
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Mon maap karena baru bisa update.. Sensi baru aja pulang dari mudik, jadi baru punya waktu buat update.. Pokoknya, sok di baca aja lah ya..
.......
.......
.......
"Siapa yang mengundang mereka untuk datang kesini?"
Hannah sekali lagi bertanya pada setiap orang yang ada di sana.
"Mami yang mengundang mereka untuk datang."
Semua orang langsung tertuju pada seorang wanita tua yang baru saja keluar dari dalam elevator.
Dia adalah Mareta Jaliandro, nenek tertua keluarga Jaliandro. Atau singkatnya, wanita tua itu adalah ibu kandung ayah Gavin.
Meskipun usia wanita itu sudah memasuki angka 80, namun wanita tua itu masih tampak segar bugar. Hanya saja, wajahnya sudah memiliki keriput di beberapa bagian. Namun, hal itu bukan lah suatu penghalang untuk penampilannya. Dia masih tampak seperti wanita yang baru berusia 50an.
"Tcih!"
Hannah memalingkan wajahnya, dia lupa kalau 2 wanita berbeda usia yang baru datang merupakan kesayangan ibu mertuanya.
Hannah hingga sekarang masih meras heran, ilmu apa yang di miliki oleh kedua wanita itu sampai-sampai ibu mertuanya begitu menyayangi mereka.
Ketahuilah, mereka bukan lah salah satu bagian dari keluarga Jaliandro. Hannah lupa, entah sejak kapan 2 wanita itu masuk menjadi bagian dari mereka. Hannah juga lupa, entah karena kejadian apa sehingga mereka bisa dengan leluasa keluar masuk ke dalam kediaman Jaliandro.
"Selamat malam semuanya.."
Wanita yang lebih tua menyapa semua orang yang ada dengan gaya genitnya.
Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang menanggapi wanita itu. Ketahuilah, tidak ada satu pun dari mereka yang menyukai 2 wanita itu.
Hanya saja, mereka memilih untuk tidak peduli karena Mareta begitu menyukai kedua wanita itu.
"Selamat datang Siera, Alina.. Sudah lama kita tidak bertemu."
Mareta menyapa kedua wnita itu.
Wanita yang lebih tua (Siera), lantas menghampiri Mareta. Dia memeluk Mareta sekilas kemudian bercipika cipiki dengannya.
"Selamat malam mami.. Aku begitu merindukan mami.."
"Benar oma, kami sangat merindukan oma.."
__ADS_1
Wanita yang lebih muda (Alina) maju untuk memeluk Mareta.
"Mami juga sngat merindukan kalian. Mari, bergabunglah bersama kami."
Mareta menggiring 2 wanita berbeda usia itu untuk bergabung dengan yang lainnya.
Mereka yang ada di sana hanya memberikan reaksi acuh tak acuh seolah Siera dan Alena bukan lah orang penting yang harus mereka sambut.
Mareta menatap satu persatu orang yang ada di sana. Wanita tua itu mengernyitkan dahinya saat tidak melihat kepala keluarga utama di rumah itu.
"Di mana Gevian (Ayah Gavin)?"
"Dia sedang dalam perjalanan kemari. Ada urusan mendadak yang tiba-tiba harus dia tangani." Hannah menjawab cepat.
Mareta mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sepertinya ada anggota baru di sini. Gavin, tidak kah kau ingin mengenalkannya pada aunty?"
Siera menatap Amy sekilas, netranya lantas tertuju pada Elle yang sedari tadi hanya duduk diam di samping Gavin. Netranya menatap Elle dengan sangat lekat-lekat. Wanita itu secara terang-terangan menatap Elle dengan tatapan tidak suka.
Lantas, apa hal itu mempengaruhi Elle? Jawabannya tentu saja tidak. Sebelum Siera dan Alena duduk bergabung bersama mereka. Gavin sudah lebih dulu memberi tahu Elle untuk tidak terlalu peduli pada dua wanita itu.
Selain karena mereka berdua bukan salah satu bagian dari keluarga Jaliandro, mereka juga bukan seseorang yang berasal dari keluarga terpandang yang harus di hormati.
