Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Tujuan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Warning!!


Sekedar pemberitahuan.. Bab ini berisi full percakapan.. Bagi yang tidak suka membaca bab yang berisi full percakapan, bisa di skip.. Tapi, resikonya, kalian tidak tahu alur ceritanya.


Jadi, harap di baca aja ya.. :D


*****


Rumah Dean..


"Dia sudah pulang?"


Dean mengernyitkan dahinya melihat mobil Elle yang sudah terparkir di pekarangan rumahnya.


Dean lantas segera memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Elle.


Pria itu berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang sedikit tergesa.


Dean lagi-lagi mengernyitkan dahinya melihat Tamara yang seperti tengah mengunci pintu kamarnya.


"Apa yang ibu lakukan di depan kamarku?"


Tamara menoleh pada Dean, dia menarik Dean agar menjauh dari depan kamarnya.


"Pegang ini."


Wanita itu memberikan sebuah kunci pada Dean.


"Ibu mengunci kamarku?"


Tamara menganggukkan kepalanya.


Dean seketika saja merasa sangat bingung, pria itu menatap Tamara dengan alis yang saling bertaut.


"Untuk apa ibu mengunci kamarku?"


"Istrimu sedang mengemasi barang-barangnya, ibu sengaja mengunci pintu kamarmu agar dia tidak bisa keluar dari sana."


Dean semakin merasa bingung. "Tapi, kenapa?"


"Apa kau tidak mengerti juga?? Itu tandanya istrimu akan benar-benar menceraikanmu!!"

__ADS_1


Wanita itu menatap Dean dengan sangat gemas.


Dean lantas menghela nafasnya untuk sejenak. "Aku tau ibu. Tapi bukan seperti ini caranya.. Aku bisa membujuknya dengan cara yang baik-baik. Dia juga pasti akan mengerti.. Bisa kah ibu tidak terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku?"


Tamara mengernyitkan dahinya. "Apa kau bilang? Kau meminta ibu untuk tidak mencampuri urusan rumah tanggamu? Dan apa tadi? Kau akan membicarakan hal ini dengan cara yang baik-baik? Kau sudah dua kali menampar wajahnya. Dan kau masih bisa berkata dengan ringannya kalau dia akan mengerti? Kau bahkan meminta ibu untuk tidak mencampuri urusan rumah tanggamu?"


Persimpangan di dahi Tamara tercetak dengan sangat jelas.


Dean seketika saja terdiam seribu bahasa, dia benar-benar melupakan fakta yang satu itu.


"Tidak sadar kah kalau kau sudah mengacaukan semuanya? Sikapmu benar-benar sudah melebihi batas Dean.. Kau berjanji pada ibu untuk tidak menyakitinya secara fisik!"


"Seharusnya kau sadar kalau apa yang kau lakukan itu akan merusak semua rencana kita!! Dan kau justru meminta ibu untuk tidak mencampuri urusan rumah tanggamu??"


Dean seketika saja menatap Tamara dengan mata yang memicing tajam.


"Tunggu, jadi ibu berusaha mencegah niat Elle yang akan menceraikanku hanya karena hal itu?"


"Apa lagi?? Bukan kah memang itu lah tujuan awal kita membawa dia masuk ke dalam keluarga ini? Dan jangan pernah menyebut tujuan kita dengan kata hanya.. Itu bukan hanya atau sekedar, itu adalah tujuan yang besar. Kau tidak boleh meremehkan tujuan yang sedang berusaha untuk kita raih."


Tamara lantas menggenggam kedua tangan Dean.


"Dengar Dean, jika kita gagal mendapatkan sebidang tanah itu. Maka hidup kita tidak akan pernah maju, hidup kita hanya akan terus berjalan seperti ini saja. Tanah itu merupakan masa depan kita. Bayangkan Dean, jika kita bisa mendapatkan tanah itu. Hidup kita bisa menjadi lebih baik lagi, kita juga tidak akan pernah merasakan kekurangan apa pun lagi."


Dean menghempaskan tangan Tamara, pria itu menatap ibunya dengan di penuhi rasa ketidak percayaan.


"Menyesal? Untuk apa ibu merasa menyesal? Penyesalan tidak akan pernah merubah nasib yang kita miliki. Ibu tidak pernah memiliki rasa penyesalan untuk sedikit pun. Ibu tidak peduli jika wanita itu merasa menderita atau pun merasa terhina. Ibu hanya ingin mendapatkan apa yang memang seharusnya menjadi hak milik ibu."


