
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Aku benar-benar menembaknya? Aku benar-benar menghentikan mereka?"
Elle menatap pistol yang ada di genggamannya dengan pandangan takjub. Sungguh, dia tidak menyangka kalau dia berhasil membidik sasaran dengan tepat.
Ya meskipun dia sempat meleset pada tembakan pertama, tapi setidaknya dia bisa menembak dengan tepat sasaran pada tembakan kedua.
"Kau cukup ahli untuk seseorang yang belum pernah memegang senjata."
Gavin memelankan laju mobilnya, dia kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Meskipun Gavin berkata dengan nada suara yang terdengar sangat normal. Namun percayalah, sebenarnya Gavin merasa cukup takjub pada kelihaian Elle dalam menembak.
Terlebih lagi, seperti apa yang sempat gadis itu katakan, dia sama sekali belum pernah memegang senjata. Tapi hanya dalam dua kali percobaan, gadis itu mampu menembak sasaran dengan sangat tepat.
Apa kah ini yang di namakan dengan keadaan terdesak adalah guru paling baik dalam segala hal?
"Tapi, apa mereka akan baik-baik saja?"
"Apa kau tidak melihatnya tadi? Kau menembak ban mobil mereka hingga mobil mereka terguling. Aku tidak yakin kalau mereka akan baik-baik saja."
Elle terdiam untuk sejenak. "Apa itu sama dengan aku yang membunuh mereka?"
Gavin mengedikkan bahunya. "Sam yang akan memastikannya."
Gavin lantas menghubungi Sam melalui ponselnya.
Setelah menghubungi Sam, Gavin lantas melirik Elle yang tampak tegang.
"Tenanglah, kau tidak perlu khawatir. Kalau pun kau membunuh mereka, itu semua karena kau yang membela diri. Jika kau tidak membunuh mereka, maka bisa saja mereka yang membunuhmu."
"Tapi.."
"Cukup, berhenti memikirkan orang lain. Mulai sekarang, kau harus mulai belajar untuk memikirkan dirimu sendiri.
"Tapi kan tetap saja, aku telah membunuh orang. Ayolah Gavin.. Aku bukan sepertimu yang sudah terbiasa membunuh orang.."
Gavin menaikkan sebelah alisnya. Jujur saja, dia tidak tahu kalau selama ini Elle sudah tahu tentang hal itu. Gavin kira, Elle tidak tahu menahu tentang dirinya yang sering membunuh orang.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, melainkan karena sikap gadis itu yang selalu terlihat biasa saja ketika bersamanya.
Kalau sudah seperti ini, Gavin sepertinya harus mengakui keberanian yang di miliki Elle. Karena tidak semua orang bisa bersikap begitu normal ketika berhadapan dengannya, terlebih lagi saat mereka sudah mengetahui siapa Gavin sebenarnya.
Ah tapi, apa Elle bersikap begitu normal padanya karena sikap dia sendiri yang tidak mencerminkan seorang mafia?
"Jadi selama ini kau sudah mengetahuinya?"
Elle seketika saja memutar bola matanya. "Siapa yang tidak tahu? Hal itu sudah tersebar luas di seluruh penjuru Eropa. Hanya saja aku yang memang terlalu terlambat mengetahuinya."
"Apa kau tidak takut padaku?"
"Dengan sikapmu yang seperti itu? Oh.. Sungguh.. Terkadang aku selalu berpikir, apa kau benar-benar seorang ketua mafia? Dengan sikapmu yang seperti itu padaku, aku yakin, semua orang akan ragu kalau kau adalah seorang ketua mafia."
Aaah.. Jadi benar karena itu.. Tapi ya mau bagaimana lagi, jangankan Elle. Gavin saja terkadang sering bertanya-tanya pada sikapnya sendiri ketika dia bersama Elle.
Ah tidak, lebih tepatnya Gavin sering merasa heran pada sikapnya. Gavin tidak tahu, kenapa dia bisa bersikap seperti itu ketika bersama Elle.
Apa bisa di katakan kalau itu sikap refleksnya saja? Ya, katakan lah seperti itu. Gavin tidak tahu alasan pastinya. Yang jelas, Gavin akan menjadi orang yang berbeda ketika bersama dengan Elle.
