
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Kediaman Jaliandro..
Elle menatap bangunan megah yang ada di hadapannya dengan tatapan lesu.
Pict by : Pinterest
*Note : Anggap aja ini pagi hari ya wakk..
Hah.. Yang benar saja, kenapa sekarang dia harus merangkap jadi babby sitternya juga?
Ayolaaah.. Bayangkan saja.. Belum juga Elle terbiasa dengan segala tingkah menyebalkan Gavin saat di kantor. Kini dia harus di buat pusing dengan perintah dari Gavin yang memintanya untuk mengurusnya di setiap pagi harinya.
Ok, ini memang hari pertama Elle harus mengurus Gavin. Tapi, oh, hanya membayangkannya saja sudah membuat Elle merasa lelah dan sakit kepala.
Sejujurnya, Elle ingin menolak. Tapi, mau bagaimana lagi? Segala perintah dan keputusan Gavin adalah mutlak!
Elle selalu bertanya-tanya, apa Sam juga melakukan hal ini?
Lantas, jika iya, kenapa kini harus dia yang menggantikan Sam? Dan juga, apa tugas yang di lakukan Sam jika kini dia yang menggantikannya?
Tapi sayangnya, pertanyaan demi pertanyaan itu hanya bisa tersimpan rapi di kepalanya. Elle tidak memiliki nyali sebesar itu untuk menanyakan hal itu pada Gavin.
Masih baik kalau Gavin bersedia untuk menjawabnya. Bagaimana kalau pria itu justru menghukumnya? Ooh, sungguh, Elle benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Cukup satu kali saja Elle mendapatkan hukuman konyol berupa harus menuruti semua perintah dari pria itu selama seharian penuh, Elle tidak ingin mengalaminya lagi.
Sungguh, hal itu benar-benar membuat Elle merasa sangat lelah, baik secara fisik mau pun mental. Elle benar-benar tidak mau menjalani hukuman yang sama untuk yang kedua kalinya.
Tok! Tok!
Seorang penjaga kediaman Gavin mengetuk kaca mobil Elle.
"Eh?"
Elle seketika saja tersadar dari lamunannya, dia membuka kaca jendela mobilnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu, nona? Anda sudah memarkirkan mobil anda di sini sejak 10 menit yang lalu."
Elle mengusap tengkuknya canggung. "Begitukah?"
"Emm.. Begini, apa ini benar kediaman Tuan Gavin Jaliandro?"
"Benar nona. Ada keperluan apa nona datang kemari?"
"Saya di minta datang ke sini oleh Tuan Gavin."
"Bisa kah nona menunjukkan identitas nona?"
Elle mengernyitkan dahinya. "Haruskah?"
Pria itu menganggukkan kepalanya. "Ini demi kepentingan semua orang."
"Aaa, baiklah.."
Elle pun mengeluarkan kartu identitasnya.
Pria itu memeriksa nama yang tertera di kartu identitas Elle.
"Nona boleh masuk." Ucap si penjaga itu.
__ADS_1
Elle menyunggingkan senyumnya. "Terima kasih.."
"Sudah tugas saya, nona.."
Elle lantas melajukan mobilnya, memasuki pekarangan rumah Gavin yang begitu luas dan megah.
"Kenapa rumah ini besar sekali?"
Elle tiba-tiba saja merasa penasaran, berapa banyak orang yang dia pekerjakan untuk merawat rumah ini?
"Wow.."
Elle tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat ada seorang penjaga yang membukakan pintu mobilnya.
Elle mengernyitkan dahinya saat si penjaga itu menengadahkan tangannya.
Namun sedetik kemudian, Elle tersadar pada apa yang di minta oleh si penjaga.
"Aaah.. Ya, kunci."
Elle pun memberikan kunci mobilnya pada si penjaga itu.
"Apa semua pria yang bekerja di sini memiliki wajah yang begitu menyeramkan?"
Elle menatap mobilnya yang sudah di bawa pergi oleh si penjaga tadi.
"Ah, sudahlah.."
Elle lantas segera masuk ke dalam rumah itu.
Lagi dan lagi, Elle mengernyitkan dahinya.
"Oh astaga.. Kemana aku harus pergi? Rumah ini terlalu besar."
Elle menggulirkan netranya ke arah kanan dan kiri. Sungguh, dia benar-benar bingung, arah mana yang harus dia tuju.
Rumah itu terlalu luas untuk Elle jelajahi. Dengan membayangkannya saja, sudah membuat Elle merasa sangat kelelahan.
