Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Keluarga Besar


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


WARNING!!


Sekedar pemberitahuan, untuk hari minggu sama hari senin, kayaknya sensi ga bisa update soalnya sensi ada perjalanan ke luar kota. Terima kasih...


.......


.......


.......


"Ck! Bukan kah ini sama saja dengan aku yang hanya pergi berdua dengannya?"


"Apa gunanya aku membawa Amy jika pada akhirnya Amy menjadi teman untuk Sam?"


Elle terus saja menggerutu seraya berjalan mondar mandir di depan cermin besar yang terletak di dalam kamar mandi. Gadis itu melakukan hal itu sudah sejak 10 menit yang lalu.


Sungguh, Elle benar-benar merasa kesal saat mengetahui kalau untuk kedepannya hingga mereka kembali ke italia, Amy akan menjadi teman untuk Sam.


Dia, yang tadinya hendak mengajak Amy untuk berkeliling San Marino, harus mengurungkan niatnya karena Amy sudah lebih dulu pergi bersama dengan Sam.


Kesal? Sudah pasti. Dia menggerutu dengan sangat panjang lebar pada Gavin mengenai hal itu.


Tapi apa jawaban Gavin? Pria itu berkata "aku mengijinkanmu untuk membawa Amy bersama kita. Tapi bukan berarti aku mengijinkan Amy untuk selalu ada di antara kita. Kesepakatan, tetaplah kesepakatan."


Aaah... Kepala Elle rasanya hampir pecah karena memikirkan hal ini. Elle lupa kalau Gavin adalah pria dengan segala akal licik yang selalu tersusun rapi di otaknya.


Salah dia sendiri juga sih yang tidak berpikir dua kali sebelum melakukan kesepakatan dengan Gavin. Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi yang bisa Elle lakukan selain pasrah.


Ah, sudahlah..


"Ell.."


Suara Gavin mengejutkan Elle yang masih saja berjalan mondar mandir, gadis itu menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah pintu kamar mandi.


"Hah? Ya?"


"Berapa lama waktu yang masih kau butuhkan?"


"Aku sudah selesai.."


"Baiklah.. Aku tunggu di bawah, mommy sudah menunggu kedatangan kita."


"Aku akan turun dalam waktu 15 menit."

__ADS_1


"Hmm."


Setelah memastikan kalau Gavin benar-benar pergi dari sana, Elle pun segera keluar dari kamar mandi. Dia segera bersiap untuk memenuhi undangan makan malam dari mommy Gavin.


Mungkin, kalau Gavin yang mengajaknya makan malam, Elle tidak akan peduli kalau Gavin menunggunya dalam waktu yang lama.


Lain hal nya kalau mommy Gavin yang mengundangnya makan malam. Elle tidak ingin membuat wanita itu menunggu terlalu lama.


Anggap saja demi menjaga image baiknya di depan calon mertuanya.


Eh, tunggu.. Calon mertua? Elle seketika saja menepuk dahinya.


Apa yang merasukinya? Bisa-bisanya dia berpikirkan seperti itu.


Ah sudahlah, lebih baik dia segera bersiap sebelum mommy Gavin menunggunya terlalu lama.


.......


.......


.......


Kediaman keluarga besar Jaliandro..


Elle meremat tangannya saat semua mata tertuju padanya.


Bagaimana tidak? Saat ini, tidak hanya satu atau dua pasang mata yang tertuju padanya. Bayangkan saja betapa gugupnya Elle saat hampir seluruh keluarga Gavin menatap ke arahnya.


"Khem!" Gavin mencoba untuk memecah keheningan itu.


Hal itu mampu membuat semua orang memalingkan tatapannya dari Elle, kecuali Hannah. Dia masih setia menatap Elle yang terlihat begitu gugup.


Entahlah, Hannah hanya merasa gemas pada tingkah Elle yang begitu berbeda dari saat dia bertemu dengan Elle pada waktu itu.


Saat ini, Elle terlihat begitu menggemaskan dengan tingkah gugupnya. Gadis itu tampak seperti gadis remaja yang tengah di introgasi karena ketahuan berpacaran.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?"


Jujur saja, lambat laun Gavin merasa jengah karena semua orang menciptakan suasana canggung ini.


