
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Elle menghela nafasnya untuk sejenak, dia berusaha untuk mengontrol emosinya. Wanita itu lantas kembali duduk di sofa dengan caranya yang amat sangat anggun.
Elle menatap Risa dengan caranya yang begitu pongah.
"Kau berani membicarakan tentang kewajiban dalam bertanggung jawab denganku? Kau bahkan berani berbicara tentang kehendak Tuhan. Seharusnya kau berpikir dengan matang sebelum kau mengatakan hal itu padaku.. Bukan aku yang memulai.. Tapi kau yang lebih dulu memintaku untuk membahas hal ini."
Risa mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Elle.
Sedangkan Tamara dan Haris, mereka terlihat sedikit tegang dalam menanti apa yang akan di katakan oleh Elle selanjutnya.
"Dengarkan aku baik-baik Risa.. Apa kau benar-benar tidak tahu apa itu arti kewajiban dan tanggung jawab dalam sebuah keluarga?"
Elle menyunggingkan senyum kecilnya melihat raut wajah Risa yang sedikit kebingungan.
"Kewajiban dalam mengurusi sandang, pangan dan papan adalah tanggung jawab keluarga itu sendiri. Kau mengatakan kalau aku bagian keluarga ini? Ya, aku memang bagian dari keluarga ini. Tapi, tidak kah kau bisa membedakan mana hubungan keluarga dan mana hubungan rumah tangga? Tidak bisa kah kau membedakan yang mana kewajiban dan yang mana tanggung jawab?"
Elle menghela nafasnya untuk sejenak.
"Entah itu mengurus sandang, pangan maupun papan untuk kehidupan rumah tanggamu. Itu adalah tanggung jawab rumah tangga mu sendiri. Ah tidak, itu adalah kewajibanmu sebagai seorang istri, itu adalah tanggung jawabmu sebagai ibu rumah tangga."
"Apa kah pantas aku mencucikan pakian juga pakaian dalam milikmu dan milik suamimu? Apa kah kau tidak pernah di ajarkan kalau itu adalah hal yang tidak pantas untuk aku lakukan?" Elle melirik Tamara sekilas, dia menyunggingkan senyum kecilnya saat wanita yang berstatus sebagai ibu mertunya itu memalingkan wajahnya.
"Apa kah kau tidak pernah berpikir kalau itu adalah kewajibanmu sendiri? Sekali pun itu adalah milik Miguel yang notabenenya adalah anak kecil.. Itu tetap merupakan kewajibanmu dalam bertanggung jawab untuk mengurusnya. Kau tidak sepantasnya memintaku untuk mencucikan pakaian milikmu dan milik anak juga suamimu. Terlebih lagi, pakaian dalam."
"Lalu, kau dengan se enak jidatmu mengatakan kalau rumah tanggaku berantakan? Tidak kah kau ingat? Satu tahun yang lalu, aku yang membantumu untuk rujuk dengan suamimu yang melakukan perselingkuhan itu. Bahkan aku yang membiayai seluruh prosesnya."
Elle kembali menyunggingkan senyum kecilnya melihat raut wajah Haris yang tiba-tiba saja tegang.
"Dan apa tadi? Kau dengan entengnya mengatakan kalau Tuhan tidak akan pernah memberiku seorang keturunan?" Elle menaikkan sebelah alisnya.
Jika tadi Haris, kini raut wajah Risa yang berubah menjadi tegang setelah mendengar apa yang di katakan Elle.
Tapi, Elle merasa tidak puas hanya dengan membuat raut wajah Risa menjadi tegang. Elle ingin membuat Risa benar-benar menyadari kesalahannya dalam mengatakan suatu hal.
__ADS_1
"Seharusnya kau berpikir sebelum kau mengatakan tentang kehendak Tuhan dalam memberikan keturunan.. Seharusnya kau sadar kalau kau juga.."
"Sudah cukup Elle!! Hentikan semua kalimat yang akan kau katakan.."
Elle seketika saja menoleh pada Dean yang baru saja datang dan langsung memotong perkataannya.
"Hentikan semuanya.. Aku sudah mendengar semuanya.. Tidak kah kau melihat? Mereka sudah terdiam membisu setelah mendengar apa yang kau katakan."
"Lantas, apa selama ini mereka juga tidak sadar kalau mereka sudah menyakitiku? Mereka bahkan sudah menginjak-nginjak harga diriku!! Kau pun sama dengan mereka!! Tidak sadar kah kau selama ini juga sudah menyakitiku?? Kau tidak pernah pulang ke rumah. Kau tidak pernah menganggapku sebagai istrimu!!"
