Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Italia Terlalu Sempit


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Kediaman Abrunachi..


Tok.. Tok.. Tok..


Tok.. Tok.. Tok..


"Iya, sebentar."


Seorang pria berusia setengah baya, dengan raut wajah khas bangun tidurnya, tampak melangkah dengan sedikit tergesa menuju pintu rumahnya.


Siapa yang mengetuk pintunya di pagi buta seperti ini? Bahkan matahari saja masih terlihat malu-malu untuk menampakkan sinarnya.


Entah sejak kapan orang itu mengetuk pintu rumahnya. Tapi yang jelas, ketukan di pintu yang di lakukan oleh orang itu benar-benar mengganggu tidurnya.


Ceklek!


"Pah.."


Pria itu terkejut bukan main, bukan karena putrinya yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya. Melainkan seorang pria yang saat ini berdiri di belakang putrinya.


"Tuan Gavin?"


Persimpangan di dahi pria setengah baya itu tampat tercetak dengan sangat jelas.


Bingung, tentu saja. Dia bingung kenapa pria itu bisa bersama dengan putrinya. Ah tidak, lebih tepatnya kenapa putrinya bisa datang bersama dengan pria itu.


Gavin sedikit menggeser Elle dari tempatnya, dia maju ke hadapan Baraf. Pria itu mengulurkan tangannya.


"Manager Baraf.."


"Ah ya, selamat datang."


Baraf menerima uluran tangan Gavin, masih dengan perasaan bingungnya.


Elle mengernyitkan dahinya, dia menatap Baraf kemudian menatap Gavin, lalu kembali lagi menatap Baraf.


"Kalian saling mengenal?"


"Tentu saja, Tuan Gavin adalah anak atasan papah sewaktu papah masih menjabat sebagai manager di perusahaan Jaliandro."


Whattt!!


Elle semakin mengernyitkan dahinya, dia baru tahu kalau dulu papahnya bekerja di perusahaan Jaliandro.


Oh sungguh, dunia begitu sempit. Ah tidak, Italia begitu sempit.


Elle heran, bisa-bisanya dia berkaitan dengan orang yang saling mengenal satu sama lain.


"Jadi, dulu papah bekerja di perusahaan Jaliandro? Kenapa papah tidak pernah bercerita padaku?"


Baraf mengedikkan bahunya. "Kau yang tidak pernah bertanya."


"Apa yang kalian lakukan di sana? Apa kalian tidak ingin masuk ke dalam? Tidak baik membiarkan tamu terlalu lama berada di luar."


Itu Elys, wanita yang sudah melahirkan Elle. Mari kita sebut saja sebagai istri Baraf.


"Ah ya, benar.. Silahkan masuk tuan, maaf jika kediaman kami tidak seluas kediaman Tuan."


Gavin menyunggingkan senyum simpulnya.

__ADS_1


"Kediamanmu cukup nyaman untuk di tinggali. Dan tidak usah berbicara terlalu formal, aku bukan lagi anak dari atasanmu."


Baraf terkekeh kecil. "Anda terlalu merendah, tuan.."


Mereka lantas masuk ke dalam rumah.


Setelah Elys menyediakan minum untuk Gavin, wanita itu menatap Elle dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.


"Ell.. Bisa kau ikut dengan mamah sebentar?"


Elle menganggukkan kepalanya, dia mengikuti Elys menuju halaman belakang.


"Wow.."


Elle menatap halaman belakang rumahnya dengan perasaa takjub.


"Sejak kapan mamah menambah tanaman bunga yang ada di sini? Terakhir kali aku kesini, tanaman bunga yang mamah miliki belum sebanyak ini."



Pict by : Pinterest


"Umm.." Elys berpikir untuk sejenak. "Mamah menambahkannya beberapa bulan yang lalu."


Elle mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mengamati setiap tanaman bunga yang ada dengan mata yang berbinar. Sungguh, Elle benar-benar menyukai halaman belakang rumahnya yang saat ini.


