
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
De Para Hospital...
Dean menghampiri Ayana yang sedang duduk di kursi tunggu, pria itu mengernyitkan dahinya melihat Ayana yang tengah memeluk sesuatu, di tambah lagi dengan bahu perempuan itu yang tidak hentinya bergetar pertanda perempuan itu sedang menangis.
"Ayana?"
Ayana perlahan mengangkat kepalanya, dia menatap Dean dengan tatapan mata yang sangat sulit untuk di artikan.
Hal itu hanya bisa membuat Dean terdiam. Dean benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Karena jujur saja, penampilan Ayana benar-benar sangat berantakan. Membuat Dean merasa sangat iba pada kondisi Ayana saat ini.
"Dean, aku.. Aku, aku tidak tahu harus memulai dari mana."
Dean menghela nafasnya sejenak.
"Kau bisa menyimpannya untuk saat ini, sebaiknya kita pulang terlebih dahulu."
Ayana menurut, dia mengangguk perlahan. Perempuan itu beranjak dari duduknya kemudian menyamai langlah Dean.
Saat Dean hendak menyalakan mesin mobilnya, Ayana menghentikan pria itu. Ayana merasa dia barus memberi tahu Dean saat ini juga. Ayana merasa tidak bisa kalau harus menyimpan hal ini hingga nanti. Ayana takut kalau dia akan merasa ragu untuk memberitahu Dean.
"Ada apa?"
Dean menatap Ayana dengan di penuhi rasa penasaran.
Namun, Ayana tidak menjawab. Mulutnya terkunci rapat seolah enggan untuk berbicara. Tapi, tangannya perlahan menyodorkan amplop yang sedari tadi berada dalam pelukannya.
"Apa ini?"
Dean menerima amplop itu dengan perasaan ragu. Namun, jantungnya seketika saja berdegup dengan sangat cepat saat melihat tulisan spesialis obgyn yang tercetak dengan sangat jelas di atas amplop itu.
Dean melirik Ayana yang terus saja menundukkan kepalanya. Perasaan takut tiba-tiba saja menghampiti Dean, dia benar-benar takut kalau apa yang saat ini dia pikirkan benar-benar terjadi.
Tidak, bukan karena Dean takut untuk bertanggung jawab. Hanya saja, situasinya benar-benar kacau. Keadaan belum terkendali, Dean takut tidak bisa bertanggung jawab dengan cara yang benar.
Tapi, di balik itu juga Dean merasa bingung. Bagaimana mungkin bisa Ayana hamil? Dean tidak pernah lupa untuk memakai pengaman. Tidak mungkin kan Ayana melakulannya dengan pria lain?
Astaga.. Kenapa pertanyaan bodoh itu tiba-tiba saja terlintas di otaknya. Tidak semua orang sama seperti dirinya. Dean yakin, Ayana tidak mungkin melakukannya dengan pria lain.
Dean menghela nafasnya, pria itu tidak berniat untuk membuka amplop yang Ayana berikan. Tanpa harus membukanya pun, Dean sudah tahu kalau apa yang dia takutkan memanglah benar terjadi.
Dean mencoba untuk mengendalikan perasaannya, dia berusaha untuk bersikap serasional mungkin.
"Berapa usianya?"
"2 bulan. Terhitung dari aku terlambat datang bulan."
Dean mengernyitkan dahinya, kalau di hitung dari kapan Ayana terlambat datang bulan. Itu harus terjadi saat mereka bertengkar hebat karena Elle. Tapi, bagaimana mungkin?
__ADS_1
"2 bulan?"
"Kita melakukannya saat kau dalam keadaan mabuk, dan kau lupa menggunakan pengaman. Aku sudah berusaha untuk segera membersihkannya, aku bahkan sampai meminum obat agar janin itu tidak berkembang. Tapi usahaku sia-sia.. Janin itu tetap berkembanh di perutku."
Ayana seketika saja terisak pilu. Karena ya, apa yang Ayana katakan memanglah benar adanya. Semua yang dia katakan benar-benar sesuai dengan apa yang terjadi.
Selama hidupnya, meskipun dia menjalani kehidupan dengan cara yang salah. Ayana tidak pernah berbohong. Meskipun Ayana tidak ingin Dean sampai melepaskannya demi Elle. Ayana tidak pernah berpikir untuk melakukan suatu hal yang buruk.
Bahkan bayi yang di dalam kandungannya benar-benar di luar pemikirannya. Ayana benar-benar tidak berniat untuk mengikat Dean dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. Hal itu benar-benar jauh di luar pemikirannya, bahkan terbersit sedikit pemikiran untuk mengandung pun tidak pernah dia lakukan.
Bukan karena Ayana tidak ingin memiliki anak, hanya saja, Ayana sadar betul kalau posisi dan kondisinya sekarang tidak memungkinkan dia untuk menjadi seorang ibu.
Ayana memang lah perempuan egois yang rela hidup menjadi simpanan suami orang. Tapi Ayana bukan perempuan licik yang akan melakukan segala cara demi untuk mengikat pria itu.
Akhir-akhir ini Ayana bahkan sedang mempersiapkan diri dan mental kalau saja Dean benar-benar akan melepaskannya. Karena Ayana tahu, apa yang selama ini dia dan Dean lakukan benar lah suatu kesalahan.
