Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Perjalanan Yang Terganggu


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


"Sejak kapan aku menjadi kekasihmu?"


Gavin melirik Elle sekilas, pria itu pura-pura berpikir untuk sejenak.


"Apa aku sempat mengatakan hal itu?"


Elle seketika saja memutar bola matanya. "Tidak usah berpura-pura hilang ingatan."


Gavin terkekeh kecil. "Lantas, apa salahnya?"


Elle mengernyitkan dahinya. "Apa salahnya bagaimana? Apa kau tidak sadar kalau saat itu kita berada di muka umum? Gosip bisa saja tersebar, Gavin!"


"Bukan kah itu membuktikan kalau aku benar-benar serius terhadap mu? Apa yang kau takutkan? Suamimu? Aku sudah bilang padamu, tinggalkan suami mu lalu datanglah ke pelukanku. Demi Tuhan Ell, aku pasti akan membahagiakanmu dengan seluruh hidupku."


Elle terdiam untuk sejenak. "Tapi.."


"Tapi apa? Apa kau tidak lelah dengan kehidupan rumah tanggamu yang begitu kacau? Apa kau tidak lelah hidup dengan pria yang menduakanmu? Bahkan dia menduakanmu se dari awal kalian menikah."


"Tunggu.. Kau sudah nengetahui semua itu? Dan kau tidak memberitahuku? Kau membiarkan ku menjadi seorang gadis bodoh yang terlena akan cinta?" Elle berkata dengan begitu menggebu-gebu, gadis itu menatap Gavin dengan persimpangan yang tercetak dengan jelas di dahinya.


"Oh God! Sepertinya aku salah berbicara." Gavin bergumam di dalam hatinya.


"Khem!"


Gavin mengusap tengkuknya, mulutnya terkatup rapat seolah enggan untuk berbicara. Demi Tuhan, baru kali ini Gavin merasa gugup seperti ini.


"Bukan seperti itu maksudku. Aku sebenarnya bisa saja memberitahu mu hal ini lebih awal. Tapi, bukan kah itu sama saja seperti aku berbuat curang? Terlebih lagi, aku benar-benar menginginkanmu untuk datang ke pelukanku."


Ok, hanya itu alasan yang bisa Gavin berikan. Tapi, memang begitu kan adanya? Bukan kah Gavin sudah mengatakannya sebelumnya?


Mendapatkan jawaban yang begitu masuk akal, lantas membuat raut wajah Elle kembali normal. Gadis itu memalingkan wajahnya, dia menatap jalanan dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.


"Are you okay?"


Elle mengangguk kecil, gadis itu menoleh pada Gavin dengan raut wajah bingung.


Gavin merasa heran, kenapa gadis itu bisa merubah ekspresinya dengan tiba-tiba?


"Why??


"Aku ingin menanyakan hal ini sejak tadi."


Gavin mengernyitkan dahinya. "Tanyakan saja."


"Kenapa kau bisa dengan begitu mudahnya mendapatkan tas itu? Dan apa itu tadi.. Kau juga meminta mereka untuk menghentikan produksi tas yang sama dengan tas yang ini. Aku tau, kau memang terkenal di mana-mana. Tapi, kau tidak seharusnya meminta hal itu. Bukan kah itu sama saja seperti kau menghancurkan penghasilan mereka? Kau tau, sikapmu tadi sudah seperti pemilik toko itu."


Gavin seketika saja terkekeh kecil. "Apa kau benar-benar tidak melihat lambang Jaliandro yang terpasang di samping nama toko itu?"


"What?! Jadi kau benar-benar pemilik toko itu?"


Gavin mengangkat bahunya acuh. "Kau bisa memastikannya di laman sosial media toko itu."


Elle melakukan apa yang di katakan Gavin, dia membuka laman sosial media toko itu dari ponselnya.


Elle menjatuhkan rahangnya saat melihat lambang Jaliandro yang benar-benar ada di samping nama toko itu.


Kenapa selama ini dia tidak menyadarinya? Astaga.. Kemana saja selama ini kau Elle??!! Elle tiba-tiba saja merasa penasaran, apa kah Gavin memiliki usaha di setiap penjuru Italia?


"Berapa banyak usaha yang di naungi nama Jaliandro?"


Pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari mukut Elle. Sungguh, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu.

__ADS_1


Gavin lantas berpikir untuk sejenak. "172, tidak termasuk dengan perusahaan inti."


"Waaah.." Elle menatap Gavin engan wajah melongo tak percaya.


"Apa kau menaungi usaha di segala bidang?"


Gavin mengangguk kecil. "Bisa di katakan begitu.. Bukan kah kau sudah cukup lama bekerja sebagai asisten pribadiku? Kenapa kau belum menyadari hal itu?"


"Ha ha.." Elle tertawa canggung. "Ayolaaah.. Aku tidak memiliki waktu untuk menghitung jumlah perusahaan yang kau miliki. Aku sudah cukup kau buat sibuk dengan mengatur berbagai jadwal pertemuanmu, juga dengan berbagai berkas yang kau berikan padaku."


"Itu belum termasuk meeting dadakan yang sering kali kau adakan. Aku terkadang bertanya-tanya, sebenarnya itu memang pekerjaanku, atau kau hanya berniat untuk mengerjaiku?"


