Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Tawaran


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Tangan kanan Elle tergerak untuk menyentuh bibirnya, sedangkan tangan kirinya masih setia menggenggam dasi yang belum sepenuhnya terpasang di leher Gavin.


"Ciuman pertama ku!!" Gumam gadis itu.


Belum sepenuhnya Elle tersadar dari rasa terkejutnya, Gavin kembali membuat Elle merasa semakin terkejut saat pria itu kini justru melu**at bibirnya dengan sangat lembut.


"Uuhmmm!!"


Elle berusaha memberontak, namun Gavin menekan tengkuknya dan pinggangnya. Membuat Elle tidak bisa melepaskan diri dan berakhir memilih untuk pasrah.


Bohong jika Elle berkata kalau dia tidak terbuai dengan ciuman yang di berikan Gavin. Terlebih lagi, dalam seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Elle berciuman. Benar-benar membuat Elle merasa terbuai akan setiap luma**tan lembut yang di berikan oleh Gavin.


Lupakan fakta tentang Gavin yang sebelumnya pernah menciumnya. Itu tidak termasuk ke dalam hitungan karena Elle dalam keadaan mabuk berat.


"Uhmm!!"


Elle memukul dada Gavin dengan sedikit keras saat dia mulai kehabisan nafas.


Gavin mengerti, dia lantas melerai ciuman mereka. Namun, Gavin tidak merasa puas hanya dengan menyesap bibir Elle. Kecupannya kini mulai menjalan turun menuju dagu hingga berhenti tepat di perpotongan leher jenjang Elle.


"Tu, tuan.. Berhenti.."


Elle memegang bahu Gavin.


"Tuan, ini salah.. Aku, aku sudah bersuami.."


Gavin menghentikan aksinya, dia menyatukan keningnya dengan kening Elle.


"Aku tahu.."


"Aku bahkan tahu kalau kau tidak bahagia menjalani kehidupan pernikahanmu."


"Tinggalkan suamimu.. Datanglah ke pelukanku.. Maka aku akan membahagiakanmu dengan seluruh hidupku."


Deretan kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Gavin.


Katakanlah Gavin gila karena sudah menawarkan kebahagiaan pada gadis yang baru saja dia kenal. Kebahagiaan yang bahkan belum pernah Gavin tawarkan pada gadis mana pun.


Entahlah.. Gavin juga tidak tahu kenapa dia bisa mengatakan hal itu dengan sangat berani.


Tapi, Gavin bukan orang yang akan menarik kembali perkataannya.


Gavin bahkan sudah siap untuk menerima resiko apa pun yang akan terjadi ke depannya.


Gavin juga tidak peduli kalau dia di katakan telah menjilat ludahnya sendiri. Karena mau bagaimana pun, Gavin memang sudah menjilat ludahnya sendiri sejak hari pertama Elle bekerja menjadi asisten pribadinya.


Dia yang bersumpah tidak akan jatuh pada pesona yang di miliki Elle, kini benar-benar sudah jatuh dengan begitu dalam.

__ADS_1


Bahkan, niat awalnya yang ingin menjadikan Elle sebagai mainannya, kini berubah menjadi niat untuk menjadikan Elle sebagai pendamping hidupnya.


Gila bukan? Tapi mau bagaimana lagi, Gavin sudah terlanjur jatuh pada pesona yang di miliki Elle.


Gavin benar-benar tidak peduli kalau dia di katakan sebagai perebut istri orang. Gavin juga tidak peduli kalau reputasinya akan benar-benar hancur.


Yang Gavin pedulikan untuk saat ini hanyalah Elle.. Bahkan mungkin Elle akan menjadi prioritas utamanya untuk saat ini hingga masa nanti yang akan datang.


Gavin lantas menegakkan tubuhnya, dia menyelipkan helaian rambut Elle ke belakang telinga gadis itu.


"Aku tidak memintamu untuk meninggalkan suami mu sekarang juga. Aku akan menunggu hingga kau mengetahui fakta yang ada di dalam hubungan pernikahan kalian. Dengan begitu, kau memiliki alasan yang tepat untuk meninggalkan suamimu."


Elle terdiam, perasaannya bercampur aduk menjadi satu.


Elle merasa terkejut karena Gavin mengetahui tentang buruknya hubungan pernikahannya dan juga tiba-tiba saja memintanya untuk meninggalkan suaminya, marah karena Gavin dengan begitu kurang ajarnya sudah menciumnya begitu saja, namun juga merasa penasaran akan fakta yang di katakan oleh Gavin.


