
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sweet Labor Hotel..
"Ck! Haruskah aku memberitahunya?"
"Tapi.."
"Aduh.. Bagaimana ya?"
Amy mengigit bibir bawahnya, dia menyugar rambutnya ke belakang pertanda dia tengah merasa bimbang.
Amy terus saja berjalan mondar mandir, dia melakukan hal itu sudah sejak 20 menit yang lalu. Gadis itu bahkan terus menerus menghela nafasnya.
Amy saat ini sedang merasa bimbang, harus kah dia memberitahu Elle mengenai apa yang dia lihat?
Jika dia memberitahu Elle hari ini. Amy yakin seratus persen, hari tenang yang saat ini tengah Elle lalui, akan hancur saat itu juga.
Tapi, jika dia tidak memberitahu Elle. Amy merasa seperti menjadi sahabat yang sangat jahat karena menyembunyikan suatu hal yang sangat penting.
Ah, sungguh.. Amy benar-benar merasa frustasi karena sedari tadi dia terus memikirkan hal itu.
Ayolah.. Bagaimana bisa dia tidak merasa frustasi? Sesaat setelah Elle pergi meninggalkannya bersama dengan Gavin. Amy melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Dean tengah bermesraan dengan perempuan lain.
Sebenarnya, Amy bisa saja langsung melabrak Dean. Toh, Elle juga merupakan sahabatnya. Tentu saja Amy akan merasa sangat marah ketika melihat Dean yang bermesraan dengan perempuan lain.
Kendati demikian, Amy tidak melakukannya. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya.
Bukan hanya karena ini merupakan tempat umum. Tapi juga karena Amy ingin menjaga perasaan Elle untuk sementara waktu.
Setidaknya hingga mereka selesai menghabiskan waktu libur panjang mereka.
Ya, setidaknya hingga saat itu. Amy memutuskan untuk tidak memberitahu Elle hari ini. Dia akan memberitahunya nanti, di saat mereka menyelesaikan waktu libur panjang mereka.
Hah.. Jika kejadiannya sudah seperti ini, Amy bersungguh-sungguh, dia akan berada di pihak Gavin. Dia akan membantu Gavin untuk memisahkan Elle dan Dean. Bagimana pun caranya, Amy akan melakukannya.
Ya meskipun sebenarnya Gavin tidak jauh lebih baik dari Dean. Tapi setidaknya Amy sudah mengetahui reputasi seperti apa yang di miliki oleh Gavin.
Ingat, Amy merupakan stalker handal. Jadi, wajar saja jika dia bisa tahu baik buruknya Gavin seperti apa. Toh, itu juga bukan lagi rahasia pribadi. Hampir semua orang mengetahuinya.
Terlebih lagi, dari apa yang Elle ceritakan, Gavin menawari Elle untuk menjadi pendamping hidup pria itu. Membuat Amy benar-benar merasa yakin untuk berada di pihak Gavin.
"Am? Apa yang kau lakukan?"
"Uwaaa!!"
Amy seketika saja berjengkit karena merasa sangat terkejut akibat Elle yang datang tiba-tiba.
"Oh astaga ya Tuhan Eeeell.. Kau mengejutkanku."
Elle mengernyitkan dahinya. "Aku?" Elle menunjuk dirinya sendiri. "Emm, tidak.." Elle menggelengkan kepalanya. "Aku sudah di sini sejak 3 menit yang lalu, mungkin." Elle mengedikkan bahunya.
"Kau saja yang tidak menyadari kehadiranku. Padahal sudah jelas aku menutup pintu kamar dengan cukup keras."
__ADS_1
"Lagi pula, apa yang kau lakukan? Berjalan mondar mandir seperti alat penyetrika baju yang sedang di gunakan."
Amy mengusap tengkuknya, dia menyunggingkan senyum canggungnya.
"Tidak.. Aku hanya sedang memikirkan suatu hal."
Elle mengernyitkan dahinya, dia duduk di sofa yang ada di sana.
"Suatu hal? Tumben sekali.. Kau memiliki masalah?"
Amy menggelengkan kepalanya, dia lantas duduk di samping Elle.
"Bukan hal yang terlalu penting. Ah tidak, penting juga sih sebenarnya. Hanya masalah pekerjaan."
"Pekerjaan?"
"Um hum.." Amy mengangguk kecil.
"Apa ini ada hubungannya dengan atasan baru mu itu?"
"Begitulah.."
