Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
San Marino


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


San Marino, Kediaman Gavin..


"Waaaah.. Aku tidak percaya aku bisa menginjakkan kaki di negara yang masuk ke dalam deretan negara terkecil di dunia."


Amy berseru dengan begitu bersemangat saat kakinya menginjak tanah San Marino. Netranya menatap bangunan megah di depannya dengan senyum sumringah yang tampak terpampang nyata di wajahnya.



Pict by : Pinterest


"Butuh berapa lama untuk membangun rumah ini?" Gumam Amy.


Amy lantas menoleh pada Elle dan Gavin yang baru saja keluar dari dalam jet pribadi milik Gavin.


Perlu kalian ketahui, San Marino merupakan negara kecil yang berada di dalam satu negaara. San Marino juga tidak memiliki area landasan pesawat, mari kita sebut saja sebagai bandara. Oleh sebab itu, saat ini mereka langsung tiba di kediaman Jaliandro karena hanya kediaman Jaliandro yang memiliki landasan pesawat pribadi.


Sebenarnya, mereka bisa saja menggunakan jalur darat seraya menikmati keindahan pemandangan sekitar. Tapi ya, Gavin dengan segala kemalasannya pun tentu saja menolak untuk melakukan hal itu. Terlebih lagi, dia memang memiliki jet pribadi. Jadi, lebih baik di gunakan dari pada hanya untuk sekedar di jadikan pajangan.


Tunggu sebentar, kalian pasti bingung kenapa Amy bisa menginjakkan kakinya di tanah San Marino bersama dengan Gavin dan Elle. Jika kalian ingat, hanya Elle yang seharusnya datang kesana bersama Gavin.


Rencana awalnya memang begitu, Gavin berniat untuk hanya membawa Elle seorang saja. Namun, Elle terlalu enggan untuk pergi berdua saja dengan Gavin. Karena jujur saja, Elle masih merasa was-was kalau saja Gavin sampai melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak padanya.


Butuh waktu yang panjang bagi Elle dan Gavin untuk berdebat mengenai masalah ini. Gavin dengan ke keras kepalaannya menolak untuk membawa Amy bersama dengan mereka, dan Elle dengan keteguhannya yang tidak akan pergi ke San Marino bersama Gavin kalau pria itu tidak mengijinkan Amy ikut serta bersama dengan mereka.


Mereka terus berdebat mengenai permasalahan ini hingga hampir satu hari penuh.


Ayolah.. Gavin berencana untuk menghabiskan waktu hanya berdua saja dengan Elle. Lantas kenapa juga harus ada orang ketiga yang ikut dengan mereka?


Tapi pada akhirnya, sekuat apa pun Gavin menahan egonya, dirinya tetap saja kalah dari Elle. Mau tidak mau, Gavin pun mengijinkan Amy untuk ikut bersama mereka.


Yaaa, anggap saja untuk menemani Sam dari kesendiriannya. Bukan kah begitu lebih baik? Lagi pula, Sam juga ikut datang bersama dengan mereka. Kalau kalian lupa, Sam juga merupakan salah satu bagian dari keluarga Jaliandro.


Rencananya, Gavin akan meminta Sam untuk terus menemani Amy selama mereka berada di San Marino. Dengan begitu, Gavin tetap bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Elle.


Licik bukan? Ya mau bagaimana lagi. Begitulah Gavin.. Pria dengan segala rencana licik yang selalu memenuhi rongga di otaknya.


"Di mana Sam?"


Gavin mengedikkan dagunya ke arah mobil berwarna hitam legam yang sedang melaju ke arah mereka.



Pict by : Pinterest


"Hah.. Tetap saja, aku kalah cepat."


Sam menggerutu seraya berjalan menghampiri Gavin dan Elle.


"Apa kabar? Sudah lama aku tidak bertemu denganmu."


Sam mengulurkan tangannya pada Elle.


Elle menerima uluran tangan Sam. "Aku baik.. Bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kau lihat.. Aku lebih dari sekedar baik."


Netra Sam lantas tertuju pada Amy yang berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu melangkah mendekati Amy.

__ADS_1


"Kau Amy? Perkenalkan, Aku Sam Abigail, sepupu Gavin. Kau bisa memanggilku Sam."


Sam mengulurkan tangannya pada Amy.


Amy menyunggingkan senyum kecilnya, dia menerima uluran tangan Sam.


"Senang berkenalan denganmu."


"Kalau begitu, ikut aku.. Aku akan mengantarmu menuju kamar milikmu."


Sam menarik koper milik Amy kemudian berlalu pergi dari sana.


Amy seketika saja mengernyitkan dahinya. "Ya?"


Sam menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Amy.


