Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Apa Salahnya?


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Elle menatap Gavin dengan dahi yang mengernyit bingung saat Gavin tiba-tiba saja berbaring di sampingnya.


"Gavin."


"Hm?"


Gavin menoleh pada Elle.


"bukan kah seharusnya kau tidur di sana."


Elle menunjuk kasur lain yang ada di kamar Gavin.


Sebenarnya, kasur itu tidak seharusnya berada di kamar Gavin. Sebelum mereka tiba di San Marino, Gavin meminta orang untuk meletakkan kasur itu untuk Elle.


Tapi, setelah apa yang terjadi tadi malam, sepertinya kasur itu tidak berguna.


"Ayolah.. Kita bahkan sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar tidur bersama."


"Tapi..."


"Tapi?" Gavin menaikkan sebelah alisnya.


Elle mengerjapkan matanya, ddia berusaha untuk tidak menelan salivanya. Sungguh, dia merasa sangat gugup mendapatkan tatapan intens dari Gavin. Terlebih lagi, Gavin baru saja mengungkit apa yang mereka lakukan tadi malam, membuat Elle merasa semakin gugup.


Katakan lah otak Elle benar-benar kotor, karena hanya dengan sepenggal kalimat yang di katakan Gavin. Membuat Elle dapat membayangkan seluruh hal yang mereka lakukan tadi malam.


Oh sungguh.. Wajah Elle tiba-tiba saja terasa sangat panas. Elle lantas memalingkan wajahnya, dia berusaha untuk menghindari tatapan Gavin.


Sebenarnya, Elle tidak keberatan kalau Gavin memang ingin tidur di sampingnya. Hanya saja, Elle masih merasa sangat canggung untuk berdekatan dengan Gavin.


"Sudahlah.. Terserah kau saja."


Elle pun memilih untuk membaringkan tubuhnya tanpa melihat ke arah Gavin.


Percayalah, Elle sedang berusaha untuk menetralkan pikirannya yang terus saja membayangkan hal panas yang mereka lakukan tadi malam.


Tanpa Elle sadari, kalau Gavin perlahan beringsut mendekatinya.


Hingga..


"Ga, Gavin.. Apa yang kau lakukan?"


Elle benar-benar merasa sangat terkejut karena Gavin tiba-tiba saja mengungkungnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat Gavin menyunggingkan senyum simpulnya.


"Harus kah kita mengulangi apa yang kita lakukan tadi malam agar kau tidak lagi merasa canggung saat di dekatku?"


Nada suara Gavin terdengar sangat serius. Tapi ketahuilah, Gavin hanya mencoba untuk menggoda Elle. Gavin bukan pria kejam yang akan terus menggempur Elle di saat Elle masih belum baik-baik saja. Ingat, Elle berbeda dari perempuan lain yang pernah dia temui.


Mungkin, kalau itu perempuan lain, Gavin tidak akan peduli. Dia akan terus menggempur perempuan itu hingga Gavin merasa sangat puas. Toh, Gavin juga tidak akan memakai perempuan itu di hari esok atau lusa bahkan untuk seterusnya.


Lagi pula, Gavin juga membayar mereka. Jadi, untuk apa Gavin merasa kasihan?


"What?!" Kedua bola mata Elle membulat dengan sempurna. "Kau gila? Aku bahkan masih merasa sakit, dan kau justru ingin mengulanginya? Apa kau ingin merobeknya? Aku pun merasa lelah karena terus menerus memilih pakaian. Tidak bisa kah kau menunggu hingga aku sudah tidak lagi merasa saa..kit.."

__ADS_1


Suara Elle melemah di akhir kalimat. Sungguh, dia baru menyadari kebodohannya yang dengan entengnya mengatakan hal itu.


Elle pun memalingkan wajahnya, dia tiba-tiba saja merasa sangat malu karena dia merasa seolah menjadi perempuan murahan yang sedang menjajakan tubuhnya.


Tapi percayalah, apa yang di katakan Elle justru mampu membuat senyum manis tersungging di bibir Gavin. Karena Gavin menganggap kalau Elle sudah menerima dirinya melalui apa yang baru saja di katakan oleh Elle.


Gavin benar-benar tidak menyangka kalau gurauannya akan membuahkan hasil yang sangat di harapkannya.


"Jadi, kau mau melakukannya lagi dengan ku?"


"Tidak, lupakan, anggap saja aku hanya sedang mengigau." Lirih Elle.


Gavin mengernyitkan dahinya, dia merasa heran pada suata Elle yang terdengar sedikit bergetar seperti sedang menahan tangis.


Gavin lantas melepaskan Elle dari kungkungannya kemudian membaringkan tubuhnya di samping Elle. Dia memilih untuk berhenti menggoda Elle. Karena Gavin pikir, sepertinya ada yang salah dari Elle


"Are you okay, babby?"


