dia mencoba menggerakkan kakinya.
Tunggu, tidak sakit? Bukan kah seharusnya sakit?
Elle kembali mencoba berusaha dengan sangat keras untuk mengingat kejadian terakhir yang dia lakukan.
Bak waktu yang terulang kembali, Elle dapat mengingat kembali kejadian di mana dia menyebut nama Dean hingga membuat pria yang yang kini masih terlelap di sampingnya itu mengurungkan niatnya.
Elle lantas menyingkap selimut yang dia menutupi tubuhnya, dia menghembuskan nafasnya melihat dia yang kini mengenakan pakaian.
Oh, apakah pria itu memakaikan kemejanya padaku?
Pertanyaan itu seketika muncul di dalam benak Elle.
Elle segera menggelengkan kepalanya, ini bukan saatnya untuk dia memikirkan hal itu.
Perlahan, Elle beranjak dari kasur. Dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak menghasilkan keributan yang pastinya akan membangunkan pria itu.
Dan berhasil..
Dia berhasil turun dari atas kasur tanpa menimbulkan keributan apa pun.
Elle lantas segera mencari dress yang tadi malam dia kenakan.
Dia mengusap tengkuknya melihat dressnya yang tergeletak di lantai dalam keadaan yang tidak layak.
Haruskah dia memakai dress itu kembali?
Sepertinya tidak..
Elle menundukkan kepalanya untuk melihat kemeja yang dia kenakan.
"Sepertinya ini tidak buruk."
Elle memilih untuk terus mengenakan kemeja itu.
Perbandingan tubuh Gavin dan Elle benar-benar sangat jauh berbeda. Membuat kemeja itu tampak seperti dress di saat Elle yang mengenakannya.
Elle lantas meraih dress miliknya kemudian menenteng hilssnya, dia berniat untuk meninggalkan tempat itu tanpa membangunkan Gavin.
__ADS_1
Tapi, sebelum itu, dia mencari secarik kertas dan juga bolpoin.
Menemukan apa yang dia cari, Elle pun menuliskan beberapa kalimat di atas kertas itu dan meletakkannya di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur.
"Maafkan aku, tuan.."
Gumam Elle kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.
Saat berada di dalam elevator, Elle segera mengenakan hillsnya.
Dia menunggu pintu elevator itu terbuka seraya mengetuk-ngetukkan ujung hillsnya pada lantai elevator.
Elle mendongakkan kepalanya untuk menatap layar kecil yang terletak di atas pintu elevator, di mana layar kecil itu menunjukkan nomor lantai yang dia lewati.
"Kenapa lantai di gedung ini banyak sekali!"
Elle menggerutu karena dia baru saja sampai di lantai 30.
Wanita itu menghela nafasnya kemudian kembali mengetuk-ngetukkan ujung hillsnya pada lantai elevator.
Hingga..
Tring!!
Pintu Elevator pun terbuka.
Elle keluar dari dalam elevator itu dengan langkah yang sedikit tergesa.
Dia mendekati meja receptionist.
"Good morning, miss.. Ada yang bisa saya bantu?"
"Umm, bisa kah aku meminjam telpon atau ponsel? Aku harus menghubungi seseorang. Kebetulan aku meninggalkan ponselku entah di mana."
"Anda bisa menggunakan ponsel saya."
Si petugas receptionist itu memberikan ponselnya pada Elle.
Elle pun segera mengetikkan nomor ponsel Amy.
π(Hall...)
"Bisa kah kau menjemputku?" Elle bertanya cepat.
π(Elle?)
"Ya, ini aku.. Bisa kah kau menjemputku sekarang?"
π(Apa kau baik-baik saja? Kau aman? Kau tidak mendapat masalah? Kau..)
"Haishh!! Berikan pertanyaan itu nanti. Sekarang, bisa kah kau menjemputku??"
π(Ah, okay okay.. Kau di mana?)
Elle lantas menggulirkan matanya untuk mencari nama tempat yang saat ini tengah dia pijaki. "Eston place."
