Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
"I Got You, babby"


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Jantung Elle berdegup dengan sangat kencang saat netranya tak sengaja bersibobrok dengan netra pria itu. Nafasnya seakan terhenti saat dia melihat pria itu menyunggingkan smirknya.


Tersadar dari rasa terkejutnya, Elle segera berbalik arah. Mengabaikan tatapan aneh dari beberapa teman-teman kerjanya.


Oh God!! Apa yang di lakukan pria itu di sini??


Apa dia mencariku??


Apa jangan-jangan dia memang benar seorang mafia??


Aduh, aku harus bagaimana??


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam benak Elle.


Blaam!!


Wanita itu menutup pintu pantry dengan sedikit kasar, membuat Adisty (teman kantor Elle) yang tengah membuat kopi seketika saja berjengkit karena merasa terkejut.


"Ap.."


Adisty tidak jadi mengeluarkan suaranya saat melihat Elle yang berjalan mondar mandir dengan wajah panik.


Dia mengernyitkan dahinya karena Elle seolah tidak menyadari keberadaannya.


"Apa yang terjadi padanya?" Gumam Adisty.


"Ell.. Kau baik-baik sa.."


"Diamlah.. Aku sedang berpikir! Jangan menggangguku!"


Adisty seketika saja menutup mulutnya rapat-rapat, dia mengerjapkan matanya melihat tatapan mata Elle yang terlihat sedikit mengerikan.


"Eeell.."


Adisty mencoba untuk memanggil Elle karena ponsel wanita itu berbunyi.


Namun, Elle sama sekali tidak meresponnya.


Apa wanita itu kerasukan sesuatu? Bukan kah hari masih terlalu pagi untuk merasa emosi? Apa yang mengganggu pikirannya hingga dia tidak menyadari bunyi ponselnya sendiri? Padahal sudah terpampang dengan jelas kalau dia memegang ponselnya dengan tangannya sendiri.


Adisty menatap Elle dengan di penuhi rasa ragu. Haruskah dia tetap mencoba untuk menyadarkan Elle? Ponsel wanita itu terus saja berbunyi, Adisty sedikit khawatir jika saja panggilan itu merupakan panggilan penting.


Elle tidak ada hentinya berjalan mondar mandir seraya beberapa kali mengusap wajahnya dengan di penuhi rasa frustasi, raut wajah wanita itu terlihat sedikit garang. Membuat Adisty merasa semakin ragu.


Tapi, ponsel wanita itu terus saja berdering.


"Eeeel.."


Adisty akhirnya memberanikan diri untuk memanggil Elle.


"Elle?"


"Ck! Apa?"


Elle berhenti kemudian menatap Adisty dengan mata yang memicing tajam.


Adisty menelan ludahnya, nyalinya sedikit menciut saat melihat raut wajah Elle yang sangat mengerikan seolah ingin melahapnya saat itu juga.


"Eemm.. I, itu.." Adisty menunjuk ponsel yang di pegang Elle dengan sedikit kikuk.


Elle mengernyitkan dahinya. "Apa?"


"I, itu.."


"Apa? Katakan dengan jelas!"


"Ponselmu berbunyi."


Elle mengerjapkan matanya, dia lantas melihat ponselnya yang memang tidak berhenti berbunyi karena menerima panggilan telepon.


"Astaga!"


Elle menepuk dahinya saat melihat kalau Clara lah yang menelponnya.


Sungguh, dia benar-benar lupa kalau Clara memintanya untuk menemani wanita itu melakukan rapat.


Salahkan saja pria itu yang tiba-tiba saja menampakkan diri sehingga membuat Elle merasa panik dan membuatnya melupakan permintaan Clara.


Elle menghela nafasnya untuk sejenak, menyusun beberapa alasan untuk membalas omelan yang sudah pasti akan di keluarkan oleh Clara.


Elle pun mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Ha.."


πŸ“ž(Apa yang kau lakukan?? Ha! Di mana kau?? Aku sudah menunggumu sejak tadi!! Apa kau lupa kalau 20 menit yang lalu aku memintamu untuk menemaniku rapat?! Ini sudah hampir 30 menit! Apa kau tidak berpikir kalau mereka menunggu kita?! Oh astaga Ellleeeee... Kenapa pagi ini kau lamban sekali!!)