Dean mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bu.. Wanita itu memiliki nama.. Apa kah ibu tidak sadar kalau selama ini wanita itu lah yang telah membantu keluarga kita? Apa kah ibu tidak sadar kalau wanita itu lah yang membuat hidup kita menjadi lebih baik?"


"Aku tidak pernah ingin tahu kenapa ibu bisa tidak menyukai Elle sampai sebegininya. Aku juga tidak pernah ingin mengerti kenapa ibu harus memperlakukan Elle dengan sangat buruk. Tapi bu, tidak bisa kah ibu memperlakukan Elle dengan lebih baik lagi?"


"Ingat bu, mau bagaimana pun, Elle menantu ibu.. Menantu yang masih memperlakukan kita dengan sangat baik walaupun kita sudah memperlakukannya dengan sangat buruk. Tidak bisa kah kita memulai semuanya dari awal lagi? Tidak bisa kah ibu melupakan perihal tanah itu? Aku mohon bu.."


Tamara seketika saja menatap Dean dengan sangat intens, dia merasa ada sesuatu yang salah pada pancaran mata anak laki-lakinya itu saat tengah membicarakan nama Elle.


Pancaran mata yang di tunjukkan oleh Dean seolah menunjukkan betapa besarnya rasa cinta yang di miliki oleh Dean untuk Elle.


"Jawab pertanyaan ibu dengan sangat jujur Dean. Apa kau mencintainya?"


Dean kembali terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus memberikan respon seperti apa.


"Jawab ibu, Dean.."


"Ya, aku mencintainya ibu.." Lirih Dean.

__ADS_1


Tamara seketika saja terkekeh kecil, dia menatap Dean dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Pada akhirnya, kau jatuh pada pesona yang di miliki oleh istrimu?"


"Ya, aku jatuh pada pesona yang di miliki olehnya.. Aku jatuh pada semua hal yang ada pada dirinya." Dean menjawab tanpa ragu.


"Jadi, itu alasan kenapa selama beberapa waktu terakhir ini kau selalu menghindari istrimu?"


"Ya, itu adalah alasan utamanya. Aku melakukan hal itu karena masih teringat akan tujuan yang kita miliki. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa melakukannya lagi, ibu.. Aku tidak sanggup jika harus terus menyakitinya. Jadi, bisa kah kita memulai semuanya dari awal lagi? Aku mohon ibu.."


Tamara menghela nafasnya untuk sejenak.


"Jika kau memang mencintainya, maka berusaha lah untuk mempertahankan hubungan pernikahan kalian.. Tapi dengan satu catatan, kau tetap harus berada pada tujuan awal kita."


"Ibu sama sekali tidak peduli terhadap rasa cinta yang kau miliki untuk istrimu. Dan ibu juga tidak akan melarangnya. Hanya saja, lakukan apa yang memang seharusnya kau lakukan sejak awal."


"Pertahankan pernikhanmu, lalu segera dapatkan keturunan agar ibu bisa memiliki apa yang memang seharusnya menjadi milik ibu.."


Dean menatap Tamara dengan sangat memelas. "Tapi bu.."


"Lakukan apa yang ibu katakan.. Jika kau tidak melakukannya, ibu akan memberitahu istrimu kalau selama ini kau masih berhubungan baik dengan kekasihmu. Bahkan selama ini kau selalu tidur di apartment yang kau belikan untuk kekasihmu."


Tamara menaikkan sebelah alisnya melihat Dean yang terdiam kaku.


"Kau kira ibu tidak tahu tentang apa yang selama ini kau lakukan dengan kekasihmu? Kau kira ibu tidak tahu kemana perginya semua uang yang kau miliki?"


"Kalau kau tidak ingin semua kebusukanmu di ketahui oleh istrimu, maka lakukan apa yang ibu katakan dan segera dapatkan apa yang ibu inginkan."


"Ini kesempatan terakhir yang akan ibu berikan untukmu. Ibu memberimu waktu selama 1 tahun. Jika selama 1 tahun ke depan kau masih belum bisa mendapatkan apa yang ibu inginkan, maka bersiaplah untuk mengalami hal yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan."


Tanpa menunggu tanggapan apa pun dari Dean, Tamara berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Dean yang kini hanya bisa terdiam tanpa tahu harus melakukan apa.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2