2 wanita beda usia itu duduk di kursi yang ada di sana.


"Bagaimana perjalananmu?"


"Cukup melelahkan. Tapi, rasa lelahku hilang setelah melihat apa yang ada di sini. Rasanya seperti tengah bernostalgia pada masa aku kecil dulu."


Elys menyunggingkan senyumnya, dia senang mengetahui Elle yang menyukai tempat ini.


Dulu, cita-cita Elle sewaktu kecil adalah ingin memiliki taman bunga yang sangat luas. Namun, apalah daya, keadaan mereka kurang memungkinkan untuk mewujudkan keinginan Elle.


Tapi tidak untuk sekarang, meskipun sedikit terlambat, Elys tetap bisa mewujudkan keinginan masa kecil Elle.


Ya meskipun tidak seberapa luas, tapi setidaknya Elys bisa mewujudkan apa yang sempat tidak bisa dia berikan untuk Elle sewaktu gadis itu masih kecil.


"Ell?"


"Hm?" Elle menoleh pada Elys.


"Mamah tidak akan berbasa basi lagi. Bisa kah mamah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Kau datang tiba-tiba tanpa memberi kabar. Terlebih lagi, kau datang bersama seseorang yang bukan suami mu."


Raut wajah Elle seketika saja berubah menjadi muram. Dia, yang beberapa saat lalu sempat melupakan tujuan utamanya datang kesini, seketika saja kembali teringat saat Elys menanyakan hal itu.


Elle menghela nafasnya, dia mengalihkan netranya dari Elys. Elle menengadahkan wajahnya guna menahan air mata yang tiba-tiba saja berkumpul di kelopak matanya.


"Jujur saja, aku tidak tahu harus memulainya dari mana."


Elys bingung, ini kali pertamanya Elle bersikap seperti ini.


Apakah anak perempuan satu-satunya ini sedang menghadapi suatu masalah? Tapi, masalah apa? Apa kah ini ada hubungannya dengan rumah tangganya? Apa ini juga ada hubungannya dengan Gavin?


Elys lantas menggenggam tangan Elle.


"Tidak usah terlalu terburu-buru, sayang. Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan pada mamah. Bukan kah sedari dulu kau juga seperti itu, hmm? Kau selalu menceritakan semua yang kau rasakan pada mamah."


Elle menghela nafasnya untuk sejenak, dia menatap Elys dengan sedikit ragu.


"Hal ini mungkin sedikit tidak baik untuk aku ceritakan pada mamah. Tapi, apa mamah percaya? Kalau hingga saat ini, aku masih lah seorang gadis perawan."


Elys terdiam, persimpangan di dahinya tercetak dengan sangat jelas.

__ADS_1


"Mamah tidak mengerti apa yang kau maksud."


"Hingga saat ini, Dean sama sekali belum menyentuhku. Dean bahkan tidak pernah tidur di atas kasur yang sama denganku. Aku awalnya tidak mengerti kenapa Dean bisa bersikap seperti itu padaku. Tapi, aku kini mengerti kenapa Dean bisa bersikap seperti itu."


Elys tiba-tiba saja menarik sudut bibirnya. "Perempuan lain? Ayana?"


Elle mengernyitkan dahinya. "Mamah mengetahuinya?"


Elys melepaskan tangan Elle dari genggamannya, wanita itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Mamah lebih dari sekedar tahu. Tapi mamah tidak menyangka kalau dia masih berhubungan dengan wanita itu hingga saat ini."


"Ketahuilah Ell, mamah sebenarnya tidak menyetujui pernikahanmu dengan Dean. Ayana, yang kau ketahui sebagai kekasih suamimu. Itu merupakan anak dari mantan kekasih papah mu."


Sungguh, Elle benar-benar terkejut mendengar apa yang baru saja Elys katakan. Ini untuk yang kedua kalinya Elle katakan, kalau Italia benar-benar sempit.


