
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Apakah Dean seburuk itu dalam memperlakukanmu?"
Elle seketika saja terkekeh kecil. "Haruskah aku berkata jujur?"
Ayana menggeleng cepat. "Kau tidak perlu menceritakannya, maafkan aku, aku sudah mengajukan pertanyaan yang salah."
"Tak apa.. Karena ya memang begitulah adanya. Sebenarnya, Dean tidak memperlakukanku dengan buruk. Hanya saja, dia tidak pernah menganggapku ada. Bukan kah itu hal yang lebih menyakitkan?"
Ayana lagi dan lagi menundukkan kepalanya. "Maaf.. Maafkan aku.."
"Berhentilah meminta maaf, sudah ku katakan padamu sebelumnya, kau tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang terjadi antara aku dan Dean. Lagi pula, aku pun sudah tidak lagi memperdulikan hal itu. Kalau pun di pikir kembali, jika Dean memang ingin mempermainkan kita berdua, seharusnya dia memperlakukan kita dengan seimbang."
"Tapi toh, pada kenyataannya, dia hanya berlaku baik padamu saja. Bukan kah itu berarti sejak awal Dean memang tidak menginginkan ku? Jadi, bisa kah kita melupakan semuanya? Aku tidak ingin terus menerus di bayangi masa lalu mau pun masa kemarin."
"Terima kasih Elle.."
Ayana menatap Elle dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Demi Tuhan, Ayana benar-benar merasa tersentuh akan ketegaran hati Elle. Tak heran kenapa Dean sempat akan berpaling darinya.
Andai saja Ayana tidak mengandung, Ayana yakin, sangat sangat yakin, Dean saat ini pasti sudah meninggalkannya.
"Jangan menangis.. Apa kau tidak lelah? Apa kau tidak merasa kalau wajahmu membengkak? Aku tahu kalau kau sempat menangis sebelum bertemu denganku. Sudahilah.. Jangan melukai wajah cantikmu sendiri."
Ayana menganggukkan kepalanya, dia buru-buru mengusap kedua matanya. Senyum manis dia sunggingkan kepada Elle.
Hal itu seketika saja menbuat Elle terkekeh kecil, Elle rasanya seperti tengah menghadapi seorang remaja sekolah menengah yang baru saja di putus cinta.
"Begitu lebih baik.. Dan aku yakin, kau menemuiku tidak hanya untuk membicarakan hal ini saja. Apa kau memiliki sesuatu yang lain yang ingin kau katakan padaku?"
"Aku.. Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. Tapi, sepertinya aku memang harus memperlihatkannya padamu."
Ayana lantas mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Yang mana sudah kita ketahui kalau amplop coklat itu berisi foto hasil dari USG bayi yang saat ini sedang di kandungnya.
__ADS_1
Ayana pikir, Elle akan merasa terkejut setelah melihat amplop itu. Ayana kini lagi dan lagi di buat merasa sangat takjub akan raut wajah tenang yang di tunjukkan oleh Elle. Ayana merasa seolah-olah Elle telah memperkirakan kalau hal ini akan terjadi.
"Apa kau tidak merasa terkejut?"
Ayana menatap Elle dengan begitu intens.
Elle menggeleng kecil dengan seulas senyum tipis yang selalu saja tersungging di bibirnya ketika menanggapi Ayana.
"Aku tidak akan merasa terkejut. Aku tahu betul, kalian melakukannya tidak hanya satu atau dua kali, akan ada saat di mana hasil dari hubungan kalian membuahkan hasil."
"Tenang saja, aku tidak akan menyalahkan mu Ayana. Aku justru bersyukur atas kehamilanmu, dengan begitu, aku memiliki alasan yang pasti untuk menceraikan Dean."
Sikap tenang Elle benar-benar membuat Ayana termangu entah untuk yang keberapa kalinya. Sungguh, hingga saat ini, Ayana tidak bisa menebak jalan pikiran Elle. Perempuan ini terlalu pandai mengendalikan emosinya.
Ayana benar-benar merasa sangat penasaran akan sosok Elle yang sebenarnya. Apakah perempuan ini memang memiliki hati yang begitu lapang? Atau kah perempuan ini memang terlalu pandai dalam mengontrol dirinya sendiri?
"Ayana, sepertinya waktu kita sudah habis. Aku harus kembali bekerja."