"Aku.. Aku baik-baik saja."


"Hey, kemarilah."


Gavin pun menarik Elle untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Apa ada sesuatu yang salah? Katakan padaku."


Elle menggelengkan kepalanya. "Aku tidak.. Aku hanya.. Apa aku terkesan seperti seorang perempuan murahan?"


Gavin mengernyitkan dahinya. "Lihat aku."


Elle pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Gavin.


"Kenapa kau bisa perpikir seperti itu, hmm?"


Elle sedikit mencebikkan bibirnya, dia berusaha untuk menahan isakannya.


"Aku hanya.. Kau tahu, aku seorang perempuan yang sudah bersuami. Tapi.. Tapi aku justru mau tidur dengan mu dengan sangat mudahnya. Aku bahkan meminta mu untuk menunggu di lain hari. Aku sudah menghianati suami ku. Aku merasa seperti.."


"Sudah cukup, jangan di teruskan."


Gavin menghapus buliran bening yang keluar dari mata Elle dengan sangat lembut seolah takut kalau jari jemarinya akan melukai kulit wajah Elle yang begitu halus.


"Jangan berpikiran seperti itu. Aku yang lebih dulu memulai. Lagi pula, suami mu tidak lebih baik dari mu. Apa kah kau lupa? Dia yang lebih dulu menghianati mu. Untuk apa kau merasa bersalah, hmm? Anggap saja kau sedang membalas apa yang sudah di lakukan suamimu."


"Kalau begitu, lantas apa bedanya aku dengan dia? Bukan kah itu berarti aku sama berengseknya dengan dia?"


Gavin mengedikkan bahunya. "Apa salahnya? Sesekali, kau juga harus menjadi orang yang berengsek, jangan hanya menjadi orang yang di sakiti. Kau juga perlu membalas apa yang sudah dia lakukan padamu. Toh, kau juga sudah mengajukan gugatan perceraian. Tidak ada salahnya melakukan apa yang memang ingin kau lakukan."


Elle tidak lagi menangis, dia kini menatap Gavin dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.


Gavin tentu saja merasa sangat bingung. Apa kah ada yang salah dengan apa yang dia katakan? Gavin juga merasa sangat heran, kenapa dia sulit sekali untuk membaca apa yang ada di pikiran Elle.


"Why? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Aku tiba-tiba saja merasa sangat takut padamu."


Gavin mengernyitkan dahinya. "Takut?"


Elle mengangguk dengan mantap. "Kau terlalu pandai merayu."

__ADS_1


Gavin seketika saja tertawa renyah, benar-benar tertawa hingga membuat Elle merasa terpukau.


Selama Elle mengenal Gavin, ini kali pertama untuk Elle melihat Gavin tertawa dengan begitu lepas seperti ini.


"Seharusnya kau senang karena aku bisa merayu mu. Bukan hanya memaki atau bahkan mengacuhkan mu."


Alih-alih menjawab, Elle justru mengajukan pertanyaan lain. "Kau juga bisa tertawa?"


Elle menatap Gavin dengan kedua matanya yang hampir tidak berkedip. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap ketampanan yang Gavin miliki. Sungguh, Gavin benar-benar berkali-kali lipat lebih tampan saat tertawa.


"Kenapa? Apa kau terpukau? Atau merasa kagum? Aku tahu, aku memang tampan. Tapi, bisa kah kau berkedip? Aku takut matamu akan terasa pedih."


"Tcih!"


Elle memalingkan wajahnya, sia-sia saja dia merasa kagum. Elle lupa kalau Gavin memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu besar.


Tapi tidak dapat di pungkiri, Gavin memang memiliki wajah yang sangat tampan.


"Sudahlah, aku mengantuk."


Elle hendak beringsut untuk menjauh dari Gavin.


Namun, Gavin menahannya dengan memeluk Elle.


"Kau bisa menggunakan lenganku untuk bantal tidurmu."


"Tapi.."


"Tidak ada kata tapi. Hanya, tidur saja. Bukan kah posisi ini lebih nyaman?"


Elle terdiam, dia tidak bisa berbohong kalau posisi ini tidak nyaman. Sungguh, selama dia hidup, baru kali ini Elle tidur dalam pelukan seorang pria. Dan itu memang benar-benar terasa sangat nyaman.


"Terserah kau saja."


Elle berusaha untuk menyamankan posisi tidurnya.


Gavin menyunggingkan senyum kecilnya, dia merasa sangat gemas pada sikap Elle yang malu-malu tapi mau.


"Tidurlah.."


"Hmm.."


"Good night babby.."


Gavin mengecup kening Elle untuk sejenak.


"Good night Gavin."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2