Tapi kan dia bersikap aneh seperti itu hanya ketika bersama dengan Elle saja. Apa Elle tidak pernah memperhatikan sikapnya ketika bersama dengan orang lain?
"Jadi, aku harus seperti apa? Bukan kah aku sudah cukup bersikap seperti seorang ketua mafia? Kau tidak lihat? Bahkan tampangku cukup meyakinkan."
See? Sebenarnya Gavin bisa saja tidak menanggapi Elle atau memberikan tanggapan dengan perkataan singkat seperti apa yang selalu dia lakukan kepada orang lain.
Gavin terkadang merasa seperti, Elle seolah memiliki seuatu yang membuat Gavin menjadi luluh. Atau, apa kah Elle memang benar-benar memiliki sesuatu? Guna-guna, atau ilmu hitam mungkin?
Oh astaga, Gavin merass bodoh karena sudah memikirkan hal konyol seperti itu.
"Tcih!" Elle memalingkan wajahnya, dia merasa sedikit bergidik ngeri melihat Gavin yang senyum senyum sendiri. "Kau bahkan masih bisa merasa sangat percaya diri seperti itu setelah bersikap sangat aneh."
Gavin hanya bisa terkekeh kecil, dia pun memfokuskan dirinya untuk mengemudikan mobilnya.
Keheningan terjadi untuk beberapa saat. Sekilas, Elle melirik Gavin yang tampak sangat fokus mengemudi. Gadis itu lantas menghela nafasnya untuk sejenak.
Jujur saja, awalnya Elle merasa cukup takut untuk menghadapi Gavin. Terlebih lagi, Gavin memang memiliki wajah yang cukup garang.
Tapi, setelah Gavin selalu bersikap aneh padanya. Rasa takutnya pada Gavin tiba-tiba saja menghilang. Bahkan Elle kini justru selalu merasa kesal pada Gavin.
Ya walau pun terkadang Elle masih merasa takut untuk menghadapi Gavin ketika pria itu sedang dalam mode marah atau pun seriusnya, namun Elle tetap saja sering merasa kesal padanya.
Ayolah.. Lagi pula, siapa juga yang tidak akan kesal jika di goda terus menerus. Bahkan pria itu menggodanya di hampir setiap menitnya.
__ADS_1
Terkadang Elle merasa heran, kenapa pria itu selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu? Padahal, di setiap harinya, selama mereka bertemu, Gavin hampir menghabiskan seluruh waktunya untuk menggoda Elle.
Apa jangan-jangan, pria itu diam-diam memiliki makhluk astral yang bisa mengerjakan seluruh pekerjaannya?
Pikiran konyol itu tiba-tiba saja terlintas di benak Elle.
"Apa kau sedang mengagumi wajah tampan ku?"
"Ha? Ya?"
Elle seketika saja merasa salah tingkah karena kedapatan memperhatikan wajah Gavin dalam waktu yang cukup lama.
"Sepertinya kau benar-benar mengagumi wajah tampan ku."
"Aku tidak! Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin bertanya, kapan kita sampai? Kenapa sedari tadi kita hanya terus berputar-putar?"
"Kau menyadarinya?"
"Jadi sedari tadi kau sengaja membawaku berkemudi dalam waktu yang lama?"
Gavin mengangkat bahunya acuh. "Aku cukup merindukanmu karena hari ini kau tidak berangkat untuk bekerja."
"Astagaaa.. Alasan konyol apa itu! Cepatlah.. Aku lelah, Gavin.."
"Baiklah-baiklah.. Aku akan membawamu pulang sekarang."
...-TBC-...
CUAP-CUAP SEBENTAR..!!
Btw wakk.. Mon maaf ya sensi baru update.. Ini kan cuacanya lagi ga menentu kan ya, jadi badan sensi agak meriang gitu. Sebenernya sensi kemaren tu pengen banget update, tapi liat hp tu ga tau kenapa kepala sensi rasanya jadi tuing tuing gitu..
Ini juga sensi updatenya ga bisa panjang panjang, sensi masih agak pusing soalnya. Mon maaf juga kalo ceritanya agak ngawur, pokoknya sekali lagi sensi mon maaf ya karena baru bisa update..
*****
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..