Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Mencoba Untuk Berbicara


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Jaliandro Company ...


"Oh Tuhan.. Apa lagi ini?"


Elle menatap tumpukan berkas yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang di penuhi rasa frustasi.


Bayangkan saja, bagaimana bisa dia tidak merasa frustasi. Hampir di setiap harinya, Elle harus mengerjakan berkas yang tiada habisnya.


Kalau di pikir-pikir, Elle merasa sedikit menyesal karena memilih bekerja di perkantoran. Kenapa juga dulu dia sangat mengidam-idamkan pekerjaan yang sama dengan ayahnya. Jika tau akan seperti ini jadinya, lebih baik Elle menuruti perkaan ibunya untuk menjadi penjual bunga saja.


Ah, salahkan saja dia yang tidak mempercayai perkataan ayahnya.


Ketahuilah, dulu Elle selalu berpikir bahwa ayahnya terlihat sangat gagah saat mengenakan setelan jas untuk bekerja. Elle juga selalu berpikir bahwa betapa menawannya para wanita di luaran sana yang mengenakan setelan formal saat berangkat bekerja.


Tapi yeah, setelah Elle mengalaminya sendiri, Elle baru menyadari kalau semakin bagus pakaian yang di gunakan untuk bekerja, maka semakin besar juga tekanan yang dia miliki saat menghadapi pekerjaan itu.


Bisa di katakan Elle memang tidak banyak menggunakan tenaga fisik saat bekerja, melainkan otak dan pikiran lah yang habis terkuras dayanya.


"Nona Elle.."


Kana (petugas receptionist lantai atas) mengernyitkan dahinya karena Elle sama sekali tidak menanggapinya. Perempuan itu sepertinya begitu tenggelam dalam pikirannya.


"Elle.."


Tuk tuk tuk..


Kana mengetuk meja kerja Elle, namun Elle masih saja tidak menanggapinya.


"Hey.."


Kana sedikit meninggikan suaranya di sertai dengan jentikan jari yang dia lakukan tepat di depan wajah Elle.


"Ah, ya?"


Elle seketika saja menatap Kana dengan wajah bingung.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku memanggilmu berulang kali tapi kau tidak menanggapiku."


"Ah, haha.. Begitukah?" Elle menatap Kana dengan tidak enak hati. "Maafkan aku, aku hanya terlalu lelah melihat berkas yang tidak ada habisnya."


Kana menyunggingkan senyum kecilnya. "Ya, aku sangat mengerti dengan apa yang kau rasakan."


"Ada apa? Apa kau memiliki berkas tambahan?"


"Tidak, seseorang mencarimu. Aku sudah menghubungi ku melalui telpon, tapi ya, kau tidak memberikan tanggapan. Aku merasa khawatir karena kau tidak biasanya mengabaikan telpon, jadi aku memutuskan untuk menghampirimu. Tapi ternyatanya kau terlalu sibuk dengan pemikiran mu."


"Haha, maafkan aku. Tapi, tunggu dulu. Seseorang? Apa seorang pria?"

__ADS_1


"Emm.." Kana menggelengkan kepalanya. "Dia perempuan."


"Perempuan?"


"Namanya Ayana. Dia bilang, dia ada hubungannya dengan Dean. Dia berkata kalau kau akan menemuinya jika kau mendengar nama itu."


"Apa dia memberitahumu hal lain?"


Kana menggelengkan kepalanya. "Hanya itu yang di katakan Tifa padaku."


"Baiklah, aku akan turun untuk menemuinya."


"Okay.."


Elle lantas beranjak dari tempatnya, dia menuju lantai bawah tempat di mana Ayana saat ini tengah menunggunya.


Kalau boleh jujur, jantung Elle saat ini tengah berdegup dengan sangat cepat. Elle juga tidak tahu kenapa. Hanya saja, entahlah, Elle merasa terlalu rumit untuk menjelaskan perasaannya saat ini.


Pertanyaan demi pertanyaan pun tentu saja muncul di benaknya. Ada apa? Kenapa? Untuk apa? Pertanyaan demi pertanyaan itu terus saja tergumam dari mulutnya.


"El.."


Elle menoleh pada Tifa, dia lantas melangkah mendekati Tifa.


