
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Gedung Pengadilan Agama..
"Kau benar-benar akan melakukannya?"
Elle menghela nafasnya, dia menatap Amy dengan mata yang memicing tajam.
"Kau sudah menanyakan hal ini puluhan kali Am..."
"Dulu kau yang mendesakku untuk berpisah dengan Dean. Sekarang, di saat aku benar-benar akan berpisah dengannya, justru kau yang terlihat ragu dengan keputusanku. Apa sih sebenarnya yang ada di dalam pikiranmu?"
"Aku hanya bertanya." Amy mengusap tengkuknya. "Lagi pula, aku masih penasaran dengan alasan yang sebenarnya kenapa kau sampai benar-benar mau berpisah dengan Dean. Kau belum menceritakannya padaku."
Ketahuilah, Amy baru mengetahui tentang hal ini tadi pagi. Lebih tepatnya, saat dia baru saja bangun dari tidurnya.
Amy, yang tadi pagi masih tertidur lelap, tiba-tiba saja di bangunkan oleh Elle. Di saat Amy masih belum sadar sepenuhnya, Elle langsung mengajaknya pergi ke pengadilan agama untuk mengurus surat perceraiannya dengan Dean.
Terkejut? Tentu saja.. Bahkan nyawa Amy langsung terkumpul saat itu juga. Tapi, sampai sekarang, Amy bahkan belum mengetahui apa alasan pastinya.
"Kau ingat tentang perempuan yang waktu itu kau lihat sedang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Dean?"
Amy mengangguk cepat.
"Pria bereng**sek yang sayangnya masih berstatus sebagai suami sah ku secara hukum dan agama itu mengakui perempuan itu sebagai kekasihnya dengan mulutnya sendiri."
"What?!!" Kedua bola mata Amy membulat dengan sempurna.
"Gila bukan?? Kau ingin tau hal yang lebih mengejutkan lagi?"
"Ada lagi?" Amy mengernyitkan dahinya.
Elle menganggukkan kepalanya. "Mereka menjalin kasih sudah dari sebelum Dean menikah denganku."
Amy seketika saja menjatuhkan rahangnya. "Ha ha ha.."
"Haaaah.. Aku tidak menyangka kalau aku selama ini hidup sebagai perempuan bodoh."
"Tapi setidaknya kau masih perawan."
Elle mengangguk dengan sangat mantap, dia benar-benar menyetujui apa yang di katakan oleh Amy.
"Ok, mari simpan fakta memalukan itu sebagai keberuntungan."
"Itu tidak memalukan Ell.."
"Cukup memalukan bagi seorang istri yang tidak pernah di sentuh oleh suaminya. Bahkan selama 2 tahun pernikahan mereka."
"Baiklah terserah.. Anggap lah seperti itu, aku tidak terlalu mengerti. Tapi yang jelas, itu merupakan sebuah keberuntungan untukmu."
"Ya, aku cukup setuju untuk hal itu."
"Nyonya Elle Bifatigirni?"
Seorang petugas pengadilan agama memanggil nama Elle.
"Ya."
"Aku masuk dulu."
Amy menganggukkan kepalanya.
Elle pun segera beranjak dari tempatnya, dia mengikuti langkah sang petugas yang baru saja memanggil namanya.
.......
.......
__ADS_1
.......
Jaliandro Company...
Dean turun dari mobilnya dengan sangat tergesa, dia memasuki gedung yang menjulang tinggi seperti pencakar langit itu dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Sungguh, perasaan pria itu saat ini sedang begitu kalut.
Bagaimana tidak? Setelah istrinya tidak pulang selama beberapa hari, yang Dean sendiri pun tidak tahu istrinya itu pergi kemana. Bukan istrinya sendiri yang pulang ke rumah, justru surat gugatan perceraian dari istrinya lah yang mendatangi rumahnya.
Dean merasa marah, tentu saja. Bagaimana bisa gadis itu mengajukan perceraian ke pengadilan agama tanpa persetujuan darinya.
Katakan lah Dean tidak tahu diri atas kesalahannya yang sudah dia perbuat, namun Dean tetap tidak rela jika Elle sampai menceraikannya dengan cara seperti ini.
Ah tidak, Dean ralat.. Dean tidak rela jika Elle sampai menceraikannya. Sungguh, Dean tidak mau kalau hal itu sampai terjadi.
Dean awalnya tidak tahu harus mencari Elle kemana. Namun Dean ingat kalau Elle saat ini bekerja di perusahaan utama Jaliandro Company.
"Bisa kah aku bertemu dengan Elleonor Abrunachi?"
Hal itu langsung dia tanyakan setibanya dia di receptionist.
"Selamat pagi tuan, apa kah tuan sudah memiliki janji temu dengan nona Elle?"
Dean mengernyitkan dahinya kala mendengar kata nona yang di sebutkan untuk Elle. Bukan kah seharusnya Elle menyandang gelar nyonya? Gadis itu jelas sudah menikah, kenapa di sini dia menyandang gelar nona?
Namun, Dean mencoba untuk mengabaikan hal itu. Karena yang terpenting saat ini bukanlah gelar nona atau pun nyonya yang di miliki Elle, melainkan menemukan keberadaan Elle untuk mengklarifikasi semua yang terjadi.
"Tidak, aku tidak memiliki janji apa pun."
"Mohon maaf tuan, sesuai dengan aturan yang berlaku, anda tidak bisa menemui nona Elle jika anda tidak memiliki janji temu apa pun dengannya."
"Aku suaminya, apa aku juga tidak bisa menemuinya jika tidak memiliki janji temu dengannya?"