Elle pun ber "Oh" ria seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"By the way.. Dari mana saja kau? Kenapa kau terlihat bahagia sekali?"
"Hah?" Elle tiba-tiba saja merasa gugup. "A, aku?" Elle menunjuk dirinya sendiri. "Ha ha.. Tidak usah asal menebak." Elle mengibaskan tangannya ke udara. "Aku biasa saja.. Ha ha.."
Amy seketika saja memicingkan matanya. "Kau terlihat gugup Ell.. Lihat, bahkan wajahmu kini mulai memerah."
Sejatinya, wajahnya memang mulai terasa panas.
Dia tiba-tiba saja teringat kembali saat di mana Gavin secara perlahan membawanya menuju tepi tanpa melepaskan pagutan mereka. Saat di mana Gavin mulai menyentuhnya dengan penuh kehati-hatian. Saat di mana Gavin membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Mari kita lupakan kejadian dia Eston Place, itu tidak termasuk hitungan. Ingat, Elle saat itu sedang dalam keadaan mabuk. Membuatnya tidak bisa mengingat rasa itu secara jelas.
Berbeda dengan saat ini yang di mana dia memiliki kesadarannya secara penuh.
Oh sungguh.. Bayangan akan bagaimana Gavin memperlakukannya dengan sangat lembut benar-benar masih bisa dia rasakan dengan begitu nyata.
Untung saja mereka ada di tempat terbuka. Dan juga, beruntungnya Elle masih bisa mengembalikan kewarasannya dari buaian yang di berikan Gavin.
Kalau tidak.. Ah, mungkin saja mereka sudah melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Oh tidak! Astaga...
Elle menggelengkan kepalanya.
Apa yang dia pikirkan! Bisa-bisanya dia berpikiran melakukan hal yang seperti itu bersama dengan pria lain sementara suaminya sedang menunggu kepulangannya di rumah.
Elle kembali menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan pikiran kotornya itu.
Elle seketika saja merasa berdosa pada Dean karena telah melakukan hal yang tidak semestinya. Dia kini menyesali kebodohannya yang bisa terbuai dengan begitu mudahnya oleh sentuhan pria lain.
Tapi..
"Kau bersikap aneh Ell.."
__ADS_1
Suara Amy seketika saja membuyarkan pikiran Elle.
"Hah?"
"Lihat, kau bersikap aneh."
Elle kembali merasa gugup, dia lupa kalau saat ini dia sedang bersama Amy.
"Aku tidak!"
Amy memicingkan matanya. "Katakan padaku, apa yang kau lakukan bersama Gavin sampai-sampai kau bersikap aneh seperti ini."
"Ck! Aku tidak melakukan apa pun Am.. Enyahkan pikiran kotormu itu."
"Hmm.. Begitukah? Apa kah dengan melamun seraya mengigit bibir itu bisa di kategorikan dengan kalian yang tidak melakukan apa pun?"
Elle mengernyitkan dahinya.
"Atau jangan-jangan.. Kalian melakukan.."
"Yak!"
Elle seketika saja beranjak dari duduknya. Sungguh, dia benar-benar merasa sangat gugup.
"Kami tidak melakukan apa pun!"
Amy mengedikkan bahunya. "Melakukannya juga tak apa.. Aku mendukungmu.." Amy mengedipkan sebelah matanya.
"Kau! Haish! Kau benar-benar.."
Elle mere**mas kedua tangannya di depan wajah Amy. Dia berlalu pergi dari sana dengan perasaan kesal karena Amy terus saja menggodanya.
"Hey Ell.. Wajahmu memerah.. Aku yakin, kalian pasti melakukan sesuatu yang luar biasa.."
Elle mendengus kesal, dia mengacungkan jari tengahnya pada Amy.
Bisa-bisanya gadis itu mendukung perbuatan jelek Elle. Bukan kah seharusnya dia memperingatkan Elle untuk tidak melakukan perbuatan yang menyeleweng? Kenapa dia justru mendukung hal itu.
Tapi, tidak Elle pungkiri. Elle juga merasakan sesuatu yang aneh saat dirinya sedang bersama Gavin. Perasaan yang belum dia rasakan saat bersama dengan Dean.
Elle memang memiliki rasa cinta untuk Dean. Tapi, ketika bersama dengan Gavin, perasaan yang dia miliki untuk Dean tiba-tiba saja memudar.
Ah, entahlah.. Kepala Elle tiba-tiba saja berdenyut karena memikirkan hal itu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1