Ayana seketika saja melirik ke arah jam dinding yang ada di cafe itu. Dan ya, benar saja. Waktu yang mereka miliki memang sudah habis, bahkan sepertinya mereka sudah lewat dari waktu yang seharusnya.
"Ya, aku mengerti, kau harus kembali bekerja. Maafkan aku karena telah menyita waktuku yang begitu berharga."
Kedua mata Ayana tiba-tiba saja berkedip dengan cepat. "Kau, masih mau bertemu denganku?"
Elle mengedikkan bahunya. "Tentu saja, aku tidak memiliki alasan yang pasti untuk tidak menemuimu."
"Hah.. Ah, ya.. Mari kita bertemu di lain waktu."
"Kalau begitu aku permisi dulu.. Dan selamat untuk kehamilanmu. Aku turut senang mengetahuinya."
Ayana menganggukkan kepalanya. "Ya, terima kasih.."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Elle lantas beranjak dari tempatnya. Dia melangkah menuju pintu keluar dengan cara sombongnya yang begitu elegan. Bahu dan dagunya benar-benar dia angkat tinggi, seolah menunjukkan kalau dia memanglah baik-baik saja.
Namun, saat kakinya melangkah ke dalam gedung perusahaan tempat dia bekerja. Bahu dan dagunya yang sebelumnya dia angkat tinggi-tinggi tiba-tiba saja merosot lesu. Tatapan matanya yang tajam, kini berubah layu.
Elle merasa seolah dia kini kembali pada kenyataan yang ada. Elle merasa seolah dia kembali pada rasa sakit yang memang seharusnya dia rasakan. Semua rasa yang ada pada dirinya bercampur aduk menjadi satu.
__ADS_1
Bukannya Elle masih mencintai Dean. Ah, tidak, sebenarnya rasa itu memang masih ada. Namun, bukan itu penyebab utama dia kembali merasa sakit.
Entahlah, Elle juga tidak tahu kenapa. Yang dia rasakan saat ini hanyalah rasa sakit di hatinya, hatinya seolah di cabik menggunakan ribuan pisau yang sangat tajam. Yang bahkan Elle sendiri pun tidak bisa mengartikan rasa sakit itu sendiri.
Elle hanya bisa terus melangkah kembali menuju ruangannya dengan langkah yang gontai. Tatapan matanya kosong seolah dirinya saat ini tengah memasuki ruang gelap yang begitu sunyi. Bahkan sampai membuat dia mengabaikan beberapa orang yang menyapanya.
Saat Elle membuka pintu ruangan tempat dia bekerja, netranya langsung tertuju pada Gavin yang berdiri dengan sedikit bersandar pada meja kerjanya, seolah pria itu memang tengah menunggu kedatangannya.
Elle tidak langsung menghampiri pria itu. Tubuhnya terdiam kaku di depan pintu yang sudah tertutup dengan sendirinya.
Elle merasa kalau saat ini jiwa dan raganya tengah saling berjauhan. Di satu sisi, raganya memaksanya untuk tetap bertahan dalam kesadarannya. Namun, di sisi lain, jiwanya terus berkata kalau saat ini dia tengah merasakan sakit yang luar biasa.
Elle sampai tidak menyadari kalau saat ini Gavin sudah berdiri di hadapannya. Dia benar-benar tidak tahu kapan pria itu melangkah mendekatinya. Dia bahkan tidak sadar kalau saat ini dia sudah berada di dalam dekapan hangat pria itu.
"Menangislah.."
Bagaikan sebuah mantra, satu kata yang terucap dari mulut Gavin benar-benar mampu membuat air mata Elle yang sedari tadi dia tahan kini mengalir dengan tidak tahu malunya.
Bagaikan sebuah bujuk dan rayuan, usapan lembut tangan Gavin yang begitu menenangkan mampu membuat Elle menangis dengan tersedu-sedu. Isakan pilunya kini benar-benar memenuhi setiap sudut ruangan.
Entah untuk berapa lama, isakan pilu itu terus saja terdengar dari mulut Elle. Isakan pilu yang hanya bisa di dengar oleh seorang pria yang terus saja menenangkannya dengan sapuan lembut tangan pria itu di punggung Elle.
Tanpa ada kata yang terucap dari mulut pria itu, usapan tangannya seolah mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Itu bukan lah harapan atau pun isyarat belaka.
Karena memang pada kenyataannya, semuanya akan baik-baik saja. Gavin berjanji akan membuat semuanya menjadi baik-baik saja.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..