π(E, Eston place??)
"Iyaaa.. Cepatlah!! Aku akan menunggumu di luar area hotel." Elle terdengar sedikit tidak sabar.
π(Ah, baiklah baiklah.. Aku akan tiba dalam 20 menit. Aku usahakan untuk lebih cepat lagi.)
Sambungan pun terputus.
"Terima kasih banyak.." Elle mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik.
"Dengan senang hati miss.." Si receptionist itu menyunggingkan senyumnya.
Elle lantas segera keluar dari hotel itu, mengabaikan tatapan aneh dari beberapa orang yang ada di sana.
Siapa juga yang tidak akan menatap aneh pada gadis itu?
Kemeja putih kedodoran yang hampir transparent, rambut yang acak-acakan, muka polos khas seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Ah, yang jelas, kondisi Elle saat ini tidak bisa di katakan baik-baik saja.
Setelah menunggu untuk beberapa waktu, terlihat sebuah mobil yang berhenti di hadapan Elle.
Tanpa harus bertanya atau berpikir lagi, Elle segera masuk ke dalam mobil itu.
"Kau sungguh tidak dalam keadaan yang baik-baik saja Ell.."
Amy menatap Elle yang duduk di sampingnya dengan tatapan iba.
"Ya, pada kenyataannya memang begitu." Sahut Elle cepat.
"Bisa kau segera melajukan mobilmu? Aku harus segera bekerja, ini sudah hampir telat."
"O, ok.."
Amy pun segera melajukan mobilnya menuju ke kediamannya, tempat di mana mobil Elle berada, karena semalam mereka pergi ke The Saphire menggunakan mobil Elle.
.......
.......
.......
"Apa kau sudah cukup bersenang-senang? Kau tidak pulang semalaman. Ibu mencarimu.."
Baru saja Elle menginjakkan telapak kakinya di lantai rumahnya, Elle sudah di sambut oleh tatapan tajam yang di layangkan oleh Dean.
Elle menghela nafasnya untuk sejenak.
"Ya, aku cukup bersenang-senang. Setidaknya, cukup untuk membuatku sedikit melupakan tamparan yang kau berikan padaku."
Elle berusaha mengatur nada bicaranya agar terdengar senormal mungkin, dia menyesuaikan nada bicaranya dengan Dean.
Karena ya, memang begitu lah biasanya.
Mau bertengkar se hebat apa pun, hanya dalam kurun waktu satu malam, Dean akan kembali bersikap normal seolah tidak pernah terjadi pertengkarang di antara mereka.
Elle sebenarnya ingin berteriak di depan wajah Dean. Elle sangat ingin mendengar pria itu mengucapkan kata maaf dengan cara yang baik setelah mereka bertengkar, terlebih lagi pertengkarang mereka terjadi karena kesalahan pria itu sendiri.
Dean mengucapkan kata maafnya tidak dari hati yang paling dalam pun Elle tidak mempermasalahkan hal itu. Setidaknya, Elle ingin merasa di hargai.
Tapi ya, mau bagaimana lagi.. Itu hanya angan-anganya saja..
Ah sudahlah, Elle tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Setidaknya, dia tidak lagi harus berdebat dengan Dean.
"Mari kita lupakan pertengkaran kita tadi malam, okay.. Mari kita kembali bersikap seperti biasanya." Dean meredupkan tatapannya.
Dengar kan? Bahkan pria itu tidak berjanji untuk tidak melakukan kekerasan fisik lagi..
"Hmm.. Sudahlah, aku harus bekerja, aku sudah terlambat."
Tanpa menunggu tanggapan dari Dean, Elle berlalu pergi begitu saja menuju kamarnya.
Dia hendak bersiap untuk memulai kembali aktifitasnya seperti hari-hari biasanya.
Tapi, sebelum itu. Elle menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Dean.
"Ah ya, jika ibu sudah bangun, katakan pada ibu, aku menginap di rumah Amy."
Lalu Elle benar-benar berlalu pergi dari sana.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..