
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Ceklek! Ceklek!
Dean memutar kunci pintu kamarnya secara perlahan. Secara perlahan pula, dia membuka pintu kamarnya.
Pria itu menghembuskan nafasnya melihat Elle yang tengah duduk manis di atas sofa.
Ya, manis.. Terlalu manis..
Istrinya itu hanya duduk diam seraya menatap ke arah luar jendela, tanpa melakukan apa pun lagi.
Tatapan matanya terlihat sangat teduh. Tapi, ada yang berbeda dari tatapan matanya itu. Tatapan mata teduhnya kali ini sarat akan ketajaman, kebencian, kekecewaan, dan juga keputus asaan.
Sungguh, Dean sakit melihatnya, sangat sakit..
Dean tidak menyangka kalau dia akan merasa menyesal menyetujui rencana yang di perintahkan oleh ibunya.
Pada mulanya, Dean berpikir kalau hanya sekedar untuk membuat Elle mengandung, bukan lah hal yang sulit untuk dia lakukan.
Apa susahnya? Dia hanya perlu membuat Elle mengandung. Setelah Elle melahirkan, Dean bisa menceraikan Elle kemudian kembali pada kekasihnya.
Tapi pada kenyataannya, Dean tidak bisa melakukan hal itu. Perasaan itu tumbuh begitu nyata.
Alasan dia tidak pernah mau menyentuh Elle, bukan karena Dean tidak bernafsu. Bukan karena Dean tidak ingin.
Tapi karena Dean tidak sanggup jika harus kehilangan wanita itu, wanita yang sudah menjadi istri sahnya secara hukum dan agama.
Bohong jika Dean berkata kalau dia tidak tergoda saat Elle berusaha untuk menggodanya. Tapi, mengingat perjanjian yang dia lakukan dengan ibunya. Membuat Dean berusaha mati-matian untuk menahan godaan yang di berikan Elle.
Dean kini merasa amat sangat menyesal. Kenapa selama ini dia harus memperlakukan Elle dengan begitu buruk? Kenapa selama ini dia harus menyia-nyiakan seseorang yang begitu tulus menyayanginya?
Ya, Dean tahu tentang perasaan Elle.. Bahkan Dean sangat tahu kalau Elle memiliki perasaan untuknya.
Dean bukan pria bodoh yang tidak peka terhadap perlakuan seorang wanita.
Dia bisa merasakannya dari bagaimana cara Elle yang begitu halus saat memperlakukan dirinya. Nada suara Elle yang terdengar begitu lembut ketika berbicara dengan dirinya. Bagimana cara Elle dalam menghadapi sikapnya yang arogan. Bagimana cara Elle dalam berusaha memanjakan dirinya saat dia merasa kelelahan.
Di tambah lagi dengan kedua mata Elle yang selalu memancarkan perasaan cinta yang begitu besar saat menatap dirinya.
Tapi, Dean yang memang terlalu bodoh justru mengabaikan hal itu. Dean yang terlalu naif justru memperlakukan Elle dengan sangat buruk.
Demi Tuhan, Dean benar-benar menyesali perbuatannya..
__ADS_1
Andai saja dia tidak melakukan perjanjian dengan ibunya, mungkin kehidupan rumah tangganya tidak akan sesulit ini. Andai saja dia tidak berjanji akan menceraikan Elle setelah mendapatkan apa yang menjadi keinginan ibunya, mungkin saja Dean sudah akan meminta maaf dan memanjakan Elle dengan sangat baik.
Hah.. Ya.. Andai saja..
"Eell.."
Dean mencoba mendekati Elle.
Elle lantas menoleh pada Dean, senyum manis tersungging di bibirnya.
"Kau sudah pulang?"
Nada suara Elle terdengar begitu lembut, lebih lembut dari biasanya.
Hal itu sontak saja membuat Dean merasa terhenyak, benar-benar merasa terhenyak.. Dia terdiam mematung, seolah ada tali yang mengikat kakinya agar tidak semakin mendekat pada Elle.
