
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Kediaman Gavin...
"Uwaaaah.. Aku tidak menyangka dua perempuan gila itu memiliki mulut yang begitu berbisa. Bahkan tingkat rasa kepercayaan diri nya pun melebihi kau yang notabenenya sudah sangat percaya diri."
Elle menjatuhkan pantatnya di tepian kasur, dia melemparkan tasnya kesembarang arah. Mulutnya terus saja menggerutu akibat merasa kesal pada Siera dan Alina.
Kekesalannya bertambah karena Mareta, wanita tua yang merupakan nenek Gavin seolah sangat menyudutkannya dengan berbagai macam pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal.
Tapi untungnya, Elle bukan gadis yang mudah terintimidasi. Sehingga meskipun 3 perempuan itu memberikan berbagai macam pertanyaan yang menurut Elle tidak masuk akal, Elle tetap mampu menjawab setiap pertanyaan itu dengan mudah.
"Bukan kah sudah ku peringatkan padamu, kau harus memiliki stok kesabaran yang sngat banyak saat menghadapi mereka."
Gavin memungut tas Elle kemudian menggantungnya di tempat yang semestinya.
Jika di lihat kembali, apa yang mereka lakukan sudah sangat mirip seperti sepasang suami istri. Elle yang merasa kelelahan hingga melemparkan tasnya begitu saja, dan Gavin yang begitu sabar memungut tas istrinya lalu mengembalikannya ke tempat semestinya. Bukan kah sebagian dari pasangan suami istri akan melakukan hal itu?
"Tcih!" Gavin tiba-tiba saja menyunggingkan senyum tipisnya.
Bisa-bisanya dia memikirkan hal itu di saat seperti ini. Bahkan di saat Elle belum sepenuhnya terlepas dari Dean.
Sejenak, Gavin menatap Elle yang masih saja terus menggerutu. Dia lantas melangkahkan kakinya menuju mini bar yang ada di dalam kamarnya.
Gavin meraih salah satu botol wine yang berjajar dengan begitu rapi di dalm lemari kaca yang terpasang di tembok. Gavin juga mengambil 2 gelas kaca khusus untuk meminum wine itu.
Gavin pun melangkah mendekati Elle seraya membawa 2 gelas kaca beserta sebotol anggur itu.
Melihat apa yang di bawa Gavin, tentu saja membuat Elle mengernyitkan dahinya.
"Kau mengajakku untuk minum di waktu sekarang?"
Gavin mengangkat bahunya acuh. "Apa salahnya? Bukan kah di malam seperti ini justru waktu yang pas untuk menikmati sebotol wine?"
"Tidak tidak.. Kau tahu, aku cukup lemah terhadap alkohol."
Percayalah, meskipun mulutnya mengutarakan penolakan, namun hatinya justru meneriakkan keinginannya untuk menegak wine itu.
Sungguh, melihat dari botolnya saja, Elle tahu seberapa mahalnya wine itu. Dan sudah bisa di pastikan, rasa dari wine itu pastilah sangat-sangat enak.
Oh God! Hanya dengan membayangkannya saja mampu membuat Elle meneteskan air liurnya.
Ayolah.. Ekonomi Elle tidak sejaya ekonomi Gavin, Elle belum pernah merasakan wine dengan harga semahal itu.
Ya walaupun terkadang Amy membelikannya wine dengan harga mahal, tapi harganya tidak semalah wine yang saat ini tengah di pegang oleh Gavin.
Elle berusaha untuk tidak menelan salivanya. Dia tidak munafik, dia memang menginginkan wine itu. Tapi, mengingat toleransinya terhadap alkohol yang begitu rendah, membuat Elle berpikir dua kali untuk menegak wine itu.
Tidak, dia bukan tidak percaya pada Gavin. Dia justru tidak percaya pada dirinya sendiri. Sudah bisa di pastikan, jika Elle sampai benar-benar mengak minuman beralkohol itu, Elle akan melakukan hal yang di luar nalarnya. Seperti apa yang dia lakukan di kala itu.
Bukannya Elle tidak ingin mengontrol keinginannya. Hanya saja, sekalinya Elle menegak minuman beralkohol itu. Elle pasti akan lupa diri, dia akan terus menegak minuman itu hingga Elle merasa puas.
Kalau pun sekalinya Elle sudah tidak memiliki kesadaran, Elle tetap akan menegak minuman itu jika dia belum benar-benar merasa puas.
"Kalau kau memang tidak menginginkannya, maka tak apa.. Biar aku saja yang meminumnya."
Gavin hendak berlalu pergi dari sana.
Namun...
__ADS_1
"Tunggu..."
Gavin menghentikan langkahnya, dia menatap Elle dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Uhmmm.." Elle menatap Gavin dengan sedikit ragu.
"Kau berubah fikiran?"
Elle mengusap tengkuknya canggung. "Tidak ada salahnya kan mencobanya sedikit."
Gavin seketika saja menyunggingkan senyum simpulnya. "Sure.. Ikut aku."
Gavin lantas mengajak Elle menuju balkon kamarnya.