"Ada apa?"


"Kau turun untuk menemui orang yang mencarimu?"


Elle menganggukkan kepalanya.


Tifa menunjuk kursi yang terletak di dekat jendela, tempat di mana Ayana sedang menunggu Elle.


"Ok, thanks."


Tidak ingin membuat Ayana nenunggu terlalu lama. Elle pun menghela nafasnya untuk sejenak sebelum akhirnya segera menghampiri Ayana yang saat ini sedang menatap ke arah luar jendela.


"Ayana?"


Saat Ayana menoleh pada Elle, Elle seketika saja tertegun untuk sejenak melihat wajah Ayana yang begitu bengkak. Elle tidak tahu apa yang di alami oleh Ayana, namun Elle merasa kalau Ayana sudah banyak menangis.


Ayana yang tidak bisa mengartikan tatapan yang di berikan Elle padanya pun memilih untuk beranjak dari kursinya, dia berdiri di hadapan Elle dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Apa kau Elleonor?" Ayana bertanya dengan sedikit ragu.


"Ya?" Elle menatap Ayana dengan sedikit bingung, gadis itu masih terpaku pada lamunannya.


"Apa kau Elleonor?"


"Ah, maafkan aku.. Ya, aku Elleonor. Bolehkah aku mengetahui, untuk apa kau mencariku?"


Ayana menghela nafasnya, jujur saja, keberanian yang sudah dia kumpulkan selama berhari-hari ini tiba-tiba saja redup saat berhadapan langsung dengan Elle.


Bukan hanya karena apa yang sudah Ayana lakukan pada Elle. Tapi juga Ayana merasa sangat tidak percaya diri. Melihat Elle yang begitu sempurna di matanya, membuat rasa percaya diri Ayana seketika saja tertekan dengan sangat dalam.

__ADS_1


Ayana merasa sangat jauh di bawah Elle, entah itu dari segi penampilan, fisik, juga lingkungan sekitar. Ayana benar-benar merasa kepercayaan diri sungguh terintimidasi.


Namun, meskipun begitu, Ayana tetap mencoba untuk mempertahankan keberaniannya untuk mengatakan apa tujuannya.


"Bisa kah aku menganggu waktumu sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


Elle tidak menjawab, perempuan itu terlihat berpikir untuk sejenak.


"Beri waku waktu 5 menit."


Ayana menganggukan kepalanya.


Elle pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazernya, dia mencoba untuk menghubungi Kana melalui panggilan telpon.


(Ada apa Ell?)


"Bisa kah kau meluangkan waktu untukku selama satu jam kedepan?"


(Emmm, okay.. No problem.. Tuan Gavin tidak memiliki jadwal selama 2 jam kedepan, kau bisa menggunakan waktu mu sebaik mungkin.)


"Baiklah.. Jika Tuan Gavin mencariku, katakan padanya aku ada di cafe yang ada di depan perusahaan."


(Okay, take your time.)


"Okay, thanks."


Elle pun mematikan panggilan itu kemudian menatap Ayana yang masih setia berdiri di hadapannya.


Elle menyunggingkan senyum kecilnya melihat Ayana yang menatapnya dengan wajah tegang.


Elle tahu, Ayana merupakan kekasih Dean. Tapi, mau bagaimana pun juga, Ayana sudah lebih dulu mengenal Dean dari pada dirinya. Ayana juga sudah lebih dulu berhubungan dengan Dean.


Elle sadar betul kalau apa yang di lakukan Ayana memanglah salah. Namun, bukan itu yang jadi permasalahannya sekarang.


Toh, dari awal juga pada dasarnya Elle yang sudah menjadi perusak hubungan Dean dan Ayana. Tidak seharusnya Elle memperlakukan Ayana dengan buruk.


Lagi pula, Elle juga sudah memantapkan hatinya untuk tidak lagi melanjutkan hubungannya dengan Dean. Jadi, lebih baik melalui semuanya dengan cara yang baik-baik.


"Sebaiknya kita berbicara di tempat yang nyaman."


Ayana menganggukkan kepalanya. "Terima kasih."


Elle mengangguk kecil. Dia lantas membawa Ayana menuju cafe yang terletak di sebrang Jaliandro Company.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2