"Tenang saja.. Aku hanya akan mengantarmu. Jika kau mengijinkan aku untuk berbuat lebih, aku tentu saja akan melakukannya dengan sangat senang hati."


Pria itu kembali berlalu pergi begitu saja.


"What?!" Amy menatap punggung Sam dengan tatapan tajamnya.


Tuhan.. Pria macam apa yang saat ini Amy temui?


Amy lantas melirik pada Elle yang menampikan senyum canggungnya. Amy memutar bola matanya kemudian menyusul langkah Sam.


"Kau yakin mereka akan baik-baik saja?" Elle menoleh pada Gavin.


Gavin mengedikkan bahunya. "Percaya saja, Sam bukan pria yang sembarangan memyentuh seorang wanita."


Elle memicingkan matanya. "Ya, tidak seperti dirimu."


"What?!" Gavin mengernyitkan dahinya.


"Kenapa? Kau tidak terima? Bukan kah memang seperti itu adanya?"


Ya, dia akui, dia memang sering bergonta ganti wanita. Tapi kenapa rasanya sedikit mengganjal saat Elle yang mengatakan fakta itu.


"Sudahlah.. Sebaiknya kau tunjukkan di mana kamarku, aku merasa sedikit lelah. Aku butuh kasur untuk aku membaringkan tubuhku."


Elle lantas berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Gavin yang hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya.


.......


.......


.......


"Selamat datang tuan, nona.."


Seluruh pelayan yang bekerja di rumah itu menyambut kedatangan Gavin dan Elle.


Elle menyunggingkan senyumnya seraya menundukkan kepala guna membalas sapaan dari mereka.


Sedangkam Gavin? Tidak usah di pertanyakan, pria itu hanya berjalan lurus dengan wajah datarnya seolah tidak berminat untuk membalas sapaan mereka.


Hal itu membuat Elle menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Memang dasar sifat angkuh pria itu benar-benar sudah mendarah daging." Gumam Elle.


"Kau mengatakan sesuatu?" Gavin menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak." Jawab Elle cepat.

__ADS_1


Gavin pun hanya mengedikkan bahunya, dia membawa Elle ke sebuah lorong yang menuju lift untuk naik ke lantai paling atas rumah ini.


"Dimana orang tuamu?"


"Mereka tidak menempati rumah ini."


"Gavin?"


"Hm?"


"Bisakah aku menanyakan sesuatu?"


"Tanyakan saja."


"Kenapa Sam memiliki nama belakang yang berbeda denganmu? Bukan kah Sam salah satu bagian dari keluarga Jaliandro?"


"Ibu Sam adalah adik ketiga daddy ku, dia menikahi anak sulung keluarga Abigail. Oleh sebab itu Sam memiliki nama belakang Abigail, bukan Jaliandro."


"Aaaa.. Begitu.." Elle mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mereka pun tiba di lantai paling atas rumah itu.


Elle menatap setiap sudut ruangan bernuansa hitam putih itu dengan tatapan heran. Kenapa dia merasa sedikit familiar dengan lantas atas rumah ini? Ah, Elle ingat. Lantasi atas rumah ini tampak sama persis seperti ruangan milik Gavin yang ada di Italia?


"Jangan katakan padaku kalau lantai ini merupakan ruangan khusus milikmu?"


Gavin mengedikkan bahunya. "Ini memang ruangan milikku."


Elle seketika saja mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau membawaku ke ruangan milikmu mu?"


"Bukan kah kau setuju untuk mengikuti semua permintaanku kalau aku mengijinkan Amy ikut bersama kita?"


Elle seketika saja terdiam, dia lupa akan perjanjian itu. Ah tidak, lebih tepatnya Elle mengiyakan perjanjian itu tanpa berpikir dua kali.


"Ha ha.." Elle tertawa canggung. "I, itu.. Bi bisakah aku mendapatkan kamar yang lain? Aku kasihan pada Amy jika dia harus sendirian."


Gavin menaikkan sebelah alisnya, dia mendekati Elle secara perlahan.


Elle sontak saja memundurkan langkahnya hingga dia terpentok ke dinding.


"Kesepakatan adalah kesepakatan. Tidak adak waktu untuk mengubah kesepakatan itu."


Elle memalingkan wajahnya saat Gavin mendekatkan wajahnya pada wajah Elle.


"Ta, tapi.."


Gavin seketika saja terkekeh kecil melihat wajah Elle yang mulai memerah, Gavin lantas menegakkan kembali tubuhnya.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin tidur di sampingmu. Bersiaplah, sebentar lagi kita akan turun untuk makan siang."


Gavin lantas berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Elle yang menggerutu dengan jantung yang berdegup dengan sangat kencang.


"Sia**lan!!"


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2