"Tenanglah Gavin, mommy yang mengundang mereka semua. Bukan kah mommy sudah bilang padamu kalau kita akan mengadakan makan malam keluarga untuk membahas acara pertunangan Patricia."


Seorang gadis yang duduk di sudut ruangan menganggukkan kepalanya. "Tadinya kita berniat membahas hal ini besok lusa. Tapi aku terlalu tidak sabar jika harus menunggu sampai besok lusa. Maka dari itu aunty Hannah memutuskan untuk membahasnya malam ini. Bukan kah lebih cepat justru lebih baik? Toh semua orang juga sudah berkumpul di sini."


"Ya, siapa tau kita bisa sekalian membahas pernikahanmu. Bukan kah kau sudah membawa seorang gadis bersamamu?" Timpal seorang wanita paruh baya bernama Bernadita yang duduk di samping Patricia. Yang di mana wanita itu merupakan ibu Patricia. Wanita yang terkenal dengan mulut tajamnya.


Hannah hendak membuka mulutnya untuk membalas ucapan Bernadita, namun..


"Perlukah aku menjahit mulutmu, aunty?" Gavin menaikkan sebelah alisnya, dia menatap Bernadita dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Hannah seketika saja menahan tawanya, dia merasa puas karena Gavin sudah membuat Bernadita menutup mulutnya rapat-rapat.


Sungguh, Hannah sangat menyukai saat-saat di mana Gavin menutup mulut siapa saja yang berani menentangnya. Itu lah kenapa Hannah sangat menantikan di mana Gavin hadir di setiap acara pertemuan keluarga.


"Tcih!" Bernadita menyunggingkan senyum tipisnya. Meskipun dia sudah terbiasa dengan ketidaksopanan Gavin, namun tetap saja dia masih merasa sedikit kesal.


Tapi mau bagaimana pun, nyalinya tidak sebesar itu untuk melawan Gavin.


"Maaf kan aku, aku terlambat. Perjalananku terhambat karena arus yang cukup padat."


Semua orang seketika saja menoleh pada Sam yang baru saja datang bersama Amy.


Tidak hanya satu atau dua orang yang mengernyitkan dahi. Mereka cukup terkejut karena dua pria yang terkenal dengan ke casanovaannya tiba-tiba saja membawa seorang gadis untuk datang ke acara pertemuan keluarga besar.


Ketahuilah, selama ini, baik Gavin mau pun Sam. Mereka belum pernah membawa seorang gadis barang satu kali pun. Maka tidak heran jika mereka semua merasa terkejut saat melihat Gavin dan Sam yang tiba-tiba saja membawa seorang gadis ke hadapan seluruh keluarga besar. Terlebih lagi, mereka membawa gadis dalam waktu yang bersamaan.


Apa jangan-jangan nanti mereka juga akan menikah dalam waktu yang sama?


Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di benak mereka.


Tapi, entahlah.. Hanya Gavin dan Sam yang akan menentukan apa yang terjadi kedepannya.


"Sebelum membahas apa yang akan kita bahas, sebaiknya Gavin dan Sam memperkenalkan gadis yang mereka bawa. Tidak baik kalau hanya datang tampa memperkenalkan diri."


"Ah ya, aku hampir lupa akan hal itu." Sam mengusap tengkuknya.


Sam lantas mewakilkan Gavin untuk memperkenalkan Elle dan Amy. Karena jika menunggu inisiatif dari Gavin, sampai ajal menjemput pun pria itu tidak akan mau membuka suaranya.


Karena menurutnya, untuk apa dia memperkenalkan seseorang. Tanpa harus di perkenalkan pun, lambat laun mereka akan mengenalnya dengan sendirinya.


"Tunggu dulu, siapa yang mengundang mereka?"


Semua orang seketika saja menatap ke arah pandang Hannah. Di mana di sana ada 2 orang perempuan berbeda usia yang tengah berjalan ke arah mereka berkumpul.


"Persiapkan kata-kata manismu. Aku yakin, emosimu akan bergejolak saat menghadapi mereka berdua." Gavin berbisik di telinga Elle.


Elle seketika saja mengernyitkan dahinya. "Memangnya siapa mereka?"


"Kau akan tahu sendiri nantinya."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2