Entahlah, Dean juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba saja seperti kehilangan raganya.
Senyum manis yang tersungging di bibir Elle, juga nada suaranya yang terdengar sangat lembut, seolah mencerminkan betapa kecewanya dia. Seolah mencerminkan betapa besar rasa sakit yang di milikinya. Seolah memukul Dean tentang betapa kejamnya perlakuan yang dia berikan pada Elle.
Sungguh, Dean benar-benar tidak tahu kenapa dia merasakan sakit yang teramat dalam melihat senyum manis yang tersungging di bibir Elle.
"Dean?"
"Ya?"
"Kenapa kau hanya berdiam diri di situ? Kemarilah.. Mari kita bicara baik-baik, hmm?"
Dean menghela nafasnya untuk sejenak, dia merasa sangat ragu. Haruskah dia menuruti apa yang di inginkan oleh Elle?
Sejatinya, Dean tau apa yang akan di bahas oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
Tapi, meskipun Dean tidak menurutinya. Dean yakin, wanita itu tetap akan melakukan apa yang di inginkannya.
Dean pun memutuskan untuk menghampiri Elle. Dia duduk di tepi kasur yang berhadapan dengan Elle.
Elle menghela nafasnya untuk sejenak. "Sebelum aku mengatakan apa yang ingin aku katakan. Apa kah kau memiliki sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"
Hening.. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Dean. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara.
Elle menyunggingkan senyum kecilnya. "Kalau kau memang tidak memiliki sesuatu yang ingin kau katakan padaku, aku akan langsung mengatakan apa yang ingin aku katakan."
"Aku akan.."
"Bisa kah kita tidak berpisah?"
Dean segera memotong perkataan Elle.
__ADS_1
Pria itu duduk bersimpuh di hadapan Elle.
"Aku mohon.. Bisa kah kita tidak berpisah? Aku berjanji padamu, aku akan berubah. Aku akan merubah semua sikapku, aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi.. Aku akan menuruti semua yang kau inginkan.. Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang baik untukmu.. Aku mohon, Elle.."
Dean menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia berusa mati-matian menahan bulira bening yang seakan berlomba untuk keluar dari kedua matanya.
1 menit.. 2 menit..
Dean mengangkat kepalanya karena Elle tidak kunjung memberikan tanggapan apa pun.
Pria itu terhenyak melihat Elle yang kini menangis dalam diam, tatapan mata istrinya itu kosong seolah jiwanya pergi menghilang dari raganya.
Dean lantas mencoba memberanikan diri untuk menggenggam tangan Elle.
"Ell.."
Elle sedikit terkesiap, dia segera menghapus air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya. Dia menatap Dean dengan tatapan penuh luka.
"Aku sudah tidak sanggup lagi Dean.. Aku terlalu lelah.. Hatiku sudah terlalu lelah.."
"Tidak bisa kah kau memberikan aku kesempatan untuk satu kali lagi?"
Suara pria itu terdengar sedikit parau.
"Aku sungguh-sungguh berjanji padamu, aku akan merubah semua sikapku."
"Kau boleh melakukan apa pun untuk membalas semua perbuatan buruk yang telah aku lakukan padamu. Kau boleh memukulku, kau boleh memakiku, kau boleh berteriak padaku. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan padaku. Tapi aku mohon, jangan ceraikan aku. Aku mohon Ell.. Berikan aku kesempatan untuk satu kali lagi, untuk yang terakhir kalinya.. Aku mohon.."
Dean tidak sanggup lagi menahan tangisnya, air mata kini mulai mengalir membasahi pipinya.
"Aku mohon Ell.. Berikan aku kesempatan untuk memulai kembali semuanya dari awal. Berikan aku kesempatan untuk aku memperbaiki semua kesalahan yang telah aku lakukan. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa yang telah aku lakukan padamu. Aku mohon.."
Elle memalingkan wajahnya, dia merasa tidak sanggup untuk menatap Dean yang terlihat menyedihkan.
"Maafkan aku Dean.. Aku.. Aku tidak bisa.."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..