Katakanlah 2 wanita itu merupakan orang rendahan yang tiba-tiba saja menjadi benalu bagi keluarga Jaliandro. Yang anehnya, Mareta justru menyukai 2 wanita gila itu.
"Kalau pun aku mengenalkannya padamu, itu tidak akan berpengaruh apa pun. Kau bukan bagian dari keluarga ini, aku tidak wajib memperkenalkannya padamu."
Tapi hal itu tidak membuat Gavin merasa takut atau pun segan, pria itu hanya mengangkat bahunya acuh.
"Aku hanya membeberkan fakta yang sebenarnya."
Semua orang yang ada di sana seketika saja menahan tawa mereka. Lagi pula, siapa suruh 2 wanita itu harus datang kesini. Ah, mereka lupa, Siera dan Alina merupakan seseorang bermuka tebal yang tidak akan pernah merasa malu walau pun sudah di permalukan sedemikian rupa.
"Gavin, kenapa kau berbicara seperti itu? Apa kau lupa kalau oma ingin kita menjalin hubungan yang baik."
Benar kan.. Meskipun Gavin sudah memberikan penolakan secara terang-terangan, gadis itu dengan percaya dirinya masih saja mengobral dirinya pada Gavin.
Sungguh, Gavin benar-benar risih pada gadis itu. Ayolah.. Meskipun Gavin sering bergonta-ganti wanita, bukan berarti Gavin mau dengan gadis yang modelan seperti itu. Bisa di katakan, Gavin memiliki selera yang sangat tinggi dalam hal memilih seorang gadis.
"Benar Gavin.. Aunty harap, kau bisa menjalin hubungan yang baik dengan Alina. Apa kau tidak lihat? Alina sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga pintar, tidak seperti.."
"Bukan kah seharusnya kita berkumpul untuk membahas acara pertunangan ku? Kenapa kalian justru mengurusi urusan kalian?"
Patricia menatap Siera dan Alina dengan sangat sinis. Sungguh, dirinya benar-benar merasa risih pada kedua orang itu. Karena setiap mereka datang, mereka selalu saja ingin menjadi pusat perhatian.
"Ah ya, maafkan aunty.."
Siera menatap semua orang yang ada di sana dengan tidak enak hati. Tapi percayalah, jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa kesal karena semua orang menunjukkan rasa tidak sukanya kepadanya secara terang-terangan.
"Gavin?"
__ADS_1
Elle menyenggol lengan Gavin.
"Hm?"
"Kenapa mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi?"
Elle berbisik sepelan mungkin pada Gavin. Netranya bergulir kesana kemari untuk memastikan kalau tidak ada satu pun yang mendengar perkataanya.
"Itu belum seberapa babby.. Setelah ini kau akan melihat hal yang lebih parah lagi."
Gavin membalas bisikan Elle dengan tak kalah pelannya.
"Lantas, apa hubungan mereka dengan keluarga ini?"
"Kau bisa menganggap mereka sebagai benalu di keluarga ini."
"Benalu?" Elle mengernyitkan dahinya.
"Aku akan menceritakannya secara lebih detail setelah acara pertemuan ini berakhir."
"Okay.."
Elle lantas kembali menegakkan tubuhnya.
"Apa kita bisa mulai membahas acara pertunangan Patricia?"
Hannah menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan tajamnya. Dia kini mulai merasa jengah karena situasi buruk ini. Hannah benar-benar ingin segera mengakhiri pertemuan ini sebelum situasinya semakin memburuk.
"Dari mana kita harus memulai?"
Hudo (ayah Patricia) yang sedari tadi diam kini mulai angkat bicara.
Hannah menghela nafasnya untuk sejenak. "Mari kita tentukan tanggalnya terlebih dahulu. Apa kau sudah membicarakan tanggalnya dengan calon suami mu?"
Patricia menganggukkan kepalanya. "Sudah aunty, kita sepakat untuk melakukannya di tanggal 15 bulan depan."
Mereka pun kini mulai membahas apa yang seharusnya mereka bahas. Mereka terus membahas acara pertunangan Patricia hingga tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat.
Sampai pada satu ketika, mereka semua yang ada di sana menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar suara langkah kaki yang begitu tegas nan nerwibawa.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..