Gavin menggaruk pelipisnya, bukan karena pertanyaan yang di ajukan Elle. Melainkan karena mood gadis itu yang tiba-tiba saja berubah.


Kemana perginya gadis yang baru saja merasa sedih? Kenapa gadis itu sekarang tiba-tiba saja berubah menjadi gadis yang cerewet?


"Apa kau sedang mengel.."


"Tentu saja."


Gavin mengatupkan mulutnya yang sempat terbuka, dia merasa sedikit terkesan pada Elle yang menjawab pertanyaannya dengan begitu cepat. Bahkan sebelum Gavin dapat menyelesaikan pertanyaannya.


"Bukan kah akhir-akhir ini kau terlalu berani padaku?"


"A, aku?" Elle menunjuk dirinya sendiri. "A haa ha.." Gadis itu tertawa canggung. "Aku tidak.. Itu hanya perasaanmu saja.. Awww!!"


Elle mengusap dahinya yang terbentur dashboard.


"****!"


Gavin melirik ke arah belakang melalui kaca spionnya.


Siapa yang berani mengganggu perjalanannya di siang bolong begini?


"Pegangan yang erat."


Tanpa menunggu tanggapan dari Elle, Gavin menambah kecepatan laju mobilnya. Beruntungnya, jalanan cukup sepi, membuat Gavin bisa mengemudi dengan leluasa.


Elle mere**mat sabuk pengamannya dengan sangat erat.


"Gaviiinn.. Oh astagaaa.. Kita tidak sedang syuting film fast and furious!!"


Gavin seketika saja terkekeh geli, dia merasa gemas melihat raut wajah panik Elle.


"Tenanglah, aku cukup ahli dalam mengemudi. Aku tidak akan membawa mu untuk mati, aku masih ingin menikahimu."


"Yaaakk!! Bisa-bisanya kau menggodaku di saat seperti ini?!"


Gavin kembali terkekeh geli.


"Dari pada kau hanya memaki ku, sebaiknya kau mengambil pistol yang tersimpan di bawah kursi mu."


Elle membulatkan kedua bola matanya. "Pi, pistol?"


"C'mon babby.. Ini bukan saatnya untuk terkejut. Atau haruskah aku mengambilnya sendiri?"


Gavin menaikkan sebelah alisnya, dia melirik Elle yang menatapnya dengan sangat tajam.


"Tidak perlu, akan aku ambilkan."


Elle memundurkan kursinya, dia menundukkan tubuhnya. Tangannya terulur ke bawah kursinya, dia meraba setiap sudut kursi itu.


"Astaga.. Kau benar-benar menyimpan pistol di bawah sini?"


Elle mengambil pistol itu, dia melihat pistol itu dengan tatapan takjub.


"Aku bahkan menyimpan pistol di setiap mobil yang aku miliki."

__ADS_1


"What?!"


"Apa kau bisa menembak?" Gavin mengabaikan rasa terkejut Elle.


"Apa kau sedang mengejek ku? Ini bahkan pertama kalinya aku memegang benda ini. Bagaimana mungkin aku bisa menembak?"


"Hanya tarik pelatuknya, kemudian tembakkan pelurunya ke titik bidik."


"Astagaaa.. Aku bahkan tidak tahu apa itu pelatuk."


Gavin lantas menunjuk pelatuk pistol itu.


"Tarik itu, lalu tembakkan pelirunya ke titik bidik. Kau bisa menembak ban mobil mereka."


"Aku tidak bisa.."


"Kau bisa, anggap saja ini sebagai latihan pertama mu."


"Tapi, bukan kah itu sama saja dengan kita yang mencelakai mereka?"


Gavin seketika saja merasa gemas pada Elle. Sungguh, jika situasinya memungkinkan, Gavin mungkin saja sudah melahap Elle detik ini juga.


"Apa kau tidak memikirkan keselamatan mu sendiri? Kita tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh mereka jika kita tidak menghentikan mereka."


"Tapi.."


"C'mon babby.."


Gavin melirik mobil di belakangnya yang semakin lama semakin mendekat. Bukannya mobil Gavin kalah cepat, hanya saja, kaki Gavin terlalu pegal menginjak pedal gas karena hampir seharian ini dia terus mengemudi tanpa beristirahat.


"Dari mana aku harus menembak?"


Gavin lantas membuka penutup mobil atasnya.


"Kau siap?"


Gavin hendak memelankan laju mobilnya.


"Tunggu dulu, bagaimana jika meleset?"


"Kau hanya perlu menembaknya lagi. Peluru yang ada di pistol itu berjumpah 5 butir. Kau bisa menghabiskannya jika kau mau."


"Oh God!" Kepala Elle tiba-tiba saja merasa pening.


Elle lantas melepaskan hills yang dia kenakan, dia berdiri menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan dengan menghadap ke arah mobil yang mengejar mereka.


"Kau siap?"


"I'm not sure.."


"Ok, kau bisa menembak."


Gavin memelankan laju mobilnya.


Dengan gerakan cepat, Elle segera menyembulkan setengah tubuhnya melalui celah yang ada, kemudian..


Dor!!


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2