Elle menggaruk pelipisnya, nyalinya seketika saja menciut saat mendengar suara Clara yang begitu menusuk pendengarannya.


Alasan yang tersusun rapi di kepalanya tiba-tiba saja melebur entah kemana.


"Y, ya.. Aku akan datang dalam 10 menit.."


πŸ“ž(Cepat!!")


Elle memejamkan matanya saat Clara mematikan panggilan itu secara sepihak.


Elle lantas segera keluar dari pantry untuk melakukan tugasnya.


Meninggalkan Adisty yang masih saja merasa bingung melihat kelakuan Elle yang semakin hari semakin bertambah ajaib.


"Apa kah orang tuanya tidak merasa frustasi memiliki putri yang modelannya seperti itu?"


.......


.......


.......


Elle menghembuskan nafasnya berulang kali, dia menatap pintu ruang rapat dengan tatapan yang sedikit nanar.


Elle merasa sedikit tidak siap untuk menerima tatapan membunuh yang sudah pasti akan di layangkan oleh Clara.


Ayolahh.. Mau se menyedihkan apa pun tangisan yang tadi sempat Elle keluarkan, Clara bukan orang yang mudah di ajak kompromi untuk urusan keterlambatan kerja.


Masih baik tadi Clara meloloskannya. Setelah ini, Elle tidak bisa membayangkan, hukuman apa yang akan diterimanya. Karena selama ini, Elle tidak pernah satu kali pun menyentuh kata terlambat.


Namun, meskipun begitu. Elle tetap membuka pintu ruang rapat itu secara perlahan. Karena mau bagaimana pun juga, hal yang di lakukannya tadi memanglah salahnya sendiri.


"Permisi.." Ucap Elle.


Elle menyunggingkan senyum canggungnya saat melihat tatapan mata Clara yang seolah ingin meleburkannya saat itu juga.


Dia menghampiri Clara dengan langkah yang tergesa namun tetap terlihat anggun. Dia belum sadar kalau pria yang tadi di hindarinya juga tengah berada di dalam ruangan itu.


Elle pun memberikan berkas yang sebelumnya di minta oleh Clara.


"Kau sudah membawa semuanya?"


Elle menganggukkan kepalanya. "Sudah miss.."


"Baik miss.."


Saat Elle memalingkan tubuhnya untuk duduk di kursi yang biasa dia tempati, wanita itu tiba-tiba saja terdiam mematung melihat Gavin yang tengah duduk di kursi pimpinan dengan gayanya yang begitu angkuh.


Pria itu datang bersama seorang pria yang sudah beberapa kali Elle lihat, siapa lagi jika bukan Sam. Pria yang dia ketahui sebagai asisten pribadi pemimpin perusahaan ini.


Meskipun mereka tidak pernah bertemu secara langsung, namun Elle sempat beberapa kali melihatnya keluar masuk perusahaan ini.


Oleh sebab itu, Sam tidak mengenali Elle. Karena ya, pada dasarnya, mereka belum pernah bertemu secara langsung.


Ah iya, Elle baru sadar kalau Sam juga ikut datang kesini.


Elle sedikit mengernyitkan dahinya.


Ck! Bodoh! Apa yang kau pikirkan.. Tentu saja Sam akan ikut datang. Tidak mungkin kan pemimpin perusahaan datang tanpa membawa asisten pribadinya.


Eh, tunggu, pemimpin?


Apa pria itu benar-benar pemimpin perusahaan ini??


Bersamaan dengan Elle yang terdiam mematung, Gavin diam-diam mengulum senyumnya.


"I got you, babby.." Gavin bergumam di dalam hatinya.


Sungguh, dia sangat menyukai raut wajah Elle yang menunjukkan rasa terkejutnya.


Raut wajah Elle benar-benar terlihat seperti dia tengah melihat sosok iblis yang paling menyeramkan di muka bumi ini.


Tapi, bukan kah memang begitu adanya?


Gavin memanglah jelmaan iblis yang paling menyeramkan di muka bumi ini, tidak heran jika Elle bisa menatapnya dengan sebegitu terkejutnya.


Ah tunggu, bukan kah gadis itu tidak mengenal siapa dia?


Andai hanya ada dia dan Elle di ruangan ini, mungkin saja Gavin sudah terkekeh kecil.