Elle menoleh pada seorang wanita tua yang memanggil namanya.
"Ya?"
Wanita tua itu menyunggingkan senyumnya. "Tuan sudah menunggu nona, mari saya antar."
Elle pun mengikuti langkah wanita itu.
"Emm, nyonya?"
"Anda bisa memanggil saya De Lana, nona. Saya kepala pelayan di rumah ini."
"Ah ya, De Lana.. Bisa kah saya menanyakan satu hal?"
"Dan tidak perlu berbicara terlalu formal dengan saya, nona. Anda bisa berbicara dengan santai. Anggap saja saya sebagai teman nona."
Elle mengusap tengkuknya, senyum canggung tersungging di bibirnya. "Ah ya, baiklah.. Bisa kah aku menanyakan satu hal?"
"Nona bisa menanyakan apa pun. Saya akan menjawabnya jika saja bisa menjawabnya."
"Apa dia tinggal sendiri? Kenapa rumah ini besar sekali."
De Lana menyunggingkan senyum kecilnya mendengar kata 'Dia' yang keluar dari mulut Elle.
Ketahuilah, ini adalah kali pertama bagi De Lana mendapatkan tugas untuk mengantarkan seorang gadis ke ruangan pribadi tuannya.
Bukan hal yang aneh memang jika ada banyak gadis yang hilir mudik di rumah ini.
Namun, biasanya tuannya hanya meminta De Lana untuk mengantarkan gadis itu ke kamar khusus yang selalu Gavin gunakan untuk memakai para gadis itu.
__ADS_1
De Lana pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena yang harus De Lana lakukan hanyalah mengantarkan gadis itu masuk dan keluar rumah ini.
Tapi ini? Tuannya justru meminta De Lana untuk mengantarkan gadis ini menuju ruangan pribadi tuannya.
De Lana sedikit sanksi jika Tuannya menganggap gadis ini hanya sekedar asisten pribadinya saja.
Terlebih lagi, gadis ini sangatlah berbeda dengan gadis yang lainnya.
Selain gadis cantik ini berpakaian rapi dan sopan, gadis ini juga memiliki sikap yang sangat sarat akan sopan dan santun yang sangat tinggi.
Karena biasanya, para gadis yang datang akan mengenakan pakian kekurangan bahan dan memiliki sikap yang minim akan sopan santun. Ah ya, jangan lupakan make up yang di kenakan para gadis itu yang benar-benar tebal seolah hendak melakukan pentas.
Mungkin, jika di bandingkan, make up yang di kenakan para pemain pentas saja masih kalah tebal jika di bandingkan dengan make up yang di kenakan oleh para gadis itu.
"Maksud nona, Tuan Gavin?"
"Ah ya, maksudku Tuan Gavin."
"Tuan sudah tinggal di sini sendiri sejak Tuan berusia 13 tahun."
"Lantas, kemana orang tuanya?"
"Tuan dan Nyonya besar tinggal di Santa Marino, mereka mengurus bisnis mereka di sana."
"Aaa.." Elle mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bolehkah aku menanyakan satu hal lagi?"
De Lana melirik Elle, wanita itu menyunggingkan senyum kecilnya.
"Tentu saja nona."
"Apa tuan Gavin memang orang yang kejam dan tidak bisa di bantah?"
Gadis itu bertanya dengan nada suara yang terdengar sedikit ragu.
De Lana kembali menyunggingkan senyum kecilnya. "Begitulah adanya. Tapi, percayalah nona. Tuan adalah orang yang sangat baik. Jika nona sudah mengenalnya lebih dekat, tuan memiliki sisi hangat yang akan membuat siapa saja nyaman untuk berada di dekatnya."
Elle mengernyitkan dahinya, dia sedikit sanksi dengan apa yang di katakan oleh De Lana.
"Emmm.. Begitukah?"
"Nona akan mengetahuinya nanti."
Mereka pun berhenti di salah satu ruangannya yang pintunya menjulang tinggi.
"Nona bisa langsung masuk ke dalam, Tuan sudah menunggu."
Elle menyunggingkan senyumnya. "Terima kasih De Lana."
"Sudah tugas saya, nona."
De Lana menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Elle menatap pintu itu dengan dada yang bergemuruh. Entahlah, Elle juga tidak tahu kenapa jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan sangat kencang.
Elle menghela nafasnya untuk sejenak, dia lantas memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan itu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..