Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Tamparan Pertama


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


"Kau tidak akan menginap?"


Amy memperhatikan Elle yang tengah bersiap untuk pulang.


Elle menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin di sebut sebagai wanita yang lari dari masalah."


Amy menghela nafasnya. "Baiklah, terserah kau. Tapi jika kau kembali tersakiti, bawa barang-barang milikmu kemari untuk tinggal bersamaku. Aku akan membantumu untuk berbicara dengan orang tuamu."


Elle menyunggingkan senyum kecilnya lalu memeluk Amy dengan sangat erat.


"Aku menyayangimu Am.."


"Aku juga menyayangimu Ell.." Amy mengusap punggung Elle.


"Tunggu, sudah lepaskan." Wanita itu mendorong Elle agar Elle melepaskan pelukannya.


"Jangan bersikap seolah ini adalah perpisahan di mana kita tidak akan pernah bertemu lagi, aku sangat membencinya." Amy menatap Elle dengan alis yang saling bertaut.


Elle terkekeh kecil. "Baiklah-baiklah, maafkan aku. Aku hanya terlalu terbawa suasana."


"Kalau begitu aku pergi, sampai jumpa lagi."


"Eum." Amy mengangguk kecil. "Sampai jumpa lagi."


Elle pun berlalu pergi dari sana.


.


.


.


Saat di dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, Elle tidak hentinya menghembuskan nafasnya dengan sangat berat.


Haruskah dia benar-benar kembali ke rumahnya? Atau haruskah dia memutar balikkan mobilnya dan kembali ke rumah Amy?


Elle sedikit tidak siap menghadapi situasi di rumahnya.


Bukan, bukan karena dia takut. Elle hanya tidak ingin emosinya meluap yang tentunya akan menyebabkan dia tidak bisa mengontrol perkataannya.


Mungkin, di masa kemarin, se marah apa pun Elle, dia masih bisa menahan emosi dan ucapannya. Tapi, untuk saat ini, Elle sepertinya ragu akan hal itu.


Salahkan saja setiap orang yang ada di rumah yang selalu berlaku buruk padanya.


Andai saja papa Haris masih ada, Elle mungkin tidak akan semenderita ini karena pria tua yang menyandang status sebagai ayah mertuanya itu selalu membela dan bersikap baik padanya.


Hm.. Ya, Haris sudah lama tiada. Pria itu kembali ke sisi yang maha kuasa beberapa bulan setelah Dean menikahi Elle.


Yang di mana, semenjak saat itu juga sikap semua orang yang ada di rumah itu mulai berubah kepadanya.


Elle tiba-tiba saja mengernyitkan dahinya, dia baru menyadari hal itu.


Sungguh, Elle baru sadar kalau perubahan sikap mereka padanya setelah Haris meninggal.

__ADS_1


Jika memang begitu adanya. Lantas, kenapa Dean tidak menceraikannya saja? Bukan kah itu lebih baik? Dari pada dia harus menjalani kehidupan rumah tangga yang sepertinya tidak dia harapkan.


Ah, entahlah..


"Huffhh..." Lagi dan lagi, Elle menghembuskan nafasnya dengan sangat berat seraya keluar dari dalam mobilnya.


Walaupun merasa sedikit enggan, tapi Elle tetap masuk ke dalam rumahnya.


Sebentar.. Ada yang sedikit aneh dari keadaan di dalam rumah itu.


Elle mengernyitkan dahinya. Kemana perginya semua orang? Kenapa rumah ini sepi sekali? Apa kah mereka sudah pergi tidur?


Elle menggelengkan kepalanya, dia menepis pemikiran terakhirnya itu.


Waktu saat ini belum terlalu larut. Biasanya, pada jam segini, mereka masih menghabiskan waktu dengan menonton acara yang di tayangkan di televisi.


Tapi sedetik kemudian, Elle mengangkat bahunya acuh.


Ah, biarkan saja semua orang pergi. Elle tidak peduli. Lagi pula, bukankah lebih bagus jika semua orang pergi? Elle bisa menikmati malamnya dengan santai.


Namun, saat masuk ke dalam kamar. Elle harus membuang angan-angan tentang menikmati malam santainya.


Karena di dalam kamarnya, dia melihat Dean yang duduk di sofa dengan pakaian kerja pria itu yang masih sangat lengkap. Hanya saja, pakaian pria itu terlihat sedikit berantakan.


Sepertinya, Dean memang sengaja menunggu kepulangannya.


"Dari mana saja kau? Kenapa kau baru pulang? Tidak sadar kah kau kalau malam sudah mulai larut? Apa kau tidak ingat kalau kau memiliki rumah?"


Elle mendengus kasar, dia merasa jengah mendengar nada suara Dean yang seakan menghakiminya.


Kemana perginya pria yang tadi sore sempat mengajaknya untuk berbicara baik-baik?


"Apa pedulimu? Aku mau pergi kemana pun, itu terserah padaku. Aku mau pulang jam berapa pun, itu juga terserah padaku. Kau tidak bisa mengatur kemana aku ingin pergi, dan jam berapa aku ingin pulang."


Elle berjalan melewati Dean menuju lemari tempat penyimpanan handuk, dia berniat untuk membersihkan dirinya.


