Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Gara-gara Tanda


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Duuuh.. Gavin.. Bagaimana kalau mommy mengetahuinya?"


Elle menatap Gavin dengan sangat memelas.


"Babby, tanpa harus bertanya pun mommy sudah pasti tahu hanya dengan melihat penampilanmu saja."


Elle sontak saja menundukkan pandangannya, dia mencoba untuk memperhatikan pakaian yang dia kenakan. Ah, bukan, lebih tepatnya ujung syal yang menggantung di lehernya.


Sangat tidak masuk di akal sekali, di siang bolong begini, dengan sinar mentari yang begitu terik, Elle melilitkan syal yang begitu tebal di lehernya. Bahkan Elle saat ini merasakan gatal di lehernya akibat keringat yang menumpuk di sana.


"Heeey.. Ini salahmu! Kau meninggalkan tanda terlalu banyak di sana. Mana mungkin aku pergi keluar dengan memamerkan tanda yang suda kau buat."


Gavin mengangkat bahunya acuh. "Bukan kah itu lebih baik? Dengan begitu, semua orang akan tahu kalau kau adalah milikku."


What?!


Elle menatap Gavin dengan cukup sengit.


"Astagaaa! Pemikiran konyol macam apa itu!!"


"Kalian kenapa? Kenapa kalian bertengkar?"


Amy datang menghampiri Elle dan Gavin dengan wajah khas bangun tidurnya. Dia, yang berniat untuk mengambil segelas air di pantry, membelokkan langkahnya menuju ruang tamu saat mendengar Gavin dan Elle yang tengah berdebat.


"Kenapa kau mengenakan syal di siang bolong begini? Bahkan sinar mentari begitu terik. Apa kau tidak merasa kepanasan?"


"Ah itu.."


Elle menggaruk pelipisnya, dia merasa sangat salah tingkah karena kehadiran Amy di sana. Elle benar-benar belum siap jika harus memberitahukan hal ini pada Amy.


Namun sayangnya, Amy yang memang memiliki pengalaman lebih banyak dari Elle pun langsung tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Elle.


Amy lantas menatap Gavin.


"Apa kalian sedang terburu-buru?"


Gavin menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, tunggu di sini sebentar."


Amy melesat pergi dari sana.


Elle dan Gavin seketika saja bertungkar pandang, mereka bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Amy.


"Kau tahu sesuatu?"


Elle menggelengkan kepalanya. "Aku memang sahabatnya, tapi hingga saat ini aku masih belum bisa mengerti tentang dirinya. Kau tahu, Amy memiliki kelakuan yang cukup random."


"Tapi tidak lebih random dari kelakuanmu."


"Yaaaaaa..."


"Sudah hentikan, jangan berdebat terus."


Elle mengernyitkan dahinya melihat Amy yang datang dengan tas make up miliknya.


"Kau.. Untuk apa kau membawa itu? Kau akan mendandaniku?"


"Em em.." Amy menggelengkan kepalanya. "Bukan wajahmu, tapi lehermu."


Amy lantas duduk di samping Elle. Kebetulan, Gavin saat ini duduk di sofa single yang terletak di samping sofa yang saat ini di duduki Elle. Jadi, Amy bisa duduk di samping Elle dengan leluasa tanpa harus mengatakan permisi dulu kepada Gavin.


Ya meskipun saat ini mereka sudah menjadi dekat, tapi bukan berarti Amy bisa bersikap dengan se enaknya kepada Gavin kan?

__ADS_1


"Cepat, lepaskan syalmu."


"Tapi.."


"Sudahlah, lepaskan saja."


Amy menarik syal yang melilit di leher Elle.


"Waaaaah..."


Amy menatap leher Elle dengan tatapan kagum. Sungguh, Amy tidak bisa membayangkan, seganas apa tingkah Gavin tadi malam. Leher Elle saat ini benar-benar penuh dengan tanda merah yang di buat oleh Gavin. Bahkan tanda merah itu ada hingga tengkuk dan bahu Elle.


Amy tiba-tiba saja merasa penasaran. Jangan-jangan, sekujur tubuh Elle saat ini di penuhi dengan tanda cinta yang di tinggalkan oleh Gavin.


"Berhenti menatap leherku!"


Elle berusaha untuk menutupi lehernya menggunakan kedua tangannya. Dia merasa sangat malu karena Amy terus saja menatap tanda di lehernya dengan hampir tanpa berkedip.


Sedangkan Gavin? Bukannya merasa malu, pria itu justru menyunggingkan senyum tipisnya, seolah merasa sangat bangga atas hasil karya yang di buatnya tadi malam.


"Amyyyyyy!!"