"Lantas, kenapa mamah masih menikahkan ku dengan Dean?"


"Suamimu berjanji untuk meninggalan wanita itu. Dia berjanji di hadapan mamah dan papah. Kini mamah menyesal karena dengan mudahnya percaya pada perkataan suami mu."


"Tunggu, papah juga mengetahuinya?"


"Justru papah mu yang lebih dulu mengetahuinya. Mamah mengetahui hal itu setelah papah mu bercerita pada mamah."


Elys menegakkan tubuhnya, dia menatap Elle dengan tatapan sendu. Kedua mata wanita itu kini mulai berkaca-kaca, membayangkan betapa sulitnya kehidupan rumah tangga yang di jalani anak perempuan semata wayangnya itu.


"Selain itu, apa lagi yang dia perbuat padamu, hm? Apa saja yang sudah dia lakukan pada anak gadis mamah yang sangat cantik ini?" Elys menyelipkan helaian rambut Elle ke belakang telinga gadis itu. "Ceritakan semuanya pada mamah. Kau tidak boleh menyimpannya sendirian. Bagi rasa sakit yang kau miliki pada mamah, kau tidak boleh merasa sakit sendirian."


"Aku.."


Elle menceritakan semua yang di alaminya. Perlakuan ibu mertuanya, perlakuan kakak iparnya, dia yang secara tidak langsung menjadi tulang punggung utama di keluarga Dean, juga kekerasan fisik yang Dean lakukan padanya. Elle benar-benar menceritakan semuanya pada Elys.


Elys mendengarkan cerita Elle dengan berlinang air mata.


"Maaf kan mamah Ell, semua ini salah mamah. Seharusnya dulu mamah bersikeras untuk tidak menikahkan mu dengan Dean. Mamah benar-benar tidak menyangka kalau selama ini kau menjalani kehidupan rumah tangga yang begitu sulit. Mamah benar-benar menyesal atas keputusan yang mamah ambil waktu itu. Mamah benar-benar minta maaf."


Elle menggelengkan kepalanya, air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya. "Tidak mah, jangan meminta maaf. Ini bukan salah mamah. Mungkin aku memang sudah seharusnya menjalani takdir seperti ini."


Elys menarik Elle masuk ke dalam pelukannya.


"Menangislah hingga puas, hmm.. Mamah tau, hatimu pasti terasa sangat sakit. Tapi berjanji lah pada mamah, setelah ini, kau harus melupakan rasa sakitmu. Kau harus tersenyum, tunjukkan pada pria itu kalau kau mampu mendapatkan pria yang lebih baik dari pada dia. Ingat, pria tidak hanya ada dia seorang. Masih banyak pria yang lebih baik yang akan menjadikanmu sebagai seorang ratu."


Elle semakin terisak pilu, dia mere**mat pakaian bagian belakang yang di kenakan Elys. Gadis itu mencoba untuk menyalurkan segala rasa sakit yang di alaminya.


Tanpa mereka sadari, kalau Gavin sedari awal sudah mendengarkan percakapan mereka. Ingin sekali rasanya Gavin memeluk Elle dan menenangkan gadis itu.


Namun, Gavin menahan keinginannya karena saat ini Elle sudah berada di tangan yang tepat. Meskipun Gavin bisa menenangkan Elle dengan pelukannya. Tapi pelukannya akan kalah jauh jika di bandingkan dengan pelukan yang di berikan Elys.


Lagi pula, Gavin tidak menyangka kalau Dean dan keluarganya bersikap seperti itu pada Elle. Sungguh, Gavin benar-benar merasa marah pada Dean dan keluarganya.


Sepertinya setelah ini Gavin harus membantu Elle untuk membalaskan rasa sakitnya. Ah tidak, bukan bantuan, Gavin memang harus melakukan hal itu.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2