Elle berusaha mengabaikan tatapan tajam yang di layangkan Dean kepadanya.


Sungguh, Elle merasa sangat enggan jika harus kembali berdebat dengan Dean. Elle benar-benar tidak ingin kalau dirinya sampai tidak bisa memgontrol emosinya.


Andai saja Dean menyambutnya dengan baik-baik, Elle sudah pasti akan meladeni perkataan Dean dengan baik-baik juga.


Namun, belum sepat Elle sampai di lemari penyimpanan handuk. Dean sudah lebih dulu menarik tangannya.


"Kau menyakitku Dean!" Elle menghempaskan tangan Dean dengan kasar.


"Tidak bisa kah kau duduk dan berbicara terlebih dahulu denganku? Bukan malah menunjukkan sikap yang sangat arogan seperti tadi. Ingat, aku suamimu Elle."


Elle memgerjapkan matanya.


"Pfftt!" Wanita itu menutup mulutnya menggunakan punggung tangan kanannya.


"Suami kau bilang?" Elle menaikkan sebelah alisnya, sudut bibir wanita itu sedikit terangkat.


Dean menakutkan kedua alisnya, dia merasa sedikit heran pada perubahan sikap Elle.


"Ya, aku suamimu. Kau tidak sepantasnya bersikap arogan padaku! Kau tidak sepantasnya bersikap kurang ajar padaku! Aku juga berhak mengatur dirimu."


"Pff.." Elle kembali menahanntawanya. "Suamiku? Kau bilang kau suamiku? Kemana saja kau selama 2 tahun kita menjalani pernikahan? Di saat seperti ini, kau baru mengakui kalau kau adalah suamiku??"

__ADS_1


"Di saat seperti ini kau berkata kalau aku tidak sepantasnya bersikap arogan kepadamu? Di saat seperti ini kau berkata kalau kau berhak mengaturku?"


Elle mengatur nafasnya yang sedikit memburu.


"Tidak bisa kah kau bercermin? Tidak bisa kah kau sadar pada dirimu sendiri? Selama ini, kau lah yang selalu bersikap arogan padaku! Selama ini, kaulah yang tidak pernah menghargaiku! Dan kau masih bisa berkata kalau kau berhak mengaturku?"


"Selama ini aku selalu bersabar menghadapi segala sikap burukmu itu, Dean! Tidak pernah satu kali pun aku mengeluh tentang sikapmu itu. Ini adalah kali pertama aku membalas sikapmu, dan kau berkata seolah-olah aku selama ini bersikap buruk padamu!"


"Ingat Dean! Aku manusia, aku memiliki batas kesabaran. Tidak selamanya aku bisa bersabar menerima semua sikap buruk yang kau berikan padaku! Tidak selamanya aku bisa bersabar di saat harga diriku kau inj..."


Plak!!!


Elle terdiam mematung, mulutnya terkunci rapat. Tangannya terangkat untuk memegang pipi kirinya yang di tampar oleh Dean. Rasa panas seketika menjalar memenuhi setiap inci wajahnya.


Dean mengerjapkan matanya, dia menelan ludahnya dengan kasar. Sungguh, Dean tidak berniat untuk menyakitki Elle secara fisik. Namun emosi Dean tidak terkendali saat mendengar penuturan Elle.


Sejujurnya, Dean merasa emosi karena yang dikatakan oleh Elle memang benarlah adanya. Entahlah, Dean hanya merasa sangat tidak suka jika keburukannya di ungkit secara gambalang.


"Haa.." Elle menyunggingkan senyum tipisnya.


Dia menatap Dean dengan di penuhi rasa kekecewaan.


"Aku membencimu Dean, benar-benar membencimu!"


Elle menyambar tas, jaket, dan kunci mobilnya yang terletak di atas kasur. Wanita itu kembali melenggang pergi meninggalkan rumah.


Ketahuilah, ini adalah kali pertama Dean melakukan kekerasan fisik pada Elle. Elle sedikit tidak menyangka kalau sekarang Dean sudah benari menamparnya.


Setelah Dean menyakitinya secara mental, haruskan kini Dean juga menyakitinya secara fisik?


Elle berjanji pada dirinya sendiri, ini akan menjadi kali pertama dan kali terakhirnya membiarkan Dean menyakitinya secara fisik.


Jika hal ini terulang kembali, Elle bersumpah, Elle akan membalasnya berkali-kali lipat lebih kejam. Elle tidak lagi peduli jika nantinya dia akan tersandung ke dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga.


"Sh**it!!" Dean mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia tidak berusaha mengejar Elle, dia membiarkan Elle pergi ke tempat apa pun yang wanita itu inginkan. Karena jujur, Dean mengakui kesalahannya. Dean mengakui sikapnya yang tidak bisa di bilang wajar.


Sungguh, Dean tidak berharap kalau masalahnya akan menjadi rumit seperti ini.


Andai saja hari ini kekasihnya tidak mencari masalah dengannya, mungkin saja Dean bisa megontrol sikapnya pada Elle.


Tapi apalah daya, Dean tidak bisa mengulang waktu. Dean tidak bisa menarik kembali sikapnya yang sudah menyakiti Elle secara fisik.


.


"Hasshh!!" Dean kembali mengusap wajahnya dengan kasar.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2