Sungguh, Elle benar-benar merasa sangat bingung. Respon seperti apa yang harus dia berikan pada Gavin.


Di satu sisi, Elle juga sebenarnya merasa sangat penasaran tentang tujuan Dean dalam menikahinya. Di sisi lain, Elle juga takut untuk mengetahui tujuan itu. Elle takut, hal itu akan berimbas pada kedua orang tuanya.


Bisa kah Elle meminta Tuhan untuk melenyapkannya saat ini juga? Elle benar-benar kalut akan semua hal konyol yang tiba-tiba saja dia hadapi.


"Kenapa Tuan berkata seolah-olah Tuan tahu semua hal mengenai kehidupanku?"


Elle menatap Gavin dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Berhentilah memanggilku Tuan. Kau bisa memanggilku Gavin, kau juga bisa berbicara santai dengan ku. Kapan pun, dan di mana pun kau ingin."


"Ck! Jawab saja pertanyaanku."


"Apa kau lupa kalau aku seorang Gavin Jaliandro?"


"Tcih!" Elle memalingkan wajahnya. "Apa kau juga mencari informasi mendetail tentang kehidupan semua orang yang bekerja di perusahaan milik mu?"


Gavin menaikkan sebelah alisnya. Tanpa harus menunggu lama, gadis itu bisa langsung mengubah cara berbicaranya.


Apa kah gadis itu se begitu kesalnya pada Gavin?


"Tidak, aku hanya mencari informasi tentangmu."


Elle mengernyitkan dahinya. "Untuk apa? Dan kenapa?"


"Percaya kah kau? Jika aku berkata kalau aku tertarik padamu sejak hari pertama kita bertemu?"


Elle semakin mengernyitkan dahinya, hingga membuat persimpangan di dahinya tercetak dengan sangat jelas.


"Jadi itu alasanmu menjadikanku sebagai asisten pribadimu?"


Gavin mengedikkan bahunya. "Kau bisa menganggapnya begitu. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Aku memang membutuhkan seseorang yang mumpuni untuk menggantikan posisi Sam. Dia sudah terlalu aku sibukkan dengan pekerjaan lain."


"Apa menyiapkan semua kebutuhanmu di pagi hari juga merupakan tugas Sam?"


"Itu tidak termasuk ke dalam hitungan."

__ADS_1


Elle memicingkan matanya. "Jadi kau memanfaatkan hal ini untuk menarikku agar semakin dekat denganmu?"


Gavin mengangkat bahunya acuh, dia berlalu pergi dari hadapan Elle.


"Kau bisa berpikir sesukamu. Aku akan menunggumu di bawah."


Sebelum Gavin benar-benar berlalu pergi dari sana, dia menghentikan langkahnya untuk sejenak.


Pria itu menoleh pada Elle dengan tatapan jahilnya.


"Ada hal yang perlu kau ingat. Itu ciu**man ke dua mu. Ciu**man pertama mu sudah ku ambil saat kita berada di Eston Place."


Elle seketika saja membulatkan kedua bola matanya.


"Yaakk!!!"


Elle menatap punggung Gavin dengan tatapan membunuh.


Andai saja Elle memiliki kekuatan super, mungkin saja Elle kini sudah melubangi punggung Gavin menggunakan tatapan matanya.


"Oh Tuhan!! Pria macam apa yang sedang aku hadapi saat ini!!"


Elle mengusak kepalanya dengan gemas.


Bisa-bisanya pria itu kembali menjadi pria yang memiliki mulut yang sangat vulgar hanya dalam waktu hitungan detik, setelah sebelumnya dia menjadi pria yang sedikit banyaknya mampu membuat Elle merasa sedikit terpesona.


Tolong garis bawahi, sedikit.. Ya, hanya sedikit..


Gadis itu mencoba mengatur nafasnya yang sedikit memburu akibat menahan rasa kesal.


Tangannya terangkat untuk memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja terasa kaku.


Elle seketika saja merasa penasaran, hal apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai-sampai kini dia harus bertemu dengan pria macam Gavin.


Andai Elle bisa mengulang waktu, Elle akan mengurungkan niatnya untuk menginjakkan kakinya di The Saphire. Tempat di mana dia bertemu dengan Gavin.


Ya, andai saja..


Tapi, hah.. Sudahlah.. Semuanya sudah terjadi.


Elle menghela nafasnya untuk sejenak kemudian melangkahkan kakinya untuk menyusul langkah Gavin.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2