Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Fakta Yang Cukup Mengejutkan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Saat masuk ke dalam ruangannya, netra Gavin langsung terfokus pada Sam yang tengah duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangannya. Sofa yang sering di gunakan ketika ada tamu yang mendatanginya.


"Kau sudah menyelesaikan rapatmu? Rapat hari ini berakhir lebih cepat dari pada dugaanku."


Ah ya, jangan heran jika Sam berbicara pada Gavin dengan tutur kata layaknya seorang teman. Jika kalian lupa, Sam adalah sepupu Gavin. Dan Gavin pun membiarkan hal itu, dia tidak mempermasalahkan hal itu selama Sam mampu dia andalkan.


Tapi, Sam tidak serta merta berlaku seperti itu di depan halayak umum. Dia akan berbicara selayaknya seorang teman hanya di depan orang-orang tertentu saja.


Selebihnya, Sam akan berbicara selayaknya seorang bawahan kepada atasannya.


"Kau sudah mendapatkannya?" Gavin mengabaikan perkataan Sam.


"Tentu saja, aku sudah meletakkannya di atas meja mu. Jangan khawatir, aku selalu bisa kau andalkan." Sahutnya dengan penuh rasa bangga.


"Tcih! Tidak tahu terima kasih!" Sam menggerutu saat Gavin hanya melewatinya begitu saja.


Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak! Jangan dengarkan aku. Lebih baik kau segera memeriksa apa yang kau inginkan."


Gavin mengangkat bahunya acuh, dia duduk di kursi kebeserannya dengan caranya yang begitu pongah.


Tangan kirinya terulur untuk meraih map berwarna coklat yang terletak di atas meja kerjanya.


Elleonor Abrunachi..


Nama itu tercetak dengan cukup tebal di bagian atas halaman pertama.


Nama yang cukup menarik..


Gavin membuka lembar demi lembar kertas berisi informasi tentang Elle yang tengah dia pegang.


"Dia bekerja di salah satu perusahaan milik Jaliandro Company?"


"Ya, dia kepala bagian keuangan di sana." Sam menyahut cepat.


Gavin menyunggingkan senyum tipisnya, dunia memang sempit. Ah tidak, daratan Eropa memang sempit.


Ternyata, menemukan gadis itu tidak sesulit yang di ucapkan oleh gadis itu.


Jika gadis itu sudah berada di bawah naungannya, bukan hal sulit untuk Gavin mengadikuasai gadis itu.


Bahkan jika Gavin menginginkan gadis itu untuk menjadi asisten pribadinya, Gavin dapat melakukan hal itu sekarang juga.


Tapi tidak, Gavin tidak akan bertindak dengan terlalu terburu-buru.


Saat Gavin hendak kembali membuka lembaran kertas itu, Sam segera menghentikannya.


"Tunggu, Gavin.."


Gavin lantas menoleh pada Sam.

__ADS_1


"Sebelum kau melihat informasi terakhir tentang gadis itu, bisa kah aku bertanya satu hal padamu?"


Gavin terdiam untuk sejenak. "Mmn.. Tanyakan saja."


"Apa tujuanmu mengincar gadis itu?"


"Apa pentingnya bagimu?" Gavin menaikkan sebelah alisnya.


"Ini bukan kepentingan untuk diriku sendiri, tapi untukmu."


Gavin menghela nafasnya, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dia duduki. Dia merasa sedikit penasaran karena ini adalah kali pertama Sam mencoba untuk mencampuri urusannya mengenai seorang gadis.


"Katakan.."


"Khem! Begini.. Jika kau berniat untuk mengejar gadis itu, sebaiknya jangan. Jangan lakukan hal itu."


"Kau mengaturku?" Gavin terdengar sedikit tidak suka atas perkataan Sam.


"Bukan begitu maksudku.. Hanya saja.."


"Hanya saja?" Gavin kembali menaikkan sebelah alisnya.


"Aduh, bagaimana cara ku mengatakannya."


"Dia sudah memiliki kekasih?"


"Lebih dari itu.."


"Lebih?" Gavin mengernyitkan dahinya.


"Ya, lebih.. Bukan hanya sekedar kekasih, tapi suami. Dia berstatus sebagai istri orang. Akan sangat tidak lucu kan kalau sampai seorang Gavin Jaliandro yang terkenal kejam dan angkuh di kabarkan merebut istri orang."