"Khem! Bisa kah kita memulai rapatnya?"


Suara bariton Gavin memenuhi setiap sudut ruang rapat.

__ADS_1


Namun, Elle tak kunjung bergerak dari tempatnya, entah apa yang tengah di pikirkan oleh wanita itu.


"Eell.."


Clara menyentuh tangan Elle.


Elle langsung menoleh pada Clara dengan caranya yang sedikit kikuk.


"Hah? Ya? Ada apa?"


"Cepat duduk!"


Tatapan mata Clara begitu tajam menusuk, giginya terkatup rapat menahan rasa gemasnya pada Elle yang tiba-tiba saja menjadi sangat lambat.


"Ah ya, duduk."


Elle pun segera duduk di kursinya yang ada di samping kiri Clara.



Pict by : Pinterest


Selama mereka melangsungkan rapat, Elle benar-benar tidak bisa fokus. Dia hanya bisa memberikan tanggapan berupa kata "Ya" dan Tidak" untuk setiap pertanyaan yang di berikan padanya.


Salahkan saja Gavin yang terus menerus memperhatikan gerak geriknya, membuat Elle merasa sangat tidak nyaman.


Lagi pula, kesalahan apa yang telah di lakukan oleh Elle? Sampai-sampai pria itu tidak mengalihkan tatapan darinya barang satu menit pun.


Apa kah pria itu merasa tersinggung atas apa yang di lakukannya waktu itu?


Tapi kan, Elle sudah meminta maaf.. Ya walau pun tidak secara langsung, tapi setidaknya Elle sudah berinisiatif untuk meminta maaf.


Dan juga, kenapa pula pria itu harus menjadi atasannya?


Ah tidak, kenapa juga Elle harus bekerja di perusahaan milik pria itu?


Oh Tuhan, Elle benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Hingga akhirnya, Elle bisa menghela nafasnya dengan sangat lega karena rapat telah usai.


Saat Elle tengah merapikan berkas yang tergeletak di atas meja, dia kembali di buat sesak nafas saat Gavin tiba-tiba berkata.


"Nona Elle, aku akan menunggumu di ruanganku dalam waktu 10 menit ke depan."


Setelah mengatakan hal itu, Gavin lantas berlalu pergi begitu saja.


"Ell.. Apa kau mengenal Tuan Gavin? Kenapa sedari tadi dia menatapmu seolah-olah dia sangat mengenalmu?"


"Ha ha, apa yang kau pikirkan." Elle mengibaskan tangannya di udara. "Aku baru bertemu dengannya hari ini. Dia menatapku seperti itu mungkin karena aku yang terlambat datang."


Elle berusaha untuk bersikap normal guna mengenyahkan kecurigaan Clara.


"Hhmm.. Benar juga apa katamu." Clara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia memang orang yang sangat tepat waktu. Kalau begitu, sebaiknya kau berhati-hati, dia terkenal sebagai pemimpin yang ganas dan tidak mengenal kata ampun."


Elle seketika saja menatap Clara dengan tatapan datanya. "Jangan menakutiku!"


Clara mengangkat bahunya acuh. "Aku hanya memintamu untuk berhati-hati.. Lagi pula, itu salahmu sendiri yang datang terlambat."


"Sudahlah, biarkan aku saja yang membawa berkasnya. Sebaiknya kau segera ke ruangannya sebelum kau kembali terlambat."


Clara mengambil berkas yang ada di tangan Elle kemudian berlalu pergi dari sana.


Namun, sebelum itu.


"Ah ya, hari ini, kau harus menyelesaikan laporan yang tempo hari aku minta. Anggap itu sebagai hukuman karena kau sudah terlambat datang."


Tanpa menunggu tanggapan dari Elle, Clara pun benar-benar berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Elle yang menatap kepergian Clara dengan tatapan nanar.


Belum juga jelas masalahnya dengan Gavin, kini Elle sudah mendapatkan masalah lain yang berasal dari Clara.


Ayolah, bayangkan saja.. Laporan itu paling lambatnya bisa Elle selesaikan dalam waktu 4 hari. Sedangkan ini?


"Oh God! Kenapa hidupku tiba-tiba menjadi rumit?!"


Elle mengusap wajahnya dengan kasar.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2