"Ah ya ya ya.. Baiklah baiklah, maafkan aku, aku hanya merasa takjub ok.."


"Tcih!" Elle hanya bisa memalingkan wajahnya yang sudah terasa sangat panas.


Amy lantas sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Elle. "Aku tidak menyangka kalau priamu seganas ini." Bisiknya pada Elle.


Kedua bola mata Elle seketika saja membulat dengan sempurna, dia menatap Amy dengan sangat tajam.


"Kau ingin mati? Jika tidak berniat untuk membantu, maka sudahlah. Lebih baik kau pergi saja.."


"Haish.. Kenapa kau emosian sekali sih.. Cepat, turunkan tanganmu, biarkan aku menutupinya dengan make up."


"Tidak usah di tutupi, biarkan saja seperti itu."


Sela Gavin saat Amy hendak mengoleskan foundation di leher Elle.


"Bukan kah sudah ku katakan untuk tidak usah memakainya?"


"Maka dari itu, biarkan Amy menutupinya dengan make up."


"Aku tidak mengijinkannya."


"Tapi aku tidak ingin memakai syal itu."


"Ya tidak usah kau pakai."


"Tapi tanda yang kau tinggalkan memenuhi leherku."


"Biarkan saja.. Tidak ada yang salah dengan itu."


"Tapi aku maluuuu..."


"Kenapa harus malu? Kau pasanganku. Aku pria mu. Orang pun akan tahu hal itu."


"Gaviiiiin.. Kenapa kau keras kepala sekali siiiih.."


"Kau yang keras kepala babby.."


"Yaaakk!!"


Gavin dan Elle seketika saja membungkam mulut mereka saat Amy berteriak dengan penuh emosi.


"Bisa kah kalian berhenti berdebat? Aku pusing mendengarnya."


Amy lantas menatap Elle dengan tatapan jengah.


"Kau.. Kalau kau tidak ingin memakai syal ini, maka tidak usah kau pakai. Atau kalau perlu, kau tidak usah pergi saja."

__ADS_1


"Dan kau.." Any menatao Gavin dengan tatapan tajamnya. "Lain kali, buatlah tanda yang lebih sedikit kalau kau ingin memamerkannya kepada orang lain. Jika seperti ini, Elle terlihat seperti orang yang terkena penyakit kulit."


Amy menghela nafasnya untuk sejenak, dia berusaha untuk mengatur emosi yang tiba-tiba saja menghampirinya. "Sudahlah, lebih aku aku kembali ke kamar."


Amy menutup kembali tas makeup miliknya kemudian berlalu pergi begitu saja. Dia benar-benar merasa jengah menghadapi perdebatan konyol yang di lakukan oleh Gavin dan Elle.


"Ini semua salahmuu!"


Elle menatap Gavin dengan sangat sengit.


"Salahku?"


Gavin mengernyitkan dahinya.


"Ya! Ini semua salah...."


"Ell?"


Elle seketika saja terdiam, dia menoleh dengan sangat kaku pada Hannah yang baru saja tiba.


"Apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit? Kenapa lehermu merah-merah seperti ini?"


"Ah, itu.. Anu.."


Elle berusaha menutupi lehernya.


"Tapi.. Sepertinya mommy tidak asing dengan apa yang terjadi pada lehermu. Biarkan mommy memeriksanya."


"Ti, tidak usah mom.. Aku baik-baik saja.. Ya, aku baik-baik saja, haha.."


Elle berusaha untuk tertawa. Namun ya, karena rasa gugup dan malunya, tawanya itu terdengar sangat canggung.


Hal itu sontak saja membuat Hannah mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ck ck ck!" Hannah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gaviiin... Gavin.. Mommy sampai kehabisan kata-kata."


Gavin mengangkat bahunya acuh seolah apa yang terjadi pada Elle bukanlah suatu hal yang harus di permasalahkan.


"Apa kau tidak merasa kasihan pada anak gadis mommy? Kau tidak lihat? Dia seperti terkena penyakit kulit."


Hannah menatap Gavin dengan sangat tajam. Sungguh, Hannah tidak merasa marah, hanya saja, bukan kah ini terlalu cepat?


Tapi ya sudahlah.. Biarkan saja.. Mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi.


"Kalau begitu kita tidak usah pergi, mereka saja yang datang kesini."


"Eh?"


Elle mengerjapkan matanya, dia merasa bingung dengan apa yang di maksud oleh Hannah.


"Gavin, minta mereka untuk datang kesini."


"Hmm.."


Gavin lantas beranjak dari tempatnya kemudian berlalu pergi dari sana.


"Ini bagaimana maksudnya mom?"


"Sudah, diam saja.. Nanti juga kau akan tahu."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2