Tapi sedetik kemudian, pria itu tiba-tiba saja menegakkan tubuhnya. Dia menatap Sam dengan sepasang alisnya yang saling bertaut.


"Dia sudah menikah?"


"Ya, menikah. Dari informasi yang aku dapatkan, dia sudah menikah sejak 2 tahun yang lalu."


What!! 2 tahun?? Tapi kenapa..


"Du, dua tahun?"


Gavin mencoba untuk memastikan kalau pendengaran masih bekerja dengan sangat normal.


"Ya, 2 tahun. Aku tidak mungkin mendapatkan informasi palsu. Aku bahkan mendapatkan data pernikahan mereka dari pencatatan sipil. Aku sudah mencantumkan datanya di halaman terakhir."


Haah!!


Gavin menyunggingkan senyum tidak percayanya. Dia melemparkan berkas yang berisi informasi tentang Elle yang belum selesai di bacanya itu ke atas meja.


Pria itu menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terjejutnya.


Haruskah dia mempercayai hal itu?


Kalau memang gadis itu sudah menikah selama 2 tahun lamanya, lantas, kenapa dia masihlah seorang perawan?


Jika saja gadis itu menikah baru 2 hari yang lalu, mungkin saja Gavin akan mempercayai hal itu.

__ADS_1


Tapi ini? 2 tahun.. Jelas saja itu bukan waktu yang sangat singkat.


Pikirannya tiba-tiba saja membayangkan hal yang tadi malam dia lakukan pada gadis itu. Pantas saja gadis itu mengatakan hal yang sedikit ambigu di saat Gavin mencoba untuk menyentuhnya, jadi ini alasan di baliknya.


Hah.. Kepala Gavin tiba-tiba saja berdenyut dengan sangat kuat.


Bagaimana mungkin bisa suami gadis itu mampu bertahan untuk tidak menyentuh gadis itu selama 2 tahun lamanya? Apa kah mungkin gadis itu menikahi pria impotent? Atau jangan-jangan gadis itu menikahi seorang pria yang memiliki hasrat seksualitas yang menyimpang?


Tapi.. Ah, Gavin benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu.


"Kenapa kau terlihat sangat terkejut? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Sam menatap Gavin dengan di penuhi rasa penasaran.


Sungguh, ini adalah kali pertama bagi Sam melihat Gavin yang merasa begitu terkejut. Terlebih lagi, sepupunya yang juga merangkap sebagai atasannya itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi terjejutnya.


"Jika pun aku mengatakannya, kau sudah pasti tidak akan mempercayainya."


Gavin mencoba untuk mengembalikan kewarasannya.


"Bagaimana mungkin bisa aku tidak mempercayainya jika kau saja tidak mengatakannya."


"Dia seorang perawan!" Gavin menyahut dengan cepat.


Jika tadi adalah Gavin, kini berganti Sam yang merasa sangat terkejut.


"Tunggu.. Apa? Perawan? Bagaimana mungkin hal itu bisa sampai terjadi? Apa kau sedang bergurau denganku?"


Gavin menyunggingkan smirknya. "Bukan kah sudah ku katakan kalau kau juga tidak akan mempercayainya."


"Sss, hah.." Sam menopang dagu menggunakan ibu jari tangan kirinya, dengan ke empat jari lainnya yang menutupi mulutnya, dia tengah berusaha mencoba untuk percaya akan apa yang baru saja di katakan oleh Gavin.


"Tapi.. Jika memang benar begitu adanya. Lantas, apa semalam kau membobolnya?" Sam menoleh pada Gavin.


"Apa aku segila itu? Aku tidak mungkin membobol keperawanan seorang gadis jika bukan dia sendiri yang menyerahkannya dengan suka rela padaku."


Sam merasa sedikit lega setelah mendengar hal itu.


"Lantas, apa yang akan kau lakukan pada gadis itu?"


Gavin terdiam untuk sejenak, dia memikirkan hal yang menjadi tujuan awal kenapa dia menginginkan informasi tentang gadis itu.


Harus kah dia tetap melakukan rencananya setelah mengetahui fakta tentang gadis itu?


Tapi, tidak bisa di pungkiri. Setelah mengetahui fakta yang cukup mengejutkan tentang gadis itu, sedikit banyaknya, membuat Gavin justru merasa semakin tertarik pada gadis itu.


Haruskah Gavin mengenyampingkan gadis ini dari prinsipnya yang tidak akan pernah merebut seorang gadis dari tangan pria lain?


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2