"Maaf Tuan, sudah saya katakan, hanya orang yang memiliki janji temu yang bisa bertemu dengan nona Elle. Sekali pun anda suaminya, anda tetap harus memiliki janji temu. Dan mohon maaf sebelumnya, setau saya, nona Elle belum menikah."
"Apa??!"
Dean benar-benar merasa sangat terkejut, bagaimana mungkin bisa hal itu terjadi? Bagaiaman mungkin Elle mengatakan kalau dia belum menikah?
Tifa sudah tidak bisa lagi menahan tatapan matanya, dia menatap Dean dengan tatapan remeh. Jujur saja, Tifa tidak tertarik untuk melihat photo pernikahan yang di sebutkan oleh Dean. Tifa merasa sanksi terhadap photo itu.
Terlebih lagi, di jaman seperti sekarang ini, tekhnologi sudah semakin canggih. Jadi, ada kemungkinan photo pernikahan yang di miliki Dean merupakan photo hasil editan.
"Jika memang seperti itu adanya, sebaiknya tuan menghubungi nona Elle secara langsung."
"Kau tidak percaya padaku?! Aku berkata yang sesungguhnya, aku ini suami Elle. Aku suami sahnya secara hukum dan agama!"
"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk seperti itu. Tapi jika memang tuan benar suami nona Elle, sebaiknya tuan menghubungi nona Elle terlebih dahulu."
"Kalau aku bisa menghubunginya, aku tidak akan datang ke tempat ini!!"
Tifa menghela nafasnya, dia berusaha untuk mengumpulkan kesabarannya.
"Begini tu..."
"Elle?"
Tifa menoleh ke arah pandang Dean, di mana di sana ada Elle, Gavin dan beberapa petinggi Jaliandro Company yang tengah berjalan.
"Yak! Haisssh!!" Tifa menoleh pada rekan kerjanya. "Panggil security! Cepat!!"
Tifa beranjak dari tempatnya dengan sangat tergesa saat Dean berjalan ke arah Elle dengan langkah cepat.
"Ell.. Elle... Tunggu Ell.."
Semua orang menghentikan langkah mereka kemudian menoleh ke arah datangnya Dean.
"Dean?" Gumam Elle.
"Elle, ku mohon, mari kita bicara sebentar saja.."
__ADS_1
Dean semakin mempercepat langkahnya. Namun sayangnya, langkah Dean harus terhenti saat 2 orang security berbadan besar menahannya.
"Yakkk!! Lepaskan aku!"
Dean berusaha memberontak dari cengkraman 2 orang security itu.
"Lepaskan aku!! Aku ingin berbicara dengan istriku!!"
Hal itu sontak saja membuat semua orang menatap Elle.
Elle melirik Gavin, pria itu menggeleng kecil seolah memberikan isyarat pada Elle untuk tidak menanggapi Dean. Gelengan kepala yang hanya bisa di sadari oleh Elle.
Mau tidak mau, Elle pun mengangguk kecil. Jujur saja, dia juga tidak ingin ada keributan yang terjadi di tempat ini.
Gavin lantas mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kepada 2 orang security itu untuk melepaskan Dean.
Dean tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera mendekati Elle.
"Ell.. Dengarkan aku, mari kita bicara sebentar saja, hmm?? Jangan seperti ini.."
Dean hendak menyentuh Elle, namun Elle dengan gerakan cepat segera bergeser ke belakang Gavin.
Tangan Dean tergantung di udara, dia tidak menyangka kalau Elle kini bersikap seperti itu.
"Elle.."
"Maafkan saya tuan.. Saya tidak mengenal anda."
Tubuh Dean seketika saja merasa lemas. Apa kah Elle sebegitu membencinya? Kenapa Elle bersikap seolah benar-benar tidak mengenalnya? Kenapa Elle berkata seperti itu?
"Ell.. Aku Dean.. Aku suami mu.."
"Bagaimana mungkin saya menikah dengan tuan, saya saja tidak mengenal tuan."
Ketahuilah, kedua telapak tangan Elle kini terasa basah akibat keringat. Rasa takut, gugup, malu, rasa bersalah, juga rasa sakit hati, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
"Ell.. Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Aku akui aku salah, tapi tolong, jangan bersikap seperti ini, hmm? Mari kita bicarakan semuanya baik-baik."
Dean hendak berusaha kembali untuk menggapai Elle.
Namun Gavin segera menghentikannya, Gavin kini mulai merasa kehilangan kesabarannya.
"Hentikan. Apa kau tidak dengar kalau dia tidak mengenalmu? Jangan mengakui apa yang bukan milikmu!"
Dean menatap Gavin dengan sangat nyalang.
"Diam kau! Jangan ikut campur!! Aku tidak peduli siapa kau! Ini masalah rumah tanggaku! Kau tidak berhak ikut campur!"
"Gavin.." Lirih Elle, gadis itu mere**mat ujung jas yang di kenakan Gavin. Sungguh, Elle benar-benar merasa sangat takut.
Jujur saja, Gavin sebenarnya ingin menghajar Den saat ini juga karena pria itu sudah menatapnya dengan sangat tidak sopan. Namun dia tetap harus menjaga imagenya, dia tidak ingin terlibat keributan hanya karena hal konyol.
Gavin lantas memberikan isyarat pada 2 security itu untuk membawa Dean pergi dari hadapannya.
Dengan sigap, 2 security itu segera memegangi Dean, mereka menyeret Dean untuk pergi dari sana.
"Lepaskan aku!! Lepasss!!!"
"Eeeelll.. Ellee.. Ku mohon, dengarkan aku!! Ellleee...!!!!"
Teriakan Dean menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Tapi apalah daya, sekeras apa pun dia berteriak, sekuat apa pun dia memberontak, kedua security itu tetap menyeretnya keluar dari sana.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..