"Setelah berhari-hari tidak pulang ke rumah, kau masih berani memintaku untuk tidak membalas kesakitan yang aku rasakan??!!"
"Kalian semua sama saja, tidak ada yang bisa menghargaiku!! Kakak perempuan mu bahkan menyumpahiku dengan berkata kalau Tuhan tidak akan pernah memberikanku keturunan!! Tidak sadarkah dia kalau hingga saat ini dia juga belum memiliki keturunan!! Tidak sadarkah dia kalau miguel bukanlah anak yang keluar dari rahimnya sendiri!! Tidak sadarkah dia kalau hingga saat ini Tuhan belum juga mengkehendakinya seorang ketu.."
Plaaakkk!!!
Semua orang seketika saja terfokus pada Dean.
Pria itu terlihat sangat emosi, kedua bola matanya membulat dengan sempurna, rahangnya bergemelutuk seolah ingin memakan Elle hidup-hidup pada saat ini juga. Kedua tangannya tergenggam dengan erat seolah ingin kembali melayangkan tamparan pada Elle.
Tidak ada satu orang pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Mereka hanya bisa terdiam seraya menatap Dean dengan di penuhi ketegangan.
Tapi pengecualian untuk Elle.
Sakit, sungguh sakit.. Tamparan yang kali ini di layangkan oleh Dean bahkan lebih sakit jika di bandingkan dengan tamparan yang pertama.
Tapi, bukan itu yang menjadi poin utama rasa sakitnya.
Hatinya lah yang jauh lebih sakit. Amat sangat sakit.. Tidak ada kesakitan dalam hal apa pun yang bisa mendeskripsikan rasa sakit di hatinya.
Bahkan, rasa sakit akibat ribuan jarum yang menusuk tubuh pun masih kalah jauh jika di bandingkan dengan rasa sakit di hatinya saat ini.
"Huffhh.." Elle menghela nafasnya untuk sejenak.
Elle lantas menatap Dean dengan tatapan datarnya. Tidak ada perasaan apa pun yang tersorot di matanya.
"Bersiaplah.. Aku akan mengajukan surat perceraian kita ke pengadilan agama. Kau tidak perlu mengeluarkan biaya. Cukup aku saja yang mengurus semuanya. Aku lebih dari mampu hanya untuk sekedar membayar seluruh biaya perceraian kita."
Suara Elle terdengar sedikit bergetar, dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengeluarkan air matanya. Elle berusaha sebaik mungkin agar tangisannya tidak pecah saat itu juga.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu tanggapan apa pun, Elle berlalu pergi dari sana dengan begitu saja.
Cukup sudah, Elle tidak lagi mampu untuk menahan semuanya.
Sudah cukup dua kali untuk Dean menyakitinya secara fisik. Tidak ada lagi yang ketiga, ke empat atau pun seterusnya karena Elle akan mengakhiri semuanya sampai di sini saja. Jika Elle tetap dengan keteguhannya untuk terus bertahan, kemungkinannya sangat kecil untuk Dean tidak kembali menyakitinya secata fisik.
Elle menarik kembali ucapannya tentang dia yang akan membalasnya dengan serangan fisik juga. Karena pada kenyataannya, Elle benar-benar tidak mampu untuk melakukan hal itu.
Yang Elle bisa lakukan hanyalah membalasnya dengan perpisahan. Perpisahan yang bahkan mungkin akan membuat Dean merasa bebas dan juga senang.
Seolah tersadar akan kesalahannya selama ini, Tamara segera menyadarkan Dean yang masih di liputi emosinya.
"Sadar Dean!!" Tamara mengguncangkan tubuh Dean.
"Dean, sadar!! Kenapa kau hanya diam!! Kejar istrimu!! Hentikan dia!!"
"Dean!!" Tamara kini menampar pipi Dean dengan cukup keras.
Hal itu berhasil membuat Dean tersadar.
"Kejar istrimu!! Cegah dia untuk memasukkan berkas perceraian!!"
Tanpa berkata apa pun lagi, Dean segera menyusul langkah Elle.
Namun.. Terlambat..
Elle sudah lebih dulu meninggalan rumah dengan mengendarai mobilnya.
"Bodoh!!!" Dean mengusap wajahnya dengan kasar.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..