"Aku, aku berusaha menyimpan hal ini untuk diriku sendiri. Aku tidak ingin membuatmu marah. Aku telah melakukan kesalahan, andai saja daat itu aku tidak memaksamu untuk bersama denganmu, kita mungkin tidak akan melakukannya. Tidak, andai saja aku menahan diri untuk tidak menghampirimu, mungkin saja tidak akan seperti ini."
"Maafkan aku, aku sudah membuat kesalahan. Maafkan aku karena bayi ini tumbuh dengan kesalahan, aku benar-benar minta maaf. Maafkan ak.."
Dean menarik Ayana untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia tidak tahan lagi melihat perempuan yang selalu mengisi hari-harinya itu terisak dengan begitu pilu.
"Ssst... Jangan menangis. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Kau tidak bersalah, bayi itu pun tidak bersalah. Ah tidak, kau dan anak kita tidak bersalah."
Mendengar 'anak kita' yang terucap dari mulut Dean, mampu membuat Ayana menghentikan tangisannya.
Ayana melepaskan pelukan mereka, dia menatap Dean dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
"Anak kita?"
"Kau tidak marah padaku?"
Dean menggeleng kecil. "Bagaimana mungkin aku marah padamu di saat kau tidak melakukan kesalahan?"
"Lalu, bayi ini?"
Dean menggelengkan kepalanya. "Bukan bayi ini, itu anak kita Ay.. Jangan khawatir, aku akan berusaha untuk bertanggung jawab."
Ya, Dean benar-benar akan bertanggung jawab. Dean tidak berbohong, setelah apa yang terjadi, mau bagaimana pun juga Dean tetap harus bertanggung jawab. Dean tidak bisa melepaskan sikap begitu saja dengan tidak bertanggung jawab.
Dean seketika saja teringat akan apa yang di katakan oleh Khalid saat pria tua itu mengantarkannya ke bandara.
"Boleh kah paman memberikan saran?"
Dean menganggukkan kepalanya.
"Sebaiknya lepaskan istrimu, jalanilah kehidupan yang layak bersama dengan kekasihmu. Ketahuilah, jika kau terus bersikukuh untuk mengejar istrimu. Maka kau akan kehilangan keduanya. Dan kau juga harus tahu, jika kau samlai kehilangan keduanya. Bukan kau yang akan di rugikan, melainkan kekasihmu yang sudah mengisi hari-harimu dengan seluruh hidupnya."
"Coba lah untuk mempertahankan salah satunya. Berhentilah bersikap egois, belajarlah untuk melihat keadaan sekitar. Percayalah, suatu saat nanti kau pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini tersingkirkan akibat keegoisanmu sendiri."
Ya, memang benar, kalau di pikir lagi, jika Dean melepaskan Ayana. Bukan Dean yang akan di rugikan, melainkan Ayana itu sendiri.
"Tunggu sebentar."
__ADS_1
Dean meraih ampol yang sebelumnya dia letakkan di atas dashboard. Dia membuka amplop itu dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Mata Dean tiba-tiba saja berkaca-kaca melihat foto hasil usg bayi yang ada di dalam kandungan Ayana.
Tidak hanya hatinya yang tersentuh, Dean juga seketika saja tersadar dari hal bodoh yang sempat dia rencakan. Bersyukurlah pada Tuhan yang masih memberikan Dean kesempatan untuk memperbaiki kehidupan dengan salah satu perempuan yang ada di hidupnya.
"Kau menangis?"
Ayana menatap Dean dengan di penuhi rasa takut, Ayana benar-benar takut kalau Dean akan merasa menyesal.
"Aku, aku baru tahu kenapa para pria di luaran sana selalu menangis setelah mendengar kalau dia akan menjadi seorang ayah."
"Aku benar-benar baru tahu kalau rasanya de bahagia ini."
Dean menoleh pada Yana dengan perasaan haru.
"Terima kasih karena sudah berani untuk memberitahuku."
"Dean.."
Mata Ayana kembali berkaca-kaca, Ayana tidak menyangka kalau respon yang di berikan Dean benar-benar jauh di luar pemikirannya.
"Kemarilah."
Dean merentangkan tangannya, meminta Ayana untuk masuk ke dalam pelukannya.
Ayana pun tanpa ragu merangsek masuk ke dalam pelukan Dean.
"Mari kita membangun keluarga kecil, hidup bahagia bertiga bersama anak kita. Maafkan aku yang telah membuat banyak kesalahan padamu."
Ayana menggelengkan kepalanya. "Jangan meminta maaf, aku juga membuat banyak kesalahan."
"Hah.. Sepertinya kita harus segera mengelar pesta pernikahan sebelum perutmu semakin membesar."
Ayana sontak saja melepaskan pelukan mereka, dia menatap Dean dengan tatapan tajamnya.
"Kau akan menjadikanku istri kedua? Lalu, bagaimana dengan Elle? Apa kau tidak memikirkan perasaannya?"
"Tenang saja, aku dan dia akan bercerai. Ah, aku lupa, aku belum memberitahumu kalau Elle sudah mengirimkan surat gugatan perceraian padaku."
Ayana mengerjapkan matanya. "Begitu kah?"
Dean mengangguk kecil. "Ya, begitulah.."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..