Pict by : Pinterest
"Wow.."
Elle tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Suasana kota di malam hari terlihat sangat indah di lihat dari sudut ini.
Ah ya, Elle lupa. Rumah Gavin merupakan rumah tertinggi kedua setelah rumah kediaman utama keluarga Jaliandro. Maka tak heran, dari sudut ini, Elle dapat melihat pemandangan kota dengan sangat leluasa.
"Kau menyukainya?"
Gavin memberikan segelas wine yang sebelumnya dia tuangkan pada Elle.
"Ya, aku sangat menyukainya."
"Bukan kah sudah ku katakan, di malam hari seperti ini merupakan moment yang baik untuk menikmati segelas wine."
Elle mengangguk kecil, dia menyetujui apa yang Gavin katakan.
1 gelas.. 2 gelas.. 3 gelas..
Katakanlah Elle menghabiskan dua setengah botol, karena selebihnya, Gavin juga ikut mencicipi wine itu.
Gavin terkekeh saat melihat Elle yang menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa dengan wajah yang sudah benar-benar memerah. Jujur saja, dia tidak berusaha menghentikan Elle. Gavin justru sengaja mencekoki Elle dengan wine itu.
Anggap lah Gavin gila karena dia sengaja mencekoki Elle dengan wine itu demi untuk melihat tingkah ajaib gadis itu ketika mabuk.
"Ell?"
Gavin menatap Elle dengan sangat intens.
"Babby?"
Gavin menyelipkan helaian rambut Elle ke belakang telinga gadis itu. Perlahan, Gavin mulai mengelus wajah Elle dengan gerakan yang sangat lembut.
"Uumm.. Diamlah.. Aku mengantuk!"
Elle menyingkirkan tangan Gavin dari wajahnya.
"Mengantuk?"
Elle mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kau tidak lihat? Aku bahkan sudah tidak bisa lagi membuka kedua mataku."
Gavin terkekeh kecil, dia merasa gemas pada tingkah Elle yang begitu imut saat sedang mabuk. Andai saja Elle juga bersikap seperti ini di saat sedang dalam keadaan sadar, mungkin saja Gavin sudah melipat Elle dan memasukkannya ke dalam kantung celananya.
"Kalau kau memang mengantuk, tidurlah di dalam."
Elle menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku butuh udara yang sejuk."
__ADS_1
"Baiklah, kau bisa menikmati udara sejukmy untuk sebentar lagi."
Gavin lagi-lagi mengelus wajah Elle.
Kesal? Tentu saja. Elle merasa sangat kesal atas apa yang di lakukan Gavin. Bagi Elle, hal itu benar-benar mengganggu waktunya untuk tidur.
Entah sadar atau tidak, tanpa aba-aba atau peringatan apa pun. Elle naik ke atas pangkuan Gavin dengan gerakan cepat.
Gavin yang tidak siap akan hal itu pun berakhir dengan terbaring di atas sofa.
"Ufhhh!!"
Gavin meringis saat Elle mendaratkan bongkahan pantat kenyalnya tepat di atas miliknya.
"Ell?"
Suara Gavin kini mulai terdengar lebih serak.
"Diamlah! Kau sudah menggangu waktu tidurku!"
Elle memegang kedua tangan Gavin kemudian meletakkannya di atas kepala pria itu.
"Jika sudah seperti ini, aku yakin, kau tidak akan bisa menggangguku lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Elle merebahkan kepalanya di atas dada bidang Gavin. Hal itu menyebabkan Gavin bisa merasakan dua bongkahan dada kenyal milik Teya.
"Oh sh**it!!!"
Gavin mengumpat pelan saat sesuatu di bawah sana mulai memberontak.
Gavin tidak tahu, apa Elle bisa merasakan miliknya yang perlahan mulai bangun atau tidak.
Tapi, jika di lihat dari Elle yang tidak menunjukkan reaksi apa pun, membuat Gavin yakin kalau Elle tidak menyadarinya.
Entahlah, mungkin itu efek dari mabuknya.
"Oh God!! Elle!!!"
Gavin menggeram saat Elle tiba-tiba saja menggerakkan pinggulnya.
Demi Tuhan! Gavin sudah tidak kuat.
Dengan gerakan cepat, Gavin beringsut dari berbaringnya. Dia menempatkan Elle di atas pangkuannya dalam posisi duduk.
"Yak! Apa yang kau lakukan!! Aku ingin tidur!!"
Elle berusaha untuk mendorong Gavin agar pria itu kembali berbaring.
Namun sayangnya, tenaga Elle kalah jauh jika di bandingkan dengan tenaga Gavin.
Bukannya berhasil membuat Gavin kembali berbaring, Elle justru haru terhenyak karena Gavin tiba-tiba saja beranjak dari duduknya. Pria itu lantas berlalu pergi dari sana dengan menggendong Elle ala koala.
Mau tidak mau, Elle pun hanya bisa mengalungkan kedua lengannya pada leher Gavin dengan sangat erat agar dirinya tidak terjatuh.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..