Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Dua sisi


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Ell, kau tidak ingin sarapan bersama?"


Diam.. Elle tidak menyahuti pertanyaan Tamara, gadis itu hanya berlalu pergi begitu saja.


Hal itu sontak saja membuat Tamara merasa emosi. Raut wajahnya mengeras, sendok yang dia genggam di rem**atnya dengan erat seolah tengah menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja.


"Berani sekali dia!"


"Sudahlah bu.. Biarkan saja."


Tamara menatap Haris dengan mata yang memicing tajam.


"Biarkan saja katamu! Bagaimana bisa ini di biarkan begitu saja!"


Haris menghela nafasnya. "Lagi pula, Elle tidak sepenuhnya salah. Kita yang lebih dulu menyakiti hatinya."


"Kini kau membela dia?" Risa mengernyitkan dahinya.


"Setelah penghinaan yang dia berikan untukku dan untuk ibuku, kini kau justru membela dia?? Seharusnya kau membela istri dan ibu mertuamu Haris!"


"Apa yang aku katakan benar adanya Risa. Jika saja kita memperlakukannya dengan baik, dia tidak akan bertingkah seperti ini."


"Jika kita tidak menyakitinya, kita tidak akan kesulitan seperti sekarang ini. Jika kita tidak menyakitinya, kita tidak akan terus menerus di kirimi tagihan rumah. Apa kau masih belum mengerti juga?"


Risan dan Tamara terdiam, mereka tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Karena mau bagaimana pun, memang seperti itu lah kenyataannya.


"Apa yang kalian ributkan, berhentilah memperdebatkan masalah tagihan rumah. Biar aku yang membayarnya!"


Mereka menoleh pada Dean.


"Seharusnya kalian sadar atas apa yang kalian perbuat dan meminta maaf padanya. Bukan malah memperdebatkannya hanya karena kalian tidak bisa membayar tagihan rumah."


"Berhentilah bersikap arogan. Mulai sekarang dan seterusnya, kerjakanlah apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kalian masing-masing. Aku tidak mengijinkan istriku untuk mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kalian. Dan kau Risa, segera kembalikan uang istriku yang kau pinjam."


"Pffft.. Ha ha ha ha!"


Risa tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.


"Tunggu, apa katamu?? Berhenti bersikap arogan?? Mengerjakan tanggung jawab masing-masing? Dan apa tadi, mengembalikan uang istrimu?? Istrimu??!"


"Oooh.. Sungguh Dean.. Jadi benar apa kata ibu? Kini kau sudah jatuh pada pesona yang di miliki oleh wanita itu?"


"Ya, aku jatuh pada pesona yang di milikinya." Dean menjawab tanpa ragu. "Jadi berhentilah menyakiti dia dengan memperlakukan dia seperti seorang pembantu. Kerjakan apa yang seharusnya kalian kerjakan. Dan berhentilah bersikap seolah kalian paling benar."


Risa menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau tidak sadar? Hingga saat ini, kau juga masih menyakitinya."


"Kau kira kami tidak tahu kalau kau masih berhubungan baik dengan kekasihmu itu?"


"Jangan bersikap seolah kau adalah orang yang paling baik di antara kami Dean. Kau tidak jauh berbeda dengan kami. Aku bisa saja memberi tahu Elle tentang hubunganmu dengan kekasihmu. Aku memiliki lebih dari hanya sekedar bukti."


Raut wajah Dean mengeras. "Jangan pernah coba-coba untuk memberitahukan hubunganku dengan Ayana pada Elle! Aku bisa mengatasi hal ini dengan caraku sendiri. Jika kau berani mencobanya, aku pastikan, aku akan memutus hubungan kekeluargaanku dengan kalian!"


Tanpa berkata apa pun lagi, Dean berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Sial!!


Kenapa harus menjadi seperti ini!!!


Dean menjatuhkan dahinya pada kemudi mobil dengan cukup keras.


Tenang Dean.. Tenang...


Dean mencoba untuk nengatur nafasnya yang sedikit memburu.


"Ya, aku harus tenang!"


Setelah menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, Dean pun melajukan mobilnya menuju tempat di mana dia bekerja.


.......


.......


.......


Di sisi lain..


Kediaman keluarga Jaliandro..


"Hmm... Dean Ganela.."


"Jadi, suaminya bekerja sebagai manager Luxury Fashion?"


Gavin membuka lembar demi lembar berkas yang ada di tangannya, alisnya saling bertaut menandakan betapa seriusnya dia saat membaca setiap deretan huruf yang tertoreh di atas lembaran kertas itu.



*Note : Anggap aja tu koran sebagai berkas ya wakk.. :D


"Hmm." Sam menganggukkan kepalanya. "Dia bekerja di sana sudah hampir 4 tahun, di angkat sebagai manager sekitar 2 tahun yang lalu."


Gavin lantas melatakkan berkas itu di atas meja.


"Aku masih tidak mengerti, pernikahan seperti apa yang mereka jalani."


Sam mengedikkan bahunya. "Kau akan sedikit terkejut jika aku memberitahukan faktanya.."


"Fakta?"


Sam mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kau masih ingat soal tanah lapang yang 7 tahun lalu sempat kau jual?"


Gavin lantas berpikir untuk sejenak.


"Debrame?"


"Ya, tanah yang ada di daerah Debrame."


Gavin mengernyitkan dahinya. "Apa hubungannya tanah itu dengan pernikahan yang di lakukan mereka?"


"Tanah itu di beli oleh 2 orang pria. Mereka berniat untuk membangun hotel di sana. Tapi, karena sebuah insiden, hotel itu gagal mereka bangun."


"Lantas?"

__ADS_1


"2 orang pria itu adalah ayah dari Elle dan suaminya."


Gavin kembali berpikir, dia belum bisa memahami apa yang di maksud oleh Sam.


"Aku belum mengerti dengan apa yang kau maksud."


"Aku juga tidak tahu pastinya seperti apa. Tapi, dari informasi yang aku dapatkan. Pria itu menikahi Elle demi menuruti keinginan ibunya yang ingin mendapatkan tanah lapang itu."


"Bukan kah itu berarti dia sudah mendapatkan tanahnya? Kenapa dia masih mempertahankan pernikahan mereka?"


Sam menggelengkan kepalanya. "Tidak semudah itu. Sang notaris berkata, ibunya bisa mendapatkan tanah itu kalau Elle sudah melahirkan seorang keturunan."


Gavin seketika saja menaikkan kedua alisnya. "Begitukah?"


"Hmm.." Sam mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dan ada satu fakta lagi yang mungkin saja bisa menjawab pertanyaan yang ada di benakmu tentang Elle."


Gavin menoleh pada Sam, dia menaikkan sebelah alisnya, menunggu apa yang akan di katakan oleh Sam.


"Pria itu memiliki wanita lain selain Elle. Ah tidak, lebih tepatnya. Pria itu masih berhubungan dengan kekasihnya. Dia menjalin hubungan dengan wanita itu dari sebelum dia menikahi Elle."


"Tcih!" Gavin menaikkan sudut bibirnya. "Jadi, karena hal itu?"


Sam mengedikkan bahunya. "Aku yakin, apa yang kau pikirkan, sama dengan yang aku pikirkan."


"Haaah.." Gavin menghela nafasnya, tangan kanannya terangkat untuk mengelus dagunya.


Pria itu menatap foto Elle yang terletak di atas meja dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Cukup menarik." Gumam Gavin.


Gavin lantas beranjak dari duduknya, dia menoleh pada Sam seraya membenarkan bathrobe yang di kenakannya.


"Jam berapa rapat di mulai?"


Sam melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Kau masih memiliki waktu 30 menit untuk bersiap."


Tanpa berkata apa pun lagi, Javer pun berlalu pergi dari sana. Bersiap untuk memulai kembali aktifitas sehari-harinya.


Ah, rasanya dia juga tidak sabar untuk segera bertemu dengan Elle. Gadis yang belakangan ini selalu hadir di dalam pikirannya.


Gadis yang bahkan beberapa kali sempat muncul di dalam mimpinya.


"Tcih! Kenapa daya pikat gadis itu begitu tinggi